Kalo saya lihat banyak hal yang membuat saya bingung..
Kalo mahasiswa memiliki IP pas-pasan itu salah siapa?
Salah mahasiswanya yang tidak mau mengembangkan diri
atau salah dosennya yang nggak bisa ngajar atau ada
faktor simpati & antipati dari Dosennya atau ada
faktor si Dosen nggak mau kalah dari mahasiswanya.
Yang jelas kalo mahasiswa tidak mendapatkan ilmu yang
memadai dan mendapatkan nilai pas-pasan padahal si
mahasiswa itu pantas untuk mendapatkan nilai yang
lebih baik maka si mahasiswa yang menjadi korban. Rugi
biaya,rugi waktu & rugi masa depan(susah cari kerja
kalo IP pas-pasan). Kondisi itu dialami teman saya
dari teknik mesin yang kebetulan IP-nya cuma 2,63.
Padahal secara praktikal dia punya kemampuan yang
memadai, sayangnya setelah setahun lulus belum dapat
pekerjaan juga. Setiap kali mencoba mengadu nasib
dengan memasukkan lamaran selalu kalah karena IP-nya
pas-pasan dan yang lebih menyakitkan lagi kalahnya
dengan lulusan Univ. yang.. statusnya kalo
dipikir-pikir dibawah Undip. Jadi alangkah kejamnya
seorang dosen yang pelit nilai(memberikan nilai karena
faktor simpati & antipati)...karena itu sama artinya
dengan menghancurkan masa depan orang.
--- Aji Mustoko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Benny wrote:
>
> >Kalo anda berpikir seperti itu berarti mental dan
> pikiran anda masih
> >seperti
> >anak ESDE aja ..., setahu saya mahasiswa itu tidak
> seharusnya tergantung
> >100
> >% pada dosennya. Dosen itu hanya memberi uger-uger
> atawa arahan ... tapi
> >final resultnya yo lebih tergantung dari si
> Mahasiswa sendiri ...
> >Banyak lulusan Undip yang lebih hebat dari dosennya
> ...at least itu yang
> >saya tahu dari FT (tempat saya dahulu) ...,
> >FYI : Apakah kalo dosen masuk 3 kali dalam semester
> yaitu
> >1. memberikan silabus ...
> >2. Kata pengantar ...
> >3. Tentamen ....
> >Itu berarti mahasiswanya juga NOL besar ...., weh
> sempit nian pikiran anda
> >itu ....., apa dikira si mahasiswanya cuma belajar
> dari silabus, kata
> >pengantar lalu tentamen dan ujian gitu ....
> >Kalo ada mahasiswa seperti itu berarti mental nya
> masih mental esde
> >...bisanya cuma NYUSU tok....dan harus didepak saja
> dari UNDIP ...
> >ngabis-abisin subsidi saja ....
> >Tapi setahu saya at least di Jurusan saya dulu
> (Elektro) mboten wonten yang
> >seperti sampeyan pikirkan itu ... bahkan banyak
> yang sekarang jauh lebih
> >hebat dari dosen kita dulu ....
> >
> >
> >
>
> Adalah hak anda untuk menilai pendapat saya. Bagi
> anda yang sekarang sudah
> berpengalaman dan belajar pada ilmu yang sifatnya
> praktikal mungkin cara
> pikir diatas tidak relevan. Tetapi kalau
> sekalai-kali anda menyempatkan
> kuliah di jurusan lain khususnya di jurusan
> ilmu-ilmu sosial, barangkali
> persepsi dan perilaku anda akan berbeda.
>
> Dalam budaya masyarakat Indonesia, UNDIP khususnya,
> dan ilmu sosial
> khususnya akan nampak dengan jelas bahwa sebagian
> besar mahasiswa memanglah
> pasif. mereka ini lebih cenderung belajar atas
> dasar 'leturers' needs' oleh
> karena mereka sebagain besar berorientasi untuk
> mecari nilai sebagus
> mungkin. Hal ini pun tidak bisa disalahkan karena
> untuk melamar pekerjaan
> (bagi alumnus ilmu sosial) IP merupakan saringan
> pertama. Bahkan pada
> kompetisi kerja sekarang ini, IP 3,0 sudah merupakan
> persyaratan yang
> pas-pasan. Akibatnya, mahasiswa (baca: sebagian
> besar) berfikir praktis
> bagaimana menghapal kuliah dosennya, sehingga
> nilainya bagus.
>
> Akibatnya idealisme anda, tentang mahasiswa yang
> mandiri, dosen hanya
> sebagai fasilitator, pada tahapan diatas, hanyalah
> retorik. ini hanya
> merupakan paradigma sistem pengajaran yang ideal
> tetapi sangat sulit
> diterapkan di lingkungan budaya akademik seperti
> pengalaman saya belajar di
> UNDIP (pada ilmu sosial). Dosen menjadi satu-satunya
> sumber yang 'layak
> dipercaya' oleh mahasiswa, karena dialah yang akan
> menilai hasil ujiannya
> nanatinya. Jadi jangan heran, kalau mereka yang
> suka berdebat, kritis,
> dsb.. justru kalah IPnya dengan mereka yang senang
> menghafal catatan dosen.
> Pengamatan saya ketika berada di perkuliahan
> beberapa tahun yang lalu, juga
> masih menunjukkan seperti ini. Lebih ngerinya lagi,
> bahkan soal yang keluar
> dari dulu sampai sekarang ya.. itu ..itu lagi. Bagi
> mereka penghobi
> menghapal dan koleksi bank soal, maka ujian menjadi
> lahan empuk saja.
>
> Paradigma anda, dengan 'students centered' itu
> memang telah lama berkembang
> di negara-negara barat. guru, dosen dll itu cuma
> fasilitator. tetapi
> paradigma ini juga membutuhkan banyak fasilitas yang
> harus dibangun seperti
> misalnya tersedianya akses informasi yang lengkap
> (salah satunya internet,
> dan banyak lagi), perpustakan, bahkan international
> library network, dimana
> seorang kuliah di AS misalnya, bisa pinjam buku ke
> ANU, di Autralia. Untuk
> ke tahapan ini memang butuh preparasi, dan tidak
> semudah membalikan tangan.
>
> Walaupun students sebagai center, guru, dosen pun
> tetap mumpuni, apalagi
> pada sistem tersebut, dosen dan guru diangkat dalam
> sistem kontrak dengan
> kompetisi yang sangat ketat. hanya guru/dosen yang
> kualified lah yang bisa
> menembus persainagan ketat seperti ini. bahkan ada
> beberapa universitas yang
> menyatakan kalau tidak master atau doktor, tidak
> bisa jadi dosen.
>
> Bagaiman dengan undip ? dengan sistem PNS mana
> mungkin dosen yang kualified
> dapat terseleksi dengan baik ? apalagi PNS berlaku
> sampai mati (kalau tidak
> menyimpang), maka kerjanya seperti apapun akan tetep
> jadi dosen; walaupun
> jarang nulis di jurnal (apalagi jurnal
> international), jarang penelitian,
> jarang simposium, tetap juga menjadi dosen. habis
> sudah punya NIP. kalau ini
> yang terjadi, tanpa kompetisi akademik, mana bisa
> diharapkan kualitas
> mahsiswanya / sudah dosennya kurang kualified,
> fasilitas akses informasi
> terbatas, mana bisa mahasiswa berkembang dengan baik
> ?
>
> kalau anda bisa berkembang dengan baik, tanpa
> bantuan dosen (atau katakanlah
> tergantung) maka bersyukurlah anda. Karena anda
> cukup langka, dan mempunyai
> potensial yang bagus. Dengan kemampuan anda untuk
> berotodidak, kemauan keras
> ditambah otak anda yang encer, memang ketergantungan
> pada dosen menjadi
> tidak ada artinya.
>
> cuma karena anda itu, exceptional, artinya tidak
> banyak orang seperti anda;
> apakah kita bisa berharap mahasiswa UNDIP (sebagai
> besar) bisa berkembang
> seperti anda ini ? kalau ya, berapa persen kira-kira
> buktinya ?
>
> kalau saya memang masih berfikir, DOSEN merupakan
> salah satu pilar utama
> pengembangan mahasiswa. kalau dosennya tidak
> bermutu, jangan terlalu banyak
> berharap mahasiswanya bermutu. demikian sebaliknya.
> Saya berpikir, memasuki melineum baru ini, DOSEN
> harus dikembangkan dengan
> berbagai kompetisi, agar mahasiswanya juga
> kompetitif. Kalau dulu S1 bisa
> ngajar S1 maka sekarang ini mesti dirombak. Mereka
> yang S1 dipensiun muda,
> dengan mendatangkan DOSEN baru yang berkualifikasi
> minimal DOKTOR. Kalau
> yang sudah S-2 dan terlanjur sudah lama jadi dosen,
> ya biarlah yang
> ditolerir, tetapi bagi yang baru , saya berpendepat
> kualifikasi DOKTOR itu,
> conditio sine quanon.
>
> demikian pendapat saya. anda boleh pro ataupun
> kontra terhadap hal ini. bagi
> saya, pro -kontra dalam pengembangan akademik,
> merupakan perjalanan
> intelektual yang menyenangkan. mohon dimaafkan kalau
> kurang berkenan.
>
> Salam,
>
> AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at
> http://www.hotmail.com
>
______________________________________________________________
> >From "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]> to
> UNDIP List
> Milis Archive: http://messages.to/archives or
> http://messages.to/archives2
>
=== message truncated ===
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Thousands of Stores. Millions of Products. All in one place.
Yahoo! Shopping: http://shopping.yahoo.com
______________________________________________________________
>From HERI HERWANGGONO <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id