BlankTahun Baru

Oleh
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta

Sesungguhnya nikmat yang paling besar yang dianugrahkan oleh Allah kepada para 
hambaNya adalah nikmat Islam dan hidayah kepada jalanNya yang lurus. Di antara 
rahmatNya pula, Allah Ta'ala mewajibkan kepada para hambaNya, kaum Mukminin, 
agar memohon hidayahNya di dalam shalat-shalat mereka. Mereka memohon kepadaNya 
agar mendapatkan hidayah ke jalan yang lurus dan mantap di atasnya. Dalam hal 
ini, Allah Ta'ala telah memberikan spesifikasi jalan (shirath) ini sebagai 
jalan para Nabi, Ash-Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih yang Dia 
anugrahkan nikmatNya kepada mereka. Jadi, bukan jalan orang-orang yahudi, 
nashrani dan seluruh orang-orang kafir dan musyrik yang menyimpang darinya.

Bila hal ini sudah diketahui, maka adalah wajib bagi seorang Muslim untuk 
mengenal kadar nikmat Allah kepadanya sehingga dengan itu, dia mau bersyukur 
kepadaNya melalui ucapan, perbuatan dan keyakinan. Dalam pada itu, dia juga 
akan menjaga nikmat ini dan membentenginya serta melakukan sebab-sebab yang 
dapat menjaga hilangnnya nikmat tersebut.

Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Dienullah di 
saat kondisi dunia dewasa ini yang diselimuti oleh pencampuradukan antara 
al-haq dan kebatilan pada kebanyakan orang, dia akan mengetahui dengan jelas 
upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus kebenarannya 
dan memadamkan cahayanya, upaya menjauhkan kaum Muslimin darinya serta 
memutuskan kontak mereka dengannya melalui berbagai sarana yang memungkinkan. 
Belum lagi, upaya memperburuk citra Islam dan melabelkan tuhudan dan 
kebohongan-kebohongan terhadanya guna menghadang seluruh manusia dari jalan 
Allah dan dari beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad 
bin Abdullah. Pembenaran statement ini dibuktikan oleh firman-firman Allah 
Ta'ala.

Seorang Muslim tidak boleh mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar 
orang-orang kafir karena hal itu merupakan bentuk kerelaan terhadap kebatilan 
yang tengah mereka lakukan dan membuat mereka bergembira, karenanya Ibnu 
Al-Qayyim berkata " Adapun mengucapkan selamat terhadap syi'ar-syi'ar keagamaan 
orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka haram hukumnya menurut 
kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat dalam rangka hari-hari 
besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan 'Semoga hari besar ini 
diberkahi' atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut. Dalam hal 
ini, kalaupun pengucapnya lolos dari kekufuran akan tetapi dia tidak akan lolos 
dari melakukan hal yang diharamkan. Hal ini sama posisinya dengan bilamana dia 
mengucpkan selamat karena dia (orang kafir) itu sujud terhadap salib. Bahkan, 
dosa dan kemurkaan terhafap hal itu lebih besar dari sisi Allah ketimbang 
mengucapkan selamat atas minum khamr, membunuh jiwa yang tidak berdosa, berzina 
dan semisalnya. Banyak sekali orang yang tidak memiliki sedikitpun kadar dien 
pada dirinya terjerumus ke dalam hal itu dan dia tidak menyadari jeleknya 
perbuatannya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba 
karena suatu maksiat, bid'ah atau kekufuran yang dilakukannya, berarti dia 
telah mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah"

"Artinya : Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat 
mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kami beriman, karena dengki yang 
(timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran" 
[Al-Baqarah : 109]

"Artinya : Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka 
(sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak 
menyadarinya" [Ali-Imran : 69]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang 
kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), 
lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" [Ali-Imran : 149]

"Artinya : Katakanlah, Hai ahli kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari 
jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi 
bengkok, padahal kamu menyaksikan, "Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang 
kamu kerjakan" [Ali Imran : 99]

Dan ayat-ayat lainnya. Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta'ala telah 
berjanji untuk mejaga dienNya dan kitabNya, dalam firmanNya.

"Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami 
benar-benar memeliharanya" [Al-Hijr : 9]


Salam,
Dino



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke