Dan akhirnya, saya menolak untuk menulis sesuatu untuk penelitiannya, karena dia telah memasang perangkap untuk penelitiannya, bahwa seorang Muslim dipaksa untuk memilih tempat: liberal atau fundamentalis. Itulah contoh para peneliti masyarakat Muslim yang terjebak dengan framework Barat dalam melakukan penelitian terhadap masyarakat Muslim. Padahal Islam memiliki konsep dan istilah sendiri dalam meneliti masyarakat Muslim. Islam mengenal istilah istilah mukmin, kafir, fasik, munafik dan sebagainya. Harusnya istilah istilah itu (di atas) yang digunakan ketika meneliti masyarakat Muslim. Tapi karena framework Barat yang digunakan, maka istilah dan makna yang dihasilkan pun berbeda. Misalkan dalam masyarakat Islam dikenal konsep dan istilah fasik. Dalam konsep Islam, orang fasik tidak boleh didengar begitu saja ucapan dan kesaksiannya. (QS 49:6). Ada istilah kafir, yang juga memiliki konsekuensi dalam hubungan sosial, baik dalam soal perkawinan, waris, makanan, kekeluargaan, dan sebagainya. Daalam konsep sosial Barat, tidak dikenal konsep dan istilah fasik, sebab bagi masyarakat Barat yang sekular, orang tetap dihormati masyarakat, mskipun tidak pernah menjalankan aturan agamanya. Banyak ilmuwan Barat yang tetap dipuja dan dihormati meskipun tidak pernah menyembah Tuhan dan rajin berzina. Konsep masyarakat seperti ini sangat berbeda dengan Islam, yang menjadikan ilmu dan amal serta akhlak sebagai pedoman untuk menilai seseorang. Sepandai apa pun seseorang jika akhlaknya bejat, maka ia tidak boleh ditempatkan sebagai orang terhormat dalam masyarakat Islam, karena dia berlaku fasik. Karena itulah, para ulama Islam dikenal sebagai orang yang tinggi ilmunya dan sekaligus sangat tinggi tingkat ibadah dan akhlaknya. Konsep masyarakat Islam seperti ini sangat berbeda dengan konsep masyarakat Barat, sehingga para ilmuwan sosiologi agama seharusnya tidak menggunakan framework Barat saat mengkaji masyarakat Islam. Kita misalnya, juga tidak bisa menggunakan istilah istilah Islam untuk diterapkan pada kaum non Islam. Kita tidak bisa menyebut bahwa George W. Bush adalah Kristen yang mukmin, shalih, muttaqin dll. Andaikan George W. Bush mati dalam perang di Irak, tidaklah patut dia diberi gelar syahid. Untuk kaum Kristen seperti Bush [entah, bisa jadi Yahudi tulen] bisa digunakan istilah khas dalam masyarakat Kristen, seperti Kristen Fundamentalis, Kristen Konservatif, Kristen Kanan, dan sebagainya. Tahun 2006 lalu, Litbang Departemen Agama mengadakan penelitian tentang perkembangan paham paham liberal keagamaan di Indonesia. Sayangnya, para peneliti Litbang Depag ini juga menggunakan framework Barat yang dikotomis, yakni membagi umat Islam menjadi dua kelompok: Islam Liberal dengan Islam Fundementalis atau konservatif dan sebagainya. Misalnya, peneliti Depag yang meneliti paham keagamaan liberal di lingkungan UIN Jakarta, menulis: Gagasan gagasan keislaman liberal tentunya sangat berbeda dengan pemahaman keislaman fundamentalis sehingga menimbulkan forum pernusuhan antara kalangan fundamentalis dengan liberal ketika duduk satu meja pada forum forum diskusi yang melibatkan kedua pihak. Peneliti Depag yang melakukan penilitian di lingkungan IAIN Surabaya juga menulis kesimpulan: Konflik pemikiran antara kalangan muslim liberal yang menurut saya adalah Islam rasional dengan kalangan Muslim kerdil yang menurut saya adalah Islam irasional mungkin harus dipahami sebagai konflik pemikiran biasa, karena dengan itu akan lahir dinamika keagamaan yang sehat, yang penting tidak ada konflik fisik. Peneliti faham liberal di lingkungan IAIN Sumatera Utara menulis dalam laporannya: Faham yang seringkali bertentangan dengan faham liberal adalah doktrin konservatif yang secara sederhana menyatakan dukungannya terhadap pemeliharaan status quo. Cara penamaan dikotomis ala Barat semacam ini sebenarnya sangat menjebak. Dari berbagai contoh tersebut kita bisa melihat, bagaimana kuatnya cengkeraman pola pikir dikotomis yang dikembangkan para ilmuwan Barat dalam memandang masyarakat Muslim. Istilah istilah yang berasal dari fenomena masuarakat Kristen di Barat kemudian dipaksakan masuk ke dalam khzanah keilmuan dalam studi keislaman. Sangatlah tidak mudah menjebol hegemoni penggunaan istilah istilah Barat dalam pemikiran dan Studi Islam yang sudah terlanjur mencengkeram otak profesor, doktor, dan peneliti di kalangan akademisi Muslim dewasa ini. Tetapi, para ilmuwan Muslim tidak boleh menyerah dalam soal ini. (Depok, 10 Agustus 2007) Sumber: ar-risalah No. 75 __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]

