Oleh : Dr Rochajat Harun Med. 
20-Jun-2008, 12:38:41 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Bahasa merupakan identitas dari sebuah masyarakat, 
etnis, maupun bangsa. Demikian pula basa  (bahasa) Sunda adalah 
identitas budaya masyarakat Sunda. Sejak dua ratusan tahun yang 
lalu, hingga detik ini pun tidak pernah lepas dari pengaruh bahasa 
lain. 

Perubahan adalah suatu keniscayaan, termasuk terhadap bahasa Sunda. 
Sekuat apapun usaha-usaha pemurnian, atau pembatasan masuknya 
akulturasi bahasa, pada akhirnya tidak akan mampu membendung 
perubahan. Menurut para akhli, bahasa akan selalu berdialektika 
dengan zaman. Sampai kini, basa Sunda semakin kaya akan bahasa 
resapan, dan tentu saja semakin jauh dari walagri. Ada beberapa 
catatan sejarah bahwa runtuhnya kerajaan Sunda tahun 1579, serta 
terjajahnya kerajaan Galuh (1595), dan Sumedanglarang (1620) oleh 
kerajaan Mataram, menyebabkan jati diri Sunda terpuruk. Sejak itu 
para bangsawan Sunda, dalem atau bupati di Priangan pada umumnya 
menggunakan basa Jawa dalam berbicara maupun surat menyurat.

Pada jaman Mataram, basa Sunda dianggap basa kampungan, basa cacah, 
basa somahan. Tak patut dipakai dalam pergaulan sehari-hari para 
menak waktu itu. Dalam hal ini penggunaan basa Jawa dianggapnya 
lebih menak, ningrat, serta bisa memperkuat posisi dan jabatan 
seseorang. 
Memang benar, terpuruknya basa dan budaya Sunda adalah akibat 
jatuhna kerajaan Sunda oleh Mataram. Ini dperkuat oleh pendapat Ayip 
Rosidi, seorang budayawan dan sastrawan Sunda. Namun adanya 
penelitian yang dilakukan oleh orang Belanda seperti Andries de 
Wilde dan Taco Roorda pada abad ke 19, bahasa Sunda mulai 
mendapatkan perhatian kembali dan menjadi objek penelitian para 
peneliti Eropah. 
Bahasa Sunda berbeda dengan bahasa Jawa, maupun Melayu. Demikian 
pernyataan Profesor Taco Roorda tahun 1841 yang pernah menerbitkan 
kamus Sunda pertama yang berjudul Nederduitsch-Maleisch en Soendasch 
Woordenboek. Bahasa Sunda diakui sebagai bahasa mandiri yang berbeda 
dengan bahasa Jawa. Sejak itu tambah banyak sarjana-sarjana Belanda 
yang mengadakan penelitian tentang budaya dan bahasa Sunda.

Karya-karya ilmiahmya cukup banyak. Dan sejak itulah orang Sunda 
mulai sadar dan punya kebanggaan terhadap bahasa dan jati dirinya 
sebagai orang Sunda. Upaya para inohong Sunda untuk membangkitkan 
kembali bahasanya itu, sudah berjalan lama. Saya teringat pada 
sebuah puisi Sunda yang ditulis oleh Moehamad Moesa tahun 1867: Anoe 
matak basa Soenda, Diseboetkeun hudang gering, Tapi tatjan djagdjag 
pisan, Buktina tatjan walagri, Basana tatjan bersih, Tjampur Djawa 
djeung Melayoe. 

Dari penggalan bait puisi tersebut tersurat tentang eksistensi 
bahasa Sunda pada zamannya. Namun, budaya dan identitas Sunda, yang 
dulu sempat kehilangan jati dirinya karena pengaruh Jawa, hingga 
pernah pada masanya para menak-menak Sunda menganggap bahasa dan 
identitas Sunda lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan bahasa 
Jawa atau Melayu, kini telah jauh menemukan jatidiri nya. Bisa kita 
lihat misalnya wacana-wacana kesundaan yang sekarang tengah booming. 
Karenanya, basa Sunda sebagai identitas masyarakat Sunda, seyogianya 
ditempatkan pada wilayah yang selayaknya, yakni "roh" budaya 
masyarakat Sunda, sehingga dia tidak akan lengang menghilang dari 
masyarakat Sunda sendiri. 

Saya sangat simpati adanya anjuran dari pak Budyana Kepala Dinas 
BUDPAR Propinsi Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu, yang 
menganjurkan kepada seluruh staf dan karyawannya agar menggunakan 
basa Sunda di kantornya. 

Sebagai catatan kecil, beberapa hari yang lalu saya terima E-mail 
lewat internet dari seorang sahabat yang telah lama mukim di 
Netherland. Dia minta diajarin basa Sunda. Alasannya, karena beliau 
banyak membaca tulisan saya di www.kabarindonesia.com, yang 
seringkali saya bumbui dalam tulisan tersebut dengan kalimat dan 
uraian dalam basa Sunda. Katanya, gara-gara itu dia jadi sangat 
kangen terhadap basa Sunda. Bahkan tulisan dia dalam basa Sunda yang 
katanya rada amburadul akan dikirim kepada saya untuk dikoreksi, 
yang nantinya akan disebar-luaskan ke teman-temannya di Eropah. 

Saya benar-benar terenyuh terhadap permintaan itu. Eumh deudeuh 
teuing, urang Sunda nu tos lila ngumbara di nagri deungeun, kiwari 
masih keneh nineung kana basa indungna. Aya kahayang, niat ngorehan 
deui jati dirina salaku urang Sunda. Ada cerita lain, setahun yang 
lalu pada waktu saya silaturachmi ke ipar saya Nano S., seniman 
moyan yang tinggal di Cigereleng Bandung. Saya bertemu dengan 
seorang wanita Amerika yang sedang bertamu ke Nano, namanya non 
Becky. Diperkenalkan bahwa wanita demplon itu asal Amerika, spontan 
saya nyorocos ngocoblak bicara kepadanya dalam bahasa Inggris sleng 
Teksas. Tadina mah hayang legeg. Saya katakan bahwa saya juga pernah 
belajar di Houston Texas 2 tahun lebih tahun 1978. Belajar di SHSU, 
dan sebagainya dan sebagainya. 

Sewaktu saya menanyakan dengannya  asal dari mana, dan kenapa ada di 
Indonesia. Jawabannya membuat mulut saya calangap terperanjat, 
olohok mata simeuteun. Enon Beky menjawab: "Abdi tos langkung dua 
tahun didieu diajar basa Sunda. Oge diajar mamaos karawitan Sunda ti 
pak Nano. Alhamdulillah abdi tos tiasa cumarios nganggo basa Sunda. 
Oge tembang karawitan tos lancar sakumaha piwuruk pak Nano. Malihan 
mah rekaman kasetna ge tos nyebar di toko-toko kaset". Mendengar 
jawaban tersebut, betul-betul kembali saya terkesiap. Si bedul, 
sugan teh moal kitu jawabanana. Puguh we asa kapupul bayu. Rasa malu 
campur aduk. Geuning urang luar negeri ge boh ti Netherland, 
Amerika, Jepang, China dan sebagainya, banyak yang berminat dan 
gandrung akan basa Sunda-nya. (Dr Rochajat Harun Med.)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): [EMAIL PROTECTED]
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com



Kirim email ke