Assalamu'alaikum wr. wb.

Bagaimana kalau kita tidak mengucapkan selamat kpd penganut nasrani, akan 
tetapi kirim sms yang berisi do'a, misalnya:
"Semoga dihari-hari mendatang bapak mendapatkan hidayah dari-NYA" (maksudnya 
kita doakan semoga Allah memberikan Hidayah kepada rekan/sejawat/kerabat 
agar nantinya seiman dengan kita)
apalagi atasan-atasan  di kantor saya hampi semuanya non muslim, ada juga yg 
muslim tapi bukan penentu kebijakan perusahaan (humas).

mohon tanggapan dan petunjuknya

Wassalamu'alaaikum wr. wb.
-----Original Message-----
From: "Suhardiono Dino" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Syiar Islam" <[email protected]>
Date: Tue, 18 Dec 2007 13:15:15 +0700
Subject: [syiar-islam] Tahun Baru

BlankTahun Baru

Oleh
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta

Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada 
para hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di 
antara rahmatNya pula, Allah Ta'ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum 
Mukminin, agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka 
memohon kepadaNya agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di 
atasnya. Dalam hal ini, Allah Ta'ala telah memberikan spesifikasi jalan 
(shirath) ini sebagai jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan 
orang-orang shalih yang Dia anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan 
jalan orang-orang yahudi, nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik 
yang menyimpang darinya.

Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk 
mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur 
kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga 
akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang 
dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.

Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah 
di saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh pencampuradukan antara 
al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas 
upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus 
kebenarannya dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin 
darinya serta memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana 
yang memungkinkan. Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan 
tuhudan dan kebohongan-kebohongan terhadanya guna menghadang seluruh manusia 
dari jalan Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada 
RasulNya, Muhammad bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh 
firman-firman Allah Ta'ala.

Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar 
orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap 
kebatilan yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, 
karenanya Ibnu Al-Qayyim berkata " Adapun mengucapkan selamat terhadap 
syi'ar-syi'ar keagamaan orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka 
haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat 
dalam rangka hari-hari besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan 
'Semoga hari besar ini diberkahi' atau ucapan semisalnya dalam rangka hari 
besar tersebut. Dalam hal ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran 
akan tetapi dia tidak akan lolos dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini 
sama posisinya dengan bilamana dia mengucpkan selamat karena dia (orang 
kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, dosa dan kemurkaan terhafap hal itu 
lebih besar dari sisi Allah ketimbang mengucapkan selamat atas minum khamr, 
membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina dan semisalnya. Banyak sekali 
orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien pada dirinya terjerumus ke 
dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya perbuatannya. Maka, siapa 
saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena suatu maksiat, 
bid'ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia telah mendapatkan 
kemurkaan dan kemarahan Allah"

"Artinya : Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat 
mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kami beriman, karena dengki yang 
(timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran" 
[Al-Baqarah : 109]

"Artinya : Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka 
(sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak 
menyadarinya" [Ali-Imran : 69]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang 
kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), 
lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" [Ali-Imran : 149]

"Artinya : Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari 
jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi 
bengkok, padahal kamu menyaksikan, "Allah sekali-kali tidak lalai dari apa 
yang kamu kerjakan" [Ali Imran : 99]

Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta'ala telah 
berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.

"Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya 
Kami benar-benar memeliharanya" [Al-Hijr : 9]

Salam,
Dino

[Non-text portions of this message have been removed]


 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke