|
Baraya ...
seratan kang Godi Suwarna di PR dinten ayeuna
geuningan kitu perhatosan pemda ka budaya sunda teh ...
Lengkepna mangga di handap ieu ...
Wassalam,
Budhi
oritate permai
�Si Ujang jeung Doraemon� di
Pagerageung
Cika-cika Maling Minyak Oleh GODI SUWARNA KONON kebudayaan Sunda yang jasana sanes lumayan itu sedang sangat mengkhawatirkan, lantaran, konon juga, sudah tidak dilirik lagi oleh anak-anak muda pewaris syah titilar para karuhunna. Maka, banyaklah sudah obrolan, dabrul, debat kusir, seminar, dengan tema yang aduhai yaitu tentang pewarisan nilai-nilai budaya Sunda, mulai dari tingkat kuricakan, hingga setingkat Bujangga Agung di kota besar, dengan biaya termurah mareh mere sawareh, sampai menghabiskan rupiah dengan jumlah yang teramat sangat mencengangkan. Hasil dari segala macam perhelatan itu nyaris semuanya omong kosong belaka, karena hanya diramaikan oleh sekumpulan burung merak kabalinger, yang terjebak di atas awan. Menjerit dan menjerit. Tapi tak pernah Singkil. Serupa kuda yang memandang persoalan dengan kacamata kelam semata. Mereka sama sekali tidak melihat pertanda baik, meskipun mungkin baru berupa secercah cahaya di gelap malam. Ukuran setiap percekcokannya itu selalu bertolok pada, �Zaman Akang sareng Euceu mah...� Masalahnya, kapan Si Akang dan Si Euceu itu mau sedikit meluangkan waktu, melongok kegiatan yang dilakukan dengan bersusah payah oleh anak-anak muda kiwari? Selama sembilan hari kegiatan Festival Drama Basa Sunda VIII, yang diselenggarakan dengan sangat sukses oleh Teater Sunda Kiwari, tidak pernah tampak barang seorangpun dari kalangan Si Akang dan Si Euceu ini yang bertandang ke Rumentang Siang. Di antara para inohong kelas mandahong itu, siapakah yang pernah menonton Longser Antar Pulau atau Longser Pancakaki yang pergelaran-pergelarannya selalu dipadati banyak penonton muda usia? Bisa dipastikan, mereka tidak akan mengenal nama Agus Injuk, Popon dll, yang permainannya selalu begitu cemerlang dalam setiap pergelaran longser gelombang baru itu. Sesungguhnya, para inohong kelas mandahong termasuk golongan orang yang rugi... Ada yang terus khawatir dengan kekhawatirannya sendiri. Namun, banyak juga yang diam-diam memutar otak dan hati, merancang dan melaksanakan kegiatan budaya Sunda, meskipun luput dari pengamatan Si Akang dan Si Euceu yang kakinya tak pernah menyentuh bumi. Nah, salah satunya adalah kegiatan kesenian yang dilaksanakan di Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. ** ALKISAH, pada suatu siang di perkampungan yang asri, di sebuah ruangan rumah yang luas milik Mang Abing (Drs. H. Taufik Faturohman), seorang sastrawan Sunda yang lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang mengurus segala macam kata-kata yang bisa membuat tubuh menjadi kurus, puluhan bocah kampung yang terdiri dari murid-murid SDN IPK Pagerageung, sedang sibuk berlatih gending karesmen Si Ujang jeung Doraemon, karya Wahyu Wibisana, saehunya dalam jenis kesenian ini. Namanya bocah, hanya gairah dan cerialah yang memenuhi ruangan Padepokan Seni Pagerageung itu, tidak peduli Nana Munajat berSimbah keringat, bermerah wajah, dan berserak suara memimpin latihan sepasukan anak Singkong yang bersemangat. Mereka menyanyi dan menari serempak dengan suara bocahnya yang terkadang sumbang namun tetap lucu juga. Tak tampak ketegangan, padahal sore itu adalah latihan terakhir, menjelang gladi resik di malam harinya, dan pergelaran keesokan Siangnya. Naskah Si Ujang jeung Doraemon memang dikarang khusus untuk anak-anak. Sederhana namun penuh imajinasi dan petuah, serupa dongeng menjelang tidur. Kisahnya di buka dengan segerombolan bocah kampung yang sedang bermain di bawah cahaya bulan. Tiba-tiba, muncullah dua ekor kucing aheng yang hidup dalam dunia dongeng. Seekor bernama Si Candramawat, kucing pendamping Nini Anteh yang turun dari bulan. Seekor lainnya ternyata Si Doraemon yang terpental dari balik layar kaca. Dua ekor kucing itu bertengkar hebat tentang warna kampung Si Ujang yang mereka lihat dari jauh. Menurut mata Si Doraemon, kampung Si Ujang itu berwarna abu-abu. Namun, menurut Si Candramawat, kampung itu justru berwarna kuning gemilang. Si Ujang yang bijak melarai silang pendapat. Dia mengatakan bahwa warna abu-abu yang dilihat Si Doraemon adalah asap industri pertambangan, dan warna kuning cemerlang yang dilihat Si Candramawat adalah warna logam berjenis emas yang terkandung di kampungnya. Maka, terjadilah perdamaian di kampung itu. Dan, merekapun hidup berbahagia selamanya... Sebuah kisah yang sederhana. Namun, kesederhanaan perkara naskah ini lantas sirna dalam pergelaran yang dilaksanakan pada malam harinya, di pentas alam terbuka, di halaman dalam rumah Mang Abing yang nyaris satungtung deuleu. Pentas itu ditongkrongi saung ranggon di sudut belakang kanan dan kiri, pohon-pohon bambu, daun-daun kelapa, puluhan lentera yang digantung-gantung, taburan jerami di lantai tanah. Semuanya itu sangat menyaran pada suasana alam di sebuah perkampungan. Hujan yang turun deras menjelang pergelaran malam itu, ternyata memunculkan efek yang luar biasa. Di pentas, air hujan yang tergenang di sana-sini, nyalangkrung di hamparan jerami dan daun-daun bambu, memantulkan sinar lentera dan lampu dengan sangat indahnya. Arena menjadi teramat alamiah, menyegarkan dan tidak dibuat-buat. Lantaran becek, busana untuk pergelaran di depan pejabat keesokan harinya, malam itu terpaksa urung digunakan. Pakaian berwarna-warni, dengan potongan beragam yang dikenakan masing-masing, justru sangat menghidupkan suasana, ketimbang seragam pentas yang telah disediakan. Berbeda dengan orang tua dan guru-gurunya yang mengkhawatirkan tempat yang becek berlumpur itu, anak-anak justru bermain dengan sangat bersemangat. Mereka bernyanyi, berlari, berjingkrakan, berjungkir-balik dalam kawih-kawih dan permainan bocah kampung semacam Ucang Angge, Sur-ser, Oray-orayan, Ambil-ambilan dll. Bocah-bocah yang kemudian berlepotan lumpur itu seperti menemukan surganya sendiri. Pentas yang dimaksudkan untuk gladi resik itu ternyata lebih dahsyat ketimbang pergelaran sesungguhnya pada keesokan harinya. Deungdeuleueun! Suasana pergelaran malam itu tidak akan tertandingi oleh pergelaran di gedung kesenian manapun juga. Menurut Mang Abing selaku Ehnar yang sibuk di balik perhelatan itu, gending karesmen Si Ujang jeung Doraemon ternyata telah sekian lama digarap dan dipergelarkan di mana-mana. Bermula dari tahun 1997 hingga saat ini, gending karesmen tersebut telah dipentaskan oleh tiga generasi pemainnya. Tidak kurang dari enam puluh kali pementasan yang telah diselenggarakan, di antaranya di Taman Budaya Bandung, di YPK, Gedung Kesenian Tasik, Graha Sindang Reret, Garut, dan di TVRI Bandung. Pada bulan Mei ini, Mang Abing merencanakan untuk membawa rombongan bocahnya itu ke Gedung Kesenian Miss Cicih (persis nama istri Mang Abing tersayang), dan TMII, Jakarta. Lantaran telah ratusan kali rombongan ini berlatih, dengan puluhan kali pementasan, belum lagi kaset rekamannya yang beredar dari kuping ke kuping, tidak mengherankan apabila lagu-lagunya begitu akrab di telinga masyarakat Pagerageung dan sekitarnya. Para penonton, yang terdiri dari anak-anak dan orang tua, turut serta berdendang ria selama pergelaran berlangsung, membawakan tembang Pagerageungan yang hegar dan merakyat. Juga bocah-bocah itu bisa memainkan dan menyebarkan lagi sejumlah kawih dan kaulinan urang lembur yang nyaris tumpas. Dengan demikian, disadari ataupun tidak, Mang Abing ternyata sukses juga melakukan apa yang disebut-sebut oleh para inohong sebagai pewarisan budaya Sunda, tanpa gembar-gembor seperti yang selalu dilakukan oleh Para Pemikir Agung di kota besar, yang hanya banyak makan biaya dengan hasil atung eneh, atung eneh. Dengan materi yang sangat menjanjikan, Mang Abing berharap bisa bekerja sama dengan pemkab Tasikmalaya untuk mengedarkan keseniannya itu ke sekolah-sekolah. Harapan yang sangat wajar. Sewajar harapan anak-anak muda di belahan kampung atau kota lainnya, yang menginginkan hasil jerih payahnya sesekali dilirik para inohong kelas mandahong, agar mereka tidak bicara sembarangan di atas awan gemawan sana. Agar haSil kerja keras para penggarap itu dicatat dan dihargai sebagai upaya yang sungguh-sungguh, meskipun mungkin cuma bintik-bintik cahaya di gelap malam, serupa Cicika Maling Minyak. Tugas dan kewajiban para inohonglah untuk mempertegas kehadiran titik-titik itu agar menjadi seberkas cahaya yang lebih gemilang, bukan malah menyepelekannya. Namun, harapan Mang Abing dan pasukan bocah-bocahnya itu nampaknya hanya akan tinggal harapan. Kasihan, deh! Yang Mulia Bapak Bupati Tasikmalaya berikut jajarannya, yang sengaja diundang ke Pagerageung untuk menyaksikan karancagean anak-anaknya sendiri, di siang harinya sehabis pergelaran malam yang sangat memukau itu, ternyata tidak berkenan hati untuk menongolkan sepotong pun ujung hidungnya, yang entah di mana, dan entah sedang mengendus apa. Apa sebenarnya yang membuat menak-menak Tasikmalaya itu sedemikian rupa sibuknya, sehingga tidak menyisakan sedikit pun waktu luang? Entahlah! Yang jelas, jalan-jalan aspal di seantero pelosok kabupaten ini, yang paling gampang katara dan karasa oleh masyarakat, ternyata tetap saja hancur-lebur berantakan, berlubang di mana-mana seluas kolam Mang Abing! Jadi, apa sebenarnya padamelan Bapak-bapak, Pak? *** Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id Yahoo! Groups Links
|
- [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Rais + Siswono mj
- Re: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Rais +... joko tingkir
- Re: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Ra... Deni Wahyu
- Re: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amie... joko tingkir
- [UrangSunda] MJ Nuhun Kaosna Tos Katampi Hasan Garut
- RE: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Ra... Budhi Setiawan
- RE: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Rais +... Hendri Mulyana
- RE: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Rais +... Ani Puspita
- RE: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amien Ra... Kania Dewi
- RE: [UrangSunda] pilih presiden sipil: Amie... mj
- [UrangSunda] pilih presiden sipil: HIDU... Kania Dewi
- Re: [UrangSunda] pilih presiden si... Iskandar A. Adnan
- Re: [UrangSunda] pilih presiden si... Budhi Setiawan
- [UrangSunda] Nepangkeun Kania Dewi
- Re: [UrangSunda] Nepangkeu... Iskandar A. Adnan
- Re: [UrangSunda] Nepangkeu... mj

