Mea Culpa, Mea Maxima Culpa Pengalaman menarik, ketika saya memimpin salah satu organisasi kemasiswaan di tingkat Nasional. Namanya PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI). Persisnya di tahun 1998 - 2000.
Saat itu baru saja Gereja Katolik (Tahta Suci Vatikan) menyampaikan permohonan maaf atas pembiaran holocoust saat pembantaian Jahudi di Eropa lampau. Senada dg itu Gus Dur, Presiden RI melakukan hal yg sama atas 'pembantaian' banyak jiwa di seputaran Jawa Timur. Sebagai bagian dr sejarah bangsa, organisasi PMKRI suka tidak suka menjadi bagian dr peristiwa kemanusiaan tsb. Ada berbagai alasan dan 'skenario' atas keterlibatan tersebut, dan saya tdk ingin membahas hal ini. Saya hanya tercenung, bagaimana mungkin Gereja Katolik Indonesia menutup mata atas kejadian saat itu?? Bagai orang Farisi(??) saat bertemu korban tersamun di jalur Jeriko-Jerusalem?? Membuang muka ke arah lain, sambil mencari ayat pembenar... Saat itu, akhirnya kami mengeluarkan sebuah sikap resmi, sebagai bagian integral dr Gereja Katolik Indonesia, PMKRI menyesalkan 'pembiaran' dan 'ketidakberpihakan' Gereja Katolik Indonesia atas peristiwa kemanusiaan di tahun 65 dan akibat2 turunannya. Ada 2 respon, dr 'pelaku' dan 'korban'. Yang pada intinya adalah kesempatan memberikan 'penafsiran baru' (baca : deskripsi alternatif versi non state). Kalau boleh sharing, sungguh, pengalaman batin yg menggetarkan. Bukan sekedar pertanggungjawaban sejarah, tetapi juga pertanggungjawaban masa depan kepada keluarga para 'pelaku' dan juga 'korban' Singkat cerita, saya sangat sepakat, MERAHNYA KARO, perlu dideskripsi-barukan, versi rakyat. Dan kembali...ini harus terdokumentasi. mea culpa.....mea maxima maxima culpa B 16 AN -----Original Message----- From: MU Ginting <[email protected]> Date: Thu, 29 Apr 2010 19:31:22 To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]> Subject: [tanahkaro] renungan minggu 17 Buta sejarah Seorang pemuda Swedia memilih untuk belajar disekolah menengah Jerman tepatnya di Berlin, dengan harapan bisa mengetahui dari dekat apa sebenarnya yang terjadi dibelakang semua huru-hara' keruntuhan tembok yang membatasi dua Jerman dalam masa lalu. "Terima kasih kepada guru-guru dan media Swedia yang tidak pernah memberikan pelajaran bagi anak-anak muda dan anak sekolah seperti saya soal masa lalu yang baru saja ditinggalkan", katanya sambil menambahkan bahwa itulah salah satu sebabnya mengapa dia memilih untuk meneruskan SMU di Jerman (tepatnya Berlin). Pemuda ini kelahiran tahun runtuhnya tembok Jerman, sama sekali tidak mengerti seluk beluk pendirian tembok maupun keruntuhannya. Kelihatannya di Berlin bagi dia persoalannya semakin jelas, karena sekolah-sekolah disana masih berkepentingan menerangkan sejarah kepada murid-murid di Berlin sebagai pusat tembok dan pusat semua pertengkaran sejarah era lalu di Eropah. Kegelapan sejarah ini bagi generasi muda memang terlihat dimana-mana. Sering kita yang mengerti kejadiannya juga tidak terpikir bahwa generasi muda sama sekali tidak mengetahui, sangat buta akan persoalan yang terjadi, bahkan banyak yang tidak mengerti apa itu blok barat dan blok timur, perang dingin dsb. Pertengkaran dua blok telah membagi dunia, dan sangat berpengaruh terhadap jalannya sejarah dibanyak negeri lainnya. Atau kontradiksi dua blok inilah satu-satunya yang membikin jalannya sejarah, atau barangkali bisa juga dikatakan bahwa kontradiksi dua blok itu sendirilah sebagai sejarah. Orde lama dan Orde baru di Indonesia adalah salah satu dari pencerminan tipikal pertengkaran dua blok ini. Dan banyak sekali juga diantara anak-anak sekolah kita yang sama sekali buta terhadap persoalan ini. Dan yang lebih jelek lagi ialah bahkan ada usaha untuk tetap membelokkan atau menutupi. Di Indonesia masih belum ada sejarawan yang berani atau yang bebas membikin atau membuka halaman baru sejarah kita. Begitu mendalamnya pengaruh Orba terhadap 'kejiwaan' manusia negeri kita, termasuk kaum intelektualnya. Semua masih punya beban, beban sejarah. Selama beban ini masih memberati bahu dan pundak kita, selama itu juga tidak akan bebas memilih sejarah dan memilih menulis sejarah. Dan selama itu pula anak-anak muda atau anak-anak sekolah kita tidak akan mengerti sejarah negerinya sendiri, apa lagi sejarah dunia, yang notabene juga adalah sumber segala kebingungan sejarah ditiap negeri, seluruh dunia, terutama negeri-negeri berkembang seperti Indonesia. Negeri berkembang tadinya 'berkembang' dibawah pengaruh masing-masing blok, atau 'berkembang' dalam pertempuran atau kontradiksi dua blok. Kontradiksi ini sering juga termanifestasi secara fisik, karena sering terjadi masing-masing blok mempersenjatai 'orangnya'. Profit fabrik senjata dunia mencapai puncaknya dimasa perang dingin. Satu nation bunuh-bunuhan. Di Indonesia 3 juta disembelih. Siapa yang bertanggung jawab? Atau siapa yang disalahkan? Yang paling menyedihkan ialah bahwa 'semua' merasa bersalah sehingga tidak ada yang berani menuliskan sejarahnya, atau setidaknya semua menabukan persoalannya, karena tadinya semua juga atau tiap orang berada atau telah memilih dipihak blok mana. 'Tabu' ini sampai detik ini juga masih 'dihormati', misalnya dengan melarang buku-buku yang berani menyinggung persoalan sejarah tadi. Tugas tabu ini dipelopori oleh penguasa pula, semua dalam usaha menutupi sejarah. Apakah sebenarnya yang mereka tutupi? Matanya sendiri, supaya tidak melihat sejarah yang mengerikan itu. Disini termasuk banyak sejarawan atau yang mengaku dirinya sejarawan. Dan kenyataan ialah selama mata ditutupi, selama itu pula beban tadi tidak akan hilang, untuk tidak mengatakan semakin berat. Kalaupun ada yang merasa 'tidak bersalah apa-apa' tentu mereka yang tadinya merasa 'netral'. Tetapi dalam kenyataan tidak ada yang netral, karena semua terlibat atau dilibatkan. Yang lebih tidak mengenakkan lagi ialah bahwa 3 juta manusia yang disembelih hanya dipihak yang dianggap bersalah (tak bersenjata), dan yang menyembelih ialah yang menganggap pihaknya benar dan pakai senjata pula. Karena itu rasa berdosa dan rasa balas dendam sangat keras berhadap-hadapan, dan sudah hampir setengah abad bukannya hilang. Sekiranya tadi korbannya fifti-fifti tentu rasa 'dosa' dan rasa 'dendam' nya tidak akan melekat seperti sedalam sekarang. Perlukah dikorbankan pula 3 juta dipihak penyembelih supaya semua merasa lega tak ada dendam dan tak ada dosa? Dan setelah itu mungkin sejarawan kita akan berani melukiskan sejarah secara bebas tak punya beban. Tapi cara menhilagkan beban seperti ini sepertinya sudah sangat jauh, atau masih mungkin? Pikiran yang betul ialah bahwa kita tidak akan melakukan hal seperti itu atau mengizinkan kejadian yang sama terjadi lagi. Pelajaran yang lalu sudahlah cukup. Tetapi sudahkah cukup kita belajar? Jelas tidak. Usaha yang ada sampai sekarang ialah menutupi, atau menutup mata sendiri seperti saya sebutkan diatas, bukan membuka dan mempelajari. Terlihat jelas misalnya dengan melarang buku-buku yang membongkar 'tabu' kejadian sejarah. Pihak penyembelih merasa berkepentingan melarang dan menutupi kjadian sejarah. Karena dosanya atau karena pahalanya? Kita yang bukan lagi anak-anak tentu bisa mejawab pertanyaan ini. Korban dari tiap usaha menutupi ini jelas generasi muda, buta sejarah bangsanya sendiri, begitu juga pasti sejarah perekembangan dunia abad lalu, sejarah perkembangan kontradiksi pokok dunia antara sosialisme/komunisme kontra kapitalisme selama lebih dari setengah abad dari abad ke 20. Apakah anak-anak generasi muda kita memang tidak suka mempelajari sejarah yang ditutupi oleh orang tuanya? Celakanya lagi ialah bahwa mereka pun tidak tahu kalau orang tuanya menutupi. Apakah mungkin menghilangkan beban berat itu? (Bersambung) MUG
