Ibu Crys, Saya tidak di Amerika (USA) tapi di Kanada jadi saya tidak tahu mengenai adat istiadat disana mungkin bu Novi bisa cerita.
Kalau di Kanada, Calgary khususnya, komunitas Muslim Indonesia sangatlah kecil. Sejauh saya tahu tidak ada kirim-kiriman parsel. Paling tidak saya tidak pernah dapet dan tak pernah pula kasih. Mungkin berbeda keadaanya kalau di kota dimana para pejabat (konsulat/kedutaaan) bermukim seperti di Ottawa, Toronto dan Vancouver. Boleh jadi kebudayaan harap-mengharap, kirim-mengirim parsel dipraktekkan disana. Komunitas Muslim lain di Kanada seperti kelompok Arab, Pakistan, dst kelihatannya tidak punya kebudayaan kirim-kiriman parsel. Mereka kelihatannya lebih sibuk menggalang dana untuk membangun madarasah dan sejenisnya. Kebetulan Lebaran sekarang masih bersinggungan dengan perayaan Natal dari umat Kristen. Di Kanada khususnya di Calgary banyak kampanye dilancarkan untuk menyediakan parsel (shoe box) hadiah. Namun bukan untuk pejabat, atasan, relasi bisnis atau orang- orang mampu lain yang mampu membeli sendiri secara berlebihan semua hadiah tersebut. Melainkan kepada sesama yang berada di negera-negera yang tidak mampu seperti Indonesia. Disinilah anehnya, orang-orang mampu Indonesia mengeluarkan banyak uang untuk memberi hadiah kepada sesama orang mampu. Sedangkan sekian juta orang Indonesia yang tidak mampu hanya bisa mengharapkan belas-kasihan dari orang asing seperti orang Kanada. Ini memaksa saya berpikir lagi dari manakah kebudayaan parsel-parselan tsb dimulai. Kemungkinan besar adalah sudah merupakan tradisi kuno Indonesia sendiri yakni berakar dari tradisi pemberian upeti kepada penguasa- penguasa yang lebih atas dan kuat untuk menjaga hubungan baik. Dengan datangnya imigran Cina kemudian kemungkinan terjadi synergi dengan kebudayaan Ang Po (amplop merah). Apakah kebudayaan ini akan tetap lestari atau malah lebih marak tergantung dari generasi sekarang. Apa bila sikap dan mentalitas hidup orang Indonesia masih selalu dipenuhi rasa takut terhadap pejabat, atasan, orang lebih kuat, mampu, kaya maka tradisi parsel untuk menjaga hubungan baik (to appease them) adalah amat vital. Kalau generasi sekarang bisa punya sikap berpihak terhadap orang yang lemah dan tertindas dimana sesuai dengan prinsip Islam, ajaran Yesus dan nabi-nabi lain maka tak ada perlunya untuk memberi upeti kepada orang yang kaya dan berkuasa. Justru dalam alam demokrasi merekalah yang harus diminta pertanggung jawabannya untuk memberikan service (pelayanan) kepada rakyat, kaum bawah. Agar hidup mereka bisa sedikit diperingan. Salam Eko Raharjo Cryssanty Wibisono wrote: Pak Eko kalo saya lain soal nih pak.... Tiap lebaran saya selalu terima parcel dari rekanan2.... padahal hampir semuanya tahu bahwa saya non muslim.... tak pikir2 ya lumayan lah rejeki nomplok..... Tapi ngomong-ngomong yang namanya parcel itu kan adanya di indonesia ya .... apa di amrik sono juga ada parcel kalo lebaran gini....?? Salam, Cryss Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salah satu tulisan bung Prie GS yang menarik. Keberanian menelanjangi rasa 'wirang' dari diri sendiri adalah suatu tanda kematangan dari kepribadian orang. Eko Menunggu Parsel Tiba Oleh Prie GS Malu sebetulnya menulis pengalaman ini, tapi biarlah. Berlatih mengkarapi malu itu penting. Tujuannya jelas, agar > Part 1.1Type: Plain Text (text/plain) -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1124 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
