Amien....!!!
Pingin tausiyah, atau islah sedikit, atau apapun istilahnya....
Belajar Al-Quran dan As-Sunnah dulu...?
Kalau itu yang musti kita lakukan dulu, baru aksi/kiprahnya belakangan
(setelah itu)...
justru nggak sesuai dengan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya dong
say,.....
Apakah Nabi & para sahabatnya menyelesaikan (katam) mempelajari Al-Quran
dulu, baru berkiprah dakwah/berjuang ...?
Apakah sequensialnya memang begitu?
Ataukah pararel..?
Ataukah barangkali kita (atau pendahulu kita yang bukan Rasul) yang sempat
sedikit khilaf menetapkan sesuatu perkara, dan kemudian diikuti oleh kita-kita
sekarang.... ?
Bukankah kayak begitu berarti "meninggikan suara lebih dari suara Nabi.."?
Waktu para sahabat Nabi yang ikut berjuang dalam perang Tabuk misalnya,
apakah masing-masing personil pasukan diharuskan hafal Al-Quran sebelum
berangkat perang?
Kan mau berangkat menegakkan, memperjuangkan Islam, masak nggak hafal
Al-Quran..???
Belum lagi hadist, mereka dituntut untuk hafal sekian puluh hadist juga...?
(kan belum ada hadist, maksudnya waktu itu hadist kan belum terbukukan secara
sistematis seperti sekarang)
Muga-muga dari sepermilyar tetes analisa ini bisa menghantarkan untuk melihat
dengan lebih jernih, tanpa prasangka.
Dalam sistem manajemen manapun, ada yang namanya pembagian tugas, beda
area/job disc, untuk mencapai satu tujuan yang sama.
Misalnya dalam proyek mbangun apartemen modern 100 lantai, dan saya adalah
seorang tukang kayu, saya nggak harus belajar arsitektur, menguasai ilmu teknik
sipil, jadi insinyur, untuk bisa ikut berkiprah mensukseskan pendirian
apartemen tersebut.
Kiprah saya ya relatif sama saja, ambil kayu, motong, masang, maku, dst.
Kalau sebuah proyek sedang/sudah digulirkan, sudah pasti ada "Tim Arsitek"
dibalakangnya. Kita tinggal join in, ikut aja, sami'na wa ato'na, mensinergikan
dengan kapasitas dan kapabilitas kita. Nggak perlu harus jadi "arsitek" juga.
(tapi kalau secara kapasitas diri punya kemampuan jadi Arsitek, ya nggak
masalah, nanti juga bisa join in, memperkuat Tim Arsitek yang sudah ada)
Demikianlah, kalau terbangun persatuan umat Islam, Insya Allah akan ada "satu
divisi khusus" yang mempelajari, mendalami Al-Quran & Al-Hadist dengan labih
luas, dalam, lebar, kaya, dst.
Jadi konteksnya tetap saja ke-umat-an (kolektif, kebersamaan).
Bukan dimaknai secara individual dan kelihatan sekali tidak adanya persatuan
dan koordinasi, hingga seakan-akan setiap individu "diwajibkan" hafal/menguasai
Al-Quran & Al-Hadist sebelum berkiprah.
"laa tafaruk" (jangan tercerai/terpecah) menjadi satu pilar yang penting dalam
upaya menegakan Islam, menegakkan fitrah. (3):103, (42):13 (30):31.
Maka persatuan Islam (umat) hendaknya kita dahulukan. Insya Allah kalau sudah
terbangun persatuan umat, otomatis segala macam perbedaan pendapat/pandangan,
akan termanage dengan ihsan. Segala aneka macam perselisihan akan otomatis
diupayakan suatu solusi/penyelesaian yang arif, bijak, dan tentu saja based on
Al-Quran & As-Sunnah.
Saya amat sangat setuju sekali bahwa Al-Quran & As-Sunnah haruslah didahulukan
(diawalkan), bukan dalam makna sequence proses, tetapi bimakna bahwa Al-Quran &
As-Sunnah menjadi landasan atau pilar utama dan reference utama dalam
gerak/pikir kita.
Dan itupun secara dhohir, konteksnya bukan proses individual, tetapi lebih pada
proses kolektif/jama'i/sosial.
Karena kalau kita lihat lagi, sahabat Nabi SAW, yang hafal Al-Quran kan nggak
semuanya, tetapi ini adalah "amanah" kolektif, hingga ada beberapa orang saja
yang "bertugas" (wajib) untuk menghafal dan mengerti maknanya, yang mana mereka
inilah yang berfungsi
menjadi reference/rujukan dari umat. Yang namanya umat itu kolektif.
Jadi para alim tinggal ngeluarin fatwa, jajaran manajer yang menterjemahkan
dalam bentuk langkah strategis, taktis dan teknis, dan para awam tinggal
ngikuti aja.
Dalam Al-Quran, seruan dari Allah adalah "An-Nass' yang artinya manusia secara
jama'ah/kolektif (bukan tafsir, baru dari terjemahan an sich saja).
Para sahabat salaf, yang menjadi panutan kita, beliau-beliau dalam hidupnya
dilingkupi sistem hidup yang berlandaskan Al-Quran dan A-Sunnah.
Itulah prioritas yang kita tiru......!!!
Sedang kita saat ini.....? Sistem hidup produk mana/siapa yang mengkangkangi
kita...?
Jelas buka Islam....!
Beda konteks kondisi, jelas beda bentuk perjuanganya...beda kebijakan, dsb.
Sunnah Nabi,,....kalau dimaknai secara personal individual,...
para wanita/muslimah TIDAK ADA YANG BISA mengikutinya..!!!!
Sunnah Rasul,,....kalau dimaknai seputar masalah teknis,...
maka umat Islam harus Gaptek semua atuh....
Agama (Ad-Dien) adalah melingkupi segala aspek hidup.
Kalau dimaknai riyadhoh ritual saja, atau yang sejenisnya, itulah namanya
"memecah makna/arti/hakikat Dien".
Allah akan memberikan hidayah kpd yang dikehendakinya.
Itu mah urusan Allah, biar dihandle, dimanaje Allah.
Kita concern ke jal yang menjadi urusan kita, seperti "Gimana caranya supaya
mendapat hidayah Allah?"
Ada satu kriteria yg telah ditetapkan oleh Allah, yakni dengan serius dan
bersungguh-sungguh dalam mencari/menuju kebenaran (Al-Haq),.....(29):69.
Wassaslamu'alaikum
nikko rosanno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Semoga Allah swt memberikan hidayah dan petunjuk kepada saya dan kalian
semua.
"..Kesampingkan dahulu perbedaan,,"
Kalau anda dan kita semua tidak ingin berbeda dengan Rasulullah dan para
sahabat kaum terbaik yg melakukan sunnah / ajaran Rasul dan sangat mengerti
sunnah dan mencintai Rasul...maka tidak ada perayaan maulid..karena mereka
tidak pernah merayakannya....Jadi jangan hanya Statement..belajar dulu Ilmu
agama baru tahu siapa yang berbeda..
"Mulai disini"...ya mulai lah dari diri anda...coba belajar Quran dan
Hadist..adakah dalil yang menyatakan perayaan Maulid Nabi.. Jangan-jangan bisa
jadi andalah yang Ahlul Bid'ah..yang sesat..sehingga Islam Tidak Jaya2...di
Indonesia
"Mari tegakkan nilai2 Islam"...taukah anda dan kita.. bahwa tidak ada
nilai-nilai Islam yang menyeru kepada Perayaan Maulid. ( kaji Al-quran dan
Hadist)
Adakah Rasulullah mencontohkan "mari kita rayakan maulid (kelahiran) saya"
dengan hal2 dibawah ini:
Mari kita isi Maulid dengan pemberdayaan umat
Misalnya maulid dengan santunan sembako bagi anak-anak jalanan
Maulid bersama tukang ojek dengan bingkisan
Maulid bersama fakir-miskin dengan pemeriksaan kesehatan gratis
Maulid bersama dhu'afa dengan kursus jahit/bengkel/ reparasi/ computer
Tidak ada Maulidan
Bila Kita mau mengejarkan hal-hal diatas, tidak perlu
dikhususkan pada Hari Maulid Nabi atau perayaan Maulid..kerjakanlah disetiap
harinya, setiap waktu
karena apabila waktu2 diatas itu lebih baik dilakukan
Niscaya Rasulullah akan dengan Jelas dan Gamblang menyatakan dan menyuruhnya..
Tidak ada dalilnya
..malah beliau menyatakan Barangsiapa yang mengada-ada
dalam urusan agama , semua itu akan tertolak, setiap Bidah hal-hal yang baru
yang diada-akan dalam urusan agama adalah sesat..dan sesat tempatnya di neraka
COME ON
wake UP ...Bagaimana Islam akan Jaya..kalo kita umat Muslimnya pun
tidak mengerti ajaran-ajaran Sunnah Rasulullah
Sekali lagi saya berdoa untuk HIdayah dan petunjuk bagi kita semua umat
muslim,
Saya percaya akan kedewasaan umat muslim, dengan demikian hal-hal yang saya
sampaikan adalah tulus dan iklas rasa sayang saya kepada sesama saudara umat
muslim untuk memberitahukan kebenaran ajaran-ajaran agama, sunnah2 dari
Rasulullah ..
Ikutilah sunnah Rasulullah yang jelas dengan Hadist SHAHIH..dan Riwayat yang
JELAS..contohlah para umat terbaik..yaitu para orang terdahulu (Salaf)
orang-orang yang hidup dijaman Rasul..para sahabat Rasul..mari sama2 belajar
Ilmu agama dari orang2 Alim..berdoalah untuk dimudahkan dengan ilmu yang
bermanfaat bukan ilmu yang sesat.
Segala kebenaran datangnya dari Allah SWT
Wallahualam..
daud gemolong <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ya! Kesampingkan dahulu
perbedaan.
Yang penting Islam harus jaya!
Mulai di sini, di Indonesia! Dan akan mendunia!
Allahuakbar.
Mari kita tegakan nilai-nilai Islam,
meliputi syariat ritual, syariat sosial, syariat
pidana-perdata/jinayah, faroidh, keluarga,...
Moralitas, akhlaq, budaya, yang hanif,...
Di masyarakat kita....!!
KARENA,...itulah yang dilakukan Rasulullah SAW!
Itulah yang dicontohkan oleh beliau, Nabi terakhir!
--- "Haryanto (PSDM)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu 'alaikum wr. Wb.
>
> Mari kita isi Maulid dengan pemberdayaan umat
> Misalnya maulid dengan santunan sembako bagi
> anak-anak jalanan
> Maulid bersama tukang ojek dengan bingkisan
> Maulid bersama fakir-miskin dengan pemeriksaan
> kesehatan gratis
> Maulid bersama dhu'afa dengan kursus
> jahit/bengkel/reparasi/komputer
>
> Insya Allah ummat akan jaya
>
> Wassalamu 'alaikum wr. Wb.
>
>
>
> _____
>
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> lucky firmansyah
> Sent: Thursday, March 27, 2008 10:30 AM
> To: iim marlina; irma; kesehatan islam; ela; eni
> nuraini; zi kalem; hana saina; sari kata OOT;
> solihati; Supra yitno; syiar-islam OOT; dini; jeny
> Subject: [syiar-islam] 5 Alasan menapa memperingati
> Maulid Nabi Muhammad dan Isra Mi`raj
>
>
>
> 5 Alasan menapa memperingati Maulid Nabi Muhammad
> dan Isra Mi`raj
>
>
>
>
> "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam
> islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang
> mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari
> pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg
> buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa
> orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun
> dari dosanya".
>
> (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula
> diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan
> Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban
> dan banyak lagi).
>
> "Semua bid'ah itu sesat"
>
>
> Bid`ah sebagian orang mengartikan bahwa Bid`ah itu
> adalah sesuatu yang baru yang belum ada pada Masa
> Nabi Muhammad SAW. Sebagian orang menganggap bahwa
> semua yang baru itu adalah sesat dan setiap
> kesesatan adanya di Neraka. Mereka mengacu pada
> Hadits Nabi yang mengatakan ßõáõø
> ÈöÏúÚóÉò ÖóáÇóáóÉñ "Setiap Bid`ah
> itu sesat". Mereka menafsirkan bahwa kata "Kullu"
> ada Hadits tersebut adalah "semua", tetapi sebagian
> mufassiriin hadits tidak mengatakan demikian, mereka
> berpendapat bahwa kata "Kullu" pada hadits tadi
> bukannlah "semua", melaikan artinya adalah
> "sebagian". Mereka menyebutkan pula bahwa banyak
> dalam ayat Al-Qur`an yang mengartikan "Kullu" itu
> bukan "semua", tetapi sebagian.
>
> Pada mukaddimah diatas, saya cantumkan sebuah hadits
> shoheh yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa
> "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam
> islam, maka baginya pahalanya... ". itu yang menjadi
> sandaran hukum sebagian mufassirin hadits yang
> memperbolehkan atau bahkan menganjurkan untuk
> membuat sesuatu yang baru dalam dunia islam yang
> pastinya bermanfaat.
>
> Menurut sebagian Mufassirin Hadits, dari kedua
> hadits tadi dapat disimpulkan bahwa bid`ah itu
> terbagi ke dalam 2 kategori:
>
> 1. Bid`ah Dholalah / sesuatu yang baru, yang
> dipandang menyesatkan dan tidak sesuai dengan
> syariah hukum islam.
>
> 2. Bid`ah Hasanah / sesuatu yang baru, yang
> dipandang baik dan sesuai dengan aturan syariah
> islam.
>
> Mari kita ambil sebuah contoh tentang hal yang baru,
> yang tidak ada pada zaman Rosul. Misalnya pesawat
> terbang. Pesawat terbang baru ditemukan orang pada
> awal abad ke 20-an. Kalau dimisalkan pesawat tadi
> digunakan orang untuk pergi liburan ke Haway, ke
> lasvegas (untuk berjudi) maka otomatis kita akan
> men-capnya sebagai sesuat kemaksiatan dan itu
> termasuk bid`ah yang dholalah (sesat), tetapi kalau
> pesawat tadi digunakan orang untuk berangkat pergi
> haji ke tanah suci dan umrah maka apakah itu sesuatu
> kemaksiatan? jelas bukan. Itu adalah Ibadah rukun
> islam yang kelima itu termasuk bid`ah yang hasanah.
>
>
>
> Pada masa Rosulullah SAW, memang Maulid dan Isra
> Mi`raj tidak Beliau peringati, Perayaan Maulid Nabi
> diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu
> Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak,
> pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi
> (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya
> sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin
> sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan
> kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta
> meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu,
> yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan
> pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota
> Yerusalem.
>
> Bid`ah itulah kata yang diucapkan oleh sebagian
> orang yang tidak sependapat dengan orang yang selalu
> memperingati Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan
> Isro Mi`raj. Berikut 5 alasan mengapa banyak orang
> yang selalu memperingati Maulid dan Isra Mi`raj
> Nabi:
>
> 1. Syukur nikmat Iman dan Islam atas Syariah yang
> telah dibawa oleh Baginda Nabi SAW dari Allah SWT.
> Allah SWt berfirman: "Sesungguhnya jika kamu
> bersyukur pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu
> dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya azabKu
> sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7)
>
> "Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki
> yang ada diantara kamu, tetapi dia adalah rasulullah
> dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha
> Mengetahui segala sesuatu".(QS: Al-Ahzab ayat 40
> (33:40)
>
> 2. Mensyiarkan Agama Islam.
> Melihat sejarah pertama kalinya dirayakan maulid,
> bahwa tujuan dirayakannya maulid untuk membangkitkan
> kembali semangat syiar dalam agama Allah, Allah
> berfirman: "Kamu adalah umat yang terbaik yang
> dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
> ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar (QS Ali Imran:
> 110 )
>
> 3. Tholabul Ilmi.
> Rasul bersabda: "Mencari Ilmu itu wajib bagi muslim
> laki-laki dan muslim wanita", " Carilah ilmu dari
> lahir sampai meninggal".
>
> 4. Mengharap Pahala.
> "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam
> islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang
> mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari
> pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg
> buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa
> orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun
> dari dosanya".
>
> "Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya)
> ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
> mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari
> kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka
> sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha
> Terpuji." (QS Al Mumtahanah: 6).
>
>
> 5. Cinta Rosul.
> Rasul bersabda: "Barang siapa yang mengikuti
> sunahku, sungguh ia cinta padaku dan barang siapa
> yang cinta padaku, ia akan disurga bersamaku".
>
> Kesimpulan:
> Semuanya kembali kepada niat kita, karena
> "sesungguhnya semua amal itu tergantung niat". Kalau
> niat kita baik, insya Allah hasilnya akan baik
> (Ridlo Allah), tetapi kalau niat kita udah jelek,
> otomatis hasilnnya juga jelek (Murka Allah).
>
> Sebenarnya Dunia Islam sedang menunggu kebangkitan
> muslim yang ada di Indonesia, mereka mengibaratkan
> bangsa kita ini sebagai macan yang sedang terlelap
> dalam dunia islam bagi bangsa kafir yang hendak
> menghancurkan dunia Islam. Kalau kita masih
> memperbesar perbedaan pendapat ini, sampai kapan
> islam mau bangkit? jangan sampai kita sebagai warga
> negara yang mayoritas islam ini kalah sama
> minoritas. Biarlah perbedaan pendaat ini mejadi
> rahmat bagi kita.
>
> Ayo...mulai bangkit wahai saudaraku....!! Allahu
> Akbar..Allahu Akbar...Allahu Akbar.... (Hari
> Guntara)
>
> Sekian Artikel ini dibuat, salahnya dari kekeliruan
> saya pribadi semoga Allah Mengampuni dan benarnya
> semata-mata petunjuk dari Allah SWT.
>
=== message truncated ===
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
---------------------------------
Like movies? Here's a limited-time offer: Blockbuster Total Access for one
month at no cost.
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]