"dr. Thohar" <[EMAIL PROTECTED]> said: >umat islam lebih ngerti tentang itu. Jadi tidak perlu Mas Eko ragukan. >DaTentang tidak bolehnya makar, demonstrasi serta revolusi, tentu saya >sebagai n ada sumber sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.
Eko Raharjo: If I were you, I would not claim to know everything about Islam. Sudah sejak awal wafatnya sang nabi ada bukti bahwa umat Islam sendiri meskipun di lapisan atas mengalami kesulitan dalam memahami Islam. Mereka tidak sepaham dalam menafsir berbagai aspek dalam Islam bahkan sampai saling memerangi satu sama lain. Hal ini tidak ada bedanya dengan agama lain. Paus pun akan ditertawakan orang kalau ia mengklaim tahu segala kehendak Allah. Sebab kita semua ini adalah sekedar manusia biasa. Sikap rendah hati itulah yang selalu saya ajarkan kepada diri sendiri dan keluarga saya. Kita ini diskusi mengenai masalah kenegaraan yang merupakan masalah publik (umum) bukan mengenai masalah pribadi. Kalau ada orang bercita-cita untuk memperbaiki kedalam diri sendiri tentu saja sesuatu yang mulia, tapi tidak ada sangkut pautnya dengan perkara umum. Orang boleh saja ke Mesjid, Gereja, Kelenteng seribu sekali untuk bertobat, itu baik-baik saja, tapi kalau dia nyamber jemuran tetap harus ditangkep dan diadili. Sebab yang pertama adalah urusan pribadi dan yang kedua adalah urusan umum. Yang pertama orang lain tidak perlu ikut campur, yang kedua masyarakat yang baik harus turut campur to make sure kalau hukum betul ditegakkan, justice is served! Apakah mereka yang ndemimil bat-tobat-tobat-tobat-tobat kemudian nyamber jemuran bisa masuk surga, mungkin saja, The truth is no body knows. Tugas kita dalam masyarkat adalah mengakkan hukum dan keadilan bagi semua. Aparat law enforcements polisi, jaksa, hakim harus bekerja mengikuti prosedur dan hukum publik yang berlaku, bukan berdasar pada bat-tobat-tobat-soto-babat tsb. In God We Trust But Lock Your Car! Ini adalah moto orang beriman yang rasional. Sebab hanya orang bodoh dan kurang ajar yang menginginkan Tuhan untuk menjaga mobilnya. Negara Indonesia yang kaya raya adalah harta pusaka bagi kita dan keturunan kita semua dan kita sendirilah yang berkewajiban menjaganya. Kita lengah Londo bungah dan saudara tua Jepang datang. Sekarang ini apakah itu bang Akbar kek, Mas Amien rais, mbak Tutut, Om Hartono, bude Mega, kita semua wajib mewaspadai mereka. Mereka yang mengerti mengenai hakekat kekuasaan akan tahu bahwa pada dasarnya Power corrupts!. Absolut Power corrupts absolutely!. Kalau saya berdemonstrasi menuntut agar Akbar dihukum itu bukan berarti saya punya maslah pribadi dengan ybs (saya tidak punya maslah dengan pertobatannya bahkan saya tidak keberatan mendoakan dia untuk masuk surga ke tujuh dengan didampingi oleh 7 Angela Inulia). Tapi saya berkewajiban untuk turut menegakkan hukum dan keadilan dan juga menjaga harta pusaka Indoensia. Saya sudah bilang bahwa dalam demokrasi setiap orang itu equal bahkan kita pun harus menghormati dan memperhitungkan suara dari "Suto, Noyo, Dadap, Waru" ( mohon baca lagi posting saya baik-baik). Perbedaan pendidikan, pekerjaan, tanggung jawab merupakan kenyataan lumrah yang tidak punya konotasi negatif. Saya bahkan bilang disini orang yang pendidikannya lebih rendah malah hypothetically bisa lebih kaya dari mereka yang menghabiskan waktunya makan sekolahan. Ralph Klein adalah premier dari Provinsi Alberta, ia hanya lulus SMA, tidak pernah kuliah dimanapun. Saya juga tidak bermaksud membandingkan si Suto dengan ki Mangun. (mohon diteliti lagi posting saya). Tetapi benar saya menyindir bahwa orang-orang yang berpendidikan tinggi sering berucap dan bersikap seperti si Suto. Demikian pula orang dengan status, jabatan, bayaran, kuasa yang tinggi ingin pula diperlakukan, dimaklumi dari pada si Suto. Si Suto maling ayam, sepatu, jemuran, sepeda, HP, mesin jahit, akan dihajar oleh publik sampai luluh lantak. Tapi si Akbar yang pintar, kaya raya, berkuasa, telah terbukti dipengadilan maling jutaan rupiah namun inginnya malah dielu-elu oleh masyarkat (korbannya). Mengundurkan diri saja tidak. Di Jepang orang macam Akbar sudah harus melakukan Harakiri, Sapuku. Kita ini lebih gila lagi, sebagai masyarakat sudah menjadi korban malah bangga bisa membela nama baik (sementara itu ikut ngantemi maling jemuran sampai matek, hanya karena maling Jemuran hina papa tidak punya kuasa apa-apa). dr Thohar: >Sedikit tentang makar, mas eko... > Makar yang tidak diperbolehkan adalah makar terhadap pimpinan muslim. >Sedangkan terhadap pimpinan kafir ...umat islam jelas tegas membedakan >antara muslim dan kafir. Hak , kuajiabannya dan kedudukannya jelas dalam >islam. Jadi anggapan hijrah itu makar jelas tidak benar, Eko Raharjo: He he he nice try!. Sejak kapan Islam menggolongkan kuroptor sebagai pemimpin kaum Muslim ;-). Opini saya, di Indonesia dengan situasi banyak rakyat yang miskin dan menderita, pejabat yang sudah kaya raya tapi masih tega untuk korupsi adalah lebih rendah dari pemimpin bani Quraish pada jamannnya Muhammad SAW. Please do not tell me that because you are Muslim you know better about Islam. Didunia ini ada billions of Muslim, tidak ada orang yang mematenkan Islam sebagai milik pribadi atau golongan, kalau anda tidak malu kepada saya malulah kepada mereka. Wassalam, Eko W Raharjo Calgary > Mas Eko: > > Wacana ini jangan di bawa ke lapangan dulu, karena masih ada gap antara pelaksanaan norma norma islam dengan norma islam yang lurus yang seharusnya di jalankan. > > umat islam lebih ngerti tentang itu. Jadi tidak perlu Mas Eko ragukan. DaTentang tidak bolehnya makar, demonstrasi serta revolusi, tentu saya sebagai n ada sumber sumber yang bisa di pertanggung jawabkan. > > Tentang tidak benarnya sistem demokrasi pun ada landasan hukumnya yang bisa di pertanggung jawabkan pula dalam islam. > > Jadi untuk mencapai masyarakat madani itu sebetulnya bukan sebuah cita cita yang jangka pendek, tapi cita cita yang di inginkan oleh umat islam dan tidak ada yang bisa menjamin kapan akan terwujud kecuali yang punya irodah atau kehendak mutlak untuk mewujudkannya, yaitu Allah SWT. Dan usaha untuk kesana itu dengan cara dan metoda yang sudah baku, serta jauh dari kekerasan, penindasan, pengeboman, pembunuhan, bom bunuh diri, pembajakan, terorisme. apalagi dengan cara hina menhinakan sesama. Itu jauh dari moral untuk masyarakat madani. Yang patut di usahakan umat ini adalah memperbaiki diri dari dalam, tarbiyah dari dalam. Nah dari indivisu yang kokoh itu nanti akan terwujud tatanan yang rapi pula. > Dan tidak pula dengan cara cara demokrasi ini. > > dari email Mas Eko di bawah bisa saya simpulkan bahwa mas eko membedakan antara orang yang makan sekolahan dengan yang tidak makan sekolahan. Dalam hal ini sudah nampak ketidak konsisten nya demokrasi. Wong membedakan antara yang makan sekolahan dan yang tidak makan sekolahan, kok dalam berpendapat sama anttara si suto dan Romo mangun. Padahal romo mangun kan punya ilmu yang sebrek. Yo lucu to.. kalo dalam mengatur negara ini Orang berilmu kok sama suaranya dengan orang yang tidak berilmu. Jadi format demokrasi itu tidak konsisten? masak sistem yang unggul kok ada ketidak konsisten nya? > kalau kemudian mucul ketidak puasan dari wong cilik terhadap kebijakan penguasa, bukannya terus wong cilik itu harus berontak sama penguasa, tapi sikap bersabar sikap patuh akan norma ini yang berlu di bangun. Kalo mau protes protesan terus ya enggak bakalan jalan. > > Dan di indonesia ini rusak oleh dua duanya, baik sistemnya maupun pelaksana sistemmnya. Entah itu busuk atau tidak bukan urusan saya. Dan bukan hak kita untuk membusukkan orang lain. Apalagi mencaci orang lain. Baik Itu beragama islam, Kristen ataupun kafir sekalipun, tidak ada hak untuk mengatakan kamu busuk, atau kamu kafir. dan orang yang suka menuduh orang lain busuk, atau kafir ini bisa dibilang belum paham tentang aturan membusukkan atau mengkafirkan orang lain. > > Sedikit tentang makar, mas eko... > Makar yang tidak diperbolehkan adalah makar terhadap pimpinan muslim. Sedangkan terhadap pimpinan kafir ...umat islam jelas tegas membedakan antara muslim dan kafir. Hak , kuajiabannya dan kedudukannya jelas dalam islam. Jadi anggapan hijrah itu makar jelas tidak benar, > > Untuk teman teman yang muslim, diskusi ini bukan untuk mencari menang kalah, apalagi mau mengecilkan peran mereka yang beragama lain. Tapi untuk membuka wawasan, berdiskusi tentang sistem baik dari islam maupun dari sistem lain. Kalo memang ada sistem yang lebih baik dari islam silakan saja di ulas, nanti kita bahas. atau mau di komparasikan dengan sistemnya Yusuf Project 2004, juga silakan. > > dan untuk umat lain, jangan takut kalo sistem islam di dunia ini diberlakukan akan mengecilkan peran anda, atau bahkan menindas anda. Itu salah persepsi yang perlu pencerahan. Karena islam itu pada prinsipnya adalah agama yang menjaga dan menghormati, nyawa, tidak mudah menumpahkan darah, serta menjaga kehormatan. Dan toleransinya akan lebih jelas dibanding pemerintahan demokrasi penuh kamuflase dalam kebijakan hubungan antar umat beragama ini. > > demikian > thohar > > > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > >dr. Thohar" said > >Sebelumnya, saya mulai dari dampak demokrasi yang telah merusak tatanan > >bangsa indonesia. Aneh bukan, bahwa demokrasi yang kita gembar gemborkan > >saat ini kok saya menganggapnya telah merusak bangsa ini. > >Sebelumnya saya mau tanya, kira kira beda apa enggak orang yang berilmu > >tentang kepemerintahan dengan orang yang tidak berilmu? > > Eko Raharjo: > Pendapat anda tidak semuanya salah sebab merupakan kenyataan > bahwa semakin "demokratis" bangsa ini (mulai Sukarno sampai Sukarno > putri) semakin amburadullah situasinya. Namun kalau saya lalu > berkesimpulan bahwa demokrasilah biang keladi dari kerusakan > bangsa ini, rasanya saya tidak ada bedanya dengan mereka > yang tidak pernah makan sekolahan. Seperti sewaktu jaman > revolusi, karena situasinya kacau si Suto mengeluh "wah > kapan ya jaman kemerdekaan berakhir sehingga bisa menikmati > kembali jaman normal (dijajah Londo)"(baca JB Mangunwijaya > Guyon Orang Republik). > > Jangan salah sangka bahwa saya merasa lebih tinggi > dari si Suto. The beauty of democracy adalah point of view > dari si Suto yang petani, yang ndeso, yang tidak makan > sekolahan harus pula dihormati dan diperhitungkan, tidak > hanya gagasan Sukarno, Hatta, Syahrir saja. > > Tiga setengah abad bangsa ini pernah dijajah oleh Londo > dan si kate Jepang. Sudah barang tentu negara jajahan > tidak menganut paham demokrasi. Status sang kolonial > master tidak sama dengan status sang inlander kacung. > (Mengenai kok bisa-bisa nya negara dengan penduduk sekian > banyak dan menganut Islam dijajah oleh Londo dan Jepang > yang cuma seglintir dan "kafir" lagi kita bicarakan lain > kali). Dari situasi penjajahan, penindasan, ketidak adilan > yang dialami sendiri muncullah impian demokrasi. Suatu > cita-cita dimana kekuasaan tertinggi negara ada ditangan > rakyat dan setiap warga-negara mempunyai status yang sama. > > Sejarah kemudian mencatat bahwa bangsa Indonesia sukses > besar dalam memerdekan diri dari penjajahan namun gagal > total dalam menegakkan demokrasi. Apakah cita-cita > demokrasi merupakan kesalahan atau apakah ucapan si Suto > yang ingin tetap dijajah merupakan suatu kebenaran? > > Menurut pendapat saya, bukan cita-cita Merdeka dan > Demokrasi yang salah melainkan karena bangsa Indoensia > sampai sekarang tidak mampu menegakkan prinsip-prinsip, > moralitas, hukum, aturan main yang digariskan meskipun > yang paling basik sekalipun. Orang yang terbukti korupsi > harus dihukum, merupakan prinsip hukum yang basik, namun > bangsa ini gagal melaksanakannya. Dalam hal ini relevan > lah ucapan sdr Johar bahwa bangsa Indonesia tidak > cocok menganut demokrasi. Sebab demokrasi menuntut > pemimpin-pemimpin yang pintar. Kalau politikus nya > busuk, MA nya busuk, ya mana ada harapan pohon demokrasi > akan menghasilkan buah, paling banter menghasilkan > sogok telik/tuntheng (buah dari pohon beringin). > > Benarkah Islam melarang aksi demo, mbalelo, makar dst? > Mohon diteliti lebih lanjut. Opini saya, gerakan Hijrah > yang dipimpin Muhammad SAW merupakan gerakan makar > terhadap pemimpin-pemimpin kaum Quraish. Repotnya di > Indoensia, kebanyakan penganut Islam sangat gullible > dengan perkara dimana agama (Islam) ikut dicandak-candak. > > Saya teringat kasus Kedung ombo dimana Suharto yang > waktu itu presiden RI lewat TV melarang orang untuk > membantu masyarkat Kedung Ombo yang stand off terhadap > proyek pemerintah (yang tidak adil dan menindas), > waktu itu ada pemuka agama Islam yang berfatwa untuk > tidak menentang perintah Suharto sebab melawan pemerintah > yang syah dilarang oleh agama Islam. Saya tetep nekat > bertandang ke Kedung Ombo dan membantu mereka. Menurut > saya situasi masyarkat di Kedung Ombo tidak banyak berbeda > dengan situasi kaum Muslim di Mekkah yang ditindas secara > sewenang-wenang oleh penguasa Quraish. Seandainya Muhammad > SAW ada disana, saya kira penduduk Kedung Ombo akan > diajak hijrah Ke Kanada, bukan ke Calgary tapi ke > Halifax, Nova Scotia sebab pak Ibnu ada disana. > > Wassalam, > Eko W Raharjo > Calgary, Canada > > dr. Thohar" said: > " > > > > > > Di Indonesia orang yang menuntut ilmu dianggap > > ketiban pulung maka bukannya diberi incentive atau tax > > credit tapi malahan "dipajeki" macem-macem. Ini karena > > mereka tidak ada yang nggagas bahwa mereka yang menuntut > > ilmu sampai ke monconegoro kemungkinan akan menghabiskan > > sebagian besar hidupnya duduk di bangku laboratorium > > atau meras otak memikirkan masalah sosial, hukum, ekonomi > > dst sehingga memungkinkan negara dan masyarakat bisa berkembang. > > Pengertian umum orang sekolah tinggi sampai monconegoro buntutnya > > akan nyidam jadi pejabat pemerintah atau paling tidak DPR. > > > > Sampai disini saya masih setuju mas Eko. > > > > > > Ini ada benarnya sebab buktinya cukup banyak. Bahkan mereka yang > > masih kuliah di monco pun sudah merasa begitu. Makanya bisa kita > > pahami mereka yang sekolah tinggi diluar negeri terkadang > > bukannya menjadi lebih kritis terhadap pejabat pemerintah > > melainkan malah lebih friendlier terhadap mereka, mungkin karena > > sudah merasa menjadi satu family, genus dan spesies pejabat > > pemerintah. Tentu saja yang diinginkan adalah "kestabilan" > > hal-hal yang bisa mendatangkan perubahan seperti kritik, > > protes, aksi demo, revolusi, apalagi mbalelo atau makar > > merupakan kata-kata tabu yang katanya dilarang oleh agama. > > > > Paragraf ini yang saya tidak setuju. > > > > Perlu saya klarifikasi, kenapa soalnya beberapa waktu yang lalu saya > sempat posting yang banyak condong kepada ketidak setujuan pada cara cara > demo, kritik di depan umum, makar, apalagi revolusi terhadap negara. > > > > Sebelumnya, saya mulai dari dampak demokrasi yang telah merusak tatanan > bangsa indonesia. Aneh bukan, bahwa demokrasi yang kita gembar gemborkan > saat ini kok saya menganggapnya telah merusak bangsa ini. > > > > Sebelumnya saya mau tanya, kira kira beda apa enggak orang yang berilmu > tentang kepemerintahan dengan orang yang tidak berilmu? > > > > Kira kira beda apa enggak orang yang tau tentang ilmu mengatur ekonomi > dengan orang yang tidak tahu ? > > > > Jawabnya beda kan. > > > > Tapi kalo kita lihat di sistem demokrasi semua itu jadi omong kosong, > karena dalam demokrasi semua orang punya hak dan suara yang sama. Nah kalo > di indonesia ini Pak Ryas Rasyid yang ngerti tata negara suaranya sama > dengan orang yang tidak ngerti akan tata negara. Maka jika dilakukan > pemungutan suara ( karena orang yang tidak ngerti akan tata negara ini lebih > banyak) maka yang menang bukan orang yang bisa ngatur negara, tapi yang > menang adalah nafsu nafsu yang pingin mengatur negara. Kenapa bangsa ini > bubaah, kenapa otonomi bubrah... ya karena demokrasi itu sendiri. Jadi omong > kosong orang bilang demokrasi adalah jalan menuju kemajuan. > > > > Kalo iya, apa di amerika itu demokrasi jalan. Katanya kampiun demokrasi. > tapi teganya membunuh jutaan manusia hanya karena anggapan yang salah > terhadap ada tidaknya senjata masal. > > > > Jadi sekali lagi Demokrasi tidak pernah akan menang dan tidak pernah akan > menyelesaikan masalah sampai akhir yaman. Sorry memang emosional. > > > > Nah, dalam agama kami ...( Islam maksudnya Mas Eko) > > > > Ini bukan karena sok agamis tidak. Tapi hanya mau mensinkronkan anatara > hidup beragama dan hidup berbangsa. Karena akan jadi lucu kan jika kita > berfikir, saat ini kita pake paradigma kebangsaan kemudian dalam waktu lain > kita pake paradigma agama. > > > > Paradigmanya jelas, Indonesia adalah negara yang berdasar ketuhanan tapi > bukan negara agama. > > > > Jadi apa salahnya kalo kita berperilaku dengan norma norma tuhan dalam > kita menjalani hidup ini. Apa salahnya jika saya menegakkan norma moral yang > diatur oleh Tuhan dalam bersikap dan bertata negara ini? > > > > Dalam Islam memang : Makar, Revolusi, Demonstrasi untuk menjelek jelekkan > orang yang jelek sekalipun tidak dibenarkan. Ada mekanisme yang lebih gentle > terhormat dan elegan dalam kita saling nasehat menasehati dalam kebenaran. > Tidak beraninya main teriak didepan umum. Bukannya mereka itu pengecut... > karena tidak berani langsung menasehati orang yang bersalah. > > > > Jadi jangan salahkan kita yang mau menegakkan norma norma ketuhanan dalam > berbangsa ini. kita bukan anti perubahan. Justru kita sangat realistis untuk > menuju perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan ke masyarakat yang lebih > bermoral. > > > > dan bukan pula karena ngiler jabatan. Wong jabatan itu amanah dan berat > tanggungannya kok... salah salah bisa mencelakakan kita. > > > > Dan jangan salah tangkap, bahwa orang islam akan mendirikan negara dan > menjadikan Indonesia negara islam. Bukan kesana, tapi pada penekanan > kerangka hidup berbangsa yang bermoral. Itu yang patut di perjuangkan. > > > > > > > > Wassalam > > > > thohar > > > > hiroshima > > > > > > > > Muhamad Thohar Arifin, MD > > Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan > > 1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551 > > 81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502 > > cell 81-90-6171-6000 > > [EMAIL PROTECTED] > > www.talk.to/thohar or www.thohar.tk > > > > > > --------------------------------- > > Do you Yahoo!? > > Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want. > > > > -- > > > > > > -------------------------------------------------------------------------- > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1385 > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > > Muhamad Thohar Arifin, MD > Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan > 1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551 > 81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502 > cell 81-90-6171-6000 > [EMAIL PROTECTED] > www.talk.to/thohar or www.thohar.tk > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Yahoo! Mail SpamGuard - Read only the mail you want. -- -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1394 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
