Assalamualaikum Wr. Wb.
   
  Aku jadikan manusia berbangsa bangsa dan bersuku suku, agar kamu satu sama 
lain dapat saling kenal mengenal (atau saling belajar dari kelebihan masing 
masing bangsa.)”(QS.49:13)
   
  salam kenal pak,
   
  pertama2 saya hanya ingin menambahkan sedikit penjelasan dan sedikit 
memberikan ilmu yang pernah saya dapatkan dari seorang ulama,. saya pernah 
mendengar bahwa tidak setiap kata "kullu" itu tidak selamanya berarti 
"setiap/seluruh" banyak ayat al-Quran yang menggunakan kata kullu tp artinya 
bukan seluruh tapi artinya itu adalah "sebagian" (untuk conto, nanti saya 
lampirkan). 
   
  sebelumnya anda bilang bahwa kata kullu itu adalah semua (semua bidah adalah 
sesat), tetapi dalam paragrah selanjutnya anda memperbolehkan bidah, sebenarnya 
mana yang menurut anda anggap benar. (mohon maaf sebelumnya)
   
  yang menjadi pertanyaan saya, kenapa ko urusan dunia saja yang kita pikirkan, 
kenapa urusan akhirat kita abaikan ?
  Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan 
tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat 
buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang 
yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa 
membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang 
yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim 
hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan 
Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits 
ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
   
  = = = = == = = = == ==============
  “Katakanlah: Dengan Karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan  itu 
mereka bergembira…" (QS. Yunus: 58), 
   
  Bismillaairrahmaanirrahiim,
  Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha 
Kuasa, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Besar Nabi Muhammad 
SAW, keluarganya, para tabiit tabiin, sohabat dan kita sekalian sebagai umatnya.
   
  Kaum muslimin rahimakumullah, ada dua kelompok yang mengaku islam tetapi 
kedunya yang malah bisa merusak ukhuwah islamiyah. Mana saja kelompok yang bisa 
merusak Ukhuwah kita sebagai umat islam? saya akan jelaskan secara singkat 
saja. Kedua kelompok yang mengatas namakan islam tapi malah merusak ukhuwah 
islam itu antara lain:
   
  1. Kelompok yang sangat Toleransi terhadap Agama. Saking toleransinya, semua 
agama dia anggap benar.
  2. Kelompok yang tidak Toleransi terhadap Agama. Saking tidak toleransinya, 
dia menganggap saudaranya sendiri (yang merayakan maulid, yang tahlil, yang 
sholawat, yang talking mayat dsb) adalah murtad dan sesat.
   
  Itulah dua kelompok yang bisa merusak ukhuwah islamiyah kita.
   
  Sebelum kita membahas tentang Maulid Nabi Muhammad, sekarang kita akan 
membahas terlebih dahulu tentang 2 bagian ajaran dalam Islam.
   
  1. Usuluddin. 
  Usul artinya dasar/ pokok, sedangkan Din artinya Agama. jadi Usuluddin 
artinya Pokok-pokok ajaran Agama. Dalam masalah usuludin, itu tidak boleh 
berbeda, karena ini adalah ajaran pokok, (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, 
Haji).kalau berbeda otomatis iu sudah keluar dari ajaran pokok agama islam 
(murtad/ kafir) 
   
  2. Furu`uddiin.
  Furu` artinya cabang, sedangkan Din artinya agama. Jadi Furu`uddin artinya 
cabang-cabang dalam ajaran agama. Berbeda dalam furu`uddin itu tidak apa-apa, 
karena ini bukan ajaran pokok, asalkan mereka yang berbeda itu punya dalil yang 
bisa dipertanggung jawabkan. (cabang2 dari rukun yang 5, dll)
   
  RUMUS: 
  BEDA USUL TIDAK BOLEH, 
  BEDA FURU` WAJIB TIDAK APA-APA ASAL PUNYA DALIL.
   
  Mana Saja yang termasuk ke dalam Usuludin dan furu`udin? saya akan kasih 
contoh dua saja. 
  
  Pertama, dalam Peristiwa Isra Mi`raj, peristiwa Isra Mi`raj Nabi Muhammad itu 
adalah kisah nyata, bukan fiktif, bukan hayalan bukan juga dongeng, sebab 
disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran, juga dijelaskan oleh Nabi dalam 
Hadits. Ini merupakan Usuludin (ajaran pokok dalam Islam) semua orang Islam 
wajib mengimaninya dan wajib mempercayainya. Yang tidak mengimaninya itu bukan 
Islam.
   
  Tetapi dalam peristiwa tersebut ada furu`udinnya juga, misalnya sebagian 
berpendapat bahwa dalam perstiwa isra mi`raj, Nabi isra mi`raj itu hanya ruhnya 
saja (mereka tidak asal berpendapat, mereka punya dalil) tetapi ada juga yang 
mengatakan bahwa nabi isra mi`raj itu ruh dan jasadnya (mereka yang mengatakan 
hal ini juga punya dalil yang bisa di pertanggung jawabkan). 
   
  Kedua, Sholat merupakan ajaran pokok dalam Islam (usuludin) semua harus 
mengakui kalau solat 5 waktu itu wajib dilaksanakan, kalau ada umat islam yang 
tidak mewajibkan solat, berarti ia tidak termasuk muslim (murtad/ kafir). 
Tetapi dalam solat ada furu`udinnya juga, misalnya : ada yang melafalkan niat/ 
ada yang tidak, ada yang mengacung-acungkan jari ketika tasyahud/ ada yang 
tidak, ada yang qunut/ ada yang tidak, dsb. Kembali kepada rumus, bahwa berbeda 
dalam usul itu tidak boleh, tetapi berbeda dalam furu` itu tidak apa-apa asal 
punya dalil.
   
  Sekarang kita akan membahas tentang Peringatan Maulid Nabi SAW, Maulid ini 
termasuk persoalan Furu` bukan Usul, ada yang mengatakan boleh ada yang 
mengatakan Mustahap (baik dan dianjurkan), ada yang mengatakan tidak boleh, 
karena Nabi sendiri tidak melakukannya, (bagi yang tidak memperingati, ente 
tidak usah memperingati maulid, maka sudah urusan selesai kenapa diperpanjang 
dan ente jangan kafirkan orang2 yang memperingatinya). 
   
  Mereka yang memperingati Maulid itu tidak asal, mereka punya dalil, Friman 
Allah, “Katakanlah: Dengan Karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan  itu 
mereka bergembira…" (QS. Yunus: 58), saya ambil garis besarnya saja, dalam ayat 
ini, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi SAW untuk bergembira, senang dengan 
rahmat Allah. Apasaja yang termasuk rahmat Allah, banyak sekali dan satu yang 
terpenting adalah rahmat atas diutusnya Rasulullah Muhammad SAW. Allah SWT 
berfirman : “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk 
(menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107).
   
  Nah, Sekarang kita pikirkan kalau Allah mewajibkan kita untuk bergembira atas 
rahmat yang Allah berikan dan dalam ayat lain Allah menerangkan bahwa Dia 
mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Jadi 
kesimpulannya wajib kita bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW dan 
diutusnya Beliau sebagai Rasul.  Itulah yang menjadi dalil mengapa banyak umat 
islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan kepada yang tidak 
memperingatinya jangan sekali-kali mengatakan kepada yang memperingatinya 
adalah murtad sesat, karena ini adalah masalah furu`.
   
  Sekian sedikit bahasan mengenai Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Terakhir 
saya sampaikan janganlah kita memperbesar-besarkan masalah Furu` karena itu 
bukan Ajaran Pokok Agama Islam, Bagaimana Islam mau maju, kalau umatnya saja 
masih bertengkar hanya gara-gara masalah furu`.
   
  Wallahu`alam Bishowab.
  Wassalam Wr. Wb.
  
thalibunjahil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          ayo belajar lagi... [:o)]
ingat : hadistnya berbunyi "setiap bid'ah adalah sesat" (Dholalah)...nah
jadi tak ada istilah bid'ah hasanah..Kata "Kulu/setiap" dalam hadist ini
serupa dengan kata "Kulu nafsin/setiap yang bernyawa" jadi "setiap
disini tidak menunjukkan kepada perbuatan yang tertentyu..yeah ini
menunjukkan kepada perbuatan yang "umum" jadi apapun amalannya kalau
tak berdasar sunnah adalah bid'ah! (nggak pandang hasanah maupun
munkarat)

dan yang dikatakan bid'ah hanya terbatas pada urusan agama! urusan dunia
kita boleh (malah harus) bid'ah..bikin pesawat, termos, ekstensifikasi
pertanian, mobil, industri atau apapun takkan berkembang tanpa INOVASI!
bikin dan pake baju mah suka-suka situ aja itu urusan dunia..tapi
menutup aurat itu urusan agama!

benul Umar ra. pernah mengatakan "ini adalah sebaik-baik bid'ah"
(sewaktu melihat jama'ah shalat tarawih)...tapi coba diingat lagi
bukankan manusia terbaik, kekasih ALLAH swt, baginda Rasulullah pernah
melakukan shalat tarawih berjamaah?..tapi beliau 'bersembunyi' dirumah
karena khawatir 'nanti kalian anggap wajib'..jadi yaaah itu cuman
sekedar kata-kata saja karena sunnahnya (shalat tarawih berjama'ah) 
memang ada..

hadist : "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka
baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang
sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg
buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya
dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya" - sebagai hujjah untuk
mendapatkan pahala adalah landasan bid'ah? wah sebentar guys ini
penjelasannya rada panjang tapi coba kusingkat ya..

Muhammad Alwi Al Maliki berkomentar: sesungguhnya Nabi saw. menamakan
bid'ah dalam kebaikan sebagai sunnah dan menjanjikan pahala bagi
pelakunya lalu ia menyebut hadist ini..Imam Asy Syatibi sudah
menjelaskan maksud hadist ini dalam kitab Al I'tisham: yang dimaksud
dengan hadist ini adalah melakukan sunnah itu bukan berarti membuat cara
baru (a.k.a bid'ah) tetapi yang dimaksud adalah melakukan apa yang
berdasar sunnah Nabi saw. alasannya:

1. hadist tersebut datang berkaitan dengan masalah sedekah yang
disyariatkan. potongan hadist yang diriwayatkan Jabir bin Abdillah
adalah: "Hendaklah seseorang menyedekahkan dinarnya, dirhamnya, bajunya,
satu sha' gandumnya, satu sha' kurmanya dan walaupun hanya sepotong
kurma." Perawi berkata: "Maka seseorang dari kaum anshar datang membawa
karung yang berat, hampir tangannya tidak kuat bahkan akhirnya ia tidak
kuat kemudian manusia saling bergantian bersedekah sehingga saya melihat
wajah Rasulullah saw berseri-seri seakan emas yang disepuh lalu
Rasululullah saw bersabda : "Barangsiapa membuat buathal baru yang
baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orangyang 
mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, danbarangsiapa
membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginyadosanya dan dosa
orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya"..jadi
inventor/pelopor yang dimaksud dalam hadist ini bukanlah melakukan
sesuatau yang belum ada melainkan seseorang yang mengawali amalan yang
memang sudah disyariatkan sebelum yang lain melakukannya...jadi
membacanya "siapa yang mengawali melakukan amal yang sesuai syariat" 
bukan "siapa yang membuat ibadah baru yang tak ada sunnahnya"

2. hadist ini tidak mungkin diterapkan sebagai pembuatan bid'ah sebab
baik buruknya suatu amal hanya dapat dinilai dari sisi syariat. Hak
untuk menyatakan baik dan buruknya amal adalah hak khusus milik Allah
swt semata, tidak ada tempat bagi akal manusia untuk menyatakan
baik-buruknya amal..konsekuensinya amal yang disebutkan dalam hadist ini
adakalanya baik dalam perspektif syariat atu sebaliknya. As Sindi dalam
catatan pinggirnya di Sunan Ibnu Majah: "Sunnah hasanah itu artinya cara
yang diridhoi Allah dan disyariatkan-Nya. Adapun pemilahan antara
kebaikan dan keburukan adalah dengan sesuai atau tidaknya (kebaikan dan
keburukan tersebut) dengan dasar-dasar syariat". Kaidah "pengambilan
hukum adalah dengan keumuman lafal dan bukan dengan kekhususan sebab"
tidak dapat diterapkan dalam hadist ini, sebab kaidah ini digunakan
ketika ada kesamaan dua bentuk dari sudut asalnya tetapi terdapat
perbedaaan salah satu sisi dari keduanya yang tidak terdapat dalam
contoh dari dalil yang digunakan. (Syaikh Ali Hasan dari Adhwaul Bayan
tulisan Syaikh Asy-Syinqithi)
(sumber: Membedah Akar Bid'ah; Syaikh Ali bin Hasan dikutip dari majalah
Nikah Vol. 4, No. 6 September 2005, hal 38-39)

Ayolah Islam adalah agama yang sempurna..jadi nggak ada logikanya kita
perlu melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah diajarkan..emang ada
ceritanya syariat yang sempuna ini ada yang terlewatkan? Kafir dong kalo
kita menganggap Allah swt yang Maha suci itu alpa atau Rasulullah saw
lupa!..kenapa kita harus sibuk mengejar-ngejar pahala afdhaliyah yang
gak ada juntrungannya?..yang pasti-pasti sajalah..stok pahala Allah jauh
banget dari keterbatasan logika manusia!..eh daripada nguber pahala dgn
amalan bid'ah udah sia-sia dan tertolak (padahal kita diperintahkan
untuk menjauhkan diri dari kesia-siaan) malah kulu bid'atin fi
naar!..(udah capek, keluar biaya banyak, buang waktu..boro-boro
pahala!)...Kalau sidang pembaca ingat ada satu daerah terpencil di
indonesia timur yang menyelenggarakan maulid
habis-habisan..dibela-belain ngutang..dalil yang mereka gunakan adalah
"tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai diriku (Muhammad saw)
lebih dari dirinya sendiri"..keren?! padahal warga umumnya adalah
nelayan kecil..

jangan jadikan dinul Islam ini seperti yang dilakukan oleh kaum maghdub
dan dhoollin pada agama mereka..karena ibadah bukan karena kita ingin
melaksanakannya semata (/nafsu)..

[Non-text portions of this message have been removed]



                           

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke