Cara "Legal" Aborsi Ilegal
Rumah bercat putih itu tampak bersih. Dua pohon
nangka di bagian kanan, menaungi pagar besi bercat hijau. Di teras, dua kursi
rotan kusam mengapit meja tak bertaplak. Bersih. Garasi, di sisi kanan rumah,
tertutup. Pintu rumah pun jarang terbuka. "Kalau mau bertama malam saja, Mas,"
kata tetangga sebelah rumah.
Para tetangga di Jalan Pnd Pedurungan itu tak ada yang tahu, rumah bercat
putih itu menyimpan rahasia. Pemiliknya, Bu Ris, perawat pada seorang dokter
di kawasan perumahan elite Tugu Muda. Ketika kami datang Kamis sore itu,
setelah janjian di malam sebelumnya, dia menyambut ramah. "Taksinya jalan
diminta menunggu. Nanti saya teleponkan kalau mau pulang," pintanya. Dia
meminta masuk, dan menutup pintu. Tak ada suara apa pun di rumah itu, sepi.
"Bapaknya anak-anak belum pulang. Anak saya kuliah di luar kota. Pembantu
sudah pulang jam 2 tadi," jelasnya.
Wanita itu masih memakai seragam perawatnya. "Saya baru sampai setengah jam
lalu. Banyak pasien tadi." Ia lalu pamit. Di ruang tamu itu, tak banyak
perabotan. Di dinding kanan, di atas teve, ada foto keluarga. Bu Ris, suami,
dan dua anaknya. Dia berkebaya. Mungkin itu foto lima tahun yang lalu. Ada
beda yang tegas di wajahnya, pipinya belum segemuk sekarang. Lehernya pun
belum bergelambir.
"Wajahnya keras. Aku takut," kata Novi, teman wanita yang bersama saya. Dia
datang memang untuk urusan penting. Saya hanya mengantarnya.
"Coba, sudah berapa bulan?" tiba-tiba wanita itu datang. Dia sudah berganti
pakaian, berkain. Tangannya membawa nampan, dua sirup merah, di gelas yang
berkabut.
Novi memandang saya, dan beringsut, mendekati Bu Ris. Wanita itu memegang
perut Novi, "Masih kecil. Udah telat berapa lama?"
"Tidak sampai satu bulan," jawab Novi.
"Sudah tes laboratorium?"
Novi mengangguk.
"Kalau masih kecil begini, gampang. Oh ya, dari siapa tahu kalau saya dapat
membantu," tanyanya.
"Dari Mbak Maria, Bu. Ia pasien Ibu dua bulan lalu, kasir di Citraland,"
jelas saya.
"Oh, dia. Betul. Waktu itu dia datang dengan suaminya ke sini. Katanya,
kesundulen, terlalu dekat jaraknya dengan si sulung. Berapa ya waktu
itu, kayaknya sudah hampir 3 bulan usia kandungannya. Kok bisa kenal,
Maria?"
"Oh, dia masih famili, Bu," saya berbohong. Dan, tampaknya dia tahu, dan
tak peduli. Dia cuma tersenyum, tipis. "Dulu Maria tahu ke sini karena Wiwied.
Itu pasien saya yang paling parah. Setahun 2 kali dia ke sini. Terakhir, usia
kandungannya sudah 6 bulan. Sudah bayi. Saya sampai berkeringat "ngerjainya".
Tapi, badannya Wiwied memang kuat. Kini dia sudah di Surabaya, dengan bule,
pacarnya." Wanita itu diam. Sepertinya dia sadar, terlalu banyak bicara.
"Untuk Wiwied, saya pasang harga tinggi. Apalagi dia kan pelacur," suaranya
datar. Saya berkeringat. "Ee... sebentar, Bu. Sakit tidak?" Saya menggenggam
tangan Novi saat menanyakan itu. "Ya lumayan. Tapi kalau masih kecil seperti
Mbak... siapa ya, tidak sakit, kok. Sebentar." "Dibius?"
"Tidak! Saya tidak mau Anda berlama-lama di sini, terbaring. Jika dibius,
terlalu lama waktu untuk sadar, dia juga akan lemas," katanya.
Novi saya lihat mulai takut. Ini memang harus dikelarkan, batin saya.
"Soal sakit atau tidak, gampanglah, Bu. Tapi harga, bagaimana? Ibu kan
tahu, seperti kata saya ditelepon kemarin, Novi ini masih mahasiswa, tentu
tidak bisa seperti Wiwied."
"Saya pasang tarif normal saja, Rp 900 ribu. Itu plus obat selama seminggu.
Sudah bawa pembalut, kan?" "Maaf, nggak bisa kurang, Bu?"
"Mana bisa? Ini beresiko. Anda boleh berpikir lagi. Waktu saya tidak
banyak. Nanti kalau sudah ada uangnya, baru kemari. Lagian, itu masih kecil,
kok." Ia berdiri. Kami pun berdiri, dan menyampirinya yang telah membuka
pintu. "Kalau sudah ada uangnya, langsung datang saja, nggak usah menelpon
lagi. Tunggu di depan saja, nanti taksi saya panggilkan dari dalam." Pintu
tertutup, setengah berdebam.
******
Praktek aborsi ilegal yang dilakukan Bu Ris terhitung banyak di Semarang.
Bahkan, sebuah rumah bersalin di Semarang Atas pun bersedia melakukan hal itu.
Tapi, dengan "pengamanan" yang sangat ketat, prosedural kedokteran yang lazim.
Beruntung, saya mendapat kesempatan menjadi saksi "permainan" ini.
Sore itu, dengan sejumlah prasyarat, saya dikenalkan Maria dengan,. sebut
saja, Ria (26), seorang pegawai. Berbeda dari Novi, Ria memang hamil, dan
bermaksud untuk menggugurkan kandungannya. "Aku rekomendasikan ke dokter
karena Ria berani bayar mahal, dan dia tak tahan sakit," tutur Maria.
Cantik, mungil, rambutnya merah-cat, panjang sebahu. Dadanya penuh, dengan
pinggang yang kecil. Dia mengenakan rok cukup panjang, sedikit di atas lutut.
Dan kaget waktu Maria mengenalkanku. "Kamu ke sana kudu bawa suami. Ini
temen aku, bisa dipercaya. Kalau tidak bawa suami, nanti terlalu banyak
pertanyaan." Ria hanya bisa pasrah.
Kami pun berangkat. Dokter yang dituju praktek di Jalan Ydtr, kawasan Tugu
Muda. Rumah yang asri, dua lantai dengan pagar tinggi. Banyak mobil beparkiran
saat kami tiba. Saya berjalan bersisihan dengan Ria, melewati pintu pagar yang
hanya dibuka separo, menuju meja resepsionis. "Maria," kata saya.
Wanita muda itu membuka buku pendaftaran. "Waktu janjian Anda 20 menit
lagi." Dia memberikan kartu, "Silakan tunggu di dalam," katanya.
Saya menggandeng Ria masuk ke ruang tunggu. Dan, di sana, saya kaget. Bu
Ris tampak sedang menuntun seorang pasien ke luar dari ruang praktek. Saya
mencoba tak melihat, tapi terlambat. Meski tak menegur, tampak ia pun kaget
melihat saya berada di situ. "Kok kemari?" tanyanya, ketika saya menjajari
langkahnya ke luar ruangan.
"Ngantar istri. dia nggak berani kalau nggak pakai bius."
"Sudah, nggak usah bohong," ia tersenyum masam.
Akhirnya saya tahu, Bu Ris belajar mengaborsi secara otodidak, setelah
bertahun-tahun membantu di situ. Ia pun kemudian membeli alat kuret, dan
menawarkan bantuan kepada para pasien yang tidak jadi aborsi di klinik itu,
karena biaya yang terlalu tinggi. "Ya bukan sabotase. Saya malah membantu
mereka yang tidak mampu," dalihnya.
Soal resep obat? "Saya hanya tuliskan saya antibiotik yang keras dan obat
pendatang haid untuk menuntaskan. Selama ini aman, kok," akunya. "Memberi obat
yang sama dengan resep dokter saya tidak berani."
Dengan cara itu, Bu Ris sudah "berpraktek" selama 2 tahun. Pasiennya tak
tetap. Dia juga tak lagi ingat jumlah total pasiennya. "Kalau 30 ya adalah,"
akunya.
Ongkos mahal yang dikatakan Bu Ris memang terbukti. Dokter di ruang praktek
itu tak banyak bertanya. Bahasa Jawanya baik, dan ia memakai nama Jawa, Nsrh,
meski ia termasuk warga keturunan. Usianya cukup tua, sebagian rambutnya
memutih, dengan wajah yang dikotori bintik hitam. Setelah bertanya ini-itu,
dokter kandungan itu berkata serius. "Jika memang Anda serius, saya dapat
membantu. Tapi, saya tidak sendirian. Saya hanya dapat mengerjakannya jika
Anda mendapat rekomendasi dari laboratorium perihal keadaan janin Anda."
Ketika kami bersedia, dia memberikan alamat sebuah laboratorium di kawasan
Kampung kali. "Tunjukkan saja memo dari saya ini, mereka sudah mengerti,
kok."
Kami segera meluncur ke sana. Dan, seperti yang diduga, saat menunjukkan
memo dari dr Nsrh, Ria langsung diminta masuk. Saya tidak tahu dia diapakan.
Cuma 20 menit, dia keluar, wajahnya agak pucat. Kami lalu segera kembali ke
mobil. "Aku di-USG. Nih, hasil USG-nya," sodornya.
Saya membaca. Tertulis, "Dari hasil USG, terdapat kelainan pada janin yang
beresiko pada keadaan janin dan kesehatan ibu." lalu beberapa tulisan lain
yang tak dapat saya pahami artinya. "Itu rekomendasi untuk aborsi," jelas Ria.
"Memang janinmu beresiko ya?"
"Haha.. ya tidak. Ini kan hanya cara mereka untuk aman. Artinya, secara
prosedural, mereka telah legal. Ini tindakan "penyelamatan". Jadi, aman dari
tuntutan hukum," Ria menjelakan.
Di lembar kedua, saya melihat nota pembayaran hasil USG. Hampir Rp. 500
ribu. Sampai di ruang praktek dr Nsrh, malam telah jatuh, hujan gerimis tipis,
pukul 20.13 WIB. Mobil-mobil pasien sudah tak ada. Resepsionis juga kosong,
hanya Bu Ris yang masih menunggu. Ria langsung masuk, saya menunggu. Tak
sampai satu jam, dia sudah keluar, sempoyongan. Mukanya pucat. Bu Ris
mendudukkan dia didekat saya. "Pegangi," perintahnya.
"Sakit?" tanya saya, iba.
Ria mengangguk. Ria memang harus mengaborsi bayi itu demi masa depannya.
Tunangannya masih sekolah S2, dan mereka baru akan menikah setahun lagi. Tapi,
seks yang tanpa pengaman, membuat janin itu tumbuh tak sesuai rencana. Dan,
untuk menutupi malu, aborsi pun ditempuh. "Dia nggak mau mendampingi,
nggak kuat melihat darah," jelasnya. Tapi, saya sendiri ragu pada
kebenaran ceritanya.
Bu Ris datang, dia menyodorkan kwitansi, Rp 2,2 juta. Sebungkus obat, dan
satu lembar resep. "Resep ditebus kalau obat dari sini sudah habis. Oh ya,
waktu haid akan lebih lama dari biasa, nggak perlu cemas," ia
menjelaskan. Saya mengambil dompet dan membayar. Bu Ris melihat dengan nada
heran. Ya, itu memang uang Ria, saya sengaja membawanya biar "sandiwara" ini
berjalan nyata.
"Kalau mau KB sebulan sampai 3 bulan, ke rumah saja," ucap Bu Ris, waktu
menutup pintu pagar. Malam itu, ia lembur.
*****
"Kakiku di kangkangkan, di letakkan di atas penyangga. Persis seperti akan
melahirkan," cerita Ria, waktu saya mengantarnya pulang. Ia tampak
mengantuk.
"Perawat itu lalu mencukur dan menyabuni bagian bawah tubuhku, dan melap
bersih. Ia siapkan nampan di bawah pangulku, ia lalu memanggil dokter... Eh,
kamu punya rokok?"
Ria menyalakan rokok, kaca mobil ia turunkan seperempat. "Lalu dokter itu
datang, ia trsenyum. 'Nggak usah tegang, santai saja, nggak
sakit, kok.' Lalu, ia membiusku, biur lokal. Dan, kemudian aku merasa ada
yang hangat, masuk ke vaginaku. Lalu ya itu, aku merasa ada yang mengaduk-aduk
perutku, cukup lama, seperti disendoki. Sepertinya dua kali dia berganti alat.
Lalu dia bilang, 'Cukup.' Selanjutnya Ibu perawat yang membersihkan, juga
memasang pembalut. Aku mencoba duduk, tapi pusing banget." Ia
menghembuskan asap rokoknya. "Kita makan, yuk? Eh, kamu harus ingat janji kita
ya, aku gak mau namaku disebutkan," pintanya. Saya mengangguk, tapi menolak
ajakan makan. "Tidak sakit?"
"Nyeri saja. Ini saja masih terasa perih. Padahal, darah yang keluar
sedikit. Kata si dokter, sehabis minum obat ini, pagi nanti sudah seperti haid
biasa. Cuma darahnya lebih hitam dan kental." Ia mengambil rokok lagi. Di
wajahnya seperti ada rasa sesal. "Kamu nggak merasa berdosa?" "Udah ah, jangan
tanya yang begituan. Pusing nih...."
******
Di sebuah klinik bersalin di kawasan Semarang Atas, prosedur yang sama juga
terjadi. Saya kembali "bersandiwara" dengan Novi. Tapi, kali ini, kami hanya
sampai mendapatkan rekomendasi untuk mengikuti USG di laboratorium di kawasan
Simpanglima. Namun tentu hal itu tak kami lakukan.
Setelah semua data saya catat, juga jam pertemuan dengan mereka, dr Nsrh
saya hubungi lewat telepon, 4 hari kemudian. Ia kaget waktu saya mintai
konfirmasi soal praktek aborsidi kliniknya. Ia membantah. Waktu saya ingatkan,
ia tetap mengelak. Saya minta bertemu untuk wawancara, ia menolak. "Anda
jangan memeras saya. Tak ada bukti apa pun. Jika pun saya melakukan itu, semua
atas permintaan pasien dan atas pertimbangan medis. Saya tidak pernah praktek
ilegal," tegasnya.
Tapi, ketika saya ingatkan dia soal "permainan" legalitas itu, dia terdiam.
Kemudian, dia meminta bertemu. Pagi keesokan harinya, saya bertemu, di teras
depan rumahnya, pukul 07.32 WIB. Itu waktu yang dia minta, karena pukul 08.00,
dia sudah harus berpraktek di rumah sakit yang hanya 500 meter dari rumahnya.
Ketika saya muncul, dia segera mengenali saya. "Anda kan pernah ke sini,
bersama nyonya?" Saya mengangguk.
"Begini saja, saya kembalikan semua uang yang telah Anda bayarkan.
Bagaimana?"
Saya tersenyum. "Saya hanya butuh konfirmasi saja, dan wawancara resmi.
Jadi, Dokter boleh membantah atau apa pun, tapi saya punya beberapa bukti."
Dokter itu berdiri, wajahnya tegang. "Kalau tahu begini, saya tidak akan mau
membantu Anda. Silakan Anda tulis, apa pun. Ingat, bukti yang anda pegang itu
legal, tidak ada unsur ilegal. Selamat pagi!" Ia berbalik, masuk ruangan,
meninggalkan saya di teras itu, sendirian. Saya mencoba menghubungi Bu Ris.
Tapi, belum lagi saya berkata apa pun, dia sudah misuh-misuh. Telepon
kemudian dia banting! (tim smc)