Bagaimana pemahaman filosofis ttg relativitas ini kok malah kontra produktif terhadap aqidah, sih ? Pemahaman tentang relativitas kebenaran itu dipakai sebagai salah satu bagian dari proses mencari tuhan. Dari pemahaman bahwa akal manusia itu relatif harusnya memberikan konsekuensi bahwa kebenaran yang bersumber dari kemampuan berakalnya manusia bersifat relatif, dan karenanya itu sumber kebenaran yang mutlak harus berasal dari sesuatu yang mutlak juga. Dan yang mutlak itu sering disebut tuhan. Dan tuhan yang mutlak itu bukan semua tuhan yang diperkenalkan kepada manusia. Dengan melalui debat filosofis akhirnya diperloleh kesimpulan bahwa tuhan harus memiliki kriteria tertentu. Hasil uji filosofisnya bermuara pada : (1) substansi tuhan tidak dapat dicapai berdasarkan kemampuan manusia saja yang bersifat relatif (2) kemampuan akal manusia hanya dapat mencapai eksistensi tuhan saja (tidak sampai pada substansinya) (3) eksistensi tuhan itu mutlak, unique dan distinct, oleh sebab itu (4) untuk mencapai pemahaman substansi tuhan harus merujuk pada informasi dari tuhan.
Tuhan yang manakah yg memenuhi kriteria diatas ? Pendek kata ya ketemunya di tauhid itu. Mana ada tuhan yang mutlak selain Allah sebagaimana QS 29:20 "... Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu", dan QS 57:3 "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu..." . Mana ada tuhan yang unique (hanya satu) selain Allah sebagaimana QS 112:1 "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa" ". Mana ada tuhan yang distinct (berbeda dengan yang lain) selain Allah sebagaimana QS 112: 4 "dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" atau QS 42:11 "...Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia...". Kalau gak percaya silahkan lakukan research ttg ketuhanan, minimal terhadap kitab-kitab agama besar dunia ini. Bandingkan dengan autentisitas Al Quran dan kesesuaiannya dg fitrah manusia. Itulah sekelumit pemahaman filosofis tentang relativitas kebenaran yang menjadi salah satu anak tangga dalam mencapai pemahaman tauhid. Pemahaman dan kesadaran akan relativitas diri manusia merupakan pengakuan atas kelemahannya, sebagimana dinyatakan dalam QS 3:28, bahwa manusia itu dicipta sebagai makhluk yang lemah. Lemahnya manusia itu, ya lemah kepastian ukurannya, lemah kebenaran aturannya, lemah keindahan seninya dst. Kesadaran itu membawa kepada keyakinannya akan adanya yang mutlak dan kuat. Yaitu adanya yang Maha Kuasa. Dari tulisan Adian Husaini ini kita pantas bertanya, bagaimana para mahasiswa kita belajar menjalani uji ilmiah terhadap Islam kok gagal - sehingga hasilnya justru meragukan kebenaran Islam ? Padahal Immaddudin (Bang Imad) melalui buku Kuliah Tauhidnya berhasil mendiskripsikan secara ilmiah filosofis pencapaian kebenaran mutlak untuk memperkuat keyakinan akan aqidah Islam, keyakinan atas laa ilaha illa Allah. Kalau akal kita itu relatif dan tidak mencapai yang mutlak itu tentunya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa akal manusia dengan kemampuannya sendiri tidak mampu mencapai kesimpulan substansi tentang tuhan, tanpa ada informasi dari tuhan. Kalau hanya menggunakan kekuatan akal manusia itu sendiri (kemampuan filosofis, kemampuan empiris tanpa informasi wahyu tuhan) maka manusia hanya akan mencapai kesimpulan tentang eksistensi tuhan saja, tidak sampai pada substansi tuhan. Setelah menemukan yang mutlak, dan memperoleh informasi dari yang mutlak maka akal manusia yang lemah itu harusnyalah tunduk kepada yang mutlak. Ternyata sang mutlak memberikan petunjuk hidup, pedoman hidup, itu ikuti, taati. Bukan malah tidak dapat memahami kebenaran informasi dari Tuhan. Apa ada plesetan dari kurikulumnya, apa ya... :) Sekiranya informasi ttg pendidikan tinggi merujuk pada tulisan Adian Husaini itu saja (karena saya tidak punya bahan lain sih) maka pendidikan tinggi kita mungkin terjebak pada peristilahan non islam untuk mengajarkan ajaran Islam. Akibatnya pemahaman tentang agama dan hidup menjadi salah. Dan keberagamaannya manusia dalam kehidupannya juga jadi makin simpang siur. Ya kalau tidak seluruh umat Islam paling tidak hidupnya mahasiswa itu sendiri. Oleh sebab itu pe'er kita salah satunya ialah menduduk-perkarakan istilah-istilah itu dan mencari formula tepatnya pada saat ingin menerapkannya pada hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Dan kita jangan terpancing atau 'ge-er' oleh penggunaan istilah-istilah itu sebelum berhasil memahami betul maksudnya. Apalagi memberikan vonis atau bertindak tanpa ilmu yang memadahi tentang peristilahan itu. Itulah mengapa orang yang berimannya kepada Allah kalau didukung dengan landasan ilmu, derajatnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan orang beriman kepada Allah tetapi hanya karena dogma/doktrin/taklid saja (QS 58:11). Soal akal, benar bahwa Islam menempatkan akal pada posisi yang tinggi, dengan menunjukkan bahwa manusia itu makhluk yang paling sempurna diatas syaitan dan malaikat sekalipun. Dan itu dikarenakan kemampuan manusia dalam menggunakan akalnya. Sebaliknya, manusia yang tidak menggunakan akalnya akan menjadi hina bahkan lebih hina dari makluk melata. Dan errorrnya umat islam dalam mempelajari islam, sering terkacaukan oleh istilah-istilah non islamis. Penjelasan dan salah satu penggambarannya lihat makalah ttg manusia di http://wikihost.org/wikis/pai/wiki/manusia. Dan makalah ini semoga dapat membantu rekan yang beberapa minggu lalu menanyakan soal janin yang mati sebelum ditiupkan ruhnya. From: "Ginanjar Panggih" <[EMAIL PROTECTED]> saudaraku... Islam memang menempatkan akal ditempat yang tinggi, namun tetap sesuai porsinya.salah satu kesesatan yang sering terjadi adalah karena menempatkan akal diluar porsinya menurut islam. Akal hanya bisa menangkap sesuatu yang bisa dirasa dengan indra, sedangkan dalam agama ini begitu banyak hal yang tidak bisa ditangkap dengan indra kita. ...del.... On Tue, 5 Feb 2008 18:30:15 -0800 (PST) Wildan Arief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Wabah Paham Relativisme Kebenaran > Senin, 02 Januari 2006 > Belakangan ini, di sejumlah kampus Islam dikembangkan > pemikiran-pemikiran liberal dan relativisme. Misalnya, > mengatakan akal itu relatif. Baca Catatan Akhir Pekan > (CAP) Adian Husaini ke-128 > > > Senin, 2 Januari 2005 > > > Oleh: Adian Husaini *) > > > Pada Hari Kamis (29/12/2005), sejumlah mahasiswa > Universitas Indonesia datang ke rumah saya. Kami > mendiskusikan tentang perkembangan pemikiran Islam, > khususnya di lingkungan kampus UI. Ada yang menarik > dari cerita para mahasiswa UI itu, bahwa saat ini, di > sebagian organisasi Islam dan sebagian fakultas di UI, > diskusi tentang masalah relativisme kebenaran sudah > sering dilakukan. > Pemikiran-pemikiran liberal dalam keagamaan juga mulai > berkembang. Kadang-kadang mereka > tidak bisa mencapai hasil yang memuaskan dan banyak > yang tidak dapat menyimpulkan, bagaimana sebenarnya > posisi akal manusia dalam menyikapi kebenaran. > > Cerita para mahasiswa UI itu tidaklah terlalu > mengejutkan, sebab di lingkungan pendidikan tinggi > Islam, wacana kebenaran relatif sudah agak lama > disebarkan. Mereka sering menyatakan, bahwa akal > manusia bersifat relatif, sedangkan Tuhan itu bersifat > mutlak atau absolut, sehingga tidak semua kebenaran > Tuhan dapat dipahami oleh manusia. > > Ujung dari penyebaran paham ini memang sangat > mengkhawatirkan, yaitu ketidakyakinan atau keraguan > umat beragama terhadap kebenaran agamanya sendiri. > Inilah akar dari pemikiran Pluralisme Agama yang > mengakui kebenaran relatif dari semua agama. > > Paus Benediktus XVI sendiri mengingatkan, bahwa Eropa > saat ini sedang dalam bahaya besar, karena paham > relativisme iman yang mendalam. (Lihat, Libertus > Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman > Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.). > > Jauh sebelumnya, penyair besar Pakistan, Moh. Iqbal, > sudah mengingatkan, bahaya pendidikan modern ala Barat > yang juga menancapkan keraguan dan menghilangkan > keyakinan dalam beragama. > > Hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, kata Iqbal, > lebih buruk dari perbudakan. Itulah yang diingatkan > Iqbal, berpuluh tahun lalu: Conviction enabled > Abraham to wade into the fire; conviction is an > intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, > oh victims of modern civilization! Lack of conviction > is worse than slavery. > > Anehnya, di lingkungan pendidikan tinggi Islam > sendiri, justru pemikiran ini disebarkan dan diajarkan > kepada para mahasiswa. > > Dari IAIN Bandung, misalnya, seorang dosen menulis > buku untuk mahasiswanya, yang > mengajarkan paham relativisme kebenaran. Ia menulis > dalam sebuah bukunya, bahwa Agama adalah seperangkat > doktrin, kepercayaan, atau sekumpulan norma dan ajaran > Tuhan yang bersifat universal dan mutlak kebenarannya. > > > Adapun keberagamaan, adalah penyikapan atau pemahaman > para penganut agama terhadap doktrin, kepercayaan, > atau ajaran-ajaran Tuhan itu, yang tentu saja menjadi > bersifat relatif, dan sudah pasti kebenarannya menjadi > bernilai relatif. > > Dalam bukunya yang lain, ia menulis, bahwa bahwa > kebenaran agama memiliki dua pengertian, yakni (1) > kebenaran tekstual atau wahyu, yakni > kebenaran-kebenaran yang ada dalam kitab-kitab suci, > (2) kebenaran empirik, yakni keyakinan manusia > beragama berdasarkan penyikapan, pemahaman, dan > interpretasi kebenaran tekstual wahyu. Kebenaran > pertama bernilai mutlak, sedangkan kebenaran kedua > bernilai relatif. > > Buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. H.A. > Hidayat, Direktur Pascasarjana IAIN > Sunan Gunung Djati Bandung. Tampak dari penjelasan > penulis buku ini, bahwa kebenaran akal bersifat > relatif, sehingga manusia tentu saja tidak akan pernah > sampai pada kebenaran mutlak. > > Pemikiran ini sangat keliru. Jika begitu > kesimpulannya, lalu kapan manusia, dengan pemahaman > akalnya, akan sampai pada keyakinan yang disyaratkan > pada iman? > > Banyak jargon-jargon indah yang disebarkan untuk > mengemas paham relativisme kebenaran, sehingga tampak > logis dan menarik, seperti ungkapan bedakan antara > agama dan keberagamaan, jangan mensucikan pemikiran > keagamaan, agama adalah mutlak, sedangkan pemikiran > keagamaan adalah relatif, manusia adalah relatif, > karena itu semua pemikiran produk akal manusia adalah > relatif juga, tafsir adalah produk akal manusia, > sehingga tidak bisa mutlak semutlak seperti wahyu itu > sendiri, selama manusia masih berstatus manusia maka > hasil pemikirannya tetap parsial, kontekstual, dan > bisa saja keliru, dan sebagainya. > > Sepintas, kata-kata itu terasa logis, dan tampak > indah. Jika tidak berhati-hati dan kurang ilmu, maka > bukan tidak mungkin seseorang akan terpengaruh. > Apalagi, jika yang mengatakannya adalah seorang doktor > atau profesor di bidang studi agama. > > Padahal, paham ini memang sangat destruktif terhadap > pemikiran Islam, dan juga pada keyakinan iman. > Berangkat dari paham relativisme ini, maka tidak ada > lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak. > > Bagaimana dengan Nabi, Ijma Sahabat? Imam Bukhari dan > para ulama hadits lainnya banyak menyepakati tentang > kesahihan dan kemutawatiran banyak hadits Nabi. Mereka > menuangkan > pemikiran mereka ke dalam kitab-kitab hadits, hasil > akal pikiran mereka. Dalam bidang tafsir, maka tidak > ada lagi tafsir yang qathiy, tidak ada yang pasti > kebenarannya, semuanya relatif, semuanya zhanniy. > > Seorang profesor yang banyak mengembangkan paham ini > adalah M. Amin Abdullah. Dalam sebuah bukunya, ia > menulis tentang masalah kebenaran (truth, al-haqq) > dari agama-agama, yang dikataknnya ada tiga pilihan > sikap dan keyakinan yang tersedia bagi umat beragama, > yaitu: > > Pertama, keyakinan bahwa memang ada kebenaran secara > absolut mutlak. Untuk itu, seorang agamawan yang baik > harus berupaya dan yakin betul bahwa dia suatu saat > kelak dapat mencapai kebenaran yang absolut tersebut. > > Cara yang ditempuh bermacam-macam. Yang paling agak > mencolok adalah memandang rendah dan menegasikan > keberadaan dan hidup orang lain. Inilah, kata Amin > Abdullah, sikap dan keyakinan beragama yang bersifat > absolut. > > Para pengikut pendirian absolutis ini baik, tetapi > akan menghadapi berbagai kendala psikologis, > sosiologis, maupun filosofis, jika Kebenaran dengan > K besar hanya dimaksudkan berlaku > untuk ajaran agamanya sendiri. Radikalisme, > fundamentalisme, dan ekstrimisme diperkirakan dengan > dapat mudah muncul dari sikap ini. > > Kedua, keyakinan bahwa kebenaran (truth) itu tidak > ada. Jika pun ada, ia hanya ada pada benak diri > seseorang, yang kebetulan membutuhkan dan > memikirkannya, tetapi kebenaran dimaksud belum tentu > ada dalam benak orang lain. Dengan begitu, tidak ada > standar moral yang tegas yang dapat dipegang > bersama-sama. Yang ada hanyalah kebetulan dan > ketidakteraturan secara radikal. > > Paham kedua inilah yang disebut-sebut sebagai > pendukung relativisme radikal dan dapat dengan mudah > mengarah ke nihilisme moral. > > Ketiga, inilah pendapat yang dipilih oleh Amin > Abdullah, yakni sikap dan keyakinan hidup ini > berasumsi, bahwa Kebenaran dengan K besar itu > memang ada. Namun, sayang hanya sebagian kecil > Kebenaran dengan K besar tersebut yang dapat > dipahami, diperoleh, diraih dan dinikmati oleh umat > manusia pada umumnya dan umat beragama khususnya. > Sebagian besar Kebenaran tersebut, tidak atau belum > terjangkau oleh akal budi manusia karena keterbatasan > bahasa, akal pikiran, budaya, pendidikan, dan > sebagainya. > > Sikap ketiga ini, menurut Amin Abdullah, paraleldengan > makna terdalam dari ayat al-Quran dalam surah > al-Kahfi: Katakanlah: kalau sekiranya lautan menjadi > tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku > (Kebenaran dengan K besar penulis (Amin Abdullah)) > sungguh habslah air lautan itu sebelum habis (ditulis) > kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan > tambahan air laut sebanyak itu pula. > > Menurut Amin Abdullah, Ayat ini sungguh memberi > inspirasi yang luar biasa dan yang tak kenal batas, > sekaligus mendorong umat manusia untuk berbuat yang > terbaik menurut ukuran periode sejarah dan tantangan > pergumulan sosial yang dilaluinya. Jika ayat tersebut > dapat memberi secercah kebenaran, maka kebenaran > dengan k kecil tersebut harus dapat diuji oleh > Community of Religious Studies, Community of > Researchers pada umumnya. > > Tidak ada klaim di situ karena semua kebenaran yang > bisa dicapai oleh manusia hanyalah kebenaran-kebenaran > yang bersifat parsial, aspektual, dan > fragmentaris, yaitu kebenaran-kebenaran dengan k > kecil. Dengan begitu kebenaran perlu terus digali, > dibicarakan > ulang, didiskusikan, dikritisi, diuji dengan kepala > dingin, serta dimengerti dan dipahami secara arif. > (Lihat, M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, > (Bandung: Mizan, 2000). > > Meskipun pandangannya dirumuskan dengan bahasa yang > agak canggih, tetapi dengan mudah dapat dipahami, > bahwa pandangan Amin Abdullah seperti itu, akhirnya > berujung pada pandangan dan sikap skeptis tentang > kebenaran. > > Jika kebenaran yang dipahami oleh manusia senantiasa > ditempatkan pada posisi kebenaran dengan k kecil yang > mungkin salah dan bisa dikritisi, maka manusia tidak > akan pernah sampai pada tahap keyakinan akan satu > kebenaran yang dipahaminya. > > Padahal, Al-Quran diturunkan untuk dipahami manusia > yang memang tidak diperintahkan untuk menjadi Tuhan. > Manusia diperintahkan meyakini kebenaran yang mutlak, > pada tataran manusia, bukan pada tataran Tuhan. > > Sebab, itu memang tidak mungkin. Apakah kebenaran > dengan K besar atau k kecil, yang terpenting adalah > bahwa akal manusia bisa saja mencapai tahap kepastian > dan keyakinan (ilm). > > Para mufassir al-Quran, meskipun mereka berbeda dalam > beberapa hal, menyangkut > penafsiran ayat-ayat yang memang zhanny al-dalalah, > tetapi mereka juga banyak bersepakat dalam berbagai > hal. > > Pemahaman mereka untuk ayat-ayat tertentu, tidak > berbeda, dan sampai pada tahap kepastian kebenaran. > > Sebagai misal, pemahaman para mufassir bahwa Nabi > Muhammad saw adalah Nabi terakhir, bahwa Allah adalah > satu (ahad), Allah tidak punya anak, dan tidak > diperanakkan, pemahaman bahwa salat lima waktu wajib, > zakat wajib, haji wajib, puasa Ramadhan wajib, riba, > babi, zina, judi adalah haram, dan sebagainya, adalah > contoh-contoh pemahaman yang tidak > parsial-kontekstual dan tidak mungkin keliru. > > Pemahaman mufassir tentang hal-hal yang pokok dan > mendasar dalam Islam semacam itu, tidak pernah > berbeda, dan pasti kebenarannya. Sampai hari kiamat, > para ulama dan umat Islam pasti memahami bahwa salat > lima wajtu itu wajib, bahwa puasa Ramadhan itu > dilakukan di bulan Ramadhan, dan bukan di bulan > Muharram. Umat Islam di mana pun, dan kapan pun, akan > sama pikirannya dalam memahami hal itu. Tidak > tergantung kepada tempat atau konteks sosial-historis > tertentu. > > Jika semua itu dibongkar, sehingga kebenaran pemahaman > menjadi relatif, maka bukankah itu sama saja dengan > mengatakan, bahwa semua ayat al-Quran itu zhanny ? > Bukankah itu sama saja dengan membubarkan Islam? > > Jadi, selain keliru, cara pandang tentang kebenaran > yang relatif itu juga sangat naif. Ketika seseorang > menyatakan, bahwa semua pemikiran manusia itu relatif > dan parsial kontekstual, maka ucapan atau tulisan > orang itu sendiri pun merupakan hal yang relatif, dan > tidak perlu dijadikan pedoman, karena tidak pasti > kebenarannya. > > Dengan kata lain, jika seseorang sudah ragu-ragu > dengan kebenaran ucapan atau pendapatnya > sendiri, mengapa keraguan itu harus diikuti oleh orang > lain. > > Imam Nawawi, dalam hadits ke-11, Kitab al-Arbain > Nawawiyah, menyebutkan satu hadits Rasulullah saw: > Tinggalkanlah hal yang meragukan, menuju kepada > kepada hal yang tidak meragukan. (HR. Tirmidzi dan > Nasai). > > Jadi, untuk hal-hal yang bersifat filiyyah saja, > diperintahkan oleh Rasulullah saw, agar orang > Muslim memilih yang tidak meragukan. Apalagi dalam > masalah keyakinan keimanan. Tentu saja, hal yang > yakin, pasti (ilm) menjadi syarat keimanan, la rayba > fiihi; tidak boleh ada keraguan di dalamnya. > > Karena itu, kita sebagai Muslim, perlu berhati-hati > dalam menyaring informasi yang masuk ke dalam benak > kita, dengan cara meningkatkan keilmuan Islam kita, > agar tidak keliru dan tersesat. > (Jakarta, 30 Desember 2005/hidayatullah.com). > > > Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ini bekerjasama > dengan Radio Dakta 107 FM ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bagi anda Pelanggan TELKOM di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. Nikmati Hari SABTU & MINGGU Anda untuk Internetan dengan tarif murah TelkomNet Instant, CUMA Rp.100/menit ALL IN (termasuk pulsa telepon). Nomor Akses : 080989999 User name: [EMAIL PROTECTED] Password : telkom Ayo buruan, promo ini cuma berlaku sampai 31 Desember 2007

