Ibu Florensia Yth,
Terimakasih atas tanggapan anda yang simpatik dan mawas diri.
Hal ini mungkin karena anda adalah seorang wanita (atau paling
tidak bersikap seperti seorang wanita). Gereja tidak bisa diharapkan
bereaksi seperti anda, sebab salah satu cacat utama dari Gereja
adalah wanita tidak diberi tempat dalam sistem dan power structure
mereka. Kalaupun selibat dihilangkan tidak akan berarti Gereja
otomatis menjadi suatu organisasi yang sehat dan normal, kecuali
kalau Gereja mau merubah pandangan-2 dan mentalitas-2 sesat dari
mereka, seperti anti (merendahkan) terhadap wanita.

Bagi Gereja menghilangkan larangan selibat merupakan masalah
yang amat pelik, bukan karena persoalan filsafat teologis ataupun
disiplin, melainkan karena menyangkut soal harta, kekuasaan dan
kerahasiaan (dari kebusukan) Gereja. Umum mengetahui, meskipun
sebagian besar umat manusia di bumi dalam keadaan melarat luar
biasa, Gereja Katolik memiliki kekayaan yang luar biasa besarnya.
Gereja merahasiakan kekayaan mereka. Mengapa? Sebab tidak sedikit
dari harta tersebut yang diperoleh dengan cara yang tidak syah,
misalnya terdapat alegasi bahwa Gereja menampung harta milik
orang-orang Yahudi yang dirampas oleh Nazi dan koloberatornya,
dan alegasi Gereja menerima sumbangan dari koruptor-2 dan 
penindas besar dunia. Berbeda dengan Islam, agama Katolik tidak
mengenal istilah wakaf (harta yang dihibahkan ke agama dus tidak
dihaki oleh pihak manapun baik perorangan ataupun group/organisasi).
Harta Gereja adalah milik Gereja. Sekali lagi Gereja bukanlah
agama melainkan suatu organisasi dari sekelompok laki-laki yang
punya perut dan penis.

Memperbolehkan klerik (imam) Katolik menikah seperti layaknya
manusia normal yang bermartabat dan berbudaya luhur adalah
ancaman besar terhadap kekayaan Gereja. Mitos yang mengatakan
bahwa imam yang berkeluarga akan menyebabkan pelayanan mereka
kepada Allah dan masyarakat terbagi-bagi adalah nonsense!
Kenyataannya adalah bahwa imam yang menikah berarti memerlukan
nafkah untuk keluarganya(istri dan anak). Gereja tidak ingin
memberi nafkah kepada wanita (istri) dan anak-anak! Bagaimana
mungkin suatu organisasi yang tidak mau memikul tanggung-jawab
kemanusiaan yang amat basik ini bisa gembar-gembor mengenai
pelayanan terhadap Allah dan sesama?!. Kenyataan menunjukkan
bahwa mereka memakai umat(termasuk anak-anak!)dan bawahan mereka
seperti biarawati untuk memenuhi their f**king need secara gratis!
Manusia biasakah mereka? Tidak!! Orang yang menipu masyarakat
dengan klaim selibat dan memakai posisi dan kekuasaannya untuk
melakukan sex abuse seperti me-sodomi puluhan anak-anak dan
masih menuntut untuk dilindungi, simpati dan dijaga nama baiknya
adalah bukan manusia biasa! Bakteri Coli pun masih lebih punya
martabat dibanding mahluk seperti itu. 

Mengapa saya amat keras terhadap mereka?. Simpel saja, karena
saya mau bertindak fair. Misalnya saja saya menyaksikan seorang
maling picisan yang dihajar masyarakat habis-habisan bahkan
akhirnya mati sebelum sampai ke kantor polisi hanya karena mencoba
mengambil mesin jahit. Saya pernah mengobati seorang wanita yang
dipermak masyarakat sampai luka "arang keranjang" karena tuduhan
mencopet, dan lain lain. Kejahatan klerik-2 Katolik adalah luar
biasa licik dan kejinya dan terhadap anak-anak lagi (banyak pula
kasus kejahatan klerik Katolik terhadap para ibu, wanita, gadis
dan biarawati yang amat memilukan yang belum diekspose selayaknya),
Injil sendiri menyebutkan barang siapa merusak anak-anak ganjarannya
adalah diceburkan kelaut dengan bandul besi dilehernya. Haruskah
saya bersimpati dan membela mereka?. Banyaknya umat Katolik yang
bereaksi membela mereka hanya memperkuat dugaan yang ada, bahwa
sesungguhnya umat beragama yang paling fanatik buta bukanlah umat
Islam melainkan umat Katolik. Umat Islam yang fanatik berjihad
secara buta dengan dalih membela ajaran Islam. Umat Katolik yang
fanatik berjihad secara membuta membela para Pastor kriminal yang
secara keji, licik dan pengecut telah merusak kesusilaan, martabat,
hargadiri dan masa depan dari anak-anak dan wanita.       

Apakah saya membenci mereka?. Perasaan saya terhadap mereka adalah
muak! Sikap 'welas-asih' saya, saya tujukan kepada pihak korban
bukan pihak pelaku (dan seluruh komplotannya). I know exactly
what I'm saying. Saya tidak takut dengan resikonya. Sudah sejak lama
saya mendapat ancaman dari pihak Katolik. Ancaman tidak akan menutup
mulut saya!. Juga bukan tugas dan kewajiban saya untuk memperbaiki
Gereja. Demikian pula, sebagai manusia biasa yang mempunyai istri
dan anak, banyak hal yang sangat berharga yang harus saya urusi dari
pada sekedar menghancurkan Gereja. Namun justru sebagai manusia biasa,
dalam diri saya tumbuh kecintaan dan tanggung-jawab terhadap sesama,
anak-anak dan wanita. Apa bila mereka menjadi korban tindakan kriminal
yang keji dari siapapun terutama dari klerik Katolik yang telah
mengambil banyak keuntungan dari masyarakat dengan klaim selibat-
tipuan maka saya tidak tinggal diam.   

Salam
Eko Raharjo

florensia_octaviana wrote:

> Pak Eko,
> Menarik sekali tulisan anda kali ini. Bagus buat bahan refleksi saya
> sebagai umat katolik. Memang tidak sepatutnya terlalu memanjakan para
> imam atau para uskup dengan hal-hal duniawi yang berlebihan� masuk
> akal kalau akhrinya mereka bisa jadi manja dan lupa diri. Mereka
> masih manusia.
> Saya menyukai tulisan anda terlebih karena dengan begitu saya &
> semoga banyak pembaca yang juga tersentuh hatinya untuk "berubah-
> sikap" dari sikap yang mengagungkan para kleris sebagai manusia
> setengah dewa menjadi melihat mereka sebagai manusia biasa yang
> sedang bersama kita berziarah mengarungi hidup ini dan memandang
> Tuhan sebagai sang awal & sang akhir tujuan hidup kita, bedanya
> mereka menjalani pilihan hidupnya dengan cara yang unik. Maka
> sepantasnya kita dukung mereka bukan dengan "kemanjaan duniawi"
> melainkan dengan doa supaya Tuhan sungguh berkarya melalui orang-
> orang baik yang dipilih-Nya.
> Pak Eko dan teman-teman pembaca, mohon maaf kalau saya menggunakan
> pilihan kata-kata yang saya pilih sendiri jadi mungkin sedikit asing.
> Saya memilih kata mengagungkan karena banyak diantara kami umat
> katolik memandang para kleris secara berlebihan, mereka suci, mereka
> beda, mereka berkorban dan bermati raga untuk kerajaan Allah.
> Walaupun memang kenyataannya betul begitu setidaknya janji awal
> mereka seperti itu tapi tidaklah layak kita terlalu berlebihan
> menghormati mereka, menurut saya ini semacam obat bius yang meracuni
> sikap mental para kleris untuk kemudian lupa pada apa dan siapa
> mereka ini. Kemanjaan duniawi saya pilih karena, semestinya para imam
> itu hidup sederhana dengan makan tiap hari dari ransum umat secara
> bergiliran, berjubah sebagai lambang hanya baju itu yang mereka
> miliki. Namun pada kenyataannya mereka begitu modis, dengan batik-
> batik sutra, jam tangan Omega paling mutakhir, pegang HP, kamar
> tidurnyapun ber-ac, bahkan ada yang minta dibelikan mobil baru
> sebelum memulai tugas disebuah paroki.  Biasanya barang-barang itu
> adalah hadiah dari anggota jemaat kaya yang sebetulnya merupakan
> ungkapan cinta umat pada imamnya. Kalau keterlaluan memang akhirnya
> ini membuat para kleris tersesat. (Saya mengambil benda-benda diatas
> sebagai contoh karena saya berasal dari paroki miskin disebuah desa
> di jawa tengah yang masih memandang mobile-phone, ac, batik sutra dan
> jam tangan GUCI adalah barang-barang mewah � ini bisa jadi tidak
> relevan didaerah lain). Jadi mungkin betul bahwa baik-buruknya imam
> disuatu tempat sungguh sangat tergantung dari umat dimana mereka
> hidup. Maaf saya tidak terlalu memfokuskan pemikiran pada sex-abuser,
> saya ingin menyoroti dari hal-hal yang paling sederhana yang saya
> alami. Issue yang diangkat Pak Eko kali ini barangkali bisa jadi
> muara dari hal-hal kecil yang telah saya coba ungkapkan diatas.
> Saya agak merasa rikuh menggunakan lagi kata generalisasi karena
> rupanya Pak Eko sangat tidak menyetujuinya. Tapi betul disamping
> banyak kleris yang kacau itu masih banyak imam-imam kami yang punya
> niatan luhur mengabdikan diri untuk Gereja semesta dan umat manusia
> seluruh dunia.
> Terima kasih untuk perhatian Pak Eko pada keadaan Gereja Katolik
> dewasa ini, saya kira memang layak kita semua berefleksi kembali
> untuk kemudian mengambil langkah yang lebih baik dimasa mendatang.
> Kalau boleh tahu Pak Eko, apa yang menyebabkan anda begitu kelihatan
> sangat membeci Gereja Katolik sampai tega menyamakannya dengan rokok?
> Pak Eko apa punya alternative siapa dan kelompok mana mau berkarya
> seperti yang Gereja lakukan? Kata orang bijak, konon kalau kita tidak
> puas dengan sebuah institusi besar yang biasanya ketat dan kaku
> apalagi tua, adalah lebih mudah untuk bersikap rendah hati untuk
> menerima segala keputusan daripada memberontak dan membangun
> institusi baru, karena ketika ia muncul maka tenaga kita akan
> tercurah didalamnya untuk melakukan hal-hal yang sama dengan sesuatu
> yang tadinya kita tentang � mohon Pak Eko juga membuka diri untuk
> melihat karya-karya kami untuk kaum miskin dan terbelakang, tentu
> kita belum lupa pada karya Ibu Teresa dari Calcuta, bukan? Ini
> sebetulnya salah satu dari misi gereja kami untuk membuat bumi ini
> makin layak dihuni. (ini juga kelemahan saya, BANGGA DIRI!! � bisa
> menyesatkan juga :)
> Pak Eko yang baik, semoga ini tidak anda anggap sebagai pembelaan
> dari pihak kami lagi. Kami mengakui dengan rendah hati kelemahan yang
> terjadi di Gereja kami sebagai institusi akhir-akhir ini, kemunafikan
> seperti yang anda angkat mungkin memang betul adanya, dan rasanya
> saya pernah sampaikan juga bahwa kalau si novelis Umberto Eco
> bercerita benar, hal-hal seperti itu telah terjadi beratus tahun.
> Pertanyaan yang penting: lalu mau apa kita dengan keadaan itu?
> Menghacurkannya? Apa akibat dari pilihan-pilihan yang kita buat? Atau
> mungkin Pak Eko sudah cukup puas membeberkan data-data itu lalu
> berharap banyak orang membeci Gereja Katolik dan para klerisnya
> seperti anda, tanpa memberikan alternatif pemecahan masalah?
> Salam dari Bali � Florensia

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 544
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke