|
Salut untuk Pak Thohar...
mbak imas lia ikut salut
nggak???
just kidding :)
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, February 25, 2004 1:31
PM
Subject: [UNDIP] Diskusi kehidupan
bernegara
Mas Eko:
Wacana ini jangan di bawa ke lapangan dulu, karena masih ada gap antara
pelaksanaan norma norma islam dengan norma islam yang lurus yang seharusnya di
jalankan.
Tentang tidak bolehnya makar, demonstrasi serta revolusi, tentu saya
sebagai umat islam lebih ngerti tentang itu. Jadi tidak perlu Mas Eko ragukan.
Dan ada sumber sumber yang bisa di pertanggung jawabkan.
Tentang tidak benarnya sistem demokrasi pun ada landasan hukumnya yang
bisa di pertanggung jawabkan pula dalam islam.
Jadi untuk mencapai masyarakat madani itu sebetulnya bukan sebuah cita
cita yang jangka pendek, tapi cita cita yang di inginkan oleh umat islam dan
tidak ada yang bisa menjamin kapan akan terwujud kecuali yang punya irodah
atau kehendak mutlak untuk mewujudkannya, yaitu Allah SWT. Dan usaha untuk
kesana itu dengan cara dan metoda yang sudah baku, serta jauh dari kekerasan,
penindasan, pengeboman, pembunuhan, bom bunuh diri, pembajakan,
terorisme. apalagi dengan cara hina menhinakan sesama. Itu jauh dari moral
untuk masyarakat madani. Yang patut di usahakan umat ini adalah memperbaiki
diri dari dalam, tarbiyah dari dalam. Nah dari indivisu yang kokoh itu nanti
akan terwujud tatanan yang rapi pula.
Dan tidak pula dengan cara cara demokrasi ini.
dari email Mas Eko di bawah bisa saya simpulkan bahwa mas eko
membedakan antara orang yang makan sekolahan dengan yang tidak makan
sekolahan. Dalam hal ini sudah nampak ketidak konsisten nya demokrasi. Wong
membedakan antara yang makan sekolahan dan yang tidak makan sekolahan, kok
dalam berpendapat sama anttara si suto dan Romo mangun. Padahal romo mangun
kan punya ilmu yang sebrek. Yo lucu to.. kalo dalam mengatur negara ini Orang
berilmu kok sama suaranya dengan orang yang tidak berilmu. Jadi format
demokrasi itu tidak konsisten? masak sistem yang unggul kok ada ketidak
konsisten nya?
kalau kemudian mucul ketidak puasan dari wong cilik terhadap kebijakan
penguasa, bukannya terus wong cilik itu harus berontak sama penguasa,
tapi sikap bersabar sikap patuh akan norma ini yang berlu di bangun. Kalo mau
protes protesan terus ya enggak bakalan jalan.
Dan di indonesia ini rusak oleh dua duanya, baik sistemnya maupun
pelaksana sistemmnya. Entah itu busuk atau tidak bukan urusan saya. Dan bukan
hak kita untuk membusukkan orang lain. Apalagi mencaci orang lain. Baik Itu
beragama islam, Kristen ataupun kafir sekalipun, tidak ada hak untuk
mengatakan kamu busuk, atau kamu kafir. dan orang yang suka menuduh
orang lain busuk, atau kafir ini bisa dibilang belum paham tentang aturan
membusukkan atau mengkafirkan orang lain.
Sedikit tentang makar, mas eko...
Makar yang tidak diperbolehkan adalah makar terhadap pimpinan muslim.
Sedangkan terhadap pimpinan kafir ...umat islam jelas tegas membedakan antara
muslim dan kafir. Hak , kuajiabannya dan kedudukannya jelas dalam islam. Jadi
anggapan hijrah itu makar jelas tidak benar,
Untuk teman teman yang muslim, diskusi ini bukan untuk mencari
menang kalah, apalagi mau mengecilkan peran mereka yang beragama lain. Tapi
untuk membuka wawasan, berdiskusi tentang sistem baik dari islam maupun dari
sistem lain. Kalo memang ada sistem yang lebih baik dari islam silakan saja di
ulas, nanti kita bahas. atau mau di komparasikan dengan sistemnya Yusuf
Project 2004, juga silakan.
dan untuk umat lain, jangan takut kalo sistem islam di dunia ini
diberlakukan akan mengecilkan peran anda, atau bahkan menindas anda. Itu salah
persepsi yang perlu pencerahan. Karena islam itu pada prinsipnya adalah
agama yang menjaga dan menghormati, nyawa, tidak mudah menumpahkan darah,
serta menjaga kehormatan. Dan toleransinya akan lebih jelas dibanding
pemerintahan demokrasi penuh kamuflase dalam kebijakan hubungan antar umat
beragama ini.
demikian
thohar
[EMAIL PROTECTED] wrote:
>dr.
Thohar" <[EMAIL PROTECTED]>said >Sebelumnya, saya mulai dari dampak
demokrasi yang telah merusak tatanan >bangsa indonesia. Aneh bukan,
bahwa demokrasi yang kita gembar gemborkan >saat ini kok saya
menganggapnya telah merusak bangsa ini. >Sebelumnya saya mau tanya,
kira kira beda apa enggak orang yang berilmu >tentang kepemerintahan
dengan orang yang tidak berilmu?
Eko Raharjo: Pendapat anda tidak
semuanya salah sebab merupakan kenyataan bahwa semakin "demokratis"
bangsa ini (mulai Sukarno sampai Sukarno putri) semakin amburadullah
situasinya. Namun kalau saya lalu berkesimpulan bahwa demokrasilah biang
keladi dari kerusakan bangsa ini, rasanya saya tidak ada bedanya dengan
mereka yang tidak pernah makan sekolahan. Seperti sewaktu
jaman revolusi, karena situasinya kacau si Suto mengeluh "wah kapan ya
jaman kemerdekaan berakhir sehingga bisa menikmati kembali jaman normal
(dijajah Londo)"(baca JB Mangunwijaya Guyon Orang
Republik).
Jangan salah sangka bahwa saya merasa lebih tinggi dari
si Suto. The beauty of democracy adalah point of view dari si Suto yang
petani, yang ndeso, yang tidak makan sekolahan harus pula dihormati dan
diperhitungkan, tidak hanya gagasan Sukarno, Hatta, Syahrir
saja.
Tiga setengah abad bangsa ini pernah dijajah oleh Londo dan
si kate Jepang. Sudah barang tentu negara jajahan tidak menganut paham
demokrasi. Status sang kolonial master tidak sama dengan status sang
inlander kacung. (Mengenai kok bisa-bisa nya negara dengan penduduk
sekian banyak dan menganut Islam dijajah oleh Londo dan Jepang yang
cuma seglintir dan "kafir" lagi kita bicarakan lain kali). Dari situasi
penjajahan, penindasan, ketidak adilan yang dialami sendiri muncullah
impian demokrasi. Suatu cita-cita dimana kekuasaan tertinggi negara ada
ditangan rakyat dan setiap warga-negara mempunyai status yang
sama.
Sejarah kemudian mencatat bahwa bangsa Indonesia
sukses besar dalam memerdekan diri dari penjajahan namun gagal total
dalam menegakkan demokrasi. Apakah cita-cita demokrasi merupakan
kesalahan atau apakah ucapan si Suto yang ingin tetap dijajah merupakan
suatu kebenaran?
Menurut pendapat saya, bukan cita-cita Merdeka
dan Demokrasi yang salah melainkan karena bangsa Indoensia sampai
sekarang tidak mampu menegakkan prinsip-prinsip, moralitas, hukum, aturan
main yang digariskan meskipun yang paling basik sekalipun. Orang yang
terbukti korupsi harus dihukum, merupakan prinsip hukum yang basik,
namun bangsa ini gagal melaksanakannya. Dalam hal ini relevan lah
ucapan sdr Johar bahwa bangsa Indonesia tidak cocok menganut demokrasi.
Sebab demokrasi menuntut pemimpin-pemimpin yang pintar. Kalau politikus
nya busuk, MA nya busuk, ya mana ada harapan pohon demokrasi akan
menghasilkan buah, paling banter menghasilkan sogok telik/tuntheng (buah
dari pohon beringin).
Benarkah Islam melarang aksi demo, mbalelo,
makar dst? Mohon diteliti lebih lanjut. Opini saya, gerakan
Hijrah yang dipimpin Muhammad SAW merupakan gerakan makar terhadap
pemimpin-pemimpin kaum Quraish. Repotnya di Indoensia, kebanyakan
penganut Islam sangat gullible dengan perkara dimana agama (Islam) ikut
dicandak-candak.
Saya teringat kasus Kedung ombo dimana Suharto
yang waktu itu presiden RI lewat TV melarang orang untuk membantu
masyarkat Kedung Ombo yang stand off terhadap proyek pemerintah (yang
tidak adil dan menindas), waktu itu ada pemuka agama Islam yang berfatwa
untuk tidak menentang perintah Suharto sebab melawan pemerintah yang
syah dilarang oleh agama Islam. Saya tetep nekat bertandang ke Kedung
Ombo dan membantu mereka. Menurut saya situasi masyarkat di Kedung Ombo
tidak banyak berbeda dengan situasi kaum Muslim di Mekkah yang ditindas
secara sewenang-wenang oleh penguasa Quraish. Seandainya Muhammad SAW
ada disana, saya kira penduduk Kedung Ombo akan diajak hijrah Ke Kanada,
bukan ke Calgary tapi ke Halifax, Nova Scotia sebab pak Ibnu ada
disana.
Wassalam, Eko W Raharjo Calgary, Canada
dr.
Thohar" <[EMAIL PROTECTED]>said: " > > > Di Indonesia
orang yang menuntut ilmu dianggap > ketiban pulung maka bukannya
diberi incentive atau tax > credit tapi malahan "dipajeki"
macem-macem. Ini karena > mereka tidak ada yang nggagas bahwa mereka
yang menuntut > ilmu sampai ke monconegoro kemungkinan akan
menghabiskan > sebagian besar hidupnya duduk di bangku laboratorium
> atau meras otak memikirkan masalah sosial, hukum, ekonomi >
dst sehingga memungkinkan negara dan masyarakat bisa berkembang. >
Pengertian umum orang sekolah tinggi sampai monconegoro buntutnya >
akan nyidam jadi pejabat pemerintah atau paling tidak DPR. > >
Sampai disini saya masih setuju mas Eko. > > > Ini ada
benarnya sebab buktinya cukup banyak. Bahkan mereka yang > masih
kuliah di monco pun sudah merasa begitu. Makanya bisa kita > pahami
mereka yang sekolah tinggi diluar negeri terkadang > bukannya menjadi
lebih kritis terhadap pejabat pemerintah > melainkan malah lebih
friendlier terhadap mereka, mungkin karena > sudah merasa menjadi satu
family, genus dan spesies pejabat > pemerintah. Tentu saja yang
diinginkan adalah "kestabilan" > hal-hal yang bisa mendatangkan
perubahan seperti kritik, > protes, aksi demo, revolusi, apalagi
mbalelo atau makar > merupakan kata-kata tabu yang katanya dilarang
oleh agama. > > Paragraf ini yang saya tidak setuju. >
> Perlu saya klarifikasi, kenapa soalnya beberapa waktu yang lalu
saya sempat posting yang banyak condong kepada ketidak setujuan pada
cara cara demo, kritik di depan umum, makar, apalagi revolusi terhadap
negara. > > Sebelumnya, saya mulai dari dampak demokrasi yang
telah merusak tatanan bangsa indonesia. Aneh bukan, bahwa demokrasi yang
kita gembar gemborkan saat ini kok saya menganggapnya telah merusak
bangsa ini. > > Sebelumnya saya mau tanya, kira kira beda apa
enggak orang yang berilmu tentang kepemerintahan dengan orang yang tidak
berilmu? > > Kira kira beda apa enggak orang yang tau tentang
ilmu mengatur ekonomi dengan orang yang tidak tahu ? > >
Jawabnya beda kan. > > Tapi kalo kita lihat di sistem demokrasi
semua itu jadi omong kosong, karena dalam demokrasi semua orang punya
hak dan suara yang sama. Nah kalo di indonesia ini Pak Ryas Rasyid yang
ngerti tata negara suaranya sama dengan orang yang tidak ngerti akan
tata negara. Maka jika dilakukan pemungutan suara ( karena orang yang
tidak ngerti akan tata negara ini lebih banyak) maka yang menang bukan
orang yang bisa ngatur negara, tapi yang menang adalah nafsu nafsu yang
pingin mengatur negara. Kenapa bangsa ini bubaah, kenapa otonomi
bubrah... ya karena demokrasi itu sendiri. Jadi omong kosong orang
bilang demokrasi adalah jalan menuju kemajuan. > > Kalo iya,
apa di amerika itu demokrasi jalan. Katanya kampiun demokrasi. tapi
teganya membunuh jutaan manusia hanya karena anggapan yang salah
terhadap ada tidaknya senjata masal. > > Jadi sekali lagi
Demokrasi tidak pernah akan menang dan tidak pernah akan menyelesaikan
masalah sampai akhir yaman. Sorry memang emosional. > > Nah,
dalam agama kami ...( Islam maksudnya Mas Eko) > > Ini bukan
karena sok agamis tidak. Tapi hanya mau mensinkronkan anatara hidup
beragama dan hidup berbangsa. Karena akan jadi lucu kan jika kita
berfikir, saat ini kita pake paradigma kebangsaan kemudian dalam waktu
lain kita pake paradigma agama. > > Paradigmanya jelas,
Indonesia adalah negara yang berdasar ketuhanan tapi bukan negara agama.
> > Jadi apa salahnya kalo kita berperilaku dengan norma norma
tuhan dalam kita menjalani hidup ini. Apa salahnya jika saya menegakkan
norma moral yang diatur oleh Tuhan dalam bersikap dan bertata negara
ini? > > Dalam Islam memang : Makar, Revolusi, Demonstrasi
untuk menjelek jelekkan orang yang jelek sekalipun tidak dibenarkan. Ada
mekanisme yang lebih gentle terhormat dan elegan dalam kita saling
nasehat menasehati dalam kebenaran. Tidak beraninya main teriak didepan
umum. Bukannya mereka itu pengecut... karena tidak berani langsung
menasehati orang yang bersalah. > > Jadi jangan salahkan kita
yang mau menegakkan norma norma ketuhanan dalam berbangsa ini. kita
bukan anti perubahan. Justru kita sangat realistis untuk menuju
perubahan ke arah yang lebih baik, perubahan ke masyarakat yang lebih
bermoral. > > dan bukan pula karena ngiler jabatan. Wong
jabatan itu amanah dan berat tanggungannya kok... salah salah bisa
mencelakakan kita. > > Dan jangan salah tangkap, bahwa orang
islam akan mendirikan negara dan menjadikan Indonesia negara islam.
Bukan kesana, tapi pada penekanan kerangka hidup berbangsa yang
bermoral. Itu yang patut di perjuangkan. > > > >
Wassalam > > thohar > > hiroshima > >
> > Muhamad Thohar Arifin, MD > Dept of Neurosurgery,
Hiroshima University Japan > 1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan
734-8551 > 81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
> cell 81-90-6171-6000 > [EMAIL PROTECTED] >
www.talk.to/thohar or www.thohar.tk > > >
--------------------------------- > Do you Yahoo!? > Yahoo! Mail
SpamGuard - Read only the mail you want.
--
-------------------------------------------------------------------------- Milis
Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to
unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1385 DIPONEGORO
UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
Muhamad Thohar Arifin, MD Dept of
Neurosurgery, Hiroshima University Japan 1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima
Japan 734-8551 81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
cell 81-90-6171-6000 [EMAIL PROTECTED] www.talk.to/thohar
or www.thohar.tk
Do you Yahoo!? Yahoo!
Mail SpamGuard - Read only the mail you want.
|