Bismillahirrahmaanirrahiim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

 

“Uang memang sangat berperan penting dalam kehidupan manusia
didunia ini”. Tanpa uang, tanpa harta, tanpa jabatan, pengaruh, relasi,
kolerasi, khusus untuk di Indonesia ini, sangat sulit menjalani urusan dan
kehidupan dengan lancar. Ini memang ada benarnya, tapi kebenarannya tak
mutlak100%.

 

Aku masih sangat ingat sekali, tatkala kepala sekolahku,
yang merupakan atasanku mengatakan kepadaku, saat aku mengkritik adanya
pemberian uang pelicin, atau diistilahkannya dengan sumbangan untuk
memperlancar sebuah urusan disuatu instansi:”Cobalah saja sama kamu Rahima,
berurusan di Indonesia ini, tanpa ada uang!!”.

 

Aku sedih, sebegitu mendarah dagingnya urusan birokrasi di
Indonesia, semua serba pakai uang harus bisa lancar urusan. Kalau kita
memberikan hadiah sebagai ungkapan terimakasih setelah urusan selesai, atau
kita minta tolong sama seseorang dan kita beri ongkos dia buat urusan kita, itu
wajar saya pikir, masak sudah minta tolong tenaga, waktu dan pikiran seseorang,
uang dari kantongnya harus kita peras pula, itu namanya “tak punya perasaan”.

 

Namun, dengan sengaja memberikan uang pelican agar urusan
bisa lancar, ini yang pernah kukritik disekolahku. Sampai aku mengatakan saat
itu :”Pak,..uang Rp5000 untuk masing-masing guru dan pegawai yang mungkin saat
ini ada kurang lebih 100 orang pegawai, 5000X100 orang sudah terkumpul berapa
itu Pak?

 

Dan bukan masalah itu lagi. Mungkin uang sedikit itu tak
seberapa buat kita pegawai yang gajinya dah diatas 2 jt ini. Permasalahannya
adalah membiasakan diri untuk menyogok, dan menyogok itu yang salah. Dan
sekarang kita mampu, bagaimana dengan anak cucu, generasi setelah kita, akibat
tingkah ulah kita, yang menderita akibat ulah kita itukan juga generasi setelah
kita, yang saya fikirkan adalah selain itu SOGOK yang dilarang dalam agama, dia
juga merugikan banyak masyarakat sekeliling baik semasa kita ataupun generasi
sesudah kita. 

Itu sekelumit pengalamanku yang kualami dalam masalah
birokrasi dan urusan keuangan ini.

 

Aku memang merasakan bahwa untuk di Indonesia khususnya,
uang itu memang sangat memegang peranan penting, tanpa uang kita tak bisa
makan, tanpa uang kita tak bisa sekolah, tanpa uang, kita bahkan tak bisa
apa-apa. Karena uang itu merupakan alat penting dalam kehidupan kita
sehari-hari, dan kita tak dapat memungkiri hal itu, kita harus hidup realistis.

 

Yang ingin ketekankan sebenarnya, hendaknya dengan uang kita
justru mampu mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan uang
kita bisa lebih banyak bersedeqah, dengan uang kita bisa banyak belajar, dengan
uang kita bisa lebih banyak mensucikan diri kita dengan mendalami AlQuran.
Dengan uang bisa menegakkan kalimah Illahi, bukan sebaliknya, membuat manusia
lalai dari mengingat Allah Ta'ala, sibuk dengan acara urusan duniawi semata,
melupakan belajar, ibadah dan berbuat baik pada sesama..

 

Dan ingin kutekankan sekali lagi adalah, bukan selamanya
dengan uang yang banyak, kekayaan yang melimpah ruah, kemewahan yang serba ada,
kemana-mana naik mobil , apalagi mobil ber AC, yang bikin manusia itu berhasil
baik.

 

Masih ada disana, bahkan justru sangat banyak, mereka-mereka
yang berhasil, adalah mereka yang hidup dalam kesederhanaan, kesulitan,
kemana-mana harus naik angkot bergelantungan tangannya di bis, atau duduk
berpanas-panas dan bersempitan. Makan seadanya. Jarang, atau terkadang ada
mereka yang sama sekali tak pernah makan direstoran mahal sekalipun, mereka
menjadi manusia yang tangguh, mandiri, kuat dan berhasil.

 

Membiasakan diri, keluarga, suami/istri, pasangan hidup
kita, terutama anak-anak kita hidup dalam kesederhanaan dan hemat adalah sangat
penting, meski kita memiliki segala kelebihan dan kemewahan material itu. Kita
harus mampu mendidik anak-anak mandiri, menghargai hasil suatu jerih payah,
karena dengan itu, kelak, dia akan bisa menghargai orang lain, manusia lain,
bawahannya, kalau dia jadi atasan, pembantunya, kalau dia jadi tuan, dan dia
mampu menghargai diri dan siapapun disekelilingnya.

 

Mendidik anak untuk menjadi orang senang, sombong, angkuh,
tidak sulit, kalau kita memiliki kekayaan itu. Namun, apakah kita mampu
mendidik anak biasa hidup susah, tawadhu', mandiri, berkarya sendiri, tanpa
harus mengeluh, tanpa harus meminta-minta, dan terbiasa bersyukur dengan 
seberapapun
yang diberikan Allah Ta'ala, terbiasa berterimakasih pada manusia lain,
terbiasa menghargai hasil kerja, serta karya manusia lainnya?

 

Kalau hanya dalam teori dan kata-kata, sangat gampang kita
katakan “BISA”, tapi dalam “PRAKTEKNYA”, hal itu sangatlah sulit, butuh latihan
dan kesabaran terus menerus dalam mendidik anak-anak kearah tersebut.
Terkadang, membiasakan anak-anak mandiri, tidak harus berada diketiak kita
melulu, sebagaimana pohon pisang dekat dengan ibunya/ortunya, anaknya sulit
untuk berkembang, pendek melulu tuh anak pisang dari ortunya. Belajarlah dari
alam semesta ini.

 

Tetapi membiasakan anak-anak mandiri, jauh dari orang tua,
terbiasa berteman dan bermasyarakat dengan lingkungannya, membuat mereka
terbiasa mengatasi segala problema kehidupannya, dan mereka akan menjadi
manusia yang tangguh, cerdas, kuat dan mampu menghargai orang lain.

 

Menjadikan anak-anak yang tangguh, cerdas, kreatif, dan
inovatif, beriman, tidak selamanya butuh uang banyak, harus diles privatkan
sana-sini. Tidak...tidak selamanya harus keluar uang banyak. Tanpa les
privatpun anak mampu berkembang, bahkan bisa melebihi anak-anak orang kaya yang
segala sesuatu di les privatkan, dengan syarat belajar...belajar dari alam,
teman, masyarakat, fasilitas sederhana yang kita miliki, serta ketekunan kita
sebagai orang tuanya melatih mereka untuk selalu kuat, mandiri, bergerak,
jangan bermalasan, dan manja.

 

Dan yang terpenting lagi dari semua itu adalah mendidik
mereka menjadi manusia yang shalih/ah, agar kelak, sekaya, sehebat, dan
sepintar apapun hidup mereka, setinggi apapun jabatan mereka selalu bisa
menghargai manusia lain, dekat dengan Allah Ta'ala, dekat dengan shalat, serta
menggantungkan nasib dan hidupnya hanya pada Allah semata. Tatkala dirundung
duka, mereka mengadu pada Allah Ta'ala, tatkala mendapatkan suka dan gembira
mereka selalu bersyukur pada Allah Ta'ala, mereka akan mengatakan bahwa  
kekayaan, jabatan dan kelebihan ini adalah
karena Rahmat Allah semata.

 

Wasiat Rasulullah yang terakhir dan sangat pupuler adalah
“Asshalat..dan budak sahaya(apa-apa yang kamu miliki dari pemantu, bawahan),
dan tentunya manusia sekeliling kita.

 

Betapa pentingnya shalat, yakni mendekatkan diri selalu pada
Allah Ta'ala, serta betapa tak kalah pentingnya menghargai manusia lain, 
terutama
bawahan kita, pembantu kita, orang-orang yang kedudukan/derajat nya dibawah
kita. 

Dalam sebuah hadits, diriwayatkan, betapa dicelanya
orang-orang yang suka mengambil muka penguasa/atasannya, namun sangat
ditekankan seorang atasan untuk menghargai bawahannya, bahkan dalam AlQuran
:”Dan berikanlah segala sesuatu itu sesuai dengan haknya”,dalam sebuah hadits
“Berikanlah upah gaji buruh kamu, sebelum kering keringatnya”Ini menandakan
agar kita selalu mampu menghargai bawahan kita. Sangat terbalik dengan realita
masyarakat sekarang, manusia banyak mengambil muka penguasa, sementara penguasa
sering bertindak tidak adil dan dzalim pada bawahannya, bahkan cenderung tak
mampu menghargai rakyat jelata. 

 

Tak jarang terjadi, mereka yang sedikit hidupnya lumayan
tinggi, sudah mampu menghina, mengejek manusia lainnya. Padahal hal tersebut
sudah sangat-sangat dilarang dalam agama(AlQuran hadits), merendahkan manusia
lain. Karena apa, karena hakikatnya orang yang mengejek dan merendahkan manusia
lain, hakikatnya dia jauh lebih rendah dan jelek dari orang yang dihinakannnya
tersebut, namun demi menutupi kekurangan diri sebenarnya, dia hanya mampu
menghina, disaat dia merasa dia yang berkuasa/memiliki segalanya saat itu

 

Ini semua karena kebanyakan manusia dilupakan syetan dengan
pesan terakhir Rasulullah tersebut. Asshalat..asshalat(shalat-shalat, dan
apa-apa yang kamu miliki dari budak (orang yang berada dibawah kamu
derajatnya). Inilah pentingnya keimanan yang dilatih dan dididik sejak dari
kecil oleh para orang tua, sebab bila sifat-sifat jelek terlatih sejak kecil,
susah hilangnya kalau dah dewasa, karena dah mendarah daging. 

 

Tanamkanlah Iman, aqidah yang kuat pada anak-anak didik
kita, anak-anak kita sendiri, disamping kita juga menanamkan mereka akan
keilmuan lainnya, kecerdasan dalam segala lini kehidupan. InsyaAllah kelak
bangsa ini akan dipimpin oleh pemimpin yang beriman, bertaqwa dan mampu
menghargai bawahan, masyarakat sekelilingnya, serta tidak sombong, angkuh, suka
menghina/mengejek manusia lainnya. Dia akan mampu bersikap adil, bijaksana, dan
tidak dazlim pada siapapun jua. 

 

Anak yang terdidik Iman dan ketaqwaannya sejak dari kecil,
insyaAllah kelak dewasanya dia mampu menjadi pemimpin yang berhasil, minimal
menjadi manusia yang tawadhu', ahli ibadah, tawakkal  kepada Allah Ta'ala, 
rendah hati, pintar,
cerdas, dan bisa berterimakasih/ menghargai manusia lainnya.Dia mampu hidup
dalam kondisi apapun.

 

Wassalamu'alaikum. Cairo, 18-19 Mei, 2010. Rahima.

 

 

 
Wasssalamu'alaikum. Rahima.S.Sarmadi.Abd.Rahim.(Doqqi,Cairo) 





 "Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi 
manusia lainnya".


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke