Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Terima kasih atas jawaban yang menarik ini. Semoga pak Sunarman tidak
jera untuk menjelaskan lebih lanjut.

Setelah hampir setahun kita berbicara bermacam-macam topik di milist
ini, pada akhirnya kok rasanya kembali lagi bermuara kepada "Jiwa
Muthmainnah". Seperti kita sudah baca buku yang panjang, dan akhirnya
kita sadari bahwa isi buku tersebut ada pada bab 1 
dan kita dipaksa kembali ke bab 1 tersebut.

Pembicaraan di tasawuf saya rasakan pada akhirnya mengarahkan manusia
untuk kembali kepada Jiwa Muthmainnah yang digambarkan seakan-akan
sebagai "the forgotten very important key". Seakan-akan yang satu ini
luar biasa pentingnya dalam beragama. Bisakah pak Sunarman (atau siapa
saja) bercerita lebih dalam tentang si "Muthmainnah" ini, barangkali dia
memang secantik bidadari sehingga kita benar-benar pingin kenalan :-).

>Nafs-al-ammarah dan nafs-al-muthmainnah itu hadir bersama-sama pada
>tiap manusia, betapapun buruk atau kafirnya dia. Kedua nafs itu
>berusaha untuk saling meniadakan nafs yang lain. Pergolakan batin
>selalu terjadi pada tiap manusia akibat perang antara kedua nafs
>itu; dan masing-masing nafs mengalami kemenangan dan kekalahan
>secara silih berganti. Dengan demikian tidaklah tepat bila seorang
>kafir atau orang jahat itu tidak pernah 'berserah diri', biarpun 
>tentu saja kadarnya sangat kecil bila dibandingkan dengan orang 
>yang disucikan jiwanya. 

Alhamdulillah, saya tidak terlalu berkecil hati jadinya. Ternyata
menurut versi pak Sunarman mengenai berserah diri ini maka sayapun  juga
pernah berserah diri meski tidak mampu mendengar jernih suara
Muthmainnah ini.

>Karena itu jangan berkecil hati seolah-olah kita tidak pernah
>berserah diri meskipun kita tidak pernah tahu jenis nafs mana yang
>mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Bagi kita yang belum mampu
>membedakan mana nafs-al-ammarah dan mana nafs-al-muthmainnah, saya
>mempunyai tip yang relatif mudah untuk dilakukan dan sesuai bagi
>anda yang belum (tidak) mengikuti sesuatu aliran tariqah.
>
>1. Berpegang pada Kitab Suci dan Al Hadits untuk hal-hal umum yang
>   tertulis dengan jelas, sebagai pedoman generik yang berlaku bagi 
>   umat pada umumnya.

Tips yang ini rasanya sudah / sedang kita jalankan.
>
>2. Manakala kita menemukan keraguan dalam memutuskan sesuatu yang 
>   spesifik dan situasional (sangat sering kita alami dalam 
>   kehidupan ini), kita tempuh alternatif di bawah ini:
>
>   a. Lakukan shalat istikharah diiringi dengan doa seperti yang
>      banyak disebut-sebut dalam buku-buku fiqih. Dengan shalat ini, 
>      insya Allah kita memperoleh pencerahan yang ditandai dengan 
>      ketenangan jiwa ketika memutuskan sesuatu. 
>      Makin sering kita melakukan shalat ini, batin kita menjadi 
>      makin peka terhadap dorongan nafs-al-muthmainnah. Kalau shalat
>      ini dijadikan kebiasaan, kita akan menjadi hafal (terbiasa)
>      dengan ciri-ciri nafs-al-muthmainnah yang sebenarnya selalu
>      hadir bersama kita. Kepekaan timbul melalui pengalaman yang
>      diolah secara empirik.

Saya kenal seorang teman yang sangat sering ber-istikharah. Saya kritik
teman saya tersebut sebab dalam kesan saya kok nggak mau berpikir dengan
keras tetapi selalu istikahrah. Mau beli tanah istikharah. Mau pindah
rumah istikharah. Mau menikah istikharah. Mau pindah kerja istikharah.
Mau pilih Universitas istikharah. Mau keluar kota istikharah. Orang
tersebut hampir selalu istikharah dalam mengambil keputusan. Saya
--dengan segenap kebodohan yang saya miliki-- mengajari ybs mengenai
metode-metode ilmiah memilih alternatif yang pernah saya pelajari. Kalau
ingat hal ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya sendiri memang
barusan menyadari banyaknya anjuran untuk melakukan istikharah.

Ternyata pak Sunarman sekarang mengajarkan saya untuk sering-sering
beristikharah juga agar peka terhadap Jiwa Muthmainnah. Bisakah
dijelaskan lebih jauh tentang hal ini? Apa hubungannya istikharah ini
dengan Jiwa Muthmainnah?

>   b. Teliti diri sendiri dengan cermat: perhatikan hasrat-hasrat
>      yang bekerja pada diri kita pada saat kita menghadapi suatu 
>      masalah. Kalau kita merasa diri kita diliputi pamrih, 
>      kemarahan, atau keakuan (pementingan diri sendiri, keluarga 
>      sendiri, teman-teman sendiri, kelompok sendiri, golongan 
>      sendiri, bangsa sendiri, dll), maka biasanya [tidak selalu] 
>      keputusan yang kita ambil pada saat itu bukanlah dorongan 
>      nafs-al-muthmainnah.

Betul-betul yang ini bahkan belum pernah saya lakukan. Apakah dengan
memperhatikan hasrat-hasrat maka saya akan mampu mengenali Muthmainnah
tsb? 
>      
>   c. Dalam setiap shalat, setiap kita sampai pada pengucapan
>      "Ihdinash shirathal mustaqim" hendaklah kita menanamkan 
>      keyakinan dalam diri bahwa Allah mengabulkan doa itu.
>      Sesungguhnya apa yang kita sebut shirathal mustaqim itu tak 
>      lain dari dorongan nafs-al-muthmainnah itu. Ia selalu ada 
>      bersama kita, tetapi kita hampir tak mengetahuinya. Dengan
>      penekanan doa pada perkataan itu, diharapkan pikiran kita
>      akan lebih peka dalam menangkap isyarat-isyarat yang 
>      dipancarkan oleh nafs-al-muthmainnah.

Insyaallah saya akan mencobanya.
>
>   d. Dalam kasus-kasus yang sangat penting dan mendesak, datangi 
>      seorang ulama yang kita ketahui atau kita duga mampu membaca
>      nafs-al-muthmainnah untuk minta 'dibacakan' atau sekedar 
>      minta dikonfirmasikan.

Yang ini lebih sulit lagi. Saya rada alergi untuk datang ke kyai-kyai
untuk urusan model beginian. Paling saya nanya mengenai masalah agama,
berupa tafsir,  hadist, fiqh dll. Saya tidak pernah menyalahkan tetangga
atau teman yang suka melakukan hal itu, tetapi saya tidak mampu melihat
manfaatnya buat saya. Sekarang pak Sunarman menganjurkan saya datang ke
kyai untuk masalah model beginian. Tolong dijelaskan manfaatnya.

jazakumullahu khairan katsira.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke