>dr. Thohar" <[EMAIL PROTECTED]> said
>Sebelumnya, saya mulai dari dampak demokrasi yang telah merusak tatanan
>bangsa indonesia. Aneh bukan, bahwa demokrasi yang kita gembar gemborkan
>saat ini kok saya menganggapnya telah merusak bangsa ini.
>Sebelumnya saya mau tanya, kira kira beda apa enggak orang yang berilmu
>tentang kepemerintahan dengan orang yang tidak berilmu?
Eko Raharjo:
Pendapat anda tidak semuanya salah sebab merupakan kenyataan
bahwa semakin "demokratis" bangsa ini (mulai Sukarno sampai Sukarno
putri) semakin amburadullah situasinya. Namun kalau saya lalu
berkesimpulan bahwa demokrasilah biang keladi dari kerusakan
bangsa ini, rasanya saya tidak ada bedanya dengan mereka
yang tidak pernah makan sekolahan. Seperti sewaktu jaman
revolusi, karena situasinya kacau si Suto mengeluh "wah
kapan ya jaman kemerdekaan berakhir sehingga bisa menikmati
kembali jaman normal (dijajah Londo)"(baca JB Mangunwijaya
Guyon Orang Republik).
Jangan salah sangka bahwa saya merasa lebih tinggi
dari si Suto. The beauty of democracy adalah point of view
dari si Suto yang petani, yang ndeso, yang tidak makan
sekolahan harus pula dihormati dan diperhitungkan, tidak
hanya gagasan Sukarno, Hatta, Syahrir saja.
Tiga setengah abad bangsa ini pernah dijajah oleh Londo
dan si kate Jepang. Sudah barang tentu negara jajahan
tidak menganut paham demokrasi. Status sang kolonial
master tidak sama dengan status sang inlander kacung.
(Mengenai kok bisa-bisa nya negara dengan penduduk sekian
banyak dan menganut Islam dijajah oleh Londo dan Jepang
yang cuma seglintir dan "kafir" lagi kita bicarakan lain
kali). Dari situasi penjajahan, penindasan, ketidak adilan
yang dialami sendiri muncullah impian demokrasi. Suatu
cita-cita dimana kekuasaan tertinggi negara ada ditangan
rakyat dan setiap warga-negara mempunyai status yang sama.
Sejarah kemudian mencatat bahwa bangsa Indonesia sukses
besar dalam memerdekan diri dari penjajahan namun gagal
total dalam menegakkan demokrasi. Apakah cita-cita
demokrasi merupakan kesalahan atau apakah ucapan si Suto
yang ingin tetap dijajah merupakan suatu kebenaran?
Menurut pendapat saya, bukan cita-cita Merdeka dan
Demokrasi yang salah melainkan karena bangsa Indoensia
sampai sekarang tidak mampu menegakkan prinsip-prinsip,
moralitas, hukum, aturan main yang digariskan meskipun
yang paling basik sekalipun. Orang yang terbukti korupsi
harus dihukum, merupakan prinsip hukum yang basik, namun
bangsa ini gagal melaksanakannya. Dalam hal ini relevan
lah ucapan sdr Johar bahwa bangsa Indonesia tidak
cocok menganut demokrasi. Sebab demokrasi menuntut
pemimpin-pemimpin yang pintar. Kalau politikus nya
busuk, MA nya busuk, ya mana ada harapan pohon demokrasi
akan menghasilkan buah, paling banter menghasilkan
sogok telik/tuntheng (buah dari pohon beringin).
Benarkah Islam melarang aksi demo, mbalelo, makar dst?
Mohon diteliti lebih lanjut. Opini saya, gerakan Hijrah
yang dipimpin Muhammad SAW merupakan gerakan makar
terhadap pemimpin-pemimpin kaum Quraish. Repotnya di
Indoensia, kebanyakan penganut Islam sangat gullible
dengan perkara dimana agama (Islam) ikut dicandak-candak.
Saya teringat kasus Kedung ombo dimana Suharto yang
waktu itu presiden RI lewat TV melarang orang untuk
membantu masyarkat Kedung Ombo yang stand off terhadap
proyek pemerintah (yang tidak adil dan menindas),
waktu itu ada pemuka agama Islam yang berfatwa untuk
tidak menentang perintah Suharto sebab melawan pemerintah
yang syah dilarang oleh agama Islam. Saya tetep nekat
bertandang ke Kedung Ombo dan membantu mereka. Menurut
saya situasi masyarkat di Kedung Ombo tidak banyak berbeda
dengan situasi kaum Muslim di Mekkah yang ditindas secara
sewenang-wenang oleh penguasa Quraish. Seandainya Muhammad
SAW ada disana, saya kira penduduk Kedung Ombo akan
diajak hijrah Ke Kanada, bukan ke Calgary tapi ke
Halifax, Nova Scotia sebab pak Ibnu ada disana.
Wassalam,
Eko W Raharjo
Calgary, Canada
dr. Thohar" <[EMAIL PROTECTED]> said:
"
>
>
> Di Indonesia orang yang menuntut ilmu dianggap
> ketiban pulung maka bukannya diberi incentive atau tax
> credit tapi malahan "dipajeki" macem-macem. Ini karena
> mereka tidak ada yang nggagas bahwa mereka yang menuntut
> ilmu sampai ke monconegoro kemungkinan akan menghabiskan
> sebagian besar hidupnya duduk di bangku laboratorium
> atau meras otak memikirkan masalah sosial, hukum, ekonomi
> dst sehingga memungkinkan negara dan masyarakat bisa berkembang.
> Pengertian umum orang sekolah tinggi sampai monconegoro buntutnya
> akan nyidam jadi pejabat pemerintah atau paling tidak DPR.
>
> Sampai disini saya masih setuju mas Eko.
>
>
> Ini ada benarnya sebab buktinya cukup banyak. Bahkan mereka yang
> masih kuliah di monco pun sudah merasa begitu. Makanya bisa kita
> pahami mereka yang sekolah tinggi diluar negeri terkadang
> bukannya menjadi lebih kritis terhadap pejabat pemerintah
> melainkan malah lebih friendlier terhadap mereka, mungkin karena
> sudah merasa menjadi satu family, genus dan spesies pejabat
> pemerintah. Tentu saja yang diinginkan adalah "kestabilan"
> hal-hal yang bisa mendatangkan perubahan seperti kritik,
> protes, aksi demo, revolusi, apalagi mbalelo atau makar
> merupakan kata-kata tabu yang katanya dilarang oleh agama.
>
> Paragraf ini yang saya tidak setuju.
>
> Perlu saya klarifikasi, kenapa soalnya beberapa waktu yang lalu saya
sempat posting yang banyak condong kepada ketidak setujuan pada cara cara
demo, kritik di depan umum, makar, apalagi revolusi terhadap negara.
>
> Sebelumnya, saya mulai dari dampak demokrasi yang telah merusak tatanan
bangsa indonesia. Aneh bukan, bahwa demokrasi yang kita gembar gemborkan
saat ini kok saya menganggapnya telah merusak bangsa ini.
>
> Sebelumnya saya mau tanya, kira kira beda apa enggak orang yang berilmu
tentang kepemerintahan dengan orang yang tidak berilmu?
>
> Kira kira beda apa enggak orang yang tau tentang ilmu mengatur ekonomi
dengan orang yang tidak tahu ?
>
> Jawabnya beda kan.
>
> Tapi kalo kita lihat di sistem demokrasi semua itu jadi omong kosong,
karena dalam demokrasi semua orang punya hak dan suara yang sama. Nah kalo
di indonesia ini Pak Ryas Rasyid yang ngerti tata negara suaranya sama
dengan orang yang tidak ngerti akan tata negara. Maka jika dilakukan
pemungutan suara ( karena orang yang tidak ngerti akan tata negara ini lebih
banyak) maka yang menang bukan orang yang bisa ngatur negara, tapi yang
menang adalah nafsu nafsu yang pingin mengatur negara. Kenapa bangsa ini
bubaah, kenapa otonomi bubrah... ya karena demokrasi itu sendiri. Jadi omong
kosong orang bilang demokrasi adalah jalan menuju kemajuan.
>
> Kalo iya, apa di amerika itu demokrasi jalan. Katanya kampiun demokrasi.
tapi teganya membunuh jutaan manusia hanya karena anggapan yang salah
terhadap ada tidaknya senjata masal.
>
> Jadi sekali lagi Demokrasi tidak pernah akan menang dan tidak pernah akan
menyelesaikan masalah sampai akhir yaman. Sorry memang emosional.
>
> Nah, dalam agama kami ...( Islam maksudnya Mas Eko)
>
> Ini bukan karena sok agamis tidak. Tapi hanya mau mensinkronkan anatara
hidup beragama dan hidup berbangsa. Karena akan jadi lucu kan jika kita
berfikir, saat ini kita pake paradigma kebangsaan kemudian dalam waktu lain
kita pake paradigma agama.
>
> Paradigmanya jelas, Indonesia adalah negara yang berdasar ketuhanan tapi
bukan negara agama.
>
> Jadi apa salahnya kalo kita berperilaku dengan norma norma tuhan dalam
kita menjalani hidup ini. Apa salahnya jika saya menegakkan norma moral yang
diatur oleh Tuhan dalam bersikap dan bertata negara ini?
>
> Dalam Islam memang : Makar, Revolusi, Demonstrasi untuk menjelek jelekkan
orang yang jelek sekalipun tidak dibenarkan. Ada mekanisme yang lebih gentle
terhormat dan elegan dalam kita saling nasehat menasehati dalam kebenaran.
Tidak beraninya main teriak didepan umum. Bukannya mereka itu pengecut...
karena tidak berani langsung menasehati orang yang bersalah.
>
> Jadi jangan salahkan kita yang mau menegakkan norma norma ketuhanan dalam
berbangsa ini. kita bukan anti perubahan. Justru kita sangat realistis untuk
menuju perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan ke masyarakat yang lebih
bermoral.
>
> dan bukan pula karena ngiler jabatan. Wong jabatan itu amanah dan berat
tanggungannya kok... salah salah bisa mencelakakan kita.
>
> Dan jangan salah tangkap, bahwa orang islam akan mendirikan negara dan
menjadikan Indonesia negara islam. Bukan kesana, tapi pada penekanan
kerangka hidup berbangsa yang bermoral. Itu yang patut di perjuangkan.
>
>
>
> Wassalam
>
> thohar
>
> hiroshima
>
>
>
> Muhamad Thohar Arifin, MD
> Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan
> 1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551
> 81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
> cell 81-90-6171-6000
> [EMAIL PROTECTED]
> www.talk.to/thohar or www.thohar.tk
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want.
--
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1385
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id