HAKEKATNYA, HIGMAHNYA  MENDIRIKAN SHOLAT
Berdasarkan persfektif Al Qur’an dan Hadits 
No.9 Bersambung
 
6-MEMBACA DOA TA’AWUDZ DENGAN SIIR (DIBACA DIDALAM HATI)
Perintah membaca do’a ta’awudz Qs.16: 98;  bacaan  ta’awudz sebagai berikut:
A’udzu billahi minasy syaithanir rajiim. HSM.496 baca Catatan kaki.
Aku berlindung dengan Allah dari kejahatan setan yang terkutuk.
 
A’udzu  billahis  samii’il  ‘aliimi minasy  syaithoonir  rojiim, min hamzih” 
HBM.288
Aku berlindung kepada Allah yang mendengar, Yang mengetahui dari pada syaithan 
yang terkutuk, dari permainannya dan gangguannya dan ludahannya.
 
7-MEMBACA BASMALAH DENGAN SIIR, TETAPI BUKAN BERARTI NABI S.A.W. TIDAK MEMBACA 
BASMALAH. MEMBACA TA’AWUDZ MAUPUN MEMBACA BASMALAH DICONTOHKAN OLEH NABI S.A.W. 
DENGAN SIIR, DIBACA DIDALAM HATI ORANG LAIN TIDAK MENDENGARKAN.
 
Dari Anas r.a. mengatakan, “Bahwa Rasulullah s.a.w., Abu Bakar dan Umar r.a., 
ketiga-tiganya memulai sholat mereka dengan membaca “Alhamdulillahirrabil 
‘Alamin”. HSB. 411; HBM.297
 
Muslim tambah: “Mereka tidak membaca “Bismillahir rahmanir rahiim” di permulaan 
bacaa Al Faatihah dan tidak di akhirnya. HBM.298. Di akhirnya maksudnya di 
bacaan Al Qur’an atau bacaan Surat-surat Al Qur’an.
 
Dan pada suatu riwayat bagi Ahmad dan Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah: “Mereka tidak 
menyaringkan “Bismillahir rahmanir rahiim.” HBM.299; 
Silahkan anda baca: HBM.300, Nailul Authar: 879, 882, 883, 884; HSM.No.354, 355.
 
Berdasarkan Hadits-hadits tersebut diatas, Rasulullah s.a.w. membaca do’a 
Ta’awudz maupun Basmalah dengan siir, dibaca didalam hati, tidak di zaharkan 
(dikeraskan); Sebaiknya umat Islam mengikuti apa-apa yang beliau (Nabi s.a.w.) 
ajarkan, dan tidak membuat ajaran sendiri-sendiri, tidak semaunya sendiri.
 
8-MEMBACA AL FAATIHAH
-Bacaan Al Faatihah diwajibkan kepada imam.
-Bacaan Al Faatihah diwajibkan kepada orang yang sholat munfarid (sendirian).
-Bacaan Al Faatihah diwajibkan kepada makmum pada raka’at ke tiga maupun 
raka’at ke empat dan atau makmum tidak mendengarkan (tidak kedengaran) bacaan 
imam ketika membaca Al Faatihah.
-Makmum diam dan wajib mendengarkan, menyimak bacaan imam apabila bacaan imam 
kedengaran.
 
Dalil-dalilnya:
Diberitakan oleh ‘Ubadah bin Shamit r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: 
“Tidak syah sholat orang yang tidak membaca Surah Al Faatihah.”   HSB. 420; 
HSM.348; HBM.294;  NA: 891
 
Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: 
“Barangsiapa shalat dengan tidak membaca Ummul Qur’an (Al Faatihah), maka 
shalatnya itu tidak sempurna.”        HR.Ahmad dan Ibnu Majah;   Nailul Authar: 
893
 
APABILA SHOLAT MENGIKUTI IMAM (MAKMUM, BERJAMA’AH):
Ketika Imam membaca Al Faatihah dengan di ziharkan (dengan suara keras dan 
didengar oleh makmum) maka makmum tidak usah membaca Al Faatihah, cukup diam, 
mendengarkan baik-baik bacaan imam dan menyimak bacaannya dan dihayati 
maknanya, diam dan dengarkan agar mendapat rahmat, begitu pula ketika imam 
membaca Al Qur’an atau membaca Surat. 
 
Apabila bacaan imam salah maka makmum yang paling dekat wajib mengingatkan. 
Ketika Imam membaca Al Faatihah di raka’at ke tiga atau raka’at ke-empat yang 
bacaannya tidak kedengaran oleh makmum, maka makmum wajib membaca Al Faatihah 
didalam hati, tidak boleh di ziharkan (dikeraskan). 
 
Dalil-dalilnya:
Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah bersabda: 
“Sesungguhnya imam itu dijadikan adalah untuk diikuti. Oleh karena itu apabila 
ia telah takbir, maka takbirlah kamu, dan apabila ia sudah membaca, maka 
diamlah kamu.”   HR.Imam yang lima, kecuali Tirmidzi Dan berkatalah Muslim: 
Hadits itu shahih. Nailul Authar: 896.
 
Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. setelah selesai 
mengerjakan sholat yang ia keraskan bacaannya, lalu bertanya: “Apakah tadi ada 
seseorang di antara kamu yang membaca bersama aku?” Maka berkatalah seseorang: 
“Betul, ya Rasulullah!” Kemudian Nabi bertanya lagi: “Sesungguhnya aku berkata: 
Mengapakah aku dilawan dengan Al Qur’an?” Berkatalah rawi: “Maka berhentilah 
orang-orang dari membaca bersama Rasulullah s.a.w. dalam sholat-sholat yang 
Rasulullah s.a.w. keraskan bacaannya, tatkala mereka sudah mendengar yang 
demikian itu dari Nabi s.a.w.”  HR.Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Tirmidzi 
berkata Hadits ini Hasan.  Nailul Authar (NA): 897
 
Dan dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah s.a.w. pernah mengajar kami, yaitu: 
“Apabila kamu berdiri hendak sholat, maka hendaklah ada salah seorang diantara 
kamu yang menjadi imam, dan apabila imam sudah membaca, maka diamlah.” 
(HR.Ahmad). NA.842.
 
[7.204] Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan 
perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.  
 
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Sesungguhnya imam 
itu dijadikan adalah untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia telah takbir, 
maka takbirlah kamu, dan apabila ia sudah membaca, maka diamlah kamu. HR.Abu 
Dawud.
 
Dalil-dalil yang lain silahkan anda baca HSM.353, 533; NA.897, 902, 842; HBM.296
 
MEMBACA AL FAATIHAH TIDAK BOLEH DIBACA DENGAN HANYA SATU NAFAS ATAU SATU TITIK, 
WAJIB BERHENTI PADA TIAP-TIAP AYAT  UNTUK MEMBERI KESEMPATAN KEPADA ALLAH SWT 
UNTUK MENJAWAB, JADI JANGAN DISAMBUNG ANTARA AYAT DENGAN AYAT YANG LAIN, KARENA 
MEMBACA AL FAATIHAH = DIALOG ANTARA HAMBA DAN SANG KHOLIQ. BACA HSM.NO. 349
 
Dalilnya Hadits Qudsi, yang tercatat di Hadits Shahih Muslim No. 349
 
[1.1] Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [1.2] 
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, [1.3] Maha Pemurah lagi Maha 
Penyayang, [1.4] Yang menguasai hari pembalasan. [1.5] Hanya kepada Engkaulah 
kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. [1.6] 
Tunjukilah kami jalan yang lurus,[1.7] (yaitu) jalan orang-orang yang telah 
Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan 
bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
 
9-MEMBACA  AAMIIN
Membaca Aamiin harus berurutan, imam lebih dahulu, kemudian makmum, imam 
diwajibkan membaca aamiin dengan suara nyaring, hingga terdengar oleh 
sebahagian makmum, kalau imamnya tidak membaca aamiin, maka makmumnya tidak 
wajib membaca aamiin, karena imam wajib diikuti. Bacaan aamiin tidak boleh 
bersamaan dengan bacaan aamiin imamnya.
 
Dalil-dalilnya:
Diberitakan oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: 
“Apabila imam membaca amiin, maka ucapkan pulalah amiin! Karena barangsiapa 
amiinnya bersamaan dengan amiinnya Malaikat, diampuni dosa-dosanya yang telah 
lalu.” HSB. 429; HSM.382, 363; HBM.303; NA.903, 905, 907; HR.Abu Dawud; HR.Ibnu 
Hibban.
 
Kebanyakan orang, imamnya belum mengucapkan amiin, makmumnya sudah mendahului 
imam mengucapkan aamiin, ini namanya salah kaprah, kebiasaan salah,  tetapi 
tidak mau dibetulkan, dan masa bodoh; masa bodoh = fasik.
 
10-MEMBACA SURAT ATAU MEMBACA AYAT-AYAT AL QUR’AN:
Bebas memilih membaca ayat-ayat Al Qur’an atau surat-surat yang mana saja yang 
dianggap mudah membacanya, mudah menghafalnya dan mengetahui maknanya silahkan 
anda baca.
 
Dalil-dalilnya. Al Qur’an, surat Al Muzzammil, surat ke  73 ayat No. 20
Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an..
 
Surat yang dibaca di rakaat yang pertama sebaiknya lebih panjang daripada 
bacaan surat di rakaat yang kedua. HSB. 421
 
Membaca dalam sholat tidak boleh terlalu keras, tetapi disesuaikan intensitas 
volume suara imam dengan jumlah jama’ahnya dan atau sekedar dapat di dengar 
oleh telinga kita sendiri jika sholat munfarid (sendirian). 
 
Al Qur’an, surat Al Israa’, surat ke 17 ayat No. 110 sbb:
[17.110] Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang 
mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan 
janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula 
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu"  
 
Dan silahkan anda baca Hadits Shahih Muslim No. 401
Dalam sholat berjamaah, bacaan imam tidak boleh terlalu panjang.  
HSM.421,422,423,
 
11-R U K U’ DAN SUJUD
Perintah Allah SWT mewajibkan kita ruku’ dan sujud:
[22.77] Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah 
Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.  
 
Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi s.a.w. telah bersabda: “Apabila engkau 
(akan) berdiri sholat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke 
kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu daripada Al Qur’an, 
kemudian ruku’lah hingga engkau tetap di dalam ruku’ ……..” (HR.Imam Tujuh).
 
Ruku’ dimulai dengan mengangkat kedua tangan lebih dulu, seperti ketika hendak 
bertakbiratul ikhram.
 
Dari Abdullah bin ‘Umar r.a., katanya: “Saya melihat Nabi s.a.w. memulai takbir 
sholatnya. Diangkatnya kedua tangannya sewaktu takbir itu hingga setentang 
dengan kedua bahunya. Apabila beliau takbir untuk ruku’, beliau melakukan 
seperti itu pula. Dan apabila beliau mengucapkan “Samiallahuliman hamidah” dan 
mengucapkan ‘Rabbana lakal hamdu”’ beliau melakukannya seperti itu pula. Beliau 
tidak melakukan demikian ketika hendak sujud dan ketika mengangkat kepada dari 
sujud.”  Hadits Shahih Bukhari (HSB) No. 403, 410; HSM.342, 343; HBM.284, 290
 
Perintah mengangkat kedua tangan di dalam shalat, ada di tiga tempat:HBM.290
1-Ketika hendak takbiratul ikhram untuk memulai sholat.
2-Ketika hendak ruku’
3-Ketika mengangkat kepala bangkit dari ruku’, kembali berdiri tegak.
 
Bila shalat berjama’ah, jangan sekali-kali gerakan makmum mendahului gerakan 
imam. Hadits Shahih Muslim (HSM) No. 360, 378, 379, 380, 428, 429, 489, 490, 
NA.943
 
Dan apabila engkau ruku’, maka hendaklah engkau taruh dua telapak tanganmu di 
atas dua lututmu.” HR. Abu Dawud.
 
Ketika ruku’, Punggung harus rata / lurus ke depan, membentuk siku-siku:
Dari Abu Humaid As Saidy telah berkata: “Saya melihat Rasulullah s.a.w. apabila 
takbir ia menjadikan kedua tangannya sejajar ke dua pundaknya, dan apabila ia 
ruku’ ia tekankan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian ia luruskan 
punggungnya. . . . .” (HR.Bukhari).
 
Dari Abi Qatadah telah berkata: Nabi s.a.w. bersabda: “Sejelek-jeleknya manusia 
pencuri yang mencuri sholatnya,” mereka bertanya, “Ya Rasulullah s.a.w. 
bagaimana mencuri dari sholat itu?” Rasulullah menjawab: “Tidak menyempurnakan 
ruku’nya dan tidak pula sujudnya,” atau Rasulullah menjawab: “Tidak meluruskan 
punggungnya pada ruku’ dan sujud.”  (HR. Ahmad, Thabrani, Ibnu Khuzaimah dan 
Hakim).
 
Ketika ruku’ kepala tidak mendongak dan tidak pula merunduk, tengah-tengah.
Dari ‘Aisyah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. memulai sholat beliau dengan 
takbir. Sesudah itu beliau baca surat Al Faatihah. Apabila beliau ruku’ 
kepalanya tidak mendongak dan tidak pula terlalu merunduk, tetapi pertengahan 
(sehingga kepalanya kelihatan rata dengan punggung).  Apabila beliau bangkit 
dari ruku’, beliau tidak sujud sebelum dia berdiri lurus lebih dahulu.  Apabila 
beliau mengangkat kepala dari sujud (pertama), beliau tidak sujud (kedua) 
sebelum duduknya antara kedua sujud itu tepat benar terlebih dahulu.  Tiap-tiap 
selesai dua raka’at, beliau membaca tahiyat sambil duduk menghimpit kaki kiri 
dan menegakkan kaki kanan.  Beliau melarang duduk seperti setan duduk atau 
seperti binatang buas duduk.  Dan beliau menyudahi shalat dengan membaca 
salam.  Hadits Shahih Muslim (HSM) No..449
 
Diceritakan oleh Al Barra’ r.a., katanya: “Biasanya sujud Nabi s.a.w. ruku’ dan 
duduknya antara dua sujud hampir sama saja lamanya masing-masing. Hadits Shahih 
Bukhari  (HSB) No.. 449
 
11A-BACAAN  DI  DALAM  RUKU’ DAN SUJUD:
BACAAN RUKU’  RASULULLAH S.A.W.  PADA SHOLAT  5 WAKTU:
 
Dari Ukhbah bin Amer r.a., berkata: Tatkala turun ayat: “Fasabbih bismirabbikal 
‘adzim”. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jadikanlah dalam ruku’mu, maka tatkala 
turun ayat, “Sabbihis marabbikal a’la”. Jadikanlah dalam sujudmu.” (HR.Ahmad, 
Abu Dawud dan Ibnu Majjah).
 
(a)-“Subhana robbiyal ‘adzim’ dan “Subhana rabbiyal a’la.”
Dari Hudzaifah bin Al Yaman r.a., telah berkata: “Saya sholat bersama Nabi 
s.a.w., maka ia mengucapkan dalam ruku’nya “Subhana robbiyal ‘adzim’ dan dalam 
sujudnya “Subhana rabbiyal a’la.” (HR.Imam Lima).
 
(b)-Diberitakan oleh ‘Aisyah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. di dalam ruku’ dan 
sujud beliau membaca: “Allahummagh firli dzanbi kullahu, diq-qohu wa jillahu, 
wa aw-walahu, wa akhirahu, wa ‘alaniyathu, wa sirrahu.”  Artinya: “Wahai Allah! 
Tuhan kami dan dengan memuji Engkau, Wahai Allah! Ampunilah hamba.”. Hadits 
Shahih Muslim (HSM) No.436
 
(c-Dari Mutharrif bin ‘Abdullah bin Syikhkhir r.a., bahwa ‘Aisyah mengabarkan 
kepadanya, katanya Rasulullah s.a.w. membaca dalam ruku’ dan sujud: “Subbuhum 
quddusun rabbul malaikati war ruh.” Maha Suci Allah, Tuhan segala malaikat dan 
ruh. HSM.441
Silahkan and abaca HSM.439 dan 440
 
Namun sejak turunnya Al Qur’an, Surat An Nashr (surat ke 110) ayat 3
[110.3] Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. 
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.
 
