Assalamu'alaikum 

 

Ijinkan saya mencoba untuk menjawab pertanyaan Mas Faisol Muhammad.....

 

Saya yang sedang belajar agama berpendapat bahwa jawaban yang tepat untuk 
permasalahan Mas Faisol adalah "SABAR" seperti yang termaktub dalam Surat Al 
Ashr.

 

Dimana dalam surat itu Allah SWT menyatakan bersumpah demi waktu bahwa 
sesungguhnya manusia adalah dalam keadaan merugi, kecuali bagi mereka yang 
beriman kepada Allah, yang memberikan hak kepada yang berhak, yang tidak 
berlaku bathil dan bagi mereka yang berlaku sabar.

 

Nabi Muhammad menganjurkan memerangi kemunkaran dengan 3 (tiga) cara :

 

1.      Perangi dengan tanganmu apabila mampu dan apabila tidak mampu

2.      Perangi dengan lisanmu dan apabila tidak mampu juga

3.      Perangi dengan hatimu (do’a)

 

Janji Allah itu pasti datangnya baik pahala maupun siksa-NYA.

Semoga pendapat saya dapat diterima.

 

Kesempurnaan hanyalah milik Allah dan segala kekurangan datangnya dari saya 
pribadi.

 

Aamiin.

 

Salam 

 

Iskandar Jusuf

Biro Hubungan Industrial

Human Resource Division

PT. Bank Central Asia, Tbk.

Wisma BCA I Lt. 12 A

Jl. Jend. Sudirman Kav. 22-23

Jakarta Selatan 12920

Phone   : 021-5208750    Ext. 23188

Fax        : 021-5711030

e-mail   : [EMAIL PROTECTED]

 

 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of faisol 
muhammad
Sent: Tuesday, March 25, 2008 1:37 PM
To: [email protected]
Subject: [syiar-islam] Mohon Penjelasan,

 

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

 

Assalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Pertanyaan saya ini sudah lebih dari satu bulan,

tetapi belum ada jawaban. MOHON SAYA DIBANTU,

BAGAIMANA SIKAP KITA?

 

Untuk berusaha meneladani akhlaqul karimah rasulullah

saw ini, saya selalu berdoa ya alloh berilah 

kekuatan iman dan sabar. Setiap pagi

berangkat dan sore selepas kerja selalu berhadapan

dengan pengendara lain di jalan raya yang

"sikut-sikutan" memepet untuk memperoleh jalan duluan.

Ya Alloh sadarkan kami akan kewajiban mengikuti "shaf"

di manapun kami berada. Apakah kita mengalah terhadap

pengendara yang melakukan kesalahan/kemungkaran

dibenarkan? Saya selalu berusaha mengalah saja.

 

Untuk kasus rasulullah dan pengemis yahudi, kalau

boleh saya ibaratkan pengemis buta tsb adalah kartunis

Denmark yg mengejek Nabi Muhammad saw dg gambar

kartunnya, apakah dibenarkan kalau kita tetap harus

berbuat baik dan sopan kepada kartunis, surat

kabarnya, dan bahkan masyarakat dan negaranya? Dalam

kasus rasulullah dan pengemis yahudi, rasulullah saw

sendiri selalu sabar, meskipun dicaci maki

terus-terusan.

 

Dalam kisah lain, ketika abu bakar dicaci seorang arab

badui. Pada cacian ketiga, abu bakar membalas mencaci,

seketika itu rasulullah pergi meninggalkan abu bakar

pertanda tidak setuju atas kemarahan.

 

Mohon pencerahan ustadz/ustadzah, karena tentu

pemahaman ajaran agama secara menyeluruh dalam

memaknai sebuah tindakan pasti lebih baik.

robbii zidnii 'ilmaa warzuqnii fahmaa, amiin.

 

salam,

 

faisol m

 

--- Eko Prasetyo <[EMAIL PROTECTED] <mailto:prasetyo_pirates%40yahoo.co.id> > 
wrote:

 

> Rasulullah SAW dan Pengemis Yahudi

> Di sudut Pasar Madinah, ada seorang pengemis Yahudi

> buta yang setiap hari selalu berkata kepada setiap

> orang yang mendekatinya, ”Wahai saudaraku, jangan

> dekati Muhammad. Dia itu orang gila. Dia itu

> pembohong. Dia itu tukang sihir. Apabila kalian

> mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya.” 

> Namun, setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya

> dengan membawakan makanan dan tanpa berucap sepatah

> kata pun. Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang

> dibawanya kepada pengemis itu. Sedangkan pengemis

> tersebut tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu

> adalah Rasulullah SAW. 

> Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai

> beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah SAW,

> praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan

> setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta tersebut.

> Suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah SAW, yakni

> Abu Bakar ra, berkunjung ke rumah anaknya Aisyah ra

> yang tidak lain tidak bukan merupakan istri

> Rasulullah SAW, dan beliau bertanya kepada anaknya

> itu, ”Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang

> belum aku kerjakan?” Aisyah ra menjawab, ”Wahai

> ayah, engkau adalah seorang ahli sunah dan hampir

> tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah

> lakukan kecuali satu saja.” 

> ”Apakah itu?” tanya Abu Bakar ra. ”Setiap

> pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar

> dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis

> Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah ra.

> Keesokan harinya, Abu Bakar ra pergi ke pasar dengan

> membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu.

> Abu Bakar ra mendatangi pengemis tersebut, lalu

> memberikan makanan itu kepadanya. 

> Ketika Abu Bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis

> marah sambil menghardik, ”Siapakah kamu ?” Abu

> Bakar ra menjawab, ”Aku orang yang biasa.”

> ”Bukan! Engkau bukan orang yang biasa

> mendatangiku,” bantah si pengemis buta tersebut.

> ”Apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan

> ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.

> Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku,

> tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut

> setelah itu dia berikan kepadaku,” pengemis

> tersebut melanjutkan perkataannya. 

> Abu Bakar ra tidak dapat menahan air matanya. Dia

> menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku

> memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku

> adalah salah seorang di antara sahabatnya. Orang

> yang mulia itu telah tiada. Dia adalah Muhammad

> Rasulullah SAW.” Seketika itu juga, pengemis

> tersebut pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar

> ra dan kemudian berkata, ”Benarkah demikian?

> Selama ini, aku selalu menghinanya, memfitnahnya,

> dia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Dia

> mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia

> begitu mulia.... ” 

> Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat

> di hadapan Abu Bakar ra saat itu juga. Dan sejak

> hari itu, dia menjadi muslim. Nah, wahai saudaraku,

> bisakah kita meneladani kemuliaan akhlak Rasulullah

> SAW? Atau, adakah setidaknya niat untuk meneladani

> beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia

> akhlak. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau

> seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha

> meneladani sedikit demi sedikit. Kita mulai dari

> yang kita sanggup melakukannya.

 

__________________________________________________________

Looking for last minute shopping deals? 

Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping 
<http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> 

 

 

 

 

 

Internal Virus Database is out-of-date.

Checked by AVG Free Edition.

Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.6/865 - Release Date: 6/24/2007 8:33 AM

 

 


Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.9.6/865 - Release Date: 6/24/2007 8:33 AM
 


::BCA::


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke