Benny wrote:
>Kalo anda berpikir seperti itu berarti mental dan pikiran anda masih
>seperti
>anak ESDE aja ..., setahu saya mahasiswa itu tidak seharusnya tergantung
>100
>% pada dosennya. Dosen itu hanya memberi uger-uger atawa arahan ... tapi
>final resultnya yo lebih tergantung dari si Mahasiswa sendiri ...
>Banyak lulusan Undip yang lebih hebat dari dosennya ...at least itu yang
>saya tahu dari FT (tempat saya dahulu) ...,
>FYI : Apakah kalo dosen masuk 3 kali dalam semester yaitu
>1. memberikan silabus ...
>2. Kata pengantar ...
>3. Tentamen ....
>Itu berarti mahasiswanya juga NOL besar ...., weh sempit nian pikiran anda
>itu ....., apa dikira si mahasiswanya cuma belajar dari silabus, kata
>pengantar lalu tentamen dan ujian gitu ....
>Kalo ada mahasiswa seperti itu berarti mental nya masih mental esde
>...bisanya cuma NYUSU tok....dan harus didepak saja dari UNDIP ...
>ngabis-abisin subsidi saja ....
>Tapi setahu saya at least di Jurusan saya dulu (Elektro) mboten wonten yang
>seperti sampeyan pikirkan itu ... bahkan banyak yang sekarang jauh lebih
>hebat dari dosen kita dulu ....
>
>
>
Adalah hak anda untuk menilai pendapat saya. Bagi anda yang sekarang sudah
berpengalaman dan belajar pada ilmu yang sifatnya praktikal mungkin cara
pikir diatas tidak relevan. Tetapi kalau sekalai-kali anda menyempatkan
kuliah di jurusan lain khususnya di jurusan ilmu-ilmu sosial, barangkali
persepsi dan perilaku anda akan berbeda.
Dalam budaya masyarakat Indonesia, UNDIP khususnya, dan ilmu sosial
khususnya akan nampak dengan jelas bahwa sebagian besar mahasiswa memanglah
pasif. mereka ini lebih cenderung belajar atas dasar 'leturers' needs' oleh
karena mereka sebagain besar berorientasi untuk mecari nilai sebagus
mungkin. Hal ini pun tidak bisa disalahkan karena untuk melamar pekerjaan
(bagi alumnus ilmu sosial) IP merupakan saringan pertama. Bahkan pada
kompetisi kerja sekarang ini, IP 3,0 sudah merupakan persyaratan yang
pas-pasan. Akibatnya, mahasiswa (baca: sebagian besar) berfikir praktis
bagaimana menghapal kuliah dosennya, sehingga nilainya bagus.
Akibatnya idealisme anda, tentang mahasiswa yang mandiri, dosen hanya
sebagai fasilitator, pada tahapan diatas, hanyalah retorik. ini hanya
merupakan paradigma sistem pengajaran yang ideal tetapi sangat sulit
diterapkan di lingkungan budaya akademik seperti pengalaman saya belajar di
UNDIP (pada ilmu sosial). Dosen menjadi satu-satunya sumber yang 'layak
dipercaya' oleh mahasiswa, karena dialah yang akan menilai hasil ujiannya
nanatinya. Jadi jangan heran, kalau mereka yang suka berdebat, kritis,
dsb.. justru kalah IPnya dengan mereka yang senang menghafal catatan dosen.
Pengamatan saya ketika berada di perkuliahan beberapa tahun yang lalu, juga
masih menunjukkan seperti ini. Lebih ngerinya lagi, bahkan soal yang keluar
dari dulu sampai sekarang ya.. itu ..itu lagi. Bagi mereka penghobi
menghapal dan koleksi bank soal, maka ujian menjadi lahan empuk saja.
Paradigma anda, dengan 'students centered' itu memang telah lama berkembang
di negara-negara barat. guru, dosen dll itu cuma fasilitator. tetapi
paradigma ini juga membutuhkan banyak fasilitas yang harus dibangun seperti
misalnya tersedianya akses informasi yang lengkap (salah satunya internet,
dan banyak lagi), perpustakan, bahkan international library network, dimana
seorang kuliah di AS misalnya, bisa pinjam buku ke ANU, di Autralia. Untuk
ke tahapan ini memang butuh preparasi, dan tidak semudah membalikan tangan.
Walaupun students sebagai center, guru, dosen pun tetap mumpuni, apalagi
pada sistem tersebut, dosen dan guru diangkat dalam sistem kontrak dengan
kompetisi yang sangat ketat. hanya guru/dosen yang kualified lah yang bisa
menembus persainagan ketat seperti ini. bahkan ada beberapa universitas yang
menyatakan kalau tidak master atau doktor, tidak bisa jadi dosen.
Bagaiman dengan undip ? dengan sistem PNS mana mungkin dosen yang kualified
dapat terseleksi dengan baik ? apalagi PNS berlaku sampai mati (kalau tidak
menyimpang), maka kerjanya seperti apapun akan tetep jadi dosen; walaupun
jarang nulis di jurnal (apalagi jurnal international), jarang penelitian,
jarang simposium, tetap juga menjadi dosen. habis sudah punya NIP. kalau ini
yang terjadi, tanpa kompetisi akademik, mana bisa diharapkan kualitas
mahsiswanya / sudah dosennya kurang kualified, fasilitas akses informasi
terbatas, mana bisa mahasiswa berkembang dengan baik ?
kalau anda bisa berkembang dengan baik, tanpa bantuan dosen (atau katakanlah
tergantung) maka bersyukurlah anda. Karena anda cukup langka, dan mempunyai
potensial yang bagus. Dengan kemampuan anda untuk berotodidak, kemauan keras
ditambah otak anda yang encer, memang ketergantungan pada dosen menjadi
tidak ada artinya.
cuma karena anda itu, exceptional, artinya tidak banyak orang seperti anda;
apakah kita bisa berharap mahasiswa UNDIP (sebagai besar) bisa berkembang
seperti anda ini ? kalau ya, berapa persen kira-kira buktinya ?
kalau saya memang masih berfikir, DOSEN merupakan salah satu pilar utama
pengembangan mahasiswa. kalau dosennya tidak bermutu, jangan terlalu banyak
berharap mahasiswanya bermutu. demikian sebaliknya.
Saya berpikir, memasuki melineum baru ini, DOSEN harus dikembangkan dengan
berbagai kompetisi, agar mahasiswanya juga kompetitif. Kalau dulu S1 bisa
ngajar S1 maka sekarang ini mesti dirombak. Mereka yang S1 dipensiun muda,
dengan mendatangkan DOSEN baru yang berkualifikasi minimal DOKTOR. Kalau
yang sudah S-2 dan terlanjur sudah lama jadi dosen, ya biarlah yang
ditolerir, tetapi bagi yang baru , saya berpendepat kualifikasi DOKTOR itu,
conditio sine quanon.
demikian pendapat saya. anda boleh pro ataupun kontra terhadap hal ini. bagi
saya, pro -kontra dalam pengembangan akademik, merupakan perjalanan
intelektual yang menyenangkan. mohon dimaafkan kalau kurang berkenan.
Salam,
AM
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________
>From "Aji Mustoko" <[EMAIL PROTECTED]> to UNDIP List
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id