Assalamu `alaikum
Pertanyaan:
1. Bilamana seorang makmum disebut masbuq? Apakah:
- Bila imam sudah membaca Al Fatihah dan makmum baru takbir maka sudah
termasuk masbuq, atau
- Asalkan makmun belum tertinggal ruku`, maka belum termasuk masbuq
Sukron,
Wassalamu `alaikum
> bismillah, berikut tangapan singkat. Semoga bermanfaat.
>
> --
> Abu Fudhail Muhammad Haryo
> http://islam-download.net : download ebook islamic, software, program,
> dll..
> free - gratis
> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
> Jika email ini masuk folder spam/ bulk/ junk, harap tandai sebagai NOT
> spam/
> bulk/ junk
> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
>
> 1. Jika menjadi makmum tentu saja meniatkan diri sebagai makmum.
> 2. ini kondisinya shalat berdua dengan imam kan (makmumnya satu). kalau
> iya,
> insyaaAllah memang benar di sebelah kanan imam. Dengan catatan, tidak
> pakai
> mundur sedikit, tapi sejajar dengan imam.
>
> وعن٠ابْن٠عَبّاسÙ
رَضÙÙŠÙŽ اللَّهÙ
> عَنْهÙمَا قال:
"صَلّيْت٠مَعَ
رَسÙولÙ
> اللَّهÙ
صَلّى الله
عَلَيْهÙ
وَسَلّم
> ذَاتَ لَيْلةÙ
ÙÙŽÙ‚Ùمْت٠عَنْ
ÙŠÙŽØ³ÙŽØ§Ø±Ù‡ÙØŒ
> Ùَأَخَذَ رَسÙولÙ
اللَّهÙ
صَلّى الله
> عَلَيْهÙ
وَسَلّم Ø¨ÙØ±Ø£Ø³ÙŠ
Ù…Ùنْ وَرائي
> Ùَجعَلَني
عَنْ يمينÙÙ‡Ù"
Ù…ÙØªÙ‘ÙÙŽÙ‚ÙŒ
> عَلَيْهÙ.
>
> Dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma ia berkata : Aku pernah shalat
> bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada suatu malam, (dan)
> aku
> berdiri di sebelah kiri beliau. Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi
> wasallam memegang kepalaku dari belakngku, lalu menjadikanku (berposisi)
> di
> sebelah kanan beliau" (Muttafaqun 'alaihi – Bukhari 2/726
dan Muslim
> 1/193,
> shalatul-musaafiriin).
>
> Komentar saya (Abu Fudhail) : Di sini dikatakan bahwa Ibnu Abbas
> diposisikan
> di sebelah kanan beliau, dan tidak dikatakan di sebelah kanan + mundur
> sedikit. Kita tidak bisa merinci suatu penjelasan yang global tanpa dalil
> yang sharih (jelas) dan shahih (sah).
>
> Imam Muhammad bin Isma'il Ash-Shan'ani berkata dalam kitabnya
> Subulus-Salam
> (juz 2 halaman 44 – Daarul Hadits, Cairo Cet. 1425/2004 M) :
>
>
> ثم قوله:
"ÙØ¬Ø¹Ù„ني عن
يمينه" ظاهر ÙÙŠ
أنه قام
> مساوياً له،
ÙˆÙÙŠ بعض Ø£Ù„ÙØ§Ø¸Ù‡ "Ùقمت
> إلى جنبه".
> وعن بعض Ø£ØµØØ§Ø¨ Ø§Ù„Ø´Ø§ÙØ¹ÙŠ
أنه ÙŠØ³ØªØØ¨ أن يقÙ
> المأموم دونه
قليلاً. إلا
أنه قد أخرج
> ابن جريج قال:
قلنا لعطاء: الرجل
يصلي مع
> الرجل أين يكون
منه؟ قال: إلى
شقه،
> قلت: Ø£ÙŠØØ§Ø°ÙŠÙ‡ ØØªÙ‰
يص٠معه لا ÙŠÙوت
Ø£ØØ¯Ù‡Ù…ا
> الآخر؟ قال: نعم:
قلت: بØÙŠØ« أن لا
> يبعد ØØªÙ‰ يكون
بينهما ÙØ±Ø¬Ù‡ØŒ
قال: نعم.
> ومثله ÙÙŠ
الموطأ عن عمر من
ØØ¯ÙŠØ« ابن
> مسعود أنه ص٠معه
Ùقربه ØØªÙ‰ جعله
ØØ°Ø§Ø¡Ù‡ عن
> يمينه.
>
> Kemudian perkataan Ibnu 'Abbas : "Lalu beliau shallallaahu 'alaihi
> wasallam
> menjadikanku (berposisi) di sebelah kanan beliau" jelas menunjukkan bahwa
> ia
> (Ibnu 'Abbas) berdiri sejajar dengan beliau. Dan dalam lafadh yang lain
> disebutkan (Ùقمت إلى
جنبه) = "Aku berdiri di samping beliau".
> Dari sebagian shahabat Asy-Syafi'i menyukai/menganjurkan agar makmum
> berdiri
> sedikit di belakang (dari imam). Akan tetapi (hal itu terbantah)
> bahwasannya
> Ibnu Juraij telah meriwayatkan/berkata : Kami bertanya kepada 'Atha' :
> Seorang laki-laki shalat (berjama'ah) bersama seorang laki-laki (imam).
> Dimanakah posisi ia berdiri dari imam tersebut ?". 'Atha' menjawab : "Di
> sebelahnya". Aku berkata : "Apakah ia berdiri sejajar dengan imam sehingga
> berbaris ( = sebaris dengan imam), sehingga tidak ada selisih antara imam
> dan makmum ?". 'Atah' menjawab lagi : "Ya". Aku berkata : "Apakah
> tempatnya
> tidak jauh sehingga tidak ada selang antara keduanya ?". Beliau menjawab :
> "Ya".
> Riwayat serupa (juga terdapat) dalam Al-Muwaththa' dari 'Umar dari hadits
> Ibnu Mas'ud bahwasannya Ibnu Mas'ud satu shaff dengan 'Umar dan 'Umar
> menjadikan dia sejajar dengan 'Umar di sebelah kanannya.
>
> —selesai perkataan Ash-Shan'ani—
> Riwayat lain dari Ibnu 'Abbas yang dimaksud oleh Ash-Shan'ani pada
> perkataannya di atas adalah :
>
>
> عن بن عباس قال صليت
مع النبي صلى
الله
> عليه وسلم Ùقمت
إلى جنبه عن يساره
> ÙØ£Ø®Ø°Ù†ÙŠ ÙØ£Ù‚امني عن
يمينه
>
> Dari Ibnu 'Abbas radliyallaahu 'anhuma ia berkata : "Aku pernah shalat
> bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Aku berdiri di samping beliau
> sebelah kiri. Maka beliau memegangku dan memindahkanku (berdiri) di
> sebelah
> kanan beliau" (HR. Ahmad – softfile hadits nomor 3437).
>
> Paparan di atas secara gamblang menjelaskan posisi makmum apabila seorang
> diri adalah di sebelah kanan imam sebaris/satu shaff dengannya. Pendapat
> yang mengatakan bahwa makmum mundur sedikit ke belakang adalah pendapat
> yang
> tidak berdasar sama sekali. Juga,……. Dalam bahasa Arab,
kata
> جَنْبٌ (dalam
> hadits riwayat Ahmad di atas) berarti samping, sisi, tepi, atau dekat.
> Dikatakan جَنْبا
Ù„ÙØ¬ÙŽÙ†Ù’ب (janban lijanbin) berarti sebelah
> menyebelah,
> berdampingan, bahu membahu.
> 3. Iya, insyaaAllah memang begitu.
>
> Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya
> seseorang
> dijadikan imam itu untuk diikuti. Bila imam ruku` maka ruku`lah dan bila
> sujud maka sujudlah. Dan bila imam mengucap (Sami`allahu liman hamidah)
> maka
> ucapkan (Rabbana Wa lakal hamd)". Shahih, HR. Bukhari dan Muslim.
>
> Tambahan dari ucapan Rabbanaa walakal hamdu setelah bangkit dari ruku'
> Seperti menambahkan,
>
> Ù…Ùلْءَ
السَّمَوَاتÙ
ÙˆÙŽÙ…Ùلْءَ
الأَرْضÙ
> ÙˆÙŽÙ…Ùلْءَ مَا
Ø´ÙØ¦Ù’تَ Ù…Ùنْ
شَيْئ٠بَعْدÙ
> "Sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh semua yang Engkau kehendaki
> selain itu." (HR. Muslim)
> Jika mau maka boleh menambahkan lagi,
>
> أَهْلَ
الثَّنَاءÙ
وَالْمَجْدÙ
Ø£ÙŽØÙŽÙ‚Ù‘Ù
> مَا قَالَ
الْعَبْدÙ
ÙˆÙŽÙƒÙلّÙنَا
Ù„ÙŽÙƒÙŽ
> عَبْدٌ
اللَّهÙمَّ
لاَ Ù…ÙŽØ§Ù†ÙØ¹ÙŽ
Ù„Ùمَا
> أَعْطَيْتَ
وَلاَ Ù…ÙØ¹Ù’Ø·ÙÙŠÙŽ
Ù„Ùمَا
> مَنَعْتَ
> وَلاَ
يَنْÙَع٠ذَا
الْجَدّÙ
Ù…Ùنْكَ
> الْجَدّÙ
> "Pemilik pujian dan kemuliaan yang paling pantas untuk dikatakan oleh
> seorang hamba, semua kami hamba-Mu, Ya Allah, tidak ada penghalang
> terhadap
> apa yang Engkau berikan, tidak ada pemberi terhadap apa yang Engkau tahan,
> dan tidak dapat memberi manfaat selain daripada-Mu." (HR. Muslim, Abu
> Dawud
> dan Abu 'Awanah)
>
> Boleh juga tanpa wawu Rabbanaa lakal hamdu. (Muttafaqun 'alaih)
>
> Boleh mengucapkan do'a yang lain yang disebutkan dalam berbagai riwayat,
> lihat Shifatu Shalaatin Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam oleh
> Al-Albani.
>
> *Ini buku terbaik tentang shalat yang pernah saya (Abu Fudhail) baca
> tentang
> masalah shalat.
>
> 4. Secara umum, setelah imam selesai membaca al-fatihah, kita disunnahkan
> membaca aamiin.
>
> Abu Musa meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda,
>
> "Jika Imam membaca Waladha dhaalliin, maka bacalah Amin niscaya Allah
> menerima dan menyambut kamu (permintaanmu). (HR. Muslim).
>
> Dan sunat bagi siapa yang membaca Fatihah pada akhirnya membaca "Amin".
> Yang
> berarti, "Ya Allah terimalah".
>
> Abu Hurairah r.a. mengatakan, Nabi saw. bersabda, "Jika Imam membaca Amin
> maka sambutlah (bacalah) amin, maka sesungguhnya siapa yang bertepatan
> bacaan aminnya dengan aminnya para Malaikat maka diampunkan baginya
> dosa-dosa yang telah lalu". (HR. Bukhari, Muslim).
>
> 5 & 6. Secara umum jawabannya ringkas,
>
> Siapa yang masih sempat ruku' bersama imam dalam shalat, maka dia
> mendapatkan shalat itu.
> (HR Bukhari dan Muslim).
>
> "Apabila seseorang di antara kamu datang shalat sewaktu kami(rasul) sujud,
> maka hendakhlah kamu bersujud. dan barang siapa yang mendapati ruku'
> beserta
> imam, maka ia telah mendapat satu raka'at". (HR. Abu Daud).
>
> Untuk bahasan lebih detailnya bisa dilihat di ::
> http://72.14.235.104/search?q=cache:0mz8GiLk0I4J:almanhaj.or.id/print.php%3Farticle_id%3D1822+mendapati+imam+ruku+satu+raka%27at&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id&client=firefox-a
>
> Allahu A'lam
>
> On 6/15/07, ziad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Bismillah,
>> Saya juga ingin titip pertanyaan.
>>
>> Saat saya menjadi makmum masbuk saya melakukan hal berikut:
>> 1. Ketika datang menjadi masbuk, saya meniatkan salat sebagai makmum
>> 2. Kemudian saya langsung berdiri (tdk menepuk bahu imam) di sebelah
>> kanan
>> imam & sejajar (tidak dibelakang imam)
>> 3. Jika saya menjadi makmum masbuk pd salat dhuhur & ashar, maka setelah
>> bangun dr ruku' saya membaca "rabbana walakam hamd" dgn keras
>> 4. Jika saya menjadi makmum masbuk pd salat subuh, magrib dan isya,
>> (selain
>> membaca "rabbana walakal hamd") saya juga menjawan "amiin" setelah imam
>> selesai membaca Al Fatihah pd rakaat 1 atau 2.
>> 5. Jika saya mendapati imam pd ruku, atau saya masih bisa mengikuti
>> ruku',
>> maka saya telah melakukan satu rakaat.
>> 6. Jika saya mendapati imam pd keadaan bangun dr ruku, atau keadaan lain
>> setelah ruku', maka saya belum melakukan satu rakaat dan menambahkan
>> kekurangannya setelah imam selesai salam.
>>
>> Mohon koreksinya untuk hal tersebut.
>>
>> Wassalamualaykum Wr. Wb.
>>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>