Tubagus Syamsudin wrote: > Assalamu 'alaikum Wr Wb > > Membaca tulisan dari mbak Yani yang saya sendiri sebenarnya > tidak begitu faham karena gaya sastranya terlalu tinggi. > Terlintas pertanyaan dibenak saya bahwa sebagaimana rekan-rekan > maklum bahwa ada dari kalangan Islam sendiri (juga teman-teman > saya sendiri) yang memegang aturan bahwa kalau kita belajar > Islam tanpa guru Islamnya tidak sah dan seandainya ilmu yang > kita tahu itu benar tetap dihukumi salah. Saya hanya mengutip dari buku [lama], sehingga gaya bahasanya serasa kurang "lazim" (familier) untuk jaman sekarang. Saya tidak berani menerjemahkan dalam bahasa saya atau bahasa yang sederhana (mudah dicerna), khawatir tidak sesuai dengan tulisan aslinya. > Padahal kalau menurut persepsi saya untuk mempelajari Islam > kita bisa belajar dari banyak orang, banyak media dan dari > peristiwa dan juga sains serta cabang-cabang ilmu lain - > bahwasanya hidayah dan petunjuk Alloh bisa dari mana-mana > tergantung Kehendak-Nya. Mungkin ada diantara rekan-rekan yang > bisa menjelaskan lebih jauh mengenai masalah ini. > Orang yang "pintar" tanpa belajar dari seorang Guru adalah orang yang "istimewa". Jaman dulu sampai sekarang, belajar biasanya melalui guru, kita belajar mencari ilmu melalui sekolah yang diajar oleh guru. Tapi bukan berarti tidak boleh belajar tanpa guru. Kalau dalam ilmu pengetahuan yang umum adalah "transfer of knowledge" yang medianya adalah akal/otak, sedangkan di dalam thariqah adalah "transfer of spiritual" yang medianya adalah ruhani. Apa yang kita baca, denganr, lihat dengan indera lahiriah hanya masuk ke dalam akal, tidak menembus ke dalam ruhani. Untuk dapat "transfer of spiritual" harus dari ruhani [Mursyid] ke ruhani [murid]. Tasawuf adalah ilmunya, bisa dipelajari dari bacaan, ceramah, dll. Tapi Thariqah adalah amalnya (pelaksanaan) daripada tasawuf, harus dibimbing oleh Mursyid. Jadi, dalam mempelajari ilmunya (tasawuf) boleh saja tanpa guru, tapi untuk pengamalannya (thariqat) harus melalui Guru (Mursyid), baik secara jasmaniah-ruhaniah, atau secara ruhaniah saja. Dalam menempuh jalan kerohanian, harus ada seorang Guru yang disebut Mursyid atau Syeikh. Ini adalah aturan umum. Kalau ada orang yang menempuh thariqah sendiri tanpa Guru, misalnya dia dibimbing oleh Allah melalui Nabi Khaidir atau yang lain. Ini adalah memang orang "terpilih" oleh Allah, bukan untuk orang yang "memilih" dalam menjalani "thariqah". Jadi secara umum, hanya Mursyid yang dapat memberikan "petunjuk" di dalam jalan kerohanian. Allah dalam memberikan hidayah-Nya, biasanya akan menemukannya dengan seorang "Pembimbing" (Guru/Mursyid), yang akan mengantarkannya dalam "perjalanan ruhaninya". Di dalam Q.S al Kahfi ayat 17 : "Barang siapa ynag diberi petunjuk oleh Allah dialah orang yang mendapat petunjuk, dan barang siapa dibiarkanNya sesat maka tidaklah ada seorang pemimpin pun (Wali) yang memberinya petunjuk (Mursyid)" Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin Wassalam Ww
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
