Sintren, Seni Tradisi Bernuansa Mistis
Rabu, 16 Desember 2009

SENI tradisi sintren, sebenarnya tidak hanya dimiliki warga Cirebon,
namun juga warga pesisir lainnya dari mulai Subang sampai Pekalongan
Jawa Tengah. Meski sempat redup beberapa tahun belakang, namun saat
ini "nyala api" sintren terlihat mulai kembali.
Sejumlah even dari mulai budaya sampai bisnis seperti pembukaan sebuah
pameran mulai menampilkan seni yang kental dengan nuansa mistis
tersebut.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber kalangan seniman tradisi
cirebon, Sintren mulai dikenal pada awal tahun 1940-an. Nama sintren
sendiri tidak jelas berasal dari mana. Namun konon sintren adalah nama
penari yang masih gadis yang menjadi pemain utama dalam pertunjukan
itu.

Budayawan Cirebon Nurdin M. Noor menduga sintren merupakan nama lain
dari dewa Indra Jaya yang dikenal dalam dunia pewayangan. Namun Nurdin
mengakui, tidak tahu kepastiannya karena dugaannya itu hanya
berdasarkan dari alunan syair lagu yang mengiringi pagelaran seni
sintren.

Turun turune sintren,
Sintrene widadari,
Nemu kembang yun ayunan,
Kembange Si Jaya Indra



"Dari alunan syair itu saya menduga, sintren itu perwujudan dewa
sintren atau nama lain dari dewa Indra Jaya yang masuk ke raga seorang
penari sintren yang harus masih gadis," kata Nurdin.
Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata
(Disporbudpar) Kota Cirebon Dr. H. Wahyo, M.Pd. berdasarkan cerita
yang turun temurun, asal mula lahirnya sintren sebenarnya permainan
untuk menghilangkan bosan dan menghabiskan waktu.
Permainan itu tercipta dari kebiasaan kaum ibu dan putra-putrinya yang
tengah menunggu suami/ayah mereka pulang dari mencari ikan di laut.

"Dari pada tidur sore-sore, sambil menunggu suami dan bapaknya,
akhirnya tercipta permainan sintren. Namun siapa yang menciptakan
pertama kali, tidak ada sumber yang menyebutkannya. Karena zaman dulu
belum ada hak cipta, sehingga kebersamaan lah yang lebih
dikedepankan," kata Wahyo. Karena sering dimainkan hampir setiap sore
dan akhirnya sintren menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan kaum pesisir. Dalam perkembangannya, sintren menjadi sebuah
permainan penuh nuansa mistis. Pada perkembangan selanjutnya, sintren
dimainkan oleh para nelayan keliling kampung untuk tujuan mencari
uang, dari saweran yang dihasilkan. Dari yang semula hanya untuk
menambah uang dapur, sintren menjadi objek mencari nafkah hidup

Kesenian Sintren terdiri dari para juru kawih/sinden yang diiringi
dengan beberapa gamelan seperti buyung, sebuah alat musik pukul yang
menyerupai gentong terbuat dari tanah liat, rebana, dan waditra lainya
seperti , kendang, gong, dan kecrek.
Sebelum dimulai, para juru kawih memulai melantunkan lagu-lagu yang
dimaksudkan untuk mengundang penonton.

Tambak tambak pawon
Isie dandang kukusan
Ari kebul-kebul wong nontone pada kumpul.



Syair tersebut dilantunkan secara berulang-ulang sampai penonton
benar-benar berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan Sintren. Begitu
penonton sudah banyak, juru kawih mulai melantunkan syair,Kembang
trate
Dituku disebrang kana
Kartini dirante
Kang rante aran mang rana



Kemudian munculah penari sintren yang masih muda belia. Seorang
sintren haruslah seorang gadis. Kemudian sintren diikat dengan tali
tambang mulai leher hingga kaki, yang tidak memungkinkan  sintren
dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat.
Sintren kemudian dimasukan ke dalam sebuah kurungan besar -yang biasa
dipakai untuk mengurung ayam- yang ditutup kain. Selain sintren, dalam
kurungan juga dimasukan pakaian ganti dan sejumlah asesoris seperti
kaca mata hitam.
Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tidak
henti-hentinya membaca mantra-mantra. Asap yang muncul dari bakaran
kemenyan menemani pawang membaca mantra. Bau kemenyan yang menyergap
merupakan aroma yang ikut menamani penonton.
Asap kemenyan terus mengepul, begitu juga juru kawih terus
berulang-ulang nembang,

Gulung gulung kasa
Ana sintren masih turu
Wong nontone buru-buru
Ana sintren masih baru

Yang artinya menggambarkan kondisi sintren dalam kurungan yang masih
dalam keadaan tertidur. Begitu kurungan dibuka, bukanya hanya sintren
sudah bebas dari ikatan, ia bahkan sudah berganti dengan pakaian
penari dan berkaca mata hitam.
Gerakan tari sintren monoton, hanya bergoyang kanan dan kiri sambil
mengibas-ngibaskan selendang merahnya. Para penonton yang
berdesak-desakan pun mulai melempari Sintren dengan uang logam.
Begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka Sintren akan jatuh pingsan.
Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh
pawang. (Tim)***
Web: http://iklan.pikiran-rakyat.com/?mib=pradd.artikel.detail&id=235

Kirim email ke