---------- Forwarded message ---------- From: korandigital <[email protected]> Date: 2009/11/2 Subject: [Koran-Digital] Bashori Muchsin : Negara di Balik Orang Miskin Jadi Teroris To: "[email protected]" <[email protected]>
Senin, 02 November 2009 ] Negara di Balik Orang Miskin Jadi Teroris Oleh: Bashori Muchsin Acara dialog lintas keimanan di Perth, Australia, belum lama ini menghasilkan sejumlah rumusan strategis. Salah satunya menyebutkan bahwa seseorang menjadi radikalis bukan hanya disebabkan pemahaman eksklusif keagamaan, tetapi berkaitan dengan masalah perlakuan tidak adil yang menimpanya, yang mengakibatkan hidupnya miskin dan terpinggirkan (/Jawa Pos/, 31 Oktober 2009). Dialog lintas keimanan itu sebenarnya mengingatkan setiap negara, pemeluk agama, dan bangsa-bangsa di muka bumi bahwa akar problem radikalisme yang berujung terorisme tidak selalu disebabkan oleh ideologi dan klaim kebenaran (/truth claims/) agama. Aksi itu juga bisa disebabkan oleh praktik-praktik ketidakadilan atau pemarjinalisasian yang menimpanya. Seseorang atau suatu komunitas yang semula tidak pernah mengenal dan mempelajari pola berpikir dan cara berlaku radikal, bisa tergiring atau terbentuk emosi dan sikapnya menjadi radikalis. Mereka terdidik oleh produk kebijakan negara atau regulasi politik-ekonomi yang represif, disparitas, dan meminggirkannya, yang mengakibatkan dirinya menjadi sekumpulan manusia yang tidak berguna, tidak berdaya, dan akrab dengan keprihatinan. Mereka itu akhirnya menjatuhkan opsi sebagai radikalis atau teroris bukan semata untuk mencari kompensasi atas luka atau penderitaan akibat ketidakadilan yang menimpanya. Mereka pun berobsesi mengembalikan derajat kemanusiaannya dengan cara menunjukkan bahwa dirinya mempunyai kekuatan, mampu menghadirkan pergolakan yang bisa diagendakan oleh sejarah. Itu juga mengingatkan supaya perhatian negara atau aparat kepolisian tidak "selalu" tertuju pada kelompok Islam garis keras atau komunitas beragama yang beraliran tafsir tekstualis. Negara harus juga mengingatkan dirinya sendiri. Pasalnya, negara juga bisa menjadi akar penyebab utama yang mendorong dan "menyuburkan" teroris. Kalau negara-negara adidaya semacam Amerika Serikat bisa disebut /state/ /terrorism /oleh Afghanistan, Iraq, dan negara-negara lain akibat kebijakan represifnya yang menghancurkannya atau Israel yang menjadi /state/ /terrorism /terhadap Palestina, negara pun tidak tertutup kemungkinan bisa terjerumus menjadi "kriminalis" atau pendosa yang menggiring orang miskin menjadi teroris. Orang miskin yang digiring itu boleh jadi memang bukan untuk dijadikan mesin utama gerakan teroris. Mereka bisa digunakan sebagai elemen atau skrup dari jaringan untuk melakukan suatu aktivitas yang sudah dirumuskan atau ditarget. Aktivitas ini berkategori perwujudan misi berbahaya atau /mission imposible. / Salah satu misi yang dianggap tidak mungkin dilakukan masyarakat pada umumnya, yang bisa dilakukan orang miskin adalah "harakiri". Tindakan ini dijadikan opsi bukan semata sebagai bagian dari upaya membebaskan dirinya dari kemiskinan, tetapi juga sebagai kritik radikal untuk mengingatkan sepak terjang negara yang telah berlaku tidak adil kepadanya. Orang miskin tidak selalu diam menerima realitas kepahitan (ketidakadilan) yang menimpanya, apalagi ketika ketidakadilan yang dialaminya sudah tergolong ketidakadilan berlapis atau sistemik. Mereka memang tidak cepat bereaksi atas penderitaan yang menimpanya. Tetapi, mereka bisa secepatnya menunjukkan kekuatan fisiknya manakala ada kekuatan lain yang "mendidik" cara melampiaskan atau mengorganisasi kemarahannya. Kata Naim Mudlor (2008), ketidakadilan berlapis dapat menyulut kemarahan dan kekerasan berlanjut. Siapa saja yang menjadi korban ketidakadilan ini emosinya sulit dikendalikan. Kecenderungannya adalah mencari kompensasi sebagai bagian dari upaya mengembalikan harkat kemanusiaannya. Dia tidak akan tinggal diam dan rela menerima ketidakadilan yang menimpanya, sehingga menjadikan negara sebagai sasaran gerakan radikalnya demi mengembalikan kedaulatan keadilan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini, ketidakadilan tidak bisa dianggap sebagai "penyakit" ringan. Padahal, akibat ketidakadilan yang dimenangkan dan diabsahkan ini mampu menguliti hak-hak fundamental orang miskin. Dari hak fundamental yang tercerabut ini, terbentuklah dirinya menjadi fundamentalis yang radikalis. Ketidakadilan merupakan praktik yang bermodus meminggirkan atau mengeliminasi hak seseorang dan masyarakat. Dalam ketidakadilan terdapat pelanggaran, kearogansian, dan kriminalisasi yang dimenangkan, sementara kebenaran, keadilan, dan persamaan derajat dikalahkan. Orang miskin yang dirampas hak-haknya atau dijauhkan dari kebijakan yang memanusiakan dirinya, tidak dirambah kesejahteraan, dan bahkan digiring sekadar menjadi ongkos kepentingan pembangunan atau ditempatkan sebagai pelengkap penderita dari keserakahan segelintir orang yang berbaju negara. Komunitas akar rumput ini tidak bisa disalahkan kalau kemudian menjadikan negara sebagai objek radikalisme atau terorismenya. Secara umum tidak ada orang miskin yang jelas-jelas kehidupan kesehariannya akrab dengan penderitaan atau berbagai bentuk keprihatinan, kemudian menjatuhkan opsi untuk terlibat gerakan-gerakan yang lebih menderitakan seperti menjadi teroris. Mereka bisa tergelincir atau digiring (dididik) menjadi teroris akibat kondisi ketidakberdayaan atau keprihatinan yang dialami yang sejalan dengan ulah negara yang kurang peduli pada penderitaannya atau "memiskinkan". Kondisi paradok dan disparitas antara orang miskin dan orang kaya berkuasa yang selama ini masih menghegomi negeri ini. Yang sering meminta banyak atau menjarah negara ini bukan orang miskin, tetapi orang kaya atau elemen negara sendiri, yang dengan rakusnya membuat celah dan payung kebijakan untuk semakin memperkaya dan menyejahterakan diri. Sementara orang miskin terus dialinasikan atau dimarjinalisasikannya, sehingga kian tidak berdaya (/empowerless/).. Kalau ingin mencegah berkembangbiaknya radikalis atau teroris yang bersumber dari orang miskin, sudah saatnya elite negara ini tidak meneruskan sikap untuk memperkaya diri dan komunuitas eksklusifnya lewat kebijakan istimewa seperti kenaikan gaji berlebihan. Di sini orang miskin hanya bisa menjadi penonton yang merana, sementara orang kaya yang lagi berkuasa semakin makmur di puncak piramida keningratannya. /Prof Dr Bashori Muchsin MSi, guru besar dan Pembantu Rektor II Universitas Islam Malang/ http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=98225 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Groups "Koran Digital" - One Touch News- To post to this group : [email protected] To unsubscribe from this group : [email protected] "Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun - Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu - Hindari ONLINER - POTONG EKOR EMAIL - Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. - Berdiskusilah dengan baik dan bijak. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------------- Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan. -- Otto Von Bismarck -~----------~----~----~----~------~----~------~--~--- -- Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest. N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs. im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können. >> al-Ra'd [13]: 28 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ === Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits? Silahkan klik: http://www.media-islam.or.id Ingin belajar Islam via milis? Kirim email ke [email protected]! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

