Oke... Kalau "melihat" harus diartikan (sebagian umat) dengan menggunakan mata telanjang, ini mah bukan lagi prinsip kehati-hatian lagi. Justru penggunaan mata telanjang itu banyak biasnya karena ini berkaitan dengan persoalan alam. Ambil contoh adalah fenomena fatamorgana di gurun pasir. Kalau digunakan alat yang baik tentu akan dengan mudah terdeteksi fenomena itu. Lha karena hanya mengandalkan mata telanjang yah....Makanya sudah ada alat yang canggih mengapa tidak dipergunakan. Kalau bukan anti teknologi, apa ya bahasanya yang tepat.
Masak sudah lebih dari lima belas abad masalah penentuan kalendar nggak selesai-selesai. Namun inilah dinamika kehidupan. Baiknya yang mau demikian ya silakan, yang mau pakai teknologi ya silakan. Asal saja nanti nggak saling menyalahkan yang miliknya paling benar dan yang bukan miliknya pasti salah. Namun kondisi ini kok masih jauh dari kenyataan ya. Solusinya sebenarnya ada pada konsensus antara ulama dan umaro. Sayangnya konsensus itu sering berakhir dengan masing-masing jalan sendiri-sendiri karena keyakinannya. Inilah yang sekarang terjadi dimana-mana tidak hanya di Indonesia namun juga di Amerika. Kalau di Amerika lebih unik lagi, ada yang berkiblat ISNA (organisasi Islam Amerika Utara), ada yang saklek mengikuti Arab Saudi, ada yang saklek mengikuti negaranya dimana orang tersebut berasal. Hasilnya suatu saat salat ied sampai diadakan 3 hari berturut-turut. Sayangnya saya belum pernah membaca studi ilmiah tentang ini. Semuanya berakhir pada keyakinan masing-masing. Kalau sudah begini pasti akan tidak ada ruang untuk berdiskusi.... OKE...selamat berpuasa bagi umat Islam di net ini. Pada tanggal 12 November nanti mestinya menjadi ajang yang baik untuk mempererat dan mempersatukan anak bangsa sebab pas tanggal itu adalah sebulan Bali Blast. Alangkah indahnya kalau tanggal itu mesjid, gereja, vihara, kuil dan tempat persembahyangan lain di Indonesia dipakai sebagai ajang perenungan Bali Blast sekaligus menutup duka. Dan Indonesia Bangkit. Beranikah pemerintah Indonesia mengatakan "You are with us or with the terrorists". Salam dari Kanada. IW >===== Original Message From "Benny Ohorella" <[EMAIL PROTECTED]> ===== >Kalau 1 Ramadhan dan 1 Syawal atau penanggalan hijriah lainnya >tidak klop terhadap umat Islam yang tinggal dalam lingkungan geografis >yg berbeda sebenarnya nggak apa-apa, karena memang perpindahan >tanggal bergantung visibilitas bulan (atau tepatnya hilal, bulan sabit >tipis) >dari tempat tersebut. Selain itu perlu disadari batas antar tanggal dalam >hari-hari Hijriah tidaklah selalu tetap dan tegak lurus seperti batas >tanggal >hari-hari Masehi. > >Perbatasan tanggal hari-hari Hijriah dinamis dan berbentuk seperti peta >visibilitas gerhana (pernah lihat?) Makanya Rasulullah selalu memerintahkan >"melihat" untuk mengetahui bulan baru karena kedinamisan ini. Kemajuan >teknologi saat ini sebenarnya sudah bisa menghitung dengan teliti dinamika >pergeseran batas tanggal ini apalagi dibantu berbagai fasilitas peneropongan >bintang dan satelit yang bertebaran di segala penjuru bumi (dan luar bumi). >Tetapi sebagian umat menganggap perintah Rasulullah "melihat" adalah >harfiah, >harus melihat sebagaimana seseorang melihat langit di zaman Rasulullah yaitu >dengan mata telanjang, apalagi ada hadits yang menyatakan bila saat >pengamatan >bulan tidak terlihat (entah karena terlalu tipis, tertutup awan atau sebab >astronomis >lain) maka bulan Hijriah saat itu dicukupkan menjadi 30. Jika dilakukan >dengan >alat-alat canggih tsb maka tidak ada alasan menggunakan hadits tadi. Ada yg >menganggap hal ini tidak apa-apa krn menganggap hadits ini adalah alat >penyelamat >dalam keadaan darurat sehingga kalau tidak terjadi ya nggak apa-apa nggak >usah >dipakai tetapi ada yg menganggap bahwa hadits tersebut mengisyaratkan cara >melihat >harus seperti yg dilakukan di zaman Rasulullah. > >Umat Islam tidak anti teknologi, hanya sikap kehati-hatian sebagian umat >saja >yang membuat mereka takut untuk menggunakan sesuatu yang berbeda dari >yang ditetapkan dalam Al Qur'an atau Hadits. > >Adzan dengan loudspeaker, memangnya ada masalah? > > > >----- Original Message ----- >From: Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> >To: ** MILIS UNAIR <[EMAIL PROTECTED]>; ** MILIS UNDIP <[EMAIL PROTECTED]>; >Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Sunday, November 03, 2002 12:30 AM >Subject: RE: [UNDIP] Kesalahan dalam Penulisan Imsyakiah Ramadhan > > >> Good Point Mas Nasrullah Idris. >> >> Sekarang saya ganti tanya. Kenapa tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal bagi >sebagian >> umat tidak klop? Padahal dengan kemampuan teknologi saat ini semuanya itu >bisa >> diperkirakan. Apakah (sebagian) umat Islam anti teknologi?? Lalu, >bagaimana >> azan yang menggunakan loudspeaker? Apakah itu juga diperbolehkan? >> >> Saya tunggu jawabannya. >> >> IW >> >> >===== Original Message From "Nasrullah Idris" <[EMAIL PROTECTED]> >===== >> >Kesalahan dalam Penulisan Imsyakiah Ramadhan >> > >> > Mungkin anda pernah menerima imsyakiah Ramadhan dengan tabel sebagai >> >berikut : >> > >> >Tgl, Imsyak, Shubuh, dan seterusnya .... >> >1 Ramadhan >> >2 Ramadhan >> >dan seterusnya >> > >> > Sebagian orang akan mengartikannya sebagai 1 Ramadhan, 1 Ramadhan, >dan >> >seterusnya. >> > Bagi saya, ini bisa membingungkan. Kenapa? >> > Soalnya pergantian tanggal dalam tahuh hijrah bukan jam 00.00 >(malam >> >hari), tetapi siang hari. Jadi bisa saja ketika >> >menjalankan puasa pertama, pada waktu sholat Ashar, kita sudah memasuki >> tanggal >> >2 Ramadhan. Ini terjadi karena waktu puasa kita >> >bukan berdasarkan peredaran bulan, melainkan matahari. Kita kan tidak >> mengenal >> >kalimat ".... berpuasa sampai bulan terbenam". >> > Karena itu sebaiknya Imsyakiah ditulis dengan susunan seperti >(seperti >> >untuk tahun ini) >> > >> >Tgl, Imsyak, Shubuh, dan seterusnya .... >> >6 Desember >> >7 Desember >> >dan seterusnya >> > >> > Rasanya masalah ini perlu dibahas lebih lanjut. >> > >> >Wassalam >> > >> >Nasrullah Idris >> > >> > >> > >> >--------------------------------------------------------------------- >> >Milis Archive: http://archive.undip.ac.id >> >to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #194 >> >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> >> --------------------------------------------------------------------- >> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id >> to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #195 >> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id >> >> >> --------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #196 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