Hingga wafatnya, beliau Nabi s.a.w. lebih banyak membaca dalam ruku’ dan 
sujudnya sebagaimana hadits berikut:
 
Dari ‘Aisyah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. sering membaca dalam ruku’ dan 
sujudnya: “Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika, allahummagh firli”. “Maha 
Suci Engkau, wahai Allah! Tuhan kami dan Maha Terpuji Engkau, Wahai Allah! 
Ampunilah aku.” Beliau membaca do’a itu karena mengamalkan perintah Allah 
didalam Al Qur’an, Surat An-Nasr , surat ke ayat 3.     HSM.437
 
Setelah turunnya Al Qur’an, surat An Nasr, surat ke 110 ayat No.3 Nabi s.a.w. 
sampai wafatnya lebih banyak membaca tasbih dalam ruku’ dan sujudnya 
sebagaimana hadits berikut: 
 
Dari ‘Aisyah r.a. katanya: “Semenjak turun ayat: ‘Idza ja-anashrullahi wal 
fath’, maka kulihat beliau sering mendoa tau membaca dalam ruku’ dan sujudnya: 
“Subhana rabbi wa bihamdika Allahummafirli.” Maha Suci Engkau Wahai Tuhanku, 
lagi Maha Terpuji, Wahai Allah. Ampunilah aku. HSM.438
 
Dari ‘Aisyah r.a., dia menceritakan bahwa, “Nabi s.a.w. memperbanyak bacaan 
dalam ruku’ dan sujud dengan bacaan: “Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika, 
allahummagh firli”. Maha Suci Engkau, wahai Allah! Tuhan kami dan Maha Terpuji 
Engkau, Wahai Allah! Ampunilah aku!”.Dengan cara begitu, Nabi s.a.w. 
seolah-olah menjelaskan maksud ayat Al Qur’an, surat An Nasr, surat ke 110 ayat 
No.3 . HSB.448 
 
Dari ‘Aisyah. Ia berkata: Adalah Rasulullah s.a.w. menyebut di dalam ruku’nya 
dan sujudnya: “: “Subhanaka Allahumma rabbana wa bihamdika, allahummagh firli”. 
Maha Suci Engkau, wahai Allah! Tuhan kami dan Maha Terpuji Engkau, Wahai Allah! 
Ampunilah aku!”. Hadits Bulughul Maram No.314 yang bersumber dari Muttafaq 
‘alaih.
 
Bacaan Ruku’ dan Sujud oleh kebanyakan orang Islam di Indonesia:
Didalam ruku’nya membaca: “Subhana rabiiyal ‘adzimi wa bihamdi” dan didalam 
sujudnya membaca: “Subhana rabiyyal a’la wa bihamdi”. 
Penulis belum menemukan haditsnya. Pertanyaannya. Mengapa tidak mau mencontoh 
atau I’tibak kepada Rasulullah s.a.w.? Berarti tidak mengikuti Sunnah 
Rasulullah s.a.w. dan  tidak mau mengamalkan perintah Allah Qs.110: 3 dan 
Hadits-hadits tersebut diatas. Koq malah membuat aturan sendiri. Allahu 
a’lam!!!!
 
BACAAN  RUKU’ RASULULLAH S.A.W.  PADA SHOLAT MALAM.
“Allahum-ma laka raka’tu, wa bika amantu, walaka aslamtu, khasa’a laka  sam’i, 
wa bashari, wa much-khi, wa ‘azhmi, wa ‘ashabi.”   Wahai Allah! Kepadamu aku 
ruku’, denganmu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Patuh dan tunduk 
kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulang belulangku dan 
otot-ototku semuanya. Hadits Shahih Muslim (HSM) No.743
Bersambung.


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke