Salah satu tulisan bung Prie GS yang menarik.
Keberanian menelanjangi rasa 'wirang' dari diri
sendiri adalah suatu tanda kematangan dari
kepribadian orang.
Eko

Menunggu Parsel Tiba
Oleh Prie GS

Malu sebetulnya menulis pengalaman ini, tapi biarlah.
Berlatih mengkarapi malu itu penting. Tujuannya jelas, agar
kita tidak gampang dipermalukan. Ada banyak orang yang
telah sanggup mengatasi rasa malunya secara mengagumkan.
Saya iri melihat orang semacam itu. Jika orang lain kikuk,
ia tidak. Jika orang lain merah padam, ia rileks. Jika
orang lain tabu melakukan, baginya malah menjadi objek
kegembiraan. Jadi enak betul.

Pengalaman berikut ini menyangkut soal parsel. Sudah lama
saya memiliki standar ganda terhadap barang satu ini.
Standar pertama adalah rasa ngeri. Di mata saya, parsel itu
sejenis resepsionis hotel atau pramugari. Keramahannya
dahsyat dan menggoda kita untuk salah paham. Tapi hanya
karena mengginap tidak bayar, sebuah hotel bisa mengirim
kita ke kamar tahahan. Jadi ada semacam keramahan yang
menakutkan. Parsel dan pramugari juga begitu.

Mereka menempatkan diri kita menjadi seolah-olah penting,
sepanjang cocok bayarannya. Jadi ada jenis kehormatan
bayaran. Ini mencemaskan, karena ketika kita tidak sanggup
lagi membayar, kepentingan itu lenyap scara otomatis.
Ketika seorang pejabat pensiun, parsel-parsel itu juga akan
menipis dan lenyap dari alamatnya.

Jika merujuk pada standar pertama, sudah semestinya saya
perlu menjauhi tipuan hidup semacam itu. Saya tidak mau
terjebak menjadi seolah-olah penting tapi sesungguhnya
tidak penting. Karena ketika baju kepentingan saya ini
dilucuti, tampak jelaslah betapa sesungguhnya memang tidak
ada yang penting dalam diri ini. Belajar untuk tidak
tertipu sajak awal saya kira menarik untuk dihayati. Maka
jika tidak ada parsel tiba pun saya berjanji tidak aka
kecewa. Saya toh bukan orang penting, jadi santai saja.

Tapi siapa menyangka akan begitu gampang menjadi orang
tidak penting. Ada saja semangat untuk menjadi penting.
Meskipun sudah menyiapkan diri menjadi orang tidak penting,
tapi ketika ada saja teman yang menganggap saya penting,
kok senang juga. Nyatanya, ketika istri saya menerima
telepon yang mengonfirmasi alamat karena hendak ada parsel
datang, saya bergairah juga. ''Tuh kan, bapakmu ini
jelek-jelek juga penting,'' kata saya kepada anak-anak.

Demi melihat bapaknya sok penting, anak-anak jadi terhasut
juga. Mereka sudah berteriak-teriak gembira. Belum juga si
penelopn meletakkan gagang teleponnya, anak-anak ini sudah
menghambur ke balik pintu, siap menunggu kalau-kalau parsel
itu akan datang secepat yang mereka duga. Aduh, menyesal
juga membocorkan perasaan sok penting ini kepada anak-anak.
Benar pula standar pertama saya tentang parsel tadi,
standar kengerian itu. Karena baru saja sikap sok penting
ini diperagakan, seketika itu pula ia langsung menelan
korban.

Melihat anak-anak dengan khusuk berdiri di tepi jendela,
setap kali tegang jika terdengar suara mobil datang, dan
pucat pasi ketika mobil itu melaju pergi, adalah
pemandangan yang menyedihkan. Mereka tak cukup terhibur
ketika dikabarkan parsel itu baru akan datang esok hari.
Hanya dengan bujukan yan keras anak-anak ini mau kompromi
dan mau beranjak dari jendela mereka.

Esok hari, situasi menjadi lebih menegangkan lagi. Parsel
itu belum juga tiba walau anak-anak sudah memperluas areal
ruang tunggunya hingga ke halaman. Kini mereka mulai
uring-ringan dan mendamprat orang tuanya sebagai pembohong
dan tidak bisa dipercaya. Hari kedua dan seterusnya, makin
buruk saja situasinya. Parsel itu tak kunjung datang juga.
Anak-anak benar-benar lelah. Adalah pemandangan yang
menyiksa, melihat anak-anak menghabiskan waktu liburannya
hanya untuk menunggu kedatangan parsel celaka itu.

Saya mulai tergoda untuk marah dan istri tergoda
uring-uringan. Ia mulai menyalahkan calon pengirim parsel
yang tidak serius itu. Saya ganti memarahinya kenapa ia
menyebar luaskan telpon itu kepada kami sekelurga. Merasa
diserang ia bertahan, bahwa ia cuma bercerita kepada saya,
tapi sayalah yang sesungguhnya memprovokasi anak-anak dan
membuat mereka menderita seperti ini.

Suasana rumah betul-betul menjadi tidak kondusif. Sebagai
ongkos kemarahan atas situasi ini, saya menempuh cara-cara
yang pernah dilakukan oleh tokoh konyol Mr Bean: membeli
parsel untuk kami kirim ke rumah kami sendiri, agar
anak-anak tidak murka. Parsel itu akhirnya datang,
sementara anak-anak begitu bergembira saya dan istri
cemberut luar biasa. Begitulah karma bagi orang yang sok
penting ini. Baru merasa sok saja sudah langsung diganjar
siksa.

Prie GS
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/priegs/priegs131.htm





--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1122
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke