saudaraku...
Islam memang menempatkan akal ditempat yang tinggi, namun tetap sesuai
porsinya.salah satu kesesatan yang sering terjadi adalah karena menempatkan
akal diluar porsinya menurut islam. Akal hanya bisa menangkap sesuatu yang
bisa dirasa dengan indra, sedangkan dalam agama ini begitu banyak hal yang
tidak bisa ditangkap dengan indra kita.
Iblis lebih menggunakan akalnya, ketika menolak bersujud dengan adam karena
menurut akalnya Api itu lebih baik dari tanah, dan gugurlah keimanan iblis.
Demikian juga banyak orang islam sekarang yang lebih menggunakan akalnya
untuk mengutak atik hukum Allah yang sudah tidak perlu lagi campur tangan
akal dan masuk wilayah keimanan.
Filsafat Fritjoh, Hegel, Ibnu Arabi mungkin bagi mereka merasa lebih
membanggakan daripada pendapat Imam Nawawi, Ibnu Hajar Atsqolani
dsb.jadilahpaham relativisme, tafsir hermeneutika menggejala dan
begitu didolakan oleh
sebagian kecil orang namun dengan dana yang besar.Payahnya lagi, yang
seperti ini sebagian diantaranya tidak mau mengkaji baerbagai kitab, lebih
senang nongkrong, gondrong bahkan jika kita lihat video di IAIN Bandung yang
dengan beraninya mengatakan " Wilayah Bebas Tuhan " (Na'udzubillah),
orangnya kendati mengaku islam gondrong, kumal dan cara dandannya pun entah
darimana yang dicontoh. Merokok ngebul seperti kereta. jadi susah jika mau
berdiskusi islam namun akhlaknya jaub dari islam. Jauh panggang daripada
api.
On 2/6/08, Wildan Arief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wabah Paham Relativisme Kebenaran
> Senin, 02 Januari 2006
> Belakangan ini, di sejumlah kampus Islam dikembangkan
> pemikiran-pemikiran liberal dan relativisme. Misalnya,
> mengatakan akal itu relatif. Baca Catatan Akhir Pekan
> (CAP) Adian Husaini ke-128
>
> Senin, 2 Januari 2005
>
> Oleh: Adian Husaini *)
>
> Pada Hari Kamis (29/12/2005), sejumlah mahasiswa
> Universitas Indonesia datang ke rumah saya. Kami
> mendiskusikan tentang perkembangan pemikiran Islam,
> khususnya di lingkungan kampus UI. Ada yang menarik
> dari cerita para mahasiswa UI itu, bahwa saat ini, di
> sebagian organisasi Islam dan sebagian fakultas di UI,
> diskusi tentang masalah relativisme kebenaran sudah
> sering dilakukan.
> Pemikiran-pemikiran liberal dalam keagamaan juga mulai
> berkembang. Kadang-kadang mereka
> tidak bisa mencapai hasil yang memuaskan dan banyak
> yang tidak dapat menyimpulkan, bagaimana sebenarnya
> posisi akal manusia dalam menyikapi kebenaran.
>
> Cerita para mahasiswa UI itu tidaklah terlalu
> mengejutkan, sebab di lingkungan pendidikan tinggi
> Islam, wacana kebenaran relatif sudah agak lama
> disebarkan. Mereka sering menyatakan, bahwa akal
> manusia bersifat relatif, sedangkan Tuhan itu bersifat
> mutlak atau absolut, sehingga tidak semua kebenaran
> Tuhan dapat dipahami oleh manusia.
>
> Ujung dari penyebaran paham ini memang sangat
> mengkhawatirkan, yaitu ketidakyakinan atau keraguan
> umat beragama terhadap kebenaran agamanya sendiri.
> Inilah akar dari pemikiran Pluralisme Agama yang
> mengakui kebenaran relatif dari semua agama.
>
> Paus Benediktus XVI sendiri mengingatkan, bahwa Eropa
> saat ini sedang dalam bahaya besar, karena paham
> relativisme iman yang mendalam. (Lihat, Libertus
> Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman
> Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.).
>
> Jauh sebelumnya, penyair besar Pakistan, Moh. Iqbal,
> sudah mengingatkan, bahaya pendidikan modern ala Barat
> yang juga menancapkan keraguan dan menghilangkan
> keyakinan dalam beragama.
>
> Hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, kata Iqbal,
> lebih buruk dari perbudakan. Itulah yang diingatkan
> Iqbal, berpuluh tahun lalu: "Conviction enabled
> Abraham to wade into the fire; conviction is an
> intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you,
> oh victims of modern civilization! Lack of conviction
> is worse than slavery."
>
> Anehnya, di lingkungan pendidikan tinggi Islam
> sendiri, justru pemikiran ini disebarkan dan diajarkan
> kepada para mahasiswa.
>
> Dari IAIN Bandung, misalnya, seorang dosen menulis
> buku untuk mahasiswanya, yang
> mengajarkan paham relativisme kebenaran. Ia menulis
> dalam sebuah bukunya, bahwa "Agama adalah seperangkat
> doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran
> Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya.
>
> Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman
> para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan,
> atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi
> bersifat relatif, dan sudah pasti kebenarannya menjadi
> bernilai relatif."
>
> Dalam bukunya yang lain, ia menulis, bahwa bahwa
> kebenaran agama memiliki dua pengertian, yakni (1)
> kebenaran tekstual atau wahyu, yakni
> kebenaran-kebenaran yang ada dalam kitab-kitab suci,
> (2) kebenaran empirik, yakni keyakinan manusia
> beragama berdasarkan penyikapan, pemahaman, dan
> interpretasi kebenaran tekstual wahyu. Kebenaran
> pertama bernilai mutlak, sedangkan kebenaran kedua
> bernilai relatif.
>
> Buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. H.A.
> Hidayat, Direktur Pascasarjana IAIN
> Sunan Gunung Djati Bandung. Tampak dari penjelasan
> penulis buku ini, bahwa kebenaran akal bersifat
> relatif, sehingga manusia tentu saja tidak akan pernah
> sampai pada kebenaran mutlak.
>
> Pemikiran ini sangat keliru. Jika begitu
> kesimpulannya, lalu kapan manusia, dengan pemahaman
> akalnya, akan sampai pada keyakinan yang disyaratkan
> pada iman?
>
> Banyak jargon-jargon indah yang disebarkan untuk
> mengemas paham relativisme kebenaran, sehingga tampak
> logis dan menarik, seperti ungkapan "bedakan antara
> agama dan keberagamaan", "jangan mensucikan pemikiran
> keagamaan", "agama adalah mutlak, sedangkan pemikiran
> keagamaan adalah relatif", "manusia adalah relatif,
> karena itu semua pemikiran produk akal manusia adalah
> relatif juga", "tafsir adalah produk akal manusia,
> sehingga tidak bisa mutlak semutlak seperti wahyu itu
> sendiri", "selama manusia masih berstatus manusia maka
> hasil pemikirannya tetap parsial, kontekstual, dan
> bisa saja keliru", dan sebagainya.
>
> Sepintas, kata-kata itu terasa logis, dan tampak
> indah. Jika tidak berhati-hati dan kurang ilmu, maka
> bukan tidak mungkin seseorang akan terpengaruh.
> Apalagi, jika yang mengatakannya adalah seorang doktor
> atau profesor di bidang studi agama.
>
> Padahal, paham ini memang sangat destruktif terhadap
> pemikiran Islam, dan juga pada keyakinan iman.
> Berangkat dari paham relativisme ini, maka tidak ada
> lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak.
>
> Bagaimana dengan Nabi, Ijma' Sahabat? Imam Bukhari dan
> para ulama hadits lainnya banyak menyepakati tentang
> kesahihan dan kemutawatiran banyak hadits Nabi. Mereka
> menuangkan
> pemikiran mereka ke dalam kitab-kitab hadits, hasil
> akal pikiran mereka. Dalam bidang tafsir, maka tidak
> ada lagi tafsir yang qath'iy, tidak ada yang pasti
> kebenarannya, semuanya relatif, semuanya zhanniy.
>
> Seorang profesor yang banyak mengembangkan paham ini
> adalah M. Amin Abdullah. Dalam sebuah bukunya, ia
> menulis tentang masalah kebenaran (truth, al-haqq)
> dari agama-agama, yang dikataknnya ada tiga pilihan
> sikap dan keyakinan yang tersedia bagi umat beragama,
> yaitu:
>
> Pertama, keyakinan bahwa memang ada kebenaran secara
> absolut mutlak. Untuk itu, seorang agamawan yang baik
> harus berupaya dan yakin betul bahwa dia suatu saat
> kelak dapat mencapai kebenaran yang absolut tersebut.
>
> Cara yang ditempuh bermacam-macam. Yang paling agak
> mencolok adalah memandang rendah dan menegasikan
> keberadaan dan hidup orang lain. Inilah, kata Amin
> Abdullah, sikap dan keyakinan beragama yang bersifat
> absolut.
>
> Para pengikut pendirian absolutis ini baik, tetapi
> akan menghadapi berbagai kendala psikologis,
> sosiologis, maupun filosofis, jika Kebenaran dengan
> K besar hanya dimaksudkan berlaku
> untuk ajaran agamanya sendiri. Radikalisme,
> fundamentalisme, dan ekstrimisme diperkirakan dengan
> dapat mudah muncul dari sikap ini.
>
> Kedua, keyakinan bahwa kebenaran (truth) itu tidak
> ada. Jika pun ada, ia hanya ada pada benak diri
> seseorang, yang "kebetulan" membutuhkan dan
> memikirkannya, tetapi kebenaran dimaksud belum tentu
> ada dalam benak orang lain. Dengan begitu, tidak ada
> standar moral yang tegas yang dapat dipegang
> bersama-sama. Yang ada hanyalah "kebetulan" dan
> "ketidakteraturan" secara radikal.
>
> Paham kedua inilah yang disebut-sebut sebagai
> pendukung relativisme radikal dan dapat dengan mudah
> mengarah ke nihilisme moral.
>
> Ketiga, inilah pendapat yang dipilih oleh Amin
> Abdullah, yakni sikap dan keyakinan hidup ini
> berasumsi, bahwa "Kebenaran" dengan K besar itu
> memang ada. Namun, sayang hanya "sebagian kecil"
> Kebenaran dengan K besar tersebut yang dapat
> dipahami, diperoleh, diraih dan dinikmati oleh umat
> manusia pada umumnya dan umat beragama khususnya.
> Sebagian besar "Kebenaran" tersebut, tidak atau belum
> terjangkau oleh akal budi manusia karena keterbatasan
> "bahasa", "akal pikiran", "budaya", "pendidikan", dan
> sebagainya.
>
> Sikap ketiga ini, menurut Amin Abdullah, paraleldengan
> makna terdalam dari ayat al-Quran dalam surah
> al-Kahfi: "Katakanlah: kalau sekiranya lautan menjadi
> tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku
> (Kebenaran dengan K besar penulis (Amin Abdullah))
> sungguh habslah air lautan itu sebelum habis (ditulis)
> kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan
> tambahan air laut sebanyak itu pula."
>
> Menurut Amin Abdullah, ''Ayat ini sungguh memberi
> inspirasi yang luar biasa dan yang tak kenal batas,
> sekaligus mendorong umat manusia untuk berbuat yang
> terbaik menurut ukuran periode sejarah dan tantangan
> pergumulan sosial yang dilaluinya. Jika ayat tersebut
> dapat memberi secercah 'kebenaran', maka kebenaran
> dengan k kecil tersebut harus dapat diuji oleh
> Community of Religious Studies, Community of
> Researchers pada umumnya.
>
> Tidak ada klaim di situ karena semua "kebenaran" yang
> bisa dicapai oleh manusia hanyalah kebenaran-kebenaran
> yang bersifat "parsial", "aspektual", dan
> "fragmentaris", yaitu kebenaran-kebenaran dengan k
> kecil. Dengan begitu kebenaran perlu terus digali,
> dibicarakan
> ulang, didiskusikan, dikritisi, diuji dengan kepala
> dingin, serta dimengerti dan dipahami secara arif."
> (Lihat, M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural,
> (Bandung: Mizan, 2000).
>
> Meskipun pandangannya dirumuskan dengan bahasa yang
> agak 'canggih', tetapi dengan mudah dapat dipahami,
> bahwa pandangan Amin Abdullah seperti itu, akhirnya
> berujung pada pandangan dan sikap skeptis tentang
> kebenaran.
>
> Jika kebenaran yang dipahami oleh manusia senantiasa
> ditempatkan pada posisi kebenaran dengan k kecil yang
> mungkin salah dan bisa dikritisi, maka manusia tidak
> akan pernah sampai pada tahap keyakinan akan satu
> kebenaran yang dipahaminya.
>
> Padahal, Al-Quran diturunkan untuk dipahami manusia
> yang memang tidak diperintahkan untuk menjadi Tuhan.
> Manusia diperintahkan meyakini kebenaran yang mutlak,
> pada tataran manusia, bukan pada tataran Tuhan.
>
> Sebab, itu memang tidak mungkin. Apakah kebenaran
> dengan K besar atau k kecil, yang terpenting adalah
> bahwa akal manusia bisa saja mencapai tahap kepastian
> dan keyakinan ('ilm).
>
> Para mufassir al-Quran, meskipun mereka berbeda dalam
> beberapa hal, menyangkut
> penafsiran ayat-ayat yang memang zhanny al-dalalah,
> tetapi mereka juga banyak bersepakat dalam berbagai
> hal.
>
> Pemahaman mereka untuk ayat-ayat tertentu, tidak
> berbeda, dan sampai pada tahap kepastian kebenaran.
>
> Sebagai misal, pemahaman para mufassir bahwa Nabi
> Muhammad saw adalah Nabi terakhir, bahwa Allah adalah
> satu (ahad), Allah tidak punya anak, dan tidak
> diperanakkan, pemahaman bahwa salat lima waktu wajib,
> zakat wajib, haji wajib, puasa Ramadhan wajib, riba,
> babi, zina, judi adalah haram, dan sebagainya, adalah
> contoh-contoh pemahaman yang tidak
> 'parsial-kontekstual' dan 'tidak mungkin keliru'.
>
> Pemahaman mufassir tentang hal-hal yang pokok dan
> mendasar dalam Islam semacam itu, tidak pernah
> berbeda, dan pasti kebenarannya. Sampai hari kiamat,
> para ulama dan umat Islam pasti memahami bahwa salat
> lima wajtu itu wajib, bahwa puasa Ramadhan itu
> dilakukan di bulan Ramadhan, dan bukan di bulan
> Muharram. Umat Islam di mana pun, dan kapan pun, akan
> sama pikirannya dalam memahami hal itu. Tidak
> tergantung kepada tempat atau konteks sosial-historis
> tertentu.
>
> Jika semua itu dibongkar, sehingga kebenaran pemahaman
> menjadi relatif, maka bukankah itu sama saja dengan
> mengatakan, bahwa semua ayat al-Quran itu zhanny ?
> Bukankah itu sama saja dengan membubarkan Islam?
>
> Jadi, selain keliru, cara pandang tentang kebenaran
> yang relatif itu juga sangat naif. Ketika seseorang
> menyatakan, bahwa semua pemikiran manusia itu relatif
> dan parsial kontekstual, maka ucapan atau tulisan
> orang itu sendiri pun merupakan hal yang relatif, dan
> tidak perlu dijadikan pedoman, karena tidak pasti
> kebenarannya.
>
> Dengan kata lain, jika seseorang sudah ragu-ragu
> dengan kebenaran ucapan atau pendapatnya
> sendiri, mengapa keraguan itu harus diikuti oleh orang
> lain.
>
> Imam Nawawi, dalam hadits ke-11, Kitab al-Arbain
> Nawawiyah, menyebutkan satu hadits Rasulullah saw:
> "Tinggalkanlah hal yang meragukan, menuju kepada
> kepada hal yang tidak meragukan." (HR. Tirmidzi dan
> Nasai).
>
> Jadi, untuk hal-hal yang bersifat fi'liyyah saja,
> diperintahkan oleh Rasulullah saw, agar orang
> Muslim memilih yang tidak meragukan. Apalagi dalam
> masalah keyakinan keimanan. Tentu saja, hal yang
> yakin, pasti ('ilm) menjadi syarat keimanan, la rayba
> fiihi; tidak boleh ada keraguan di dalamnya.
>
> Karena itu, kita sebagai Muslim, perlu berhati-hati
> dalam menyaring informasi yang masuk ke dalam benak
> kita, dengan cara meningkatkan keilmuan Islam kita,
> agar tidak keliru dan tersesat.
> (Jakarta, 30 Desember 2005/hidayatullah.com).
>
> Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ini bekerjasama
> dengan Radio Dakta 107 FM
>
> __________________________________________________________
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> http://www.yahoo.com/r/hs
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/