> -----Original Message----- > From: Emanuel Febry Djatmiko Adji [SMTP:[EMAIL PROTECTED] > Sent: 27 Agustus 2003 9:12 > To: Tonny WP (Purch, Feed SDA); Suryadi (PGA.SDA.CPP); Sri Wahyudi (HRD, > Feed SDA); Meity Mirthiandi (HRD, Feed SDA); Ishana Pramawidhana > (TrainComm-HO); Hidayat A. (Q/C, Feed SDA); Hidayat (PPIC, Feed SDA); > Fitri N. R. (HRD, Feed SDA); Emilia Ichsan (Sec of Market, Feed SDA); > Dicky Sulkhan (HRD, Feed SDA); Dharma (Purch.SDA.CPP); Agustina Dewi > (Acct, Feed SDA); A. Khudlori (HRD, MBAI SDA); Ida Wahyuni (Sec of Mr. > Jafet, Feed SDA) > Subject: Air Kota Delta Terancam > > RADAR SIDOARJO Rabu, 27 Agt 2003 > _____ > > Sabtu, 23 Agt 2003 > Air Kota Delta Terancam > > > Perda Lingkungan Hanya Macan Kertas > > SIDOARJO - Meski dikenal sebagai kota delta yang dianggap tak bakal > kekeringan, Sidoarjo ternyata juga terancam problem air bersih. > > Kini terjadi intrusi air laut di beberapa kecamatan, seperti Gedangan dan > Waru. Air bawah tanahnya (ABT) pun, yang dulu tawar, kini payau atau asin. > "Hasil penelitian kami membuktikan ada perembesan air laut di kawasan > itu," tukas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Sidoarjo Drs Ali Mas'ud. > > Penelitian Dinas LH ini memperkuat hasil kajian Dirjen Geologi dan Sumber > Daya Mineral. Intrusi air laut dan kemerosotan kondisi lingkungan dan > tanah di Sidoarjo masih terus berlanjut. Terjadi juga penurunan permukaan > air tanah. Meluasnya zona penurunan air tanah. Dan, indikasi penyusupan > air laut. > > Dirjen menyebut kondisi itu terjadi di Kecamatan Tanggulangin. "Tapi yang > lebih tepat Gedangan dan Waru," tegas Ali Mas'ud. > > Yang harus diwaspadai, penggunaan air bawah tanah di Sidoarjo tergolong > sangat tinggi. Sebut saja ada sekitar 1.250 perusahaan di Sidoarjo yang > menggunakan air bawah tanah untuk keperluan produksi. Sebagian lain untuk > mandi, cuci, dan kakus. Di Gedangan dan Waru saja ada 99 perusahaan yang > menggunakan air bawah tanah. > > "Jika penggunaan ABT dalam jumlah besar ini tidak diimbangi dengan > antisipasi lingkungan, Sidoarjo pun bisa terancam kesulitan air," tambah > Ali Mas'ud. Bagaimana antisipasinya? Ali Mas'ud menyebut ada banyak upaya. > Upaya itu, antara lain, membuat hutan kota di setiap ibu kota kecamatan. > > Setiap kecamatan harus memiliki 0.25 ha hutan kota. Kemudian, setiap > perusahaan harus membuat sumur resapan untuk tangkapan air hujan. Sumur > ini akan membantu penyediaan air agar air hujan tidak semua lari ke laut. > Dalam Perda Kawasan Lindung No 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa setiap > pemilik bangunan yang membangun 100 m2 harus menanam satu pohon. > > Secara teknis, semua antisipasi itu bisa dilakukan. Yang paling penting, > lanjut Ali Mas'ud, adalah pelaksanaan Perda Kawasan Lindung itu harus > berwibawa dan tidak berhenti di atas kertas. Pelaksanaan perda itu juga > membutuhkan biaya dan aparat yang tegas. > > Padahal, saat ini, anggaran untuk pelaksanaan perda itu masih sangat > minim. Sebut saja, anggaran untuk penanaman hutan kota yang diusulkan > hanya Rp 55 juta, bukan Rp 250 juta. "Anggaran itu sangat kurang dari > kebutuhan untuk menjaga lingkungan," tambah Ali Mas'ud. (roz). > > _______________________________________________ tlusakti mailing list [EMAIL PROTECTED] http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/tlusakti
[tlusakti] FW: Air Kota Delta Terancam
Ishana Pramawidhana (TrainComm-HO) Mon, 01 Sep 2003 10:00:35 +0000
