Assalaamu'alaikum, Salam Sejahtera
Saya agak terganggu dengan diskusi lontaran Eko Raharjo ini. Seharusnya Eko cukup sensitif bahwa milis Undip ini mempunyai anggota berlatar belakang agama. Bila ada tulisan menyinggung kelompok agama lain, terlepas tersebut benar atau tidak, seharusnya Eko cukup mengerti dan bijaksana untuk menghentikan diskusi tsb, terlepas dr pendapat Eko sendiri yg memandang hal tsb tidak bersangkutan langsung dengan keagamaan. Apalagi sudah cukup banyak member lain yg mengeluhkan Eko ini.
Ada banyak milis lain yg lebih sesuai untuk itu rasanya. Kalau lontaran anda tidak laku dan tidak disukai, mohon ya jangan dipaksakan untuk menyodorkannya untuk dibaca dan diterima member lain. Kasarnya, jangan kirim email serupa lagi kemilis ini. Karena saya sebagai muslim pun, saya malu dengan tulisan semacam itu apalagi pada tempat yg kurang pas.
Saya sebagai rekan memohonkan pemaafan buat Eko kepada rekan lain yg tidak berkenan. Sayang rasanya bila milis pemersatu ini sempat ternodai hal sedemikian. Untuk diskusi semacam itu Eko bisa mengundang member yg mau saja untuk diskusi tertutup lewat jalur pribadi, atau milis pribadi, atau milis yg semua membernya memperkenankan itu.
Mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.
salam
rochim
BAGUS SASMITO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Reply-To: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [UNDIP] Re:Gereja Melindungi Kriminal (3) Date: Thu, 11 Jul 2002 21:34:00 -0600 Ibu Florensia Yth, Terimakasih atas tanggapan anda yang simpatik dan mawas diri. Hal ini mungkin karena anda adalah seorang wanita (atau paling tidak bersikap seperti seorang wanita). Gereja tidak bisa diharapkan bereaksi seperti anda, sebab salah satu cacat utama dari Gereja adalah wanita tidak diberi tempat dalam sistem dan power structure mereka. Kalaupun selibat dihilangkan tidak akan berarti Gereja otomatis menjadi suatu organisasi yang sehat dan normal, kecuali kalau Gereja mau merubah pandangan-2 dan mentalitas-2 sesat dari mereka, seperti anti (merendahkan) terhadap wanita. Bagi Gereja menghilangkan larangan selibat merupakan masalah yang amat pelik, bukan karena persoalan filsafat teologis ataupun disiplin, melainkan karena menyangkut soal harta, kekuasaan dan kerahasiaan (dari kebusukan) Gereja. Umum mengetahui, meskipun sebagian besar umat manusia di bumi dalam keadaan melarat luar biasa, Gereja Katolik memiliki kekayaan yang luar biasa besarnya. Gereja merahasiakan kekayaan mereka. Mengapa? Sebab tidak sedikit dari harta tersebut yang diperoleh dengan cara yang tidak syah, misalnya terdapat alegasi bahwa Gereja menampung harta milik orang-orang Yahudi yang dirampas oleh Nazi dan koloberatornya, dan alegasi Gereja menerima sumbangan dari koruptor-2 dan penindas besar dunia. Berbeda dengan Islam, agama Katolik tidak mengenal istilah wakaf (harta yang dihibahkan ke agama dus tidak dihaki oleh pihak manapun baik perorangan ataupun group/organisasi). Harta Gereja adalah milik Gereja. Sekali lagi Gereja bukanlah agama melainkan suatu organisasi dari sekelompok laki-laki yang punya perut dan penis. Memperbolehkan klerik (imam) Katolik menikah seperti layaknya manusia normal yang bermartabat dan berbudaya luhur adalah ancaman besar terhadap kekayaan Gereja. Mitos yang mengatakan bahwa imam yang berkeluarga akan menyebabkan pelayanan mereka kepada Allah dan masyarakat terbagi-bagi adalah nonsense! Kenyataannya adalah bahwa imam yang menikah berarti memerlukan nafkah untuk keluarganya(istri dan anak). Gereja tidak ingin memberi nafkah kepada wanita (istri) dan anak-anak! Bagaimana mungkin suatu organisasi yang tidak mau memikul tanggung-jawab kemanusiaan yang amat basik ini bisa gembar-gembor mengenai pelayanan terhadap Allah dan sesama?!. Kenyataan menunjukkan bahwa mereka memakai umat(termasuk anak-anak!)dan bawahan mereka seperti biarawati untuk memenuhi their f**king need secara gratis! Manusia biasakah mereka? Tidak!! Orang yang menipu masyarakat dengan klaim selibat dan memakai posisi dan kekuasaannya untuk melakukan sex abuse seperti me-sodomi puluhan anak-anak dan masih menuntut untuk dilindungi, simpati dan dijaga nama baiknya adalah bukan manusia biasa! Bakteri Coli pun masih lebih punya martabat dibanding mahluk seperti itu. Mengapa saya amat keras terhadap mereka?. Simpel saja, karena saya mau bertindak fair. Misalnya saja saya menyaksikan seorang maling picisan yang dihajar masyarakat habis-habisan bahkan akhirnya mati sebelum sampai ke kantor polisi hanya karena mencoba mengambil mesin jahit. Saya pernah mengobati seorang wanita yang dipermak masyarakat sampai luka "arang keranjang" karena tuduhan mencopet, dan lain lain. Kejahatan klerik-2 Katolik adalah luar biasa licik dan kejinya dan terhadap anak-anak lagi (banyak pula kasus kejahatan klerik Katolik terhadap para ibu, wanita, gadis dan biarawati yang amat memilukan yang belum diekspose selayaknya), Injil sendiri menyebutkan barang siapa merusak anak-anak ganjarannya adalah diceburkan kelaut dengan bandul besi dilehernya. Haruskah saya bersimpati dan membela mereka?. Banyaknya umat Katolik yang bereaksi membela mereka hanya memperkuat dugaan yang ada, bahwa sesungguhnya umat beragama yang paling fanatik buta bukanlah umat Islam melainkan umat Katolik. Umat Islam yang fanatik berjihad secara buta dengan dalih membela ajaran Islam. Umat Katolik yang fanatik berjihad secara membuta membela para Pastor kriminal yang secara keji, licik dan pengecut telah merusak kesusilaan, martabat, hargadiri dan masa depan dari anak-anak dan wanita. Apakah saya membenci mereka?. Perasaan saya terhadap mereka adalah muak! Sikap 'welas-asih' saya, saya tujukan kepada pihak korban bukan pihak pelaku (dan seluruh komplotannya). I know exactly what I'm saying. Saya tidak takut dengan resikonya. Sudah sejak lama saya mendapat ancaman dari pihak Katolik. Ancaman tidak akan menutup mulut saya!. Juga bukan tugas dan kewajiban saya untuk memperbaiki Gereja. Demikian pula, sebagai manusia biasa yang mempunyai istri dan anak, banyak hal yang sangat berharga yang harus saya urusi dari pada sekedar menghancurkan Gereja. Namun justru sebagai manusia biasa, dalam diri saya tumbuh kecintaan dan tanggung-jawab terhadap sesama, anak-anak dan wanita. Apa bila mereka menjadi korban tindakan kriminal yang keji dari siapapun terutama dari klerik Katolik yang telah mengambil banyak keuntungan dari masyarakat dengan klaim selibat- tipuan maka saya tidak tinggal diam. Salam Eko Raharjo florensia_octaviana wrote: > Pak Eko, > Menarik sekali tulisan anda kali ini. Bagus buat bahan refleksi saya > sebagai umat katolik. Memang tidak sepatutnya terlalu memanjakan para > imam atau para uskup dengan hal-hal duniawi yang berlebihan� masuk > akal kalau akhrinya mereka bisa jadi manja dan lupa diri. Mereka > masih manusia. > Saya menyukai tulisan anda terlebih karena dengan begitu saya & > semoga banyak pembaca yang juga tersentuh hatinya untuk "berubah- > sikap" dari sikap yang mengagungkan para kleris sebagai manusia > setengah dewa menjadi melihat mereka sebagai manusia biasa yang > sedang bersama kita berziarah mengarungi hidup ini dan memandang > Tuhan sebagai sang awal & sang akhir tujuan hidup kita, bedanya > mereka menjalani pilihan hidupnya dengan cara yang unik. Maka > sepantasnya kita dukung mereka bukan dengan "kemanjaan duniawi" > melainkan dengan doa supaya Tuhan sungguh berkarya melalui orang- > orang baik yang dipilih-Nya. > Pak Eko dan teman-teman pembaca, mohon maaf kalau saya menggunakan > pilihan kata-kata yang saya pilih sendiri jadi mungkin sedikit asing. > Saya memilih kata mengagungkan karena banyak diantara kami umat > katolik memandang para kleris secara berlebihan, mereka suci, mereka > beda, mereka berkorban dan bermati raga untuk kerajaan Allah. > Walaupun memang kenyataannya betul begitu setidaknya janji awal > mereka seperti itu tapi tidaklah layak kita terlalu berlebihan > menghormati mereka, menurut saya ini semacam obat bius yang meracuni > sikap mental para kleris untuk kemudian lupa pada apa dan siapa > mereka ini. Kemanjaan duniawi saya pilih karena, semestinya para imam > itu hidup sederhana dengan makan tiap hari dari ransum umat secara > bergiliran, berjubah sebagai lambang hanya baju itu yang mereka > miliki. Namun pada kenyataannya mereka begitu modis, dengan batik- > batik sutra, jam tangan Omega paling mutakhir, pegang HP, kamar > tidurnyapun ber-ac, bahkan ada yang minta dibelikan mobil baru > sebelum memulai tugas disebuah paroki. Biasanya barang-barang itu > adalah hadiah dari anggota jemaat kaya yang sebetulnya merupakan > ungkapan cinta umat pada imamnya. Kalau keterlaluan memang akhirnya > ini membuat para kleris tersesat. (Saya mengambil benda-benda diatas > sebagai contoh karena saya berasal dari paroki miskin disebuah desa > di jawa tengah yang masih memandang mobile-phone, ac, batik sutra dan > jam tangan GUCI adalah barang-barang mewah � ini bisa jadi tidak > relevan didaerah lain). Jadi mungkin betul bahwa baik-buruknya imam > disuatu tempat sungguh sangat tergantung dari umat dimana mereka > hidup. Maaf saya tidak terlalu memfokuskan pemikiran pada sex-abuser, > saya ingin menyoroti dari hal-hal yang paling sederhana yang saya > alami. Issue yang diangkat Pak Eko kali ini barangkali bisa jadi > muara dari hal-hal kecil yang telah saya coba ungkapkan diatas. > Saya agak merasa rikuh menggunakan lagi kata generalisasi karena > rupanya Pak Eko sangat tidak menyetujuinya. Tapi betul disamping > banyak kleris yang kacau itu masih banyak imam-imam kami yang punya > niatan luhur mengabdikan diri untuk Gereja semesta dan umat manusia > seluruh dunia. > Terima kasih untuk perhatian Pak Eko pada keadaan Gereja Katolik > dewasa ini, saya kira memang layak kita semua berefleksi kembali > untuk kemudian mengambil langkah yang lebih baik dimasa mendatang. > Kalau boleh tahu Pak Eko, apa yang menyebabkan anda begitu kelihatan > sangat membeci Gereja Katolik sampai tega menyamakannya dengan rokok? > Pak Eko apa punya alternative siapa dan kelompok mana mau berkarya > seperti yang Gereja lakukan? Kata orang bijak, konon kalau kita tidak > puas dengan sebuah institusi besar yang biasanya ketat dan kaku > apalagi tua, adalah lebih mudah untuk bersikap rendah hati untuk > menerima segala keputusan daripada memberontak dan membangun > institusi baru, karena ketika ia muncul maka tenaga kita akan > tercurah didalamnya untuk melakukan hal-hal yang sama dengan sesuatu > yang tadinya kita tentang � mohon Pak Eko juga membuka diri untuk > melihat karya-karya kami untuk kaum miskin dan terbelakang, tentu > kita belum lupa pada karya Ibu Teresa dari Calcuta, bukan? Ini > sebetulnya salah satu dari misi gereja kami untuk membuat bumi ini > makin layak dihuni. (ini juga kelemahan saya, BANGGA DIRI!! � bisa > menyesatkan juga :) > Pak Eko yang baik, semoga ini tidak anda anggap sebagai pembelaan > dari pihak kami lagi. Kami mengakui dengan rendah hati kelemahan yang > terjadi di Gereja kami sebagai institusi akhir-akhir ini, kemunafikan > seperti yang anda angkat mungkin memang betul adanya, dan rasanya > saya pernah sampaikan juga bahwa kalau si novelis Umberto Eco > bercerita benar, hal-hal seperti itu telah terjadi beratus tahun. > Pertanyaan yang penting: lalu mau apa kita dengan keadaan itu? > Menghacurkannya? Apa akibat dari pilihan-pilihan yang kita buat? Atau > mungkin Pak Eko sudah cukup puas membeberkan data-data itu lalu > berharap banyak orang membeci Gereja Katolik dan para klerisnya > seperti anda, tanpa memberikan alternatif pemecahan masalah? > Salam dari Bali � Florensia -------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 544 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.idPak Eko dan Ibu Florensia yth,
Gereja, dalam agama KATOLIK ROMA (bukan Kristen Katolik) memiliki 2 (dua) arti yang sudah dimengerti oleh umatnya, yaitu Gereja adalah sekumpulan orang yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus (Isa Al Masih), kemudian yang kedua, gereja adalah tempat berkumpulnya sekelompok orang (beragama Kristen atau Katolik) untuk beribadat kepada Tuhan.
Mungkin yang dimaksud oleh Pak Eko adalah gereja sebagai tempat ibadat, di mana dalam gereja ada pemimpin umat dan umatnya (Betul ?). Sebab seandainya yang dimaksud Pak Eko adalah Gereja dalam arti non fisik, berarti Pemimpin Gereja yang dituliskan melakukan tindakan-tindakan amoral tersebut adalah Yesus Kristus itu sendiri, karena Pemimpin Gereja adalah Yesus Kristus. Sehingga, saya kurang setuju bahwa gereja dianggap sebagai suatu organisasi dari sekelompok laki-laki yang punya perut dan penis. SEKALI LAGI, TIDAK ADA DEFINISI LAIN SELAIN KEDUA DEFINISI DI ATAS.
Kemudian tentang kehidupan 'menyendiri' para Pastor, disebabkan mereka terikat kaul-kaul, yang antara lain adalah tidak menikah dan tidak memiliki kekayaan. Mengenai penyimpangan yang terjadi terhadap gereja katolik, seperti yang dibeberkan oleh Pak Eko, itu katolik mana ??? Ada dua aliran katolik besar yang ada di dunia, KATOLIK ROMA dan KATOLIK ORTODOX. Sedangkan di Indonesia sendiri, yang ada adalah KATOLIK ROMA yang kebetulan minoritas dan selalu menjadi sorotan (mungkin juga ditekan), tanpa pernah mau ditengok sisi baiknya.
Salam,BAGUS S.
From: Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>
MSN Photos is the easiest way to share and print your photos: Click Here
-------------------------- Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2 to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 547 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
Do You Yahoo!?
Yahoo! Autos - Get free new car price quotes
