>Assalaamu 'alaikum wr. wb.

> ----------
> From:   Abah Hilmy[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>
> Lubb adalah akal hati (hati ruhaniyyah). Artinya Lubb adalah salah satu
> bagian dari hati itu sendiri.
>
> Seperti jasad kita mempunyai Akal (Otak), hati ruhaniyyah (jiwa
> muthmainnah) mempunyai Akal (Lubb).
> Selain akal, seperti juga jasad, hati ruhaniyyah memiliki mata, telinga,
> mulut, dsb. Sehingga kalau dikatakan di Al Qur'an Allah mengunci mati
> hati,
> pendengaran, dan pengelihatan, hal ini menunjuk kepada pendengaran dan
> pengelihatan hati ruhaniyyah (QS 22:46).
>
>Oh, Hati ternyata juga punya mulut, mata, telinga dll persis seperti
>jasad?. Dalam pengertian saya selama ini maka saya pikir yang punya
>organ lengkap seperti jasad adalah jiwa. Ternyata hati juga ya? Wah
>jadi bingung lagi nih:-(  Padahal tadinya ketika membaca ayat dimana
>Allah membutakan mata,menulikan telinga orang-orang yang kafir maka
>tadinya bayangan saya adalah "mata jiwa", "telinga jiwa" bukan
>"mata hati" ataupun "telinga hati" dll.
>Saya padahal tadinya sudah hampir mempunyai gambaran yang utuh
>bahwa "Hati" adalah "Lubb" itu sendiri. Seperti vitalnya Otak
>bagi jasad kita maka Hati adalah otak bagi Jiwa kita.

>Abdi teh jadi puyeng Abah.... (biar pak Wargino protes sebab
>pakai bahasa sunda :-).

Sekarang insya Allah sudah pensiun, nggak suka protest lagi hi...hi...

>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.



Assalamu'alaikum wr wb,

Pak Ali, Abah dan rekan-rekan milis rahimakumullah.

Memang kalau bicara tentang terminology hati, nafs, qalbun, aqal
jiwa, ruh, jiwa muthmainah, lubb, akal atas, akal bawah, amarah
nafsu, kehendak.... dan macem-macam lagi terminology yang mirip-
mirip sama itu bisa bikin bingung.

Saya sendiri juga kurang memahami secara teoritis tentang terminology
itu. Saya lebih tertarik kepada pengenalan obyek dari pada pendekatan
teoritis. Mungkin anda akan bertanya: Bagaimana mungkin kita mengenal
kalau definisi dari istilah-istilah di atas tidak tahu?

Jawabannya: Insya Allah sangat mungkin.

Dua cara pendekatan diatas (teoritis dan pengenalan) saya ilustrasikan
seperti dua orang yang ingin mengetahui seseorang yang berada dibalik
pintu yang terkunci rapat.

[1] Orang yang satu berusaha mencari data-data sejarah, sifat-sifat,
tanda-tanda dan berbagai informasi tentang orang yang berada dibalik
pintu itu (pendekatan teoritis).

[2] Sedang orang yang satu lagi duduk dengan ta'dzim dan bersabar di
depan pintu sambil mengetuknya. Hingga pada saatnya pintu terbuka dan
orang tersebut mengenal dengan sebenarnya 'orang' yang dicarinya itu.

Terserah anda, apakah akan menjadi orang yang pertama atau menjadi
orang yang kedua. Yang jelas kalau anda menjadi orang yang kedua,
insya Allah anda tidak akan pernah terkecoh. Orang mau bilang apa
tentang 'dia' karena kita sudah tahu betul yang dimaksud adalah
'yang itu' terserah apa namanya pokoknya 'yang itu'.

Sedangkan orang yang selalu mencari terminology dan definisi tanpa
mengenal obyeknya, bisa jadi selalu dalam keraguan dengan adanya
istilah-istilah baru yang berkenaan dengannya.

Mungkin ini yang sering dinyatakan oleh sebagian anggota milis bahwa
tasawuf itu bukan teori.

KONSEP PENGENALAN
-----------------
Apa yang saya tulis disini bukan merupakan saran atau acuan, melainkan
hanya sekedar pendapat yang sangat minim karena kedangkalan saya dalam
samudra tasawuf.
Cara mengenal hal-hal di atas nafsu, jiwa dsb... yang secara ringkas
saya sebut saja sebagai 'diri', antara lain dengan mohon bimbingan
seorang mursyid atau guru.
Langkah selanjutnya adalah tetap memelihara kemauan / istiqamah untuk
melaksanakan petunjuk-petunjuk mursyid.

Bagi yang belum punya mursyid, saya tidak mempunyai pendapat secara
khusus. Sekedar pendapat umum mungkin kita bisa meningkatkan atau
meng-istiqomahkan amalan-amalan yang sudah biasa kita lakukan.
Misalnya :
     - Membiasakan baca al-qur'an (minimal 1th 2X khatam)
     - Membiasakan ibadah sunah sesudah tertib ibadah wajib.
          misalnya: puasa sunah, sholat sunah, shodaqah,mencitai anak
          yatim dan orang-orang miskin... dsb.
     - Membiasakan/mengkontinyukan dzikrullah
     - Belajar memahami sifat Allah 20
     - Belajar memahami dengan penuh penghayatan 99 Asma Allah.
     - Mencintai Rasulullah SAW dan mencintai apa yang dicintai Beliau.
     - Memelihara diri dari sifat-sifat tercela.
     - dsb...
Dengan mengharap ridlo Allah atas amalan-amalan itu semua, insya Allah
lambat laun hati kita akan semakin bersih dan terang. Terang disini
bisa bermakna 'tahu', termasuk tentang 'mengenal diri'


NAFSU MUTHMAINAH
----------------
Saya sependapat dengan Abah bahwa ada sesuatu yang labil dalam hati
kadang baik dan kadang buruk. Tapi saya kurang sependapat bahwa Nafsu
Muthmainah itu berubah-ubah (kalau yang dimaksud nafsu muthmainah itu
yang 'itu').

Menurut pendapat saya di sana itu ada dua hal yang satu diam dan tenang.
Di sanalah tempatnya keindahan, kedamaian, keihlasan, kejujuran, ketenangan
dan samudra pengetahuan. (mungkin ini yang disebut nafsu muthmainah)

Sedang yang satunya selalu berubah, bolak-balik, ragu, keinginan yang
tak pernah puas, iri, benci, panas dan membakar.
(mungkin ini yang diistilahkan hawa nafsu)

Namun keduanya tidak pernah berbaur, dan tetap berada pada 'sifatnya'
masing-masing.


USAHA PENGENALAN
----------------
Menurut pendapat saya semua amal-ibadah yang kita lakukan itu bukan
untuk Allah, bukan untuk mengagungkan Allah. Allah tidak butuh
disembah, tidak butuh diagungkan. Demikian juga Allah tidak benci
dengan orang yang tidak menyembahNya. Sifat 'butuh, senang dan benci'
itu bukan sifat Allah melainkan sifat makluk.

Segala tuntunan ibadah itu insya Allah karena sifat Rahman dan RahimNya
sehingga melalui utusanNya, menuntun manusia membersihkan sifat-sifat
buruknya sehingga bersih hatinya yang pada akhirnya manusia akan dapat
mengenalNya dan menemukan kebahagiaan serta kedamaian abadi bersamaNya.

Kalau sudah begitu adanya, ibadah bukan lagi karena perintah syariat,
tapi akan disadari bahwa itu merupakan kewajiban seorang hamba kepada
Tuhannya (bukan atas kewajiban syariat). Seorang hamba akan jatuh
tersungkur pasrah dan benar-benar mengakui dan mengagungkan Dia karena
memang tahu bahwa dia Yang Maha Agung.

Kalau kita ingin dicintai marilah kita belajarlah mencintai.

"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.Dan Dia-lah yang
Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui. (QS. 29:5)"


Wallahua'lam bs,
Kurang lebihnya mohon maaf dan mohon diluruskan seandainya pendapat
saya itu salah.

Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke