Assal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. -----Original Message----- From: Ali Abidin Sent: Thursday, March 04, 1999 2:05 PM Saya kenal seorang teman yang sangat sering ber-istikharah. Saya kritik teman saya tersebut sebab dalam kesan saya kok nggak mau berpikir dengan keras tetapi selalu istikahrah. Mau beli tanah istikharah. Mau pindah rumah istikharah. Mau menikah istikharah. Mau pindah kerja istikharah. Mau pilih Universitas istikharah. Mau keluar kota istikharah. Orang tersebut hampir selalu istikharah dalam mengambil keputusan. Saya --dengan segenap kebodohan yang saya miliki-mengajari ybs mengenai metode-metode ilmiah memilih alternatif yang pernah saya pelajari. Kalau ingat hal ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya sendiri memang barusan menyadari banyaknya anjuran untuk melakukan istikharah. Ibaratkan istikharah [yang mendatangkan bisikan ilahi] itu tangan kiri, dan akal pikiran [dengan kemampuan analisisnya] itu tangan kanan; bukankah dengan kedua tangan kita pakai bersama-sama, kita akan mampu melaksanakan pekerjaan yang lebih berarti? Saya jadi ingat cerita mursyid, segala sesuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Nafs-al-muthmainnah berpasangan dengan nafs-al-ammarah, Otak dan Naluri, Panas dan Dingin, Bumi dan Langit, Neraka dan Sorga. Bapak dan Ibu, Air dan Api, dll. Kedua hal yang tampaknya saling bertentangan itu, kalau dipakai bersama-sama secara terkendali, akan dapat dipakai untuk menciptakan sesuatu. Kalau air dan api dipakai keduanya secara terkendali, kita akan dapat merebus singkong, misalnya. Demikian juga otak dan naluri. Ternyata pak Sunarman sekarang mengajarkan saya untuk sering-sering beristikharah juga agar peka terhadap Jiwa Muthmainnah. Bisakah dijelaskan lebih jauh tentang hal ini? Apa hubungannya istikharah ini dengan Jiwa Muthmainnah? Istihkarah itu shalat untuk "mohon petunjuk" dari Allah. Ketika petunjuk itu datang, karena anda belum mampu membaca jiwa muthmainnah itu dengan sengaja, maka Allah mengamplifikasikan sinyal dari jiwa muthmainnah itu sedemikian besar sehingga mampu menembus pikiran anda, misalnya lewat mimpi. Bagaimana anda bisa membedakan mimpi yang asal-asalan dan mimpi yang merupakan hasil amplifikasi getaran jiwa muthmainnah [=petunjuk Allah]? Salah satu caranya ialah melakukan dzikir pengantar tidur, misalnya dengan membaca Shalawat Nabi berulang-ulang. Ketika anda berniat untuk tidur, lepaskan semua beban pikiran dengan membaca shalawat itu tanpa henti; anda baru berhenti setelah terlelap tidur. Dengan membiasakan diri berbuat demikian, insya Allah anda tidak akan mimpi apapun kecuali mimpi yang merupakan petunjuk Allah. Apakah dengan memperhatikan hasrat-hasrat maka saya akan mampu mengenali Muthmainnah tsb? Tidak otomatis demikian, tetapi dengan mengenali hasrat-hasrat tersebut anda dapat tahu bahwa jiwa muthmainnah pada diri anda pada saat itu sedang tak berdaya. Apapun yang anda putuskan pada saat itu, hendaknya ditangguhkan sampai situasinya berubah dan anda membuat keputusan baru dalam keadaan jiwa yang tenang. > > > d. Dalam kasus-kasus yang sangat penting dan mendesak, datangi > seorang ulama yang kita ketahui atau kita duga mampu membaca > nafs-al-muthmainnah untuk minta 'dibacakan' atau sekedar > minta dikonfirmasikan. Yang ini lebih sulit lagi. Saya rada alergi untuk datang ke kyai-kyai untuk urusan model beginian. Paling saya nanya mengenai masalah agama, berupa tafsir, hadist, fiqh dll. Saya tidak pernah menyalahkan tetangga atau teman yang suka melakukan hal itu, tetapi saya tidak mampu melihat manfaatnya buat saya. Sekarang pak Sunarman menganjurkan saya datang ke kyai untuk masalah model beginian. Tolong dijelaskan manfaatnya. Hehehe... saya juga alergi. Tetapi untuk urusan yang bukan merupakan urusan pribadi dan sangat penting, misalnya soal bagaimana kita harus bersikap dalam kasus Banyuwangi, kasus Ambon, kasus Aceh, kasus Timtim, dll, saya merasa perlu untuk check and recheck kepada mursyid.> Wassal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. RS
--------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
