Menurut saya, jawabannya tergantung alasan yang melatarbelakanginya;
  DIBOLEHKAN, jika suami mengijinkan; TIDAK DIBOLEHKAN, jika suami tak 
mengijinkan;
  seorang suami telah mendapatkan limpahan tanggung jawab dari orang tua si 
istri ketika IJAB-QOBUL Ketika itulah Usai semua kewajiban orang tua si istri 
terhadap anak perempuannya (sitri kita), dan gugur pula prioritas 'pengabdian' 
Istri terhadap orang tuanya, berganti untuk 'mengabdi' pada suami;
  SEnantiasa BERSYUKUR merupakan cara yang diajarkan ISLAM untuk 
'melipatgandakan' RIZQI. Tuhan MAha kaya dan Maha Kuasa untuk mengabulkan 
setiap doa orang-orang yang 'teraniaya', termasuk seorang istri yang dalam 
kemanusiawiannya merasa besaran nafkah suami belum dapat memenuhi kebutuhan 
hidup yang relatif layak;
  Alloh tidak MEWAJIBKAN seorang istri untuk menafkahi keluarga. MEskipun Alloh 
tidak melarangnya, Namun sungguh cukup berat loh tugas seorang isti untuk 
membantu suami mendidik dan membesarkan anak-anak..
  Allohlah yang maha mengetahui atas segala sesuatu...
   
  tabik, 
  dd   

Mulyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Memang semua kembali ke kondisi keluarga dan masing2 orangnya.
Bagi yang mengalami kegoncangan keluarga (dalam beberapa hal atau semua hal)
bila istri bekerja, ya berarti akan lebih baik istri tidak bekerja.
Bagi yang mengalami lebih bahagia dan lebih baik kondisi keluarganya (dalam
beberapa hal atau semua hal) bila istri bekerja, ya berarti itulah yg
terbaik.

Kalau kita mampu mencermati kondisi sekeliling kita, baik orang2 yang secara
materi boleh dibilang kaya, papa, atau biasa2 saja, sangat bermacam2 keadaan
kehidupan rumah tangga mereka. Baik yang istrinya bekerja maupun yg hanya
jadi ibu rumah tangga. Ada beberapa cerita yang bisa diambil hikmahnya dari
sekitar saya:

A. Kakak saya sendiri, lumayan berkecukupan, bahkan berlebih dalam hal
materi. Suami bekerja, istri bekerja, tapi peghasilan istri jauh lebih besar
daripada suami. Anak2nya begitu lulus SD langsung mandiri semua, tidak ada
pengasuh sama sekali, bahkan jauh dari orangtuanya. Ortunya kerja di
Jakarta, anak2nya di Solo. Anak pertama perempuan, saat SMU hampir saja
terjerumus ke pergaulan negatif. Ortunya kelabakan setengah mati
mengatasinya, walaupun akhirnya kembali baik. Sekarang menjadi gadis yang
pintar dan cukup dewasa dan benar2 jauh dari masa lalunya, dan hampir lulus
kuliah (belum lulus saja sudah diincar/ditawari pekerjaan di sebuah
perusahaan besar di Jakarta). Adiknya laki-laki cukup pendiam (saat ini
kelas 2 SMU) dan kepandaiannya jauh lebih baik di atas kakaknya. Semua itu
dilakoni anak2nya tanpa ada kedua ortu di sampingnya dan tanpa ada pembantu,
ataupu pengasuh. Anak2 mereka benar2 tumbuh dan berkembang mandiri, kecuali
biasa pendidikan yang memang dipenuhi kedua ortunya.

B. Teman saya, suami bekerja dengan penghasilan pas2an. Istri tidak bekerja,
tapi tuntutannya di luar kemampuan suaminya. Sehingga sering beratem dan
suami menjadi korban kekerasan istrinya dalam rumah tangga. Tapi ketika
suami meminta istrinya ikut kerja, istri menolak, memilih diam di rumah
dengan sejuta tuntutan. Kondisi ini menyebabkan mereka pernah bercerai
beberapa bulan, walaupun akhirnya rujuk kembali karena adanya anak.

C. Tetangga saya, suami istri bekerja dengan hasil pas2an, tapi si istri
jadi besar kepala merasa punya penghasilan, dan anak tak terurus,
sebagaimana cerita saya sebelumnya.

D. Teman sekantor saya, istri tinggal di rumah mertua bersama suaminya.
Suami istri bekerja, hasil pas2an. Anak diasuh mertua. Tapi, keluarga ini
sering berantem (suami, istri, mertua) karena berbagai masalah dalam rumah
tangga. Mertua merasa tdk sanggup mengurus anaknya, krn dia sendiri juga
punya anak kecil. istri maunya di rumah mengurus anak asalkan suami sudah
bisa menyediakan rumah sendiri dan segera pisah dengan orang tua. Karena hal
ini tdk terpenuhi, istri terpaksa harus kerja agar cepat bisa beli rumah,
akhirnya permasalahan semakin menjadi. Sementara suami membela ibunya,
karena merasa dia harus berbakti dan merawat ibunya. Di sini anak menjadi
korban percekcokan yang tak ada habisnya di rumah tangga mereka. Bahkan
dalam kemarahannya, suami pernah mengucap kata cerai pada istrinya, yg
sampai sekarang si istri masih bingung dgn statusnya, atas ucapan suaminya
tsb.

E. Saya sendiri, dulu kondisi kami sangat pas2an cenderung kurang. Istri
minta ijin bekerja, anak diasuh tetangga dengan sejumlah upah. Setelah
dihitung2 ternyata penghasilan istri tidak mencukupi untuk transport dia
sendiri, upah yang ngasuh, jajan anak, makan anak dll. Keuangan dulu selalu
merasa kurang dan utang sana sini, akhirnya istri minta bekerja. Sudah sama2
kerja pun masih demikian juga. Dan anak, namanya diasuh tetangga, anak jadi
tdk terurus dlam segala hal, karena kesempatan ibu saat ada di rumah merawat
anak hanya sedikit sekali, lebih banyak di tempat kerja. Akhirnya aku
putuskan istri untuk tidak bekerja. Alhamdulillah, setelah melalui
serangkaian kejadian dan dari kesepakatan kami, sekarang kondisi kami tidak
sebegitu mengenaskan kayak dulu, cukup, dan sedikit lebih malah. Anak cukup
terawat, dan sekarang sudah masuk TK, kesempatan ibunya untuk mendidiknya
yang terbaik.

F. Tetangga saya, awalnya suami bekerja istri di rumah. Ketika suami terPHK,
gantian istri bekerja, suami di rumah merawat anak, mengurus rumah, nyuci,
masak, dll sampai beberapa tahun. Setelah anak2nya masuk usia sekolah,
diperlukan biaya lebih, suami mencoba cari pekerjaan dan mendapatkannya.
Anak2 di rumah tanpa pembantu dan pengasuh, karena kondisi pas2an alias tdk
ada dana untuk upah pembantu. Karena dirasa anak2 dirumah tdk terawat,
akhirnya diputuskan istri berhenti kerja dan kewajiban suami mencukupi
kebutuhan keluarga. Beberapa lama kemudian kebutuhan keluarga terasa semakin
tinggi, istri kembali bekerja. Karena penghasilan istri lebih baik, dan
anak2 tidak terawat, akhirnya diputuskan suami berhenti kerja dan kembali
mengurus rumah tangga. Semua itu mereka jalankan dengan kesepakatan bersama,
dan demi anak2.

Apa yang aku tulis di atas adalah nyata, tapi bukan maksud saya
menggunjing/menggosip, karena saya tidak menyebut nama. Tujuan saya adalah
sebagai ibrah/pelajaran buat kita semua.

Sekali lagi, semua tergantung masing2 keluarga, cara mensikapi, mensepakati.
Dan mungkin perlu ditarik garis tujuan, dalam keluarga tersebut apa tujuan
utama suami istri bekerja. Harta? Anak-anak? Atau harta demi anak-anak? Atau
anak2 demi harta? Atau sekedar hobby? masing2 keluarga pasti punya
kesimpulan masing2. Mudah2an kalau semua dilandasi niat ibadah, mudah2an
apapun keputusan yang diambil keluarga, akan mendapatkan ridla dari Allah
SWT. Kalau Allah sudah ridla, insya Allah keberkahan atas rumah tangga
mereka. Tapi, kalau niat dan keputusan yang diambil menyimpang, mudah2an
Allah segera memberinya hidayah. Amin

Wassalamu'alaikum wr wb.

-----Original Message-----
From: Usman [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, November 15, 2007 1:10 PM
To: BITRA Indonesia; [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected]; Mulyono
Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA

Kalo menurut saya idealnya sebaiknya para isteri tidak bekerja lebih baik di
rumah saja mengurus rumah tangga dan mendidik anak anak supaya menjadi anak
yang soleh...tapi saya akui berat juga kalo misalkan penghasilan suami
pas-pasan sedang bila isteri bekerja akan sangat membantu ekonomi
keluarga...jadi saya kembalikan lagi ke pribadinya masing-masing..

----- Original Message -----
From: [EMAIL PROTECTED]
To: BITRA Indonesia
Cc: [email protected] ; Mulyono
Sent: Thursday, November 15, 2007 12:07 PM
Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA

Ya saya setuju dengan BU Yenny semuanya kembali kepada Diri kita masing-2
dan kembali kepada diri kita sebagai Peran ibu pada diri kita
masing-2 walaupun ada beberapa yang perlu dikhawatirkan namun semuanya
berpulang kepada diri kita masing-2, jika pola didikannya
seperti ibu yenny saya yakin semuanya dapat teratasi, Betul begitu BU
Yenny?karena saya juga ibu yang bekerja dan saya tidak merasa
anak saya dekat dengan pengasuhnya tetapi anak saya juga dekat sekali
kepada saya...semuanya tergantung bagaimana cara mendidik anak dan
bagaimana
cara mengatasi permasalahan seputar anak. selama anak ( Kenakalannya )
masih dalam kategory wajar dalam artian berusaha mencari perhatian
mamahnya atau papahnya.
Banyak koq yang berhasil dalam bekerja dan mengurus anak itu semua kembali
kepada bagaimana kiat-2 Sukses dalam bekerja dan mengasuh anak.

Yah..banyak - banyak berkonsultasi dengan yang lebih mengerti iyakan BU
yenny,

Wassalam,
MARYANI
QA DEPT.
PT. ASMO INDONESIA
MM 2100 INDUSTRIAL TOWN BLOCK FF-3/ FF-5
CIBITUNG BEKASI 17520
PHONE : 62 - 21 8981288 EXT. 219 FAX : 89982777
NICE NET : 5066 - 219
EMAIL ; [EMAIL PROTECTED]

"BITRA Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
11/15/2007 09:29 AM

To: <[email protected]>, "Mulyono" <[EMAIL PROTECTED]>
cc:
Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA

Membaca jawaban Pak Mulyono, saya jadi ingat pengalaman pribadi saya dan
suami. Saya seorang istri yang bekerja walaupun sebenarnya saya lebih suka

mengurus rumah tangga, mulia banget gitu kesannya.Dan saya memang tidak
mau
bekerja setelah kami menikah.Namun suami meminta saya untuk bekerja dengan

beberapa alasan, diantaranya gelar yang saya peroleh sayang jika tidak
dimanfaatkan untuk bekerja dan membantu keuangan keluarga, kebetulan gaji
suami pas-pasan banget. Awalnya kekhawatiran seperti yang dikemukakan oleh

Bapak juga sempat ada dipikiran kami, terutama saya. Apalagi saya sebagai
ibu, juga takut kalau anak saya nantinya lebih dekat ke pengasuhnya
daripada
saya ibunya.

Tetapi hal itu semua tidak terbukti. Anak walaupun dititipkan pada
pengasuh/tetangga, tetapi dia tetap sayang dan dekat kepada kami. Awalnya
setiap pagi dia nangis kalau kami tinggal bekerja, tetapi dengan memberi
pengertian kepada anak dengan sabar dan tentu perlu waktu, lama kelamaan
anak akan terbiasa. Perilaku anak seperti yang dikhawatirkan oleh Bapak
bukan hanya terjadi pada anak yang orang tuanya (ibu) bekerja. tetapi hal
ini juga berlaku pada anak yang ibunya tidak bekerja. Ini semua tergantung

pada kita, orang tua (ayah dan ibu).

Memang jengkel sekali disaat pulang kerja, anak juga bertingkah
macam-macam
yang membuat emosi kita naik (marah). tetapi kami sadar bahwa setelah
seharian bekerja diluar, kami juga punya tanggung jawab terhadap anak.
Anak
butuh perhatian dan kasih sayang kita, orang tuanya. Oleh karena itu
kerewelan anak kami anggap sebagai caranya untuk mencari perhatian kami.
Apabila orang tua sadar pada perannya masing2 maka kekhawatiran2 itu akan
dapat teratasi. Tetapi kita juga harus punya aturan sehingga anak tidak
sesukanya saja. Komunikasi dengan anak tetap harus kita jaga, selain
sebagai
orang tua kita juga harus bisa berperan sebagai teman, sahabat bagi anak
sehingga mereka merasa dekat dengan kita dan tidak kaku.

Mengenai godaan di tempat kerja, bukan hanya akhwat saja lho yang
mengalami,
justru ikhwan juga mengalaminya, bahkan ikhwan juga yang suka menggoda
walaupun sudah ada istri (jangan tersinggung ya?). Itu semua tergantung
pada
diri kita, selagi ada iman di dada, suami dan istri tahu dan mengerti hak
dan kewajibannya, tidak merasa satu pihak lebih berkuasa atau lebih hebat
(terutama dalam hal penghasilan), ikhlas dan bersyukur, insya allah.....

Wassalam,

Yenni

----- Original Message -----
From: "Mulyono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, November 14, 2007 2:38 PM
Subject: RE: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA

Assalamu'alaikum wr. wb.

Jawab: Ya, saya keberatan jika istri bekerja. Memang semua tergantung
kondisi keluarga, tergantung orang2nya. Tapi, banyak cerita juga dari
rekan2
kami yang lain, pada umumnya lebih banyak mengundang fitnah dan
mudharatnya
drpd manfaatnya.
Alasan:
1.Anak tidak terurus. Anak dititipkan ke pembantu/pengasuh/tetangga:
- anak jadi sedih, setiap dipamitin bapak ibunya mau berangkat kerja
kelihatan sedih, dan merengek minta ditemani (maunya ibunya tdk usah
kerja)
- makannya tdk terurus,istirahat/waktu tidurnya jadi kacau
- lama-lama kelakuannya jadi bandel, susah datur
2. Anak yang susah diatur, bapak ibunya capek pulang kerja, jadi uring2an
dan marah mulu, yang tentu semakin membebani pikiran anak
3. Tujuan bapak dan ibu kerja, mungkin mencari tambahan pendapatan, kalau
hanya memburu kekurangan harta tdk akan pernah ada habisnya
4. Istri sering cerita, di tempat kerja banyak yang naksir/godain. Ya
kalau
kuat imannya, kalau lebih cerdik setannya...? dan kenyataan tdk sedikit yg
terjerumus
5. Terkadang kalau ada masalah keluarga, istri sering bersikap cuex,
mungkin
karena merasa punya pendapatan sendiri.
6. Dll, intinya bagi kami kalau istri bekerja akan lebih banyak akibat
buruknya drpd manfaatnya.

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of ujungdunia2001
Sent: Wednesday, November 14, 2007 1:00 PM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA

Assalamu alaikum ya akhi fillah

Mohon dijawab ya pertanyaan ini.

Apakah antum keberatan jika akhwat (calon / istri) antum bekerja?
Jawab:. (ya / tidak)

Apa alasannya:.

Mohon ceritakan pengalaman antum dengan akhwat yang bekerja:.

Jazakallah khairon katsiran

Salam
Denny

Disclaimer
This message (and any associated files) is intended only for the use of
the
individual or entity to which it is addressed and may
contain information that is confidential, subject to copyright or
constitutes a trade secret. If you are not the intended recipient
you are hereby notified that any dissemination, copying or distribution of

this message, or files associated with this message,
is strictly prohibited (PT Datascrip). If you have received this message
in
error, please notify us immediately by replying to the message and
deleting
it from your computer.

[Non-text portions of this message have been removed]

Untuk bergabung ke milis Syiar Islam kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]

Website:
http://www.media-islam.or.id
http://syiarislam.wordpress.com
http://islamicbroadcasting.wordpress.com
Yahoo! Groups Links

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]



                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke