Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Entah kenapa sebagian (tapi tidak seluruhnya lho) tulisan pak Sunarman
menimbulkan reaksi penolakan pada benak saya. Saya ini jadi benci tapi
rindu sama tulisan pak Sunarman, benci karena sebagian tulisan-tulisan
tsb membuat gusar benak saya, tapi rindu sebab mengharuskan saya
memberikan argumen penolakan, minimal untuk diri saya sendiri. :-)

Membaca tulisan ini, serta tanggapan pak Sunarman mengenai peristiwa
ambon serta mengingat-ingat filsafat Kho Ping Hoo dulu, saya rasanya
menemukan titik beda yang mengakibatkan saya menolak pemikiran pak
Sunarman ataupun Kho Ping Hoo. Titik beda adalah pada kata "BERSERAH
DIRI".

Puncak "Berserah diri" dalam konsep yang saat ini saya pahami adalah
berserah diri kepada kehendak Allah SWT bukan berserah diri kepada
keadaa, ada perbedaan yang besar dalam kedua hal ini. Jadi jika Allah
menghendaki saya untuk mengeluarkan zakat dari harta saya maka saya
harus rela menyerahkannya, jika Allah menghendaki saya untuk bershodaqoh
membantu korban Ambon maka saya harus rela bershodaqoh, jika Allah
menghendaki saya untuk berkorban jiwa maka saya harus rela untuk
berkorban jiwa, jika Allah menghendaki saya untuk mencintai  muslim
lainnya sebagaimana mencintai diri sendiri maka saya rela mencintai
mereka sebagaimana saya mencintai diri sendiri. 

Jadi "Berserah Diri" sangat erat hubungannya dengan memahami Kehendak
Allah SWT berupa perintah dan larangan Allah. Pada Orang yang "bertemu
diri" karena Allah sudah berkata-kata dalam hatinya maka lebih mudah
memahami kehendak Allah. Pada saya yang masih mentah terpaksa saya harus
pontang-panting belajar memahami kehendak Allah SWT, bahkan mungkin
berkali-kali salah memahaminya. Berserah diri pada pengertian di sini
bahkan lebih untuk menjadi agent perubahan Allah di muka bumi.
Pengertian ini selanjutnya saya sebut Konsep 1.

Sedang "Berserah diri" dalam konsep Kho Ping Hoo (atau juga barangkali
yang disodorkan pak Sunarman) adalah sesungguhnya berserah diri kepada
keadaan, dengan argumen bahwa seluruh keadaan adalah kehendak Allah SWT.
Sehingga melawan keadaan adalah melawan kehendak Allah. Kunci
kebahagiaan adalah menerima keadaan apapun yang terjadi pada diri kita.
Ketidakbahagiaan adalah karena penolakan kita kepada keadaan yang
berlaku pada diri kita dst...dst. Tentunya golongan ini tidak akan mau
bila dianggap berserah diri kepada keadaan tetapi tetap menganggap
dirinya berserah diri kepada Allah SWT. Pengertian ini selanjutnya saya
sebut Konsep 2.

Berserah diri dalam Konsep 1 membuat manusia memiliki tujuan hidup yang
jelas baik jangka panjang maupun jangka pendek, sebab ybs terus menerus
menjadi agen perubahan. Berserah diri pada Konsep 2 membuat manusia
tidak memiliki tujuan hidup apa-apa karena mengharuskan ybs pasrah pada
keadaan apapun yang terjadi di dunia ini untuk mencapai kebahagiaan. 

Sejak dari awal sejarah islam kita melihat misalnya bagaimana sebagian
ulama 'berserah diri kepada Allah' (konsep 1) dengan menerima keadaan
diperintah oleh penguasa yang zalim pada zaman bani umayyah. Sebagian
ulama lainnya memilih 'berserah diri kepada Allah'  (konsep 2) dalam
bentuk memerangi penguasa yang zalim tsb dengan menyadari sepenuhnya
bahwa 'penguasa yang zalim' bukanlah kehendak Allah. Hingga kinipun
sebagian kita 'berserah diri kepada Allah' dengan menerima saudara kita
diinjak-injak dengan anggapan bahwa keadaan ini adalah kehendak Allah,
sebagian lagi dari kita 'berserah diri kepada Allah' (minimal belajar
untuk berserah diri) untuk mengakhiri perlakuan ini dengan menyadari
sepenuhnya bahwa keadaan ini tidak sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Saya melihat sebagian tarekat islam di India adalah aliran tasawuf yang
bersandar pada konsep 2. Sehingga terekat islam di India bahkan menjadi
propaganda perlakuan baik pemerintahan India terhadap umat islam, meski
di lain pihak pemerintahan menindas sebagian umat islam lainnya. Memang
perlakuan pemerintah India sangat baik terhadap tarekat-tarekat tertentu
dengan memberikan fasilitas, subsidi dll.

Wallahu 'alam bishowab.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.

NB: Untuk peristiwa ambon saat ini beredar versi lain yang menolak
berita penembakan Subuh pada versi sebelumnya (baca Kompas hari ini).
Mengingat pemutar balikan fakta serta pembentukan opini via media massa
yang selalu merugikan umat islam maka saya hanya bisa berharap bahwa
kali ini umat islam tidak dipermalukan karena reaksi yang muncul akibat
berita versi pertama. Bila pada akhirnya umat islam dipermalukan
(misalnya pemerintah secara resmi mengumumkan versi kedua tsb), maka
saya yakin bahwa itu bukan Kehendak Allah SWT. Umat islam tidak
selayaknya dipermalukan.

>----------
>From:  R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:  Monday, 1 March 1999 17:46
>To:    Tasawuf
>Subject:       [Tasawuf] Hidup tanpa tujuan?
>
>Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
>Untuk apa belajar tasawuf?
>
>Pertanyaan "Untuk apa belajar tasawuf?" pernah dibahas di milis ini
>beberapa waktu berselang. Saya ikut-ikutan nulis, tetapi saya
>sendiri tidak puas dengan jawaban itu. Sekarang saya ingin agar
>pertanyaan itu dikaitkan dengan tujuan hidup. Apa tujuan hidup kita?
>Bermacam-macam jawaban dapat diberikan, tetapi sejauh ini belum juga
>ada yang memuaskan. Bahkan untuk sementara saya cenderung untuk
>berpendapat bahwa hidup ini tanpa tujuan. 
>
>Untuk menghindari kesimpangsiuran, baiklah saya berikan definisi
>perkataan itu dalam pikiran saya yang saya jadikan asumsi dasar
>untuk mengambil kesimpulan. "Tujuan" adalah sasaran akhir dari suatu
>rangkaian perbuatan yang terencana. Dalam hal 'tujuan hidup', kita
>menghadapi kenyataan bahwa hidup ini bukanlah kehendak kita sejak
>semula. Semula kita ini tiada, lalu tiba-tiba terlahir dan hidup,
>untuk selanjutnya kembali lagi menjadi tiada. Rangkaian proses
>tiada-ada-tiada ini sama sekali bukan merupakan kehendak kita; oleh
>karena itu maka kita tidak dapat menyebut bahwa hidup ini merupakan
>rangkaian perbuatan yang terencana dari pihak kita sebagai manusia.
>Hidup ini merupakan rencana Allah. Itulah argumentasi saya mengapa
>saya katakan, kita sendiri tidak tahu apa tujuan hidup kita, kita
>tidak merencanakannya sendiri sebelum kita memulai kehidupan ini.
>
>Dari argumentasi di atas, kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa
>sebenarnya kita ini bukanlah kita sendiri; kita adalah ciptaan
>Allah, kita hidup untuk menjalankan misi kita masing-masing sesuai
>dengan tujuan penciptaan alam semesta. Setelah selesai menjalankan
>misi itu, kita akan dikembalikan ke ketiadaan, alias masuk kubur.
>Jabariyah? Jangan buru-buru beranggapan begitu! Ambillah sisi
>positif dari faham ini. Bagaimana pun, kita perlu menyadari peran
>kita sebagai makhluk agar dapat menempatkan diri dengan
>sebaik-baiknya. Salah satu tujuan kita mempelajari tasawuf adalah
>untuk mendapat jawaban yang memuaskan.
>
>Dalam mempelajari tasawuf, kita bertolak dari hasrat kita yang
>paling mendasar, yaitu keinginan untuk memperoleh kebahagiaan,
>ketenteraman, kedamaian atau kata apapun yang mirip dengan itu,
>dalam dimensi lahiriah maupun batiniah. Ketika kita beranjak memulai
>pencarian ke arah itu, kita menemukan gaya-gaya apa yang bekerja di
>sekitar kita yang dapat mendekatkan atau menjauhkan kita dari
>kebahagiaan itu. 
>
>Kita menemukan dalam diri kita ada nafsu ammarah (kehendak ego,
>nafs-al-ammarah): nafsu yang menuntut pemuasan dalam pemilikan
>materi, kekuasaan dan hasrat seksual. Kita sudah belajar dari
>pengalaman bahwa pemuasan nafsu ini tidaklah menghasilkan kepuasan
>dalam arti yang sebenarnya. Makin dituruti, nafsu ini menuntut
>pemuasan yang lebih besar, sedangkan dalam kenyataannya kita tidak
>selalu dapat memenuhinya; maka kita jatuh ke dalam kekecewaan,
>kemarahan dll. Dan ini sama sekali bukanlah kebahagiaan.
>
>Kita mencari lebih lanjut, sampai kita menemukan bahwa agama
>mengajarkan kita untuk berserah diri atau mencari ridha Allah.
>Inilah yang kita sebut kehendak ilahi (nafs-al-muthmainnah). Dengan
>mengikutinya, kita akan dibawa menempuh jalan untuk mencapai
>kebahagian yang sejati; kebahagian yang sekali kita merasakannya,
>kita tak rela ditukar dengan apapun; kebahagiaan yang untuk
>memperoleh dan mempertahankannya kita rela kehilangan apapun yang
>kita miliki: kita rela kehilangan harta, kedudukan sosial,
>kekuasaan, kesehatan, bahkan nyawa sekalipun; kita tidak lagi peduli
>apakah kita ditempatkan di sorga atau neraka.
>
>Tetapi jangan ngelantur!  Jangan dulu mengira bahwa tasawuf
>mengharuskan kita untuk meninggalkan pekerjaan yang kita hadapi
>sekarang. Anda duduk di pemerintahan dan memegang kekuasaan? Silakan
>jalan terus biarpun anda mempelajari tasawuf. Anda malang-melintang
>di bidang perniagaan dan bergelimang harta? Silakan jalan terus.
>Anda beristeri atau bersuami dan sering melakukan aktivitas seksual?
>It's OK. 
>
>Nafsu ammarah bukan untuk ditinggalkan sama sekali, melainkan untuk
>dikendalikan. Kehidupan Nabi Muhammad dan para Sahabat menunjukkan
>bahwa mereka tidak meninggalkan atribut keduniawian itu. Tasawuf
>membiarkan kita tetap pada posisi kita masing-masing. Yang dituntut
>adalah perubahan perilaku kita, perubahan sikap mental kita; jangan
>lagi membiarkan diri kita dikuasai oleh nafsu ammarah atau kehendak
>ego kita. Kitalah yang harus menguasai nafsu itu. Dengan membebaskan
>diri dari cengkeraman nafsu ammarah, maka hal ini menjadikan kita
>dengan mudah diperhamba oleh Allah. 
>
>Manusia pada hakikatnya merupakan ajang pertarungan adu kekuatan
>antara dua gaya yang saling berlawanan: malaikat dan syaitan.
>Malaikat membujuk kita untuk mengikuti 'kehendak ilahi', sedangkan
>syaitan menarik kita agar menghamba kepada kehendak ego. Orang yang
>melakukan perbuatan atas dasar mengikuti 'kehendak ilahi' yang
>dibisikkan malaikat, ia disebut 'berserah diri' kepada Allah dan ia
>memperoleh ridha Allah. Kepada orang-orang semacam inilah
>kebahagiaan sejati diberikan. 
>
>"Hai jiwa yang tenang (yang mendapat ketenangan dari Tuhan).
>Kembalilah kepada Rabbmu (Tuhanmu) dengan hati yang puas lagi
>diridhai-Nya." QS 89:27-28
>
>"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
>mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
>(yang telah ada)." QS48:4
>
>Untuk mengilustrasikan pentingnya tasawuf, saya beri contoh:
>bersedekah. Meskipun perbuatan ini tampaknya baik, kita perlu
>mempelajari apa motivasinya. Biarpun seseorang hanya menyumbang
>seribu rupiah untuk pembangunan sebuah masjid, kalau ia melakukannya
>atas dorongan nafs-al-muthmainnah,  maka perbuatan ini akan
>mendatangan ketenangan. Sebaliknya, biarpun seseorang membangun
>sebuah masjid besar, semua atas bebannya seorang sendiri, tetapi ia
>melakukannya atas dorongan nafs-al-ammarah, misalnya agar orang lain
>hormat kepadanya, maka kepuasan sejati tidak akan diperoleh.
>Sekarang contoh sebaliknya: apakah kehendak membunuh orang lain itu
>merupakan kehendak ilahi ataukah bisikan syaitan? Tentu anda dengan
>cepat menjawab, "Bisikan syaitan!" karena syariat agama menyebutkan
>demikian. Tetapi tunggu dulu? Nabi Ibrahim pernah berniat membunuh
>puteranya, Ismail. Khidir juga pernah membunuh seorang anak yang tak
>berdosa. Syaitan-kah yang membujuk mereka? Bukan! Itu adalah bisikan
>ilahi. 
>
>Khidir melukiskan sosok manusia yang berserah diri, ia mampu
>membedakan bisikan ilahi dari bisikan syaitan. Kisah Khidir bersama
>Musa yang ditulis di dalam Al Qur'an [Al Kahfi mulai ayat 65]
>melukiskan kontras antara seorang ahli makrifat dan ahli syariat.
>Ketinggian derajat ruhaniah seperti Khidir itu bukanlah hal yang
>mustahil untuk dicapai oleh kita apabila mengikuti rambu-rambu yang
>ditunjukkan oleh tasawuf. Kalaupun dalam perjalanan itu kita tidak
>sampai mencapai maqam itu, hal ini merupakan hak Allah untuk
>menentukannya. Yang penting, kita berusaha sejauh mungkin untuk
>berpaling dari bujukan syaitan? melalui tasawuf sebagai salah satu
>jalan.
>
>Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>RS
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke