emh.....
Inilah yang juga saya prihatinkan. Jangankan mahasiswa, dosenpun banyak yang 
tidak mampu berbahasa inggris dengan 'baik' dan mengoperasionalkan komputer 
dengan 'baik' pula. Jadi, kalau anda bilang mahasiswa UNDIP masih berfikir 
bahasa inggris dan komputer di awang-awang, memang begitulah. Bahkan saya 
sering menyaksikan (termasuk critanya P. Riasto itu) bahwa ada beberapa 
dosen kalau ada tamu asing untuk mendampingi atau menjadi moderator ndak 
berani.. habis bahasa inggrise 'cupet'.  pol=pole, nanti dosen alumnus luar 
negerilah yang tampil. jadinya kalau dosen ini berhalangan hadir, maka 
runyamlah itu perdebatan. yang lucunya lagi (pengalaman saya ketika masih 
kuliah dulu), pernah ada seorang dosen yang rupanya 'over confident' dengan 
bahasa inggrisnya dan siap menjadi moderator. jadinya apa, selang surup. 
profesor 'landa'nya bilang A, dosen bilang B, mahasiswa yang bertanya bilang 
F. Walah... diskusinya jadi lucu, karena terjemahan moderator, ora gathuk 
blass............

Cuma untungnya, ada rekan dari KSMI (Kelompok Studi Masalah Internasional -- 
apa sekarang masih aktif organisasi ini ?) yang ikut kuliah tersebut dan 
akhirnya si dosen menyadari keterbatasannya, dan meminta si aktivis KSMI itu 
untuk membantu menjadi moderator. Akhirnya diskusipun berjalan lancar dan 
selang surupe hilang. Lebih untungnya lagi, si aktivis dari KSMI itu, memang 
kapabel dan bejo, nilai akhir untuk matakuliah itu A Plus, dan lulus dengan 
Cumlaude !

Nah ..kalau begini, bagaimana tuh pengembangan SDM DOsen UNDIP ? Jangan 
bicara, mahasiswa dulu, kalau kualitas dosennya 'mepet' seperti itu. Bahkan 
dosen yang muda-muda di beberapa fakultas tidak berminat berkompetisi 
mencari beasiswa keluar. Mereka dengan berbagai 'alasannya' memiliki untuk 
belajar di DN. Kalau hanya di DN terus...kapan mau maju bahasa inggris dan 
pengalaman akademiknya ?

lebih ngerinya lagi, pengembangan kemampuan dosen (khususnya oleh PR I, PR 
II dan PR IV), lambat dan pelit. Dosen-dosen yang sekolah ke LN, dengan 
biaya pas-pasan ndak pernah dibantu. kalau beasiswanya berlimpah (seperti di 
Australia atau Jepang) mungkin ndak masalah, tapi bagi yang di Inggris, atau 
Amerika ? Untuk makan saja sering tidak cukup !!!!

akibatnya, adalah dosen-dosen tidak berani bereksperimen untuk sekolah ke 
LN, pilih saja DN yang dekat, biaya murah, bisa nyambi kerja, tidak 
rep[ot-repot belajar bahasa inggris dll.... ini juga produk dari 
'infertilitas' rektorat dalam  men-encourage dosen untuk sekolah lagi, 
khususnya ke LN. pengalaman Dosen FT UNDIP, yang bunuh diri di Jepang 
(Hiroshima), beberapa minggu yang lalu, dalam pandangan saya merupakan salah 
satu bentuk 'apati' lembaga universitas (baca: rektorat dan dekanat) untuk 
memantau dan menencourage secara supportive terhadap mereka yang sedang 
belajar khususnya di negara-negara yang tingkat stressnya tinggi seperti 
Jepang itu. Ada dosen UNDIP, yang berangkat ke Jakarta untuk urus 
surat-surat, pinjam uang ke rektorat (pinjam !!) juga ndak dikasih. apalagi 
minta. padahal...untuk pengembangan UNDIP juga. aneh....

ini terjadi pada zaman orde baru kemarin, saya ndak tahu kalau UNDIP (baca 
'pejabat'nya) sebagai salah satu penuntut reformasi, juga telah mereformasi 
dirinya untuk mengembangkan DOSENnya. Hipotesisnya adalah : Kalau DOSENnya 
tidak bermutu, adalah AJAIB kalau mahasiswa kapabel dan kompetitif. Berkah 
dari langit kali.....

Intine, jangan bermimpi MAHASISWAnya kredibel, kapabel dan internationally 
competitive, kalau mutu DOSENnya masih seperti itu....

Konsep pengembangan SDM UNDIP, nampaknya masih di "lathi" (mulut) belum di 
aksi... begitulah,......


Salam,
AM

















______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________
>From "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke