> -----Original Message----- > From: Emanuel Febry Djatmiko Adji [SMTP:[EMAIL PROTECTED] > Sent: 20 Agustus 2003 10:45 > To: Tonny WP (Purch, Feed SDA); Suryadi (PGA.SDA.CPP); Sri Wahyudi (HRD, > Feed SDA); Meity Mirthiandi (HRD, Feed SDA); Ishana Pramawidhana > (TrainComm-HO); Hidayat A. (Q/C, Feed SDA); Hidayat (PPIC, Feed SDA); > Fitri N. R. (HRD, Feed SDA); Emilia Ichsan (Sec of Market, Feed SDA); > Dicky Sulkhan (HRD, Feed SDA); Dharma (Purch.SDA.CPP); Agustina Dewi > (Acct, Feed SDA); A. Khudlori (HRD, MBAI SDA); Ida Wahyuni (Sec of Mr. > Jafet, Feed SDA) > Subject: Udara Surabaya Makin Gawat > > Jawa Pos Dotcom, Rabu, 20 Agt 2003 > > Udara Surabaya Makin Gawat > > > SURABAYA - Kondisi lingkungan di Surabaya makin memprihatinkan. Hal itu > tampak dari hasil penelitian pakar hukum lingkungan Dr Suparto Wijoyo SH > Mhum. Dalam kesimpulannya dia menyebutkan tidak ada upaya Pemkot Surabaya > untuk melindungi warganya dari dampak kerusakan lingkungan. > > Kondisi paling parah terjadi pada pencemaran udara. Menurut Suparto, > selama 2003 sudah tujuh kali suhu udara di Surabaya naik mencapai 0,5 > derajat celcius, gara-gara pencemaran udara. Bahkan, Surabaya pernah > mencetak rekor dunia. Yakni, pada 2001 dengan kenaikan 1 derajat celcius > akibat pencemaran udara. "Rekor sebelumnya di Yunani 0,8 deraja celcius," > kata Suparto, seusai dinyatakan lulus ujian desertasi program Doktor, di > Unair, kemarin. > > Dijelaskan, pencemaran udara yang berdampak pada meningkatnya suhu udara, > sangat berbahaya bagi manusia. Efeknya bisa melemahkan otak manusia. > "Udara Surabaya saat ini ibarat sup kimia yang sangat berbahaya," katanya. > > Yang lebih memprihatinkan lagi, kondisi udara yang gawat itu, tidak pernah > diketahui oleh warganya. > > Sebab, papan indikator pencemaran udara yang ada di jalan-jalan, menurut > dia, tidak lebih dari sekadar papan reklame. "Masyarakat tidak mengerti > maksud papan tersebut," kata dosen FH Unair itu. > > Suparto mencontohkan, dia sempat membandingkan Surabaya dengan beberapa > kota di empat negara, yakni Amerika, Belanda, Jepang, dan Singapura. Di > negara-negara tersebut, papan indikator pencemaran, dilengkapi alarm. > > Ketika pencemaran udara membuat suhu meningkat, secara otomatis, alarm > berbunyi. Lantas lokasi di sekitar kawasan tersebut langsung disterilkan. > "Segala aktivitas yang menyebabkan pencemaran di sekitar kawasan tersebut > langsung dihentikan," jelasnya > > Selain itu, setiap alarm pencemaran berbunyi, langsung terdeteksi, dimana > sumber pencemaran terjadi. Dan, mereka yang terbukti sebagai sumber > pencemaran, dikenai denda. > > Berbeda dengan di Surabaya. Saat indikator pencemaran udara menunjukkan > tingkat pencemaran tinggi, tidak ada tindakan lebih lanjut. "Sama sekali > tidak ada fungsinya kan. Hanya pajangan," kata pria kelahiran 20 oktober > 1968 itu. > > Dari data penelitian Suparto, bahan pencemar di Surabaya meliputi Karbon > monoksida (CO), Natrium oksida (Nox), Sulfur Oksida (Sox), Hidrokarbon, > dan Patrikulat. Emisi tertingi terdapat pada CO yang mencapai 54.800 > ton/tahun. Transportasi merupakan penyumbang terbesar CO berasal dari > transportasi, yakni 96,8 persen. > > Selain itu, kebijakan tata ruang yang dirancang Pemkot Surabaya dinilai > memiliki kontribusi dalam menambah kerusakan lingkungan. Dia mencontohkan > kawasan Surabaya Barat, yang dulunya berfungsi sebagai paru-paru kota. Di > kawasan tersebut, dulu dikenal sebagai kawasan hutan randu. "Pohon randu > ternyata bisa menyerap CO hingga 80 persen," paparnya. > > Tapi sekarang, kawasan itu berubah menjadi komplek perumahan elite. "Ini > jelas kebijakan yang sangat tidak berorientasi lingkungan," ungkap alumni > Universitas Darul Ulum Jombang itu. > > Belum lagi kawasan Surabaya Timur, yang awalnya merupakan daerah tangkapan > air. Sekarang juga beralih fungsi sebagai perumahan elite. "Jangan heran > kalau Surabaya akhirnya jadi langganan banjir," jelas Suparto. > > Bagaimana solusinya? Surabaya harus punya sistem pengendali pencemaran. > Fungsinya, untuk mendeteksi sumber pencemaran dan jenis pencemaran. > > Tidak kalah pentingnya, harus ada perangkat hukum, seperti Perda, yang > bisa menekan pemilik sumber pencemaran. "Harus ada hukuman bagi bus kota > yang asapnya hitam misalnya," kata dia. > > Selain itu, dia menginginkan, ada pertanggungjawaban kinerja ekologi bagi > wali kota. Bisa dalam LPJ tahunan atau di akhir jabatan. "Selama ini > kinerja ekologi kepala daerah tidak pernah dipertanggunjawabkan." (tom). > > _______________________________________________ tlusakti mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/tlusakti
[tlusakti] FW: Udara Surabaya Makin Gawat
Ishana Pramawidhana (TrainComm-HO) Thu, 21 Aug 2003 21:50:59 -0700
