Makanya motto Tabloid SORA SIRULO: Titian Masa Lalu, Kini dan Mendatang. Nama dan motto adalah cita-cita. Meski belum sepenuhnya dilaksanakan, kita menuju ke sana: Mewartakan suara-suara kalak Karo sirulo dan menjembatani sejarahnya dari masa ke masa.
Salam untuk bapa Pa Canggah, Kaka M.U. Ginting, impal Bp. Dea (Sukarman Keliat)ras silih H.M. Sitepu(empatna orangtua kami i Tabloid Sora Sirulo. Aku anakmudana. Hahahaha ....). Aku nduari i Medan kalak ai. jg --- In [email protected], MU Ginting <gintin...@...> wrote: > > Buta sejarah > > Seorang pemuda Swedia memilih untuk belajar disekolah menengah Jerman > tepatnya di Berlin, dengan harapan bisa mengetahui dari dekat apa sebenarnya > yang terjadi dibelakang semua huru-hara' keruntuhan tembok yang membatasi dua > Jerman dalam masa lalu. "Terima kasih kepada guru-guru dan media Swedia yang > tidak pernah memberikan pelajaran bagi anak-anak muda dan anak sekolah > seperti saya soal masa lalu yang baru saja ditinggalkan", katanya sambil > menambahkan bahwa itulah salah satu sebabnya mengapa dia memilih untuk > meneruskan SMU di Jerman (tepatnya Berlin). Pemuda ini kelahiran tahun > runtuhnya tembok Jerman, sama sekali tidak mengerti seluk beluk pendirian > tembok maupun keruntuhannya. Kelihatannya di Berlin bagi dia persoalannya > semakin jelas, karena sekolah-sekolah disana masih berkepentingan menerangkan > sejarah kepada murid-murid di Berlin sebagai pusat tembok dan pusat semua > pertengkaran sejarah era lalu di Eropah. > Kegelapan sejarah ini bagi generasi muda memang terlihat dimana-mana. Sering > kita yang mengerti kejadiannya juga tidak terpikir bahwa generasi muda sama > sekali tidak mengetahui, sangat buta akan persoalan yang terjadi, bahkan > banyak yang tidak mengerti apa itu blok barat dan blok timur, perang dingin > dsb. Pertengkaran dua blok telah membagi dunia, dan sangat berpengaruh > terhadap jalannya sejarah dibanyak negeri lainnya. Atau kontradiksi dua blok > inilah satu-satunya yang membikin jalannya sejarah, atau barangkali bisa juga > dikatakan bahwa kontradiksi dua blok itu sendirilah sebagai sejarah. > Orde lama dan Orde baru di Indonesia adalah salah satu dari pencerminan > tipikal pertengkaran dua blok ini. Dan banyak sekali juga diantara anak-anak > sekolah kita yang sama sekali buta terhadap persoalan ini. Dan yang lebih > jelek lagi ialah bahkan ada usaha untuk tetap membelokkan atau menutupi. Di > Indonesia masih belum ada sejarawan yang berani atau yang bebas membikin atau > membuka halaman baru sejarah kita. Begitu mendalamnya pengaruh Orba terhadap > 'kejiwaan' manusia negeri kita, termasuk kaum intelektualnya. Semua masih > punya beban, beban sejarah. Selama beban ini masih memberati bahu dan pundak > kita, selama itu juga tidak akan bebas memilih sejarah dan memilih menulis > sejarah. Dan selama itu pula anak-anak muda atau anak-anak sekolah kita tidak > akan mengerti sejarah negerinya sendiri, apa lagi sejarah dunia, yang > notabene juga adalah sumber segala kebingungan sejarah ditiap negeri, seluruh > dunia, terutama negeri-negeri berkembang seperti Indonesia. > Negeri berkembang tadinya 'berkembang' dibawah pengaruh masing-masing blok, > atau 'berkembang' dalam pertempuran atau kontradiksi dua blok. Kontradiksi > ini sering juga termanifestasi secara fisik, karena sering terjadi > masing-masing blok mempersenjatai 'orangnya'. Profit fabrik senjata dunia > mencapai puncaknya dimasa perang dingin. Satu nation bunuh-bunuhan. Di > Indonesia 3 juta disembelih. Siapa yang bertanggung jawab? Atau siapa yang > disalahkan? > Yang paling menyedihkan ialah bahwa 'semua' merasa bersalah sehingga tidak > ada yang berani menuliskan sejarahnya, atau setidaknya semua menabukan > persoalannya, karena tadinya semua juga atau tiap orang berada atau telah > memilih dipihak blok mana. 'Tabu' ini sampai detik ini juga masih > 'dihormati', misalnya dengan melarang buku-buku yang berani menyinggung > persoalan sejarah tadi. Tugas tabu ini dipelopori oleh penguasa pula, semua > dalam usaha menutupi sejarah. Apakah sebenarnya yang mereka tutupi? Matanya > sendiri, supaya tidak melihat sejarah yang mengerikan itu. Disini termasuk > banyak sejarawan atau yang mengaku dirinya sejarawan. Dan kenyataan ialah > selama mata ditutupi, selama itu pula beban tadi tidak akan hilang, untuk > tidak mengatakan semakin berat. Kalaupun ada yang merasa 'tidak bersalah > apa-apa' tentu mereka yang tadinya merasa 'netral'. Tetapi dalam kenyataan > tidak ada yang netral, karena semua terlibat atau dilibatkan. > Yang lebih tidak mengenakkan lagi ialah bahwa 3 juta manusia yang disembelih > hanya dipihak yang dianggap bersalah (tak bersenjata), dan yang menyembelih > ialah yang menganggap pihaknya benar dan pakai senjata pula. Karena itu rasa > berdosa dan rasa balas dendam sangat keras berhadap-hadapan, dan sudah hampir > setengah abad bukannya hilang. Sekiranya tadi korbannya fifti-fifti tentu > rasa 'dosa' dan rasa 'dendam' nya tidak akan melekat seperti sedalam > sekarang. > Perlukah dikorbankan pula 3 juta dipihak penyembelih supaya semua merasa lega > tak ada dendam dan tak ada dosa? Dan setelah itu mungkin sejarawan kita akan > berani melukiskan sejarah secara bebas tak punya beban. Tapi cara menhilagkan > beban seperti ini sepertinya sudah sangat jauh, atau masih mungkin? Pikiran > yang betul ialah bahwa kita tidak akan melakukan hal seperti itu atau > mengizinkan kejadian yang sama terjadi lagi. Pelajaran yang lalu sudahlah > cukup. Tetapi sudahkah cukup kita belajar? Jelas tidak. Usaha yang ada sampai > sekarang ialah menutupi, atau menutup mata sendiri seperti saya sebutkan > diatas, bukan membuka dan mempelajari. Terlihat jelas misalnya dengan > melarang buku-buku yang membongkar 'tabu' kejadian sejarah. Pihak penyembelih > merasa berkepentingan melarang dan menutupi kjadian sejarah. Karena dosanya > atau karena pahalanya? Kita yang bukan lagi anak-anak tentu bisa mejawab > pertanyaan ini. > Korban dari tiap usaha menutupi ini jelas generasi muda, buta sejarah > bangsanya sendiri, begitu juga pasti sejarah perekembangan dunia abad lalu, > sejarah perkembangan kontradiksi pokok dunia antara sosialisme/komunisme > kontra kapitalisme selama lebih dari setengah abad dari abad ke 20. Apakah > anak-anak generasi muda kita memang tidak suka mempelajari sejarah yang > ditutupi oleh orang tuanya? Celakanya lagi ialah bahwa mereka pun tidak tahu > kalau orang tuanya menutupi. > Apakah mungkin menghilangkan beban berat itu? > (Bersambung) > MUG > >
