[EMAIL PROTECTED] said:
>Mengapa pembunuh begitu takut dengan Munir? Salah satu sebab karena Munir 
>membawa banyak sekali data pelanggaran HAM untuk bahan tesisnya. 

ER:
Keberangkatan Munir ke Utrecht ini memang nampaknya yang mentrigger
aksi pembunuhan terhadap dirinya. Opini saya, pembunuhan tsb direncanakan
terburu-buru if not " last minute-type execution". Sebab akan
lebih aman untuk membunuh Munir dalam teritorial hukum Indonesia.
Pemilihan arsenik dengan massive dose sehingga menimbulkan gejala
dan kematian yang akut juga bukan termasuk cara eksekusi yang hati-hati. 
Meskipun demikian pelaku pembunuhan Munir pastilah kelompok yang
terorganisir, boleh jadi pula sewaan.

> Legowo: Saya yakin dari laporan otopsi. Angka ini sudah beredar lama di 
kalangan aktifis. Salah satu teman pernah bilang ke saya, "Dengan 1,7 mg 
saja orang sudah bisa tewas." Mungkin ada beberapa jenis arsen? Menurut 
analisa beberapa teman dosis sebesar itu memang dipakai untuk dua hal: satu, 
untuk memastikan Munir pasti mati; dan dua, untuk menyebarkan ketakutan ke 
aktifis lainnya, pesannya: jangan kotak-kutik lagi soal pelanggaran HAM masa 
lalu.

ER:
Benar Arsen terdapat dalam beberapa bentuk: inorganik arsen dan 
senyawa arsen, trivalent dan pentavalent. Inorganik arsenlah yang
paling toxic, dapat membunuh orang dengan dosis yang sangat rendah.
As2o3 (arsen trivalent) adalah bentuk Arsen yang paling mudah didapat.
Untuk tujuan pembunuhan boleh dikata selalu  menggunakan mega dose
sehingga keracunan oleh karena homicide mudah dibedakan dengan
accidental. Orang-orang tertentu "kebal" terhadap racun contohnya
Rasputin. Maka pemberian doble dose merupakan basic rule yang harus
diikuti untuk meracuni orang. Keracunan akut Arsen menimbulkan
penderitaan hebat terhadap korban. Selain untuk menakut-nakuti,
mungkinkah ada motivasi dendam dan kebencian yang sangat?.

Legowo:
>Mungkin Bung Eko bisa nyumbang pengetahuan tentang racun arsen itu sesuai 
dengan profesi Bung sebagai ahli forensik. Bisa lewat surat pembaca di 
Kompas.

ER:
Spesialisasi saya dalam forensik dulu adalah dalam DNA profiling
(yang merupakan pengetahuan forensik yang mutakhir). Pengetahuan
mengenai Arsen adalah bukan pengetahuan baru. Symptomps, dignoses,
pathology maupun toxicology analysis nya dapat dijumpai di berbagai
basic toxicology textbook. Kebetulan di Indonesia lab toxilogy
biasanya dikembangkan di Labkrim POLRI. Ini karena biasanya lab
Forensik di universitas dibawah Fakultas Kedokteran dimana tidak
memiliki Chemist. Lain dengan di Eropa (Jerman) Forensik merupakan
suatu institute tersendiri yang multidisipliner dan independent   

Masalah yang lebih besar adalah cabang Forensik sangat disepelekan
di Indonesia, bahkan oleh pihak universitas sendiri. Bagian forensik
universitas di Indonesia kebanyakan dalam keadaan yang amat
memprihatinkan, fasilitas maupun staffnya, sehingga kemungkinan
tidak siap menghadapi kasus-kasus penting seperti pembunuhan Munir. 

Eko Raharjo





--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2325
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke