Wa'alaikum salam Wr. Wb. Satu kalimat buat anda Pak, "saya pun belum sempurna ^^", sesungguhnya peran kita ini kan sebagai "Mudzakkir", kaum yang saling mengingatkan dan menasihati, tidak selalu harus terlebih dulu lebih baik dan sudah mengaplikasikan, wah masuh dalam kategori "kaburo maqtan" dong? Ya tidak juga, karena ada semangat perbaikan bersama yang kita miliki, artinya memang bertanggung jawab untuk melakukannya walau saat ini masih dalam keterbatasan ^^ Bicara soal INA, nah itu dia yang menarik dan disanalah perjuangan kami, bagi kami INA tidak "kufur", kok bisa? apa alasannya?? Ada beberapa point, diantaranya : Pertama, Dasar negara INA yang bersumber dari Pancasila sangat mencerminkan nilai tauhid, jadi tidak benar kalau negara kita ini berpaham sekuler dan sejenisnya. Dengan Pancasila, INA ini sangat Islam, apa sebab? mari kita lihat sejarah historis dari Pancasila itu. Dimasa-masa awal kemerdekaan jelas kita ketahui ia tidak disebut dengan Pancasila namun Piagam Jakarta, sejarah pun dengan jelas pula mencatat beberapa peristiwa-peristiwa menegangkan yang terjadi setelahnya terkait gejolak kepentingan yang begitu besar antara berbagai golongan yang ada, seperti Nasionalis Sekuler, Nasionalis Muslim, Sosialis dan sebagainya. Agar tidak terlalu panjang, saya beritakan bahwa klimaks dari berbagai friksi kepentingan itu berakhir dengan adanya Dekrit Presiden 1959, yang menyatakan Kembali kepada UUD 1945 dengan menegaskan dalam konsiderasnya bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 adalah menjiwai dan satu kesatuan dengan konstitusi 1945. Dan sebagaimana yang dikatakan Pak.M.Natsir, salah seorang tokoh besar Islam dimasa itu, Pancasila akan bernilai seperti paham pihak yang memegangnya, jika pihak itu adalah penyembah berhala maka seperti itulah ajarannya. Namun, pendapat beliau ini sudah tidak lagi valid dengan dikeluarkannya Dekit Presiden 1959, karena jelas apa yang menjiwai dari Pancasila dan satu kesatuan dengannya, yakni Piagam Jakarta lengkap dengan 7 kalimatnya ! Dengan melihat dan memahami akar historis ini, seharusnya kita umat Islam adalah pihak yang paling merasa memiliki akan Pancasila dibanding pihak atau golongan manapun, bahkan ketahuilah statement "Ketuhanan Yang Maha Esa" itu pun diusulkan oleh salah seorang tokoh besar Muhammadiyah, yakni Ki Bagus Hadikusomo, seseorang yang diajak Lobi oleh M. Hatta sebelum berlangsungnya sidang PPKI tanggal 18 Agustus yang bersejarah itu. Untuk lebih lanjutnya, Insya Allah akan saya segera posting tulisan berkenaan dengannya yang berjudul "Pancasila, Piagam Madinah ala Indonesia" Kedua, pendekatan positif dalam kebhinekaan, mengedepankan ajaran Akhlaq bertetangga dan bernegara, kita ketahui kita hidup di dunia dan jelasnya di bumi Indonesia ini tidaklah sendiri, ada umat-umat yang lain yang tidak bisa kita hiraukan begitu saja. Untuk itu pesan saya, mari kita lihat metode penegakan Negara Islam Madinah yang dilakukan Rasullullah SAW di waktu awal tegaknya Islam. Waktu itu umat Islam bukanlah umat yang besar secara kuantitas, jumlah beliau-beliau masih sangat sedikit, namun sebaliknya beliau-beliau adalah umat yang terutama dari agama ini. Beliau-beliau memang memiliki kualitas dan pancaran rahmatnya bisa diterima oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan mereka, hingga dapat menduduki posisi yang terpandang dan memiliki kekuatan bargaining yang tinggi, itulah sebab mereka, yakni kaum Yahudi dan sedikit Majusi Madinah mau mengadakan perjanjian dengan umat Islam saat itu yang kita kenal kemudian dengan Piagam Madinah. Saat ini, kita adalah kebalikan dari keadaan para pendahulu dimasa lalu, kita adalah "buih" sebagaimana yang telah diisyaratkan SAW dalam suatu hadisnya, hanya menang dalam kuantitas namun minim dalam kualitas, sekali lagi kualitas !!. Padahal dengan kulitas itulah para pendahulu kita dapat memiliki peran besar dalam keragaman yang ada, walau sangat kecil bilangannya dibandingkan umat yang lain. Inilah pelajaran yang dipetik oleh Kaum Yahudi Zionis laknatullah alaihim sehingga mereka bisa menguasai negara sebesar Amerika, ditambah berbagai negara besar, menengah, dan kecil lainnya. Apa yang menjadi pemikiran garis besar perjuangan saya adalah : Mari sebelum kita bangun khilafah dalam wujudnya yang nyata, kita bangun khilafah itu dalam inner self umat Islam terlebih dulu, dan itulah pondasi awalnya!, dengan memanfaatkan peran historis Pancasila yang sangat Pro dengan kepentingan Umat ini, usaha untuk membangun Khilafah dalam Inner Self umat jelas akan sangat mudah, efektif dan efisien!!. Tugas ini memang berat, namun bukankah kita memiliki para pewaris perjuangan Nabi, yakni para Ulama?? Yakinlah apa yang dikatakan sang Nabi !, karena mereka memang sentra kekuatan umat ini, mari kita bersinergi bersama beliau-beliau dalam membangun Khilafah intrinsik dalam pribadi-pribadi umat, dengan demikian kualitas pun jelas akan ada di tangan kita, dan bilamana hal itu telah terwujud, Bargaining Power yang kita miliki jelas akan sangat besar karena kualitas itu juga diimbangi dengan kuantitas yang sangat besar pula. Sungguh ! Dengan memurnikah Khittah Pancasila dari akar historisnya, Pintu Gerbang Menuju Indonesia Bersyariah itu amat dekat !! ^^ Kalibata, 6 September 2007 http://thinker21.blogs.friendster.com/my_blog/
Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalaamu'alaikum wr. wb. Mas Andri, dibuat sederhana sajalah. Saya barangkali belum sampai pada kriteria yang Anda inginkan berkenaan dengan "tidak menyederhanakan sesuatu ...", "tidak hanya melihat dari satu sudut pandang", "bijak dan terhormat", dan "masih ada aspek aqidah dan akhlak", dll. Nah, kini karena Anda yang menyatakan semua itu, Anda justru saya anggap sudah memenuhi semuanya. Jadi, gimana konsep Anda untuk menegakkan diinul Al Islam di negeri ini? BTW, IMHO, kalau kita pakai pendekatan aqidah untuk melihat Ina, jelas Ina adalah negara kufur, karena Ina tidak meletakkan tauhid rubbubiyah dan tauhid uluhiyah sebagai seharusnya:-)Bahasa aqidah justru lebih lugas dari bahasa syariah. Mohon dipahami, kalau saya mengatakan Ina kufur bukan berarti saya mengatakan penduduk Ina semua kufur atau kafir:-) Ini perlu saya sampaikan sebab banyak yang menyamakannya:-) Disamping itu perlu pula dipahami, bahwa ketika seseorang menyatakan sebuah negeri itu kufur, tidak serta merta dia akan mengambil jalan kudeta untuk menjadikan negeri kufur ini menjadi negeri Islam. Apalagi sampai pada ekstrapolasi "ambil parang lalu memenggal SBY":-) Untuk menegakkan diinul al Islam, Allah telah memberikan, IMHO, sarana-sarana sbb: - dakwah - amar ma'ruf - nahi munkar - wilayatul hisba - jihad Ramuan penggunaannya tentu saja harus disesuaikan keadaan dan kemampuan diri. Hal yang harus diselesaikan dengan jihad, musykil diselesaikan dengan yang lainnya. Demikian pula, hal yang harus diselesaikan dengan dakwah, akan rusak bila diselesaikan dengan nahi munkar atau malahan jihad. Wassalaamu'alaikum wr. wb. B. Samparan --- Andri yarusman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kesalahan terbesar kita adalah terlalu menyederhanakan sesuatu > sehingga kehilangan pegangan nilai-nilai utama yang seharusnya > diperhatikan. > > Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan! jelas !, artinya > apa? sebelum anda menghukumi sesuatu jangan hanya melihat dari satu > sudut pandang, karena bisa jadi itu bukanlah sudut pandang yang > seharusnya digunakan. > > Seringkali saya katakan, berdakwahlah secara bijak dan terhormat, > gapailah tujuan Islam dengan menggunakan alat yang tepat, sesuai > dengan pri keadaan yang melingkupi kita. Adalah sebuah kecerobohan > besar jika kita tanpa peduli telah mengorbankan tujuan Islam yang > nyata dan telah terwujud, demi sebuah alat yang kita semua masih > berselisih paham didalamnya, sekali lagi masih berselisih paham > didalamnya! > > Terlebih jika bicara dalam skup yang luas terkait ke tatanegaraan > misalnya, tentu harus dipilih secara bijak pendekatan yang digunakan. > > > Ingatlah saudarku semua, Islam tidak hanya berpondasikan Syariah, > sekali lagi tidak hanya berpondasikan Syariah, Masih ada Aqidah dan > Akhlak. Dan sebagaimana saya telah sebut dalam tulisan sebelumnya. > Aspek akhlaq inilah yang seringkali berperan utama dalam > menyeimbangkan radikalisme "Syariah" dan "Aqidah" jika anda banyak > memperhatikan Tarikh dan Tsaqafah Islam anda akan mengerti maksud > saya ini. > > Berpandanganlah dengan menggunakan keseluruhan pondasi itu, kalau > anda memang bicara atas nama Islam ! > > Wallahu a'lam bisshawab > > Kalibata, 5 September 2007 __________________________________________________________ Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. http://travel.yahoo.com/ ANDRI YARUSMAN Student Of STEI IBI "Mari ber-idealisme tanpa akhir" --------------------------------- Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online. [Non-text portions of this message have been removed]

