Saya pribadi menentang Kenaikan Tarif Dasar Listrik.
Dalam melawan kemungkaran memang ada 3 level: 
1. Dengan tangan
2. Dengan lisan/tulisan
3. Selemah2 iman dengan hati saja menolaknya

Kalau mendukung kemungkaran, berarti tak punya iman.

http://infoindonesia.wordpress.com/2010/06/18/as-dan-adb-proyek-listrik-indonesia-tdl-naik
http://kabarislam.wordpress.com/2010/06/21/jika-lapar-saya-menangis

Namun kenaikan listrik ini merupakan agenda Neoliberalisme yang didiktekan oleh 
IMF dan World Bank (Zionis Yahudi) pada banyak negara di seluruh dunia. Sekeras 
apa pun suara kita tidak akan didengar. Harus ada aksi. Bukan cuma NATO (No 
Action Talk Only). Tidak ada aksi cuma bicara.

Jika kita lihat sunnah Nabi, Nabi tidak cuma bersuara mengkritik kebobrokan 
rezim kafir Quraisy. Tapi ada aksi membangun masyarakat  Islam.

Saat ada sumur air yang dikomersialkan Yahudi, Nabi meminta sahabat untuk 
membeli sehingga seluruh rakyat bisa menikmati air secara gratis.

Ada aksi Nabi dan Sahabat di situ. Bukan cuma ngomong/demo. 
Aksi...aksi...aksi...

Lihat bagaimana seorang wanita dengan modal Rp 44 juta akhirnya mampu membangun 
60 pembangkit tenaga listrik mikro hidro yang memakai tenaga dari aliran 
sungai. 60 desa dengan jumlah ribuan penduduk dapat menikmati listrik murah 
karena jasa amal jariyah seorang wanita.

Jadi hendaknya ormas Islam dengan puluhan ribu anggota yang jika seorang 
anggota menyumbang Rp 10 ribu saja maka terkumpul ratusan juta rupiah. Dari 
situ harusnya bisa membangun pembangkit listrik mikro hidro untuk menerangi 
ratusan desa.

Ormas2 Islam dan Ormas2 lain yang mengaku peduli rakyat harusnya tidak kalah 
aksinya dengan seorang wanita biasa yang sedikit bicara tapi banyak kerja.

Sosok Wanita Penerang Desa
Tri Mumpuni telah membangun sekitar 60 pembangkit listrik tenaga mikrohidro. 
(Foto:BBC)

Menerangi sebanyak mungkin desa dengan pembangkit listrik mini tenaga air. 
Itulah salah satu mimpi Tri Mumpuni. Bagi perempuan yang satu ini mimpi itu 
bisa diwujudkan dengan kemauan dan kerja keras. Dan, dia telah menunjukkannya 
dengan menjadi motor pembangunan setidaknya 60 pembangkit listrik tenaga air 
yang ramah lingkungan di berbagai pelosok desa di Indonesia.

Atas aktivitasnya yang bersifat swadaya energi ini, perempuan kelahiran 1964 
ini kemudian dijuluki sebagai wanita "penerang desa." Namun, menurut Puni, 
listrik sebenarnya bukanlah tujuan utamanya, melainkan membangun potensi desa 
agar berdaya secara ekonomi.

"Ini tidak berhenti di tingkat teknologi, tapi kita juga harus selalu maju dan 
bersemangat untuk mengembangkan masyarakat," tegas Tri Mumpuni kepada Heyder 
Affan dari BBC Indonesia, di kantornya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Barat.

Tertarik aktivitas suami
Menurut catatan, hingga pertengahan 2010, ada sekitar 60 pembangkit listrik 
tenaga air berskala kecil atau mikrohidro telah dibangunnya di berbagai wilayah 
di Indonesia.

Berawal dari aktivitas suaminya di bidang kelistrikan ini di tahun 90-an, Tri 
Mumpuni kemudian tertarik untuk terjun ke bidang yang sama. Namun, dia memilih 
penekanan pada sisi pemberdayaan masyarakat pada pembangunan pembangkit listrik 
tenaga air ini.

"Saya rasa ini pembangunan pedesaan yang komprehensif. Ya dapat teknologinya, 
juga dapat menjaga hutannya, sekalian bisa meningkatkan hasil panennya," 
paparnya.

Dengan semangat itulah, Puni memutuskan untuk membantu masyarakat di pedesaan 
terpencil yang belum menikmati listrik. Dibantu suaminya, alumni Institut 
Pertanian Bogor (IPB) ini kemudian memanfaatkan sumber daya alam berupa air 
sebagai energi alternatif.

"Karena di Indonesia air itu melimpah dan relatif murah," katanya.

Melalui lembaga Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan yang dipimpinnya, dia 
antara lain memanfaatkan aliran sungai untuk membangkitkan listrik berkekuatan 
kecil atau mikrohidro, yang disebutnya ramah lingkungan.

Upaya ini disebutnya swadaya energi, karena dilakukan tanpa uluran bantuan 
pemerintah.

Sebagai modal awal, Tri Mumpuni meminjam dana dari bank atau mencari bantuan 
dari sejumlah negara melalui kantor kedutaannya di Jakarta.

Salah-satu langkah awalnya yang disebutnya berhasil adalah membuat pembangkit 
listrik mikrohidro di Desa Curuagung, Subang, Jawa Barat, di tahun 90-an.

Dengan memanfaatkan Sungai Ciasem, Puni dan warga desa setempat membangun 
pembangkit listrik berkekuatan 13 kilowatt, yang akhirnya dapat menerangi 121 
rumah di desa tersebut.

"Walau modal awalnya hanya Rp 44 juta," kata ibu dua anak ini.

Tidak gampang
Setelah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di dunia ini, Tri Mumpuni kini 
mengaku telah membangun pembangkit tenaga air mini di sekitar 60 lokasi di 
Indonesia. Tetapi perempuan kelahiran 1964 ini mengaku apa yang dilakukannya 
tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Selain kesiapan teknis yang membutuhkan perencanaan matang, Puni menyebut 
kehadiran masyarakat di dalam pembangunan ini sebagai faktor paling penting.

"Dan ini pekerjaan panjang," tandasnya.

"Kita perlu endurance, perlu passion, komitmen. Jika gagal, diulangi lagi. 
Gagal diulangi lagi! Karena, kita bicara development, kita bicara membangun 
manusia," jelas Tri Mumpuni, yang atas berbagai upayanya ini meraih predikat 
Climate Hero 2005 dari Wild World Fund International.

Dia kemudian menyebut aktivitasnya tidak semata membangun piranti fisik seperti 
pembangkit listrik bertenaga air, tetapi selanjutnya bagaimana memberdayakan 
masyarakat setempat.

"Bagaimana agar pembangkit listrik yang sudah kita berikan kepada masyarakat 
itu bisa dikelola, dioperasikan, dirawat dan lebih penting lagi dimiliki oleh 
rakyat," jelasnya.

Agar upaya ini membuahkan hasil, demikian Tri Mumpuni, masyarakat dilibatkan 
sejak awal sebelum pembangkit itu dibangun.

"Kita gelar rapat untuk membentuk organisasi di level desa. Karena mereka yang 
kelak akan mengelola, mengoperasikan dan merawat, sekalian menentukan tarif 
untuk membeli listrik itu," ungkap Tri Mumpuni.

Persoalannya tidak semua warga bersedia membayar iuran secara rutin. Padahal 
uang itu nantinya digunakan untuk membayar operator yang menjalankan turbin dan 
sebagai biaya perawatan.

Di sinilah tantangannya, kata Puni. "Banyak orang kaya dan mampu, tapi nggak 
mau membayar. Ada orang mau bayar tapi nggak mampu membayar. Nah bagaimana seni 
mengotak-atik kedua itu."

Tolok ukur keberhasilan dari program pemberdayaan masyarakat ini, menurut 
perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini adalah apabila masyarakat mampu 
menjamin keberlangsungan pembangkitnya.

"Dan saya senang karena ada beberapa desa yang sudah memiliki listrik dalam 
rentang setahun, punya tabungan sampai Rp 160 juta," ungkapnya.

Meskipun demikian, Puni mengaku tidak semua programnya berjalan seperti 
diharapkan. "Yang 20 persen itu bukan gagal, karena kalau gagal itu artinya 
rusak dan tak termanfaatkan."

Dipuji Presiden Obama
Berkat dedikasi, bulan April lalu, Puni-- demikian sapaan akrabnya--diundang 
khusus oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ia diundang bersama delapan 
wirausahawan Indonesia dalam acara bertajuk Presidential Summit on 
Entreprenership di Washington, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Presiden As Barack Obama memuji upaya yang telah 
dilakukan Tri Mumpuni.

Dalam pidatonya, secara khusus Obama menyebutnya, "telah membuat sekitar 60 
desa terpencil menjadi terang-benderang".

"Kita mendapatkan seorang wirausahawan sosial seperti Tri Mumpuni, yang telah 
membantu masyarakat desa di Indonesia mendapatkan listrik dan pendapatan dari 
pembangkit listrik tenaga air," ujar Obama dalam pidatonya, yang langsung 
disambut tepuk tangan para hadirin.

Obama kemudian mengucapkan terima kasih kepadanya. Bersama peraih Nobel 
Perdamaian 2006 Muhammad Yunus, Puni secara khusus menjadi panelis dalam acara 
itu.

Di dalam panel itu Puni mengaku puas. "Karena saya mengatakan di hadapan 
orang-orang kapitalis, bahwa 'my business is beyond profit and beyond money. 
Yang penting bagaimana memberdayakan orang lain dan membawa manfaat," ujarnya.

Birokrat bikin frustasi
Dalam wawancara kepada BBC, Tri Mumpuni mengaku tidak pernah berputus asa saat 
berhubungan dengan masyarakat selama ini. Tetapi yang acap membuatnya frustasi 
adalah perilaku birokrat yang disebutnya mempersulit interaksi saya dengan 
rakyat, merongrong dan bahkan terkadang minta uang.

Dia kemudian mengungkapkan pengalamannya saat membangun pembangkit listrik 
bertenaga air di sebuah daerah. Di tempat itu, seorang aparat mendatangi warga 
dan meminta uang. Tanpa sepengetahuan dirinya, warga ternyata tidak dapat 
menolak permintaan aparat itu dengan berbagai alasan.

"Saya marah dan saya katakan 'kenapa diberi dan siapa yang menyuruh dia datang 
kemari'. Saya terpaksa mengganti (uang warga). Mungkin nilai uang itu tidak 
besar yaitu sekitar Rp 200-300 ribu, tapi moral di belakang itu yang tidak 
dapat saya terima," sergahnya.

Pengalaman seperti ini, di mata Puni betul-betul hanya menghabiskan energi. 
"Makanya saya katakan bangsa ini nggak maju, karena mental aparatnya seperti 
itu," pungkasnya.

http://www.nonblok.com/blokinspirasi/kisah.keteladanan/20100601/17591/sosok.wanita.penerang.desa


===

Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

Milis Ekonomi Nasional: [email protected]

Belajar Islam via SMS:

http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-phone

--- Pada Sel, 29/6/10, Heru Setiawan <[email protected]> menulis:

Dari: Heru Setiawan <[email protected]>
Judul: Re: [syiar-islam] Re: Hizbut Tahrir Indonesia Menolak Kenaikan Tarif  
Dasar Listrik (TDL)
Kepada: "Nizami" <[email protected]>
Cc: [email protected]
Tanggal: Selasa, 29 Juni, 2010, 4:52 PM







 



  


    
      
      
      Ayo satukan barisan buat menolak kenaikan TDL, ini masalah bangsa bro..



2010/6/29 Nizami <[email protected]>



>

>

> Saya pribadi berharap HT dan ormas2 Islam lainnya mengerahkan ribuan

> anggotanya untuk memberi listrik murah buat rakyat seperti membangun

> Pembangkit Listrik tenaga Mikro Hidro yang memakai tenaga aliran sungai/air

> terjun.

>

> Untuk daerah yang tidak ada sungai mungkin bisa dipakai tenaga angin/ombak.

>

> Ini panduan dan contoh pembangunan Listrik Mikro Hidro yang bisa menerangi

> penduduk satu desa:

>

> http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/09/panduan-pembangunan-pembangkit-listrik.html

>

> http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8505

>

>

> http://elektrojoss.wordpress.com/2007/07/30/pembangkit-listrik-mikrohidro-45-rumah-5000-watt/

>

> Insya Allah jika ormas Islam/Ulama bisa memberikan solusi, ummat pun akan

> hormat dan tunduk.

>

>

> --- In [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>, "Agus

> Wahyu Sudarmaji" <aguswa...@...> wrote:

> >

> > Kalau memang usulan HTI ini ditolak dan listrik tetap naik, apa yang

> > akan HTI lakukan?

> > Apakah pernyataan ini hanya berupa himbauan?

> > Adakah langkah kongkrit agar TDL ini tidak naik?

> >

> >

> > -----Original Message-----

> > From: [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>[mailto:

> [email protected] <syiar-islam%40yahoogroups.com>]

> > On Behalf Of Shofhi Amhar

> > Sent: Tuesday, June 29, 2010 10:52 AM

> > To: [email protected] <jurnalisme%40yahoogroups.com>;

> parapemikir; syiar-islam

> > Subject: [syiar-islam] Hizbut Tahrir Indonesia Menolak Kenaikan Tarif

> > Dasar Listrik (TDL)

> >

> > Hizbut Tahrir Indonesia Menolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL)

> >

> > Nomor: 181/PU/E/06/10

> >

> > Jakarta, 17 Juni 2010/5 Rajab 1431 H

> >

> > PERNYATAAN

> > HIZBUT TAHRIR INDONESIA

> >

> > Menolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL)

> >

> > Melalui persetujuan DPR, mulai 1 Juli 2010 pemerintah akan menaikkan

> > Tarif Dasar Listrik (TDL) yang besarnya berkisar antara 6-20%. Hanya

> > dua kelompok yang tidak mengalami kenaikan, yakni pelanggan rumah

> > tangga kecil dengan daya 450-900 VA karena dianggap tidak mampu serta

> > pelanggan dengan daya di atas 6.600 VA karena sudah membayar TDL

> > sesuai harga pasar.

> >

> > Seperti yang sudah-sudah, alasan yang dikemukakan pemerintah adalah

> > untuk mengurangi beban subsidi. Dengan kenaikan TDL ini, diharapkan

> > bisa dihemat dana pemerintah sebesar sekitar Rp 5 triliun. Meski tidak

> > semua golongan pemakai akan dinaikkan, tapi kenaikan TDL ini pasti

> > tetap saja akan makin menyulitkan kehidupan masyarakat luas. Biaya

> > hidup pasti akan bertambah karena harga barang dan jasa pasti juga

> > akan ikut naik. Kadin menghitung, dengan kenaikan TDL antara rata-rata

> > sekitar 10% ini, akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi sekitar

> > 33%, yang tentu akan menaikkan harga jual barang. Para produsen dengan

> > alasan kenaikan bahan baku akan menaikan harga jual produk. Dan

> > akhirnya pasti akan menyebabkan multiplier efect yang bermuara pada

> > kenaikkan harga dan penurunan daya beli masyarakat dan berujung pada

> > penurunan produksi yang berdampak pada pemutusan hubungan

> > karyawan/pengangguran.

> >

> > Berkenaan dengan hal tersebut, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

> >

> > 1.

> >

> > Menolak rencana kenaikan harga TDL itu karena hal itu tidak

> > sesuai dengan prinsip yang benar dalam pengelolaan sumber energi

> > nasional serta akan semakin membebani kehidupan masyarakat yang

> > kebanyakan telah hidup dalam kesusahan. Sumber energi, termasuk

> > listrik, adalah milik umum yang oleh karena itu rakyat berhak untuk

> > mendapatkannya secara murah atau cuma-cuma. Rasulullah saw menyatakan:

> > "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan

> > api."(HR. Abu Daud). Termasuk dalam api disini adalah energi berupa

> > listrik.

> > 2.

> >

> > Menaikkan TDL bukanlah jalan yang tepat karena sesungguhnya

> > masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk mengurangi apa yang disebut

> > besarnya subsidi itu. Yakni, Pertama meningkatkan efisiensi

> > pengelolaan PLN dan mengurangi kebocoran serta korupsi. Kedua, dengan

> > memanfaatkan seoptimal mungkin pembangkit dual firing yang dimilik

> > oleh PLN dengan menambah pasokan gas. Bila cara ini dilakukan,

> > penghematan yang bisa dilakukan oleh PLN dibanding dengan menggunakan

> > BBM bisa mencapai Rp 50 triliun. Oleh karena itu, produksi gas yang

> > ada harus diprioritaskan bagi konsumsi dalam negeri khususnya untuk

> > listrik dan pabrik pupuk. Kebijakan porsi kuota gas untuk eskpor lebih

> > besar dari pada untuk alokasi dalam negeri, seperti yang terjadi pada

> > gas Donggi Senoro dimana 70% ditetapkan untuk ekspor sementara sisanya

> > untuk dalam negeri jelas tidak tepat dan bertentangan dengan prinsip

> > pengelolaan energi yang benar tadi.

> > 3.

> >

> > Alokasi gas Donggi Senoro yang lebih besar untuk ekspor di

> > tengah kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, serta swastanisasi

> > pembangkit listrik yang membuat harga listrik terus meningkat adalah

> > bukti dari praktek-praktek kotor para pejabat negara yang berkolusi

> > dengan para pengusaha. Ini pula fakta dari apa yang disebut Corporate

> > State atau Negara Korporasi yang dikendalikan oleh simbiosis antara

> > penguasa dan pengusaha. Dalam negara semacam ini, keputusan politik

> > dibuat bukan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat melainkan untuk

> > kepentingan mereka sendiri dalam rangka meraup dana bagi kepentingan

> > politik mereka guna meraih kekuasaan yang lebih besar, lebih tinggi

> > dan lebih lama lagi. Dalam negara semacam ini, UU dan

> > peraturan-peraturan, seperti UU Migas yang penuh keanehan itu dibuat

> > untuk memuluskan kepentingan itu. Dalam UU Migas terdapat ketentuan

> > bahwa produksi migas paling sedikit 25% untuk kepentingan dalam

> > negeri. Itu artinya, produksi migas bisa hanya 25% yang disalurkan ke

> > dalam negeri, selebihnya untuk ekspor. Dan itu pula yang dijadikan

> > dasar oleh pemerintah ketika memutuskan alokasi gas Donggi - Senoro,

> > yakni 30% dalam negeri dan 70% ekspor.

> > 4.

> >

> > Inilah salah satu praktek kotor yang dilakukan oleh para pejabat

> > dalam sistem sekuler. Ketika syariah Islam dicampakkan, mereka bekerja

> > hanya berdasar prinsip maslahat. Dan ternyata maslahat yang dituju

> > bukan untuk masyarakat banyak tapi untuk kepentingan diri dan

> > kelompoknya saja. Maka sistem semacam ini harus dihentikan, diganti

> > dengan sistem yang betul-betul bekerja untuk kepentingan semua

> > manusia. Itulah sistem Islam dengan syariahnya yang pasti akan membawa

> > rahmat bagi semua. Insya Allah.

> >

> > Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

> >

> > Muhammad Ismail Yusanto

> >

> > Hp: 0811119796 Email: ismailyusa...@...

>

> >

> > --

> > +++

> > [5:50] apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)

> > siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang

> > yakin? (AL MAA-IDAH (HIDANGAN) ayat 50)

> > ---

> > Wala' untuk Islam

> > Shofhi Amhar

> > http://sites.google.com/site/ibnushobirin

> >

> >

> > ------------------------------------

> >

> > ===

> > Untuk berlangganan milis Syiar Islam, kirim email ke:

> > [email protected]<syiar-islam-subscribe%40yahoogroups.com>

> > Jangan lupa isi biodata anda.

> >

> > http://media-islam.or.id

> >

> > Umrah mulai US$ 1.500 dan Haji ONH Plus mulai US$ 6.500

> > http://media-islam.or.id/hajiumrah

> > TokoIslam.Info: Toko Obat Herbal Thibbun Nabawi. Aman dan Islami

> > http://media-islam.or.id/2010/04/22/tokoislam-info-menjual-obat-herbalal

> > ami-thibbun-nabawi

> >

> > Belajar Islam via SMS:

> > http://media-islam.or.id/2008/01/14/dakwah-syiar-islam-lewat-sms-mobile-

> > phone/Yahoo! Groups Links

> >

> >

> >

> >

> >

> > __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus

> > signature database 5235 (20100628) __________

> >

> > The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

> >

> > http://www.eset.com

> >

> >

> >

> > __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus

> > signature database 5235 (20100628) __________

> >

> > The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

> >

> > http://www.eset.com

> >

>

>  

>



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke