karo (SINDO) - Tingkat kematian bayi baru lahir di Tanah Karo sepanjang 2007 
mencapai 170 kasus.Kondisi ini disebabkan minimnya bidan terampil di daerah ini.

Tingginya tingkat kematian bayi meninggal dunia saat lahir disebabkan berat 
bayi lahir rendah (BBLR) yakni sebesar 36%. Selain itu, penyebab kedua terbesar 
karena gangguan asfiksia (gangguan saluran pernapasan) sebanyak 27,5%. Menurut 
fasilitator dari Health Service Program (HSP) Jakarta Koesminarti, kondisi ini 
bisa dicegah bila tersedia bidan terlatih yang tersebar hingga ke desa-desa.

Dia menambahkan,berdasarkan penelitian ”Intervensi Berbasis Bukti”dari 
Departemen Kesehatan, ditemukan bahwa bidan terlatih dapat mencegah 30% 
kematian bayi baru lahir karena asfiksia dan 90% kematian karena infeksi.

"Berdasarkan data dari Tim Perencanaan Melalui Pendekatan Tim (PMPT), dari 392 
bidan yang ada di Tanah Karo, baru 32 orang yang sudah mendapatkan pelatihan 
manajemen asfiksia dan 40 orang yang telah memperoleh pelatihan manajemen 
BBLR," ungkap Koesminarti saat Lokakarya Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan 
Anak (KIBBLA) di Berastagi, akhir pekan lalu.

Menurut dia, minimnya jumlah bidan yang sudah terlatih ini karena selama ini 
dinas kesehatan (dinkes) kabupaten hanya mengandalkan jatah jumlah peserta 
pelatihan yang diberikan oleh provinsi, yang biasanya berkisar hanya 1–2 
peserta per tahun. Sekadar diketahui, asfiksia adalah suatu keadaan bayi baru 
lahir yang mengalami kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera 
setelah lahir.

Kondisi ini terjadi karena gangguan pertukaran gas transport O2 dari ibu ke 
janin sehingga terdapat ganguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan 
CO2. Rendahnya bidan profesional di Tanah Karo ini juga dikatakan oleh Elfenda 
Ananda dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra).

Menurut dia, anggaran untuk Dinkes Pemkab Karo cukup tinggi.Misalnya untuk 
tahun ini,dari seluruh total APBD Karo, sekitar 10% dialokasikan untuk anggaran 
kesehatan. ”Namun,seperti yang kita ketahui sendiri belum ada yang secara 
khusus dialokasikan bagi pelatihan untuk meningkatkan keterampilan bidan- bidan.

Sebab, masih banyaknya jumlah bidan Kabupaten Karo yang belum dilatih agar 
lebih terampil.sudah saatnya bagi Kabupaten Karo untuk tidak lagi bergantung 
pada alokasi anggaran dari propinsi,”tandas Elfenda. Berdasarkan data dari 
Dinkes Pemkab Karo, sepanjang 2007 jumlah kematian bayi saat dilahirkan 
mencapai 107 kasus.

Jumlah tersebut, bisa lebih tinggi karena banyak kasus kematian balita yang 
belum teridentifikasi dengan baik. Selain itu, pencatatan dan pelaporan yang 
belum terkoordinasi dari unit pelayanan kesehatan swasta. Ketua Komisi B DPRD 
Karo Joy Harlin Sinuhaji menyebutkan, pihaknya mendukung penuh pelatihan bagi 
bidan di Tanah Karo untuk meningkatkan program kesehatan ibu dan bayi.

"Sepanjang kegiatan tersebut untuk kepentingan rakyat, DPRD Karo sangat 
mendukung. Dan ke depannya, kita akan mendesak Pemkab Karo untuk melakukan 
pelatihan kepada bidan agar tenaga medis di Tanah Karo semakin tinggi 
kualitasnya," tandasnya.

Politikus asal Partai Patriot Pancasila ini menambahkan, dengan tingginya 
tingkat kematian bayi saat dilahirkan tersebut, tidak ada salahnya jika ke 
depannya disediakan alokasi khusus yang dananya disisihkan dari APBD tahun 
anggaran berikutnya. (makmur sembiring)

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke