REVOLUSI YANG MEMBUNUH ANAK-ANAKNYA SENDIRI Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: www.geocities.com/k2psi/lsm
Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Pulau Buru Benih perjuangan telah tertanam pada diri Risman sejak usia-usia belasan tahun. Sewaktu pendudukan Jepang, ayahnya Husni sering memerintahkan Risman agar mencari-cari kabar mengenai perlakuan tentara-tentara Jepang terhadap rakyat Banten. Tiap hari ia berangkat ke alun-alun Serang untuk mengintai kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar itu, bahkan tugas pengintaian itu terus ia laksanakan sewaktu Belanda melancarkan agresi militernya di tahun 1948. Pernah ia dikejar-kejar oleh patroli Belanda, bahkan ditembaki secara membabi-buta sewaktu ia aktif melakukan tugas-tugas pengintaian itu. Risman asli kelahiran Serang pada tahun 1929. Ia pernah bekerja di Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI) serta bergabung dengan organisasi Serikat Buruh Kendaraan Bermotor (SBKB), bahkan menjabat selaku wakil ketua SOBSI wilayah Serang. Penangkapan atas dirinya terjadi ketika ia sedang menimang anak balita (putera bungsunya) sekitar jam 9.00 malam pada tanggal 5 Oktober 1965. Penangkapan itu tidak tanggung-tanggung, karena ia diserbu oleh gabungan polisi-militer sebanyak satu truk, yang tak bisa dijumlah oleh hitungan jari. Sewaktu ia tinggal dalam tahanan, konon anak bungsunya tak henti-hentinya menangis sambil menanyakan di mana ayah tercinta yang biasa menggendongnya itu. Seorang psikolog menganjurkan pihak keluarga agar sesekali dipertemukan dengan ayahnya di dalam tahanan, namun seorang petinggi militer tak pernah memberikan ijin kepada sang Ibu untuk mempertemukan anaknya itu. Sewaktu anak itu sakit hingga meninggal dunia, Risman tetap dilarang untuk menemui anaknya itu, bahkan pada detik-detik terakhir menjelang penguburannya sekalipun! Segala bentuk pelarangan dan pembatasan itu terus berlanjut dan menimpa keluarga Risman tanpa kenal ampun. Kiriman-kiriman dari rumah dikontrol sedemikian ketatnya, bahkan diambil sebagian isinya dengan alasan ini-itu sebelum akhirnya diberikan separuh sisanya pada Risman. Di awal-awal masa penahanannya, ia mengaku telah diinterogasi lebih dari sepuluh kali. Pada saat pemeriksaan ketiga ia dipaksa oleh seorang jaksa agar mengaku sebagai sukarelawan yang telah diberangkatkan ke Jakarta pada tanggal 30 September 1965. Seketika itu ia diguyur dengan kopi-panas oleh seorang tentara supaya menuruti saja apa-apa yang telah dituduhkan oleh sang jaksa itu. Pada tahun-tahun berikutnya Risman mengaku telah berkali-kali melakukan kerja-paksa, antara lain pembuatan jalan Palima (dari batu-batu gunung), pembuatan jalan Cinangka, belum lagi pembersihan-pembersihan pasar, jalan-jalan raya dan sebagainya. Kerja-paksa yang paling memberatkannya ketika ia diwajibkan bekerja siang-malam untuk pembuatan tempat rekreasi di daerah Batu Kuwung, dengan jatah makan yang sangat sedikit. Saat itu para tapol terpaksa harus bersusah-payah mencari makanan tambahan untuk mengimbangi gizi dan energi yang dibutuhkan selama masa kerja berat itu. Semua kerja-paksa yang dilakukannya itu telah dipimpin oleh seorang komandan Korem bernama Anhar, dan ia beserta tentara-tentara bawahannya menamakan kerja-paksa tapol itu dengan sebutan Proyek Mulana Yusuf. Sewaktu Risman dipekerjakan di jalan Ciwedus, kesehatannya menurun drastis, karena ia menderita sakit ambeyen. Setelah itu ia pun ditempatkan pada bagian administrasi, yang bertugas mengurusi arsip-arsip penjara. Pada saat inilah ia merasa lebih leluasa untuk membongkar-bongkar dokumen para tapol yang dipekerjakan di seluruh wilayah Banten. Ketika terjadi pembebasan massal terhadap sebagian tapol Serang (di tahun 1971) Risman tetap saja bertugas di bagian administrasi, sampai kemudian ia merasa terheran-heran ketika pada akhir 1971 tiba-tiba dipindahkan ke Nusakambangan. Ia tidak mengerti kenapa semua itu diberlakukan atas dirinya, terlebih-lebih sewaktu ia dipindahkan lagi ke Pulau Buru bersama istri dan anak-anaknya untuk digabungkan bersama tapol-tapol pada unit 15. Pada tahun pertama di Pulau Buru itu, para tapol Unit 15 diperintahkan secara serentak untuk membangun ratusan rumah dan sebuah bangunan sekolah, yang di kemudian hari Risman baru mengerti, bahwa para tapol (di Unit 15 itu) kelak dijadikan contoh dan sampel, untuk menunjukkan pada dunia internasional seakan-akan para tapol Indonesia telah diperlakukan sebaik mungkin, seperti layaknya para transmigran-transmigran yang diberangkatkan dari Pulau Jawa. Pembuktian lain begitu mudah dipahami, bahwa di setiap ada kunjungan dari dunia internasional (baik Amnesty International, rohaniwan maupun LSM luar negeri), anak-anak Risman yang paling kurus disembunyikan oleh tentara di tengah-tengah hutan. Sedangkan dua anaknya yang agak gemuk, boleh diperlihatkan kepada tamu-tamu dari luar negeri itu. Diakuinya bahwa selama tahun-tahun pertama di Pulau Buru, ia harus bersusah-payah menghidupi istri dan anak-ananya. Belum lagi ketika datang musim paceklik, di saat ikan-ikan di sungai sulit ditemui, maka yang menjadi makanan sehari-harinya tak lain adalah ular-ular dan tikus. Secara jujur diakui bahwa keluarga Risman sering menerima bantuan dari tapol-tapol pada unit-unit lain (seperti Hersri Setiawan atau Buyung) yang kadang mengiriminya sayuran atau buah-buahan. Bantuan-bantuan itu memanglah tidak seberapa nilainya, namun kesanggupan memberi sesuatu di saat-saat dalam kesulitan, adalah suatu keluarbiasaan yang patut diperhitungkan. Dan lewat tulisan dan wawancara ini Risman menghaturkan salam dan ucapan terimakasih kepada mereka-mereka yang telah banyak membantu keluarganya selama tinggal di Pulau Buru itu. Konon menurut pengakuan Risman, keluarganya sering diganggu dan direcoki oleh intel-intel yang kadang memprovokasi para tapol agar melakukan perlawanan dan pemberontakan kepada militer-militer penjaga. Anak-anak Risman bahkan pernah dihasut-hasut oleh seorang provokator yang menyusup, dan setelah diadakan penyelidikan, ternyata dia itu seorang kapten yang menjadi kaki-tangan dari seorang komandan (yang sudah dikenalnya). Dan memang, untuk sekadar melawan dan memberontak sih mudah-mudah saja. Tapi pemberontakan yang tidak terencana dan terorganisir, untuk melawan pihak-pihak yang bersenjata lengkap, hal itu merupakan keteledoran dan kekonyolan yang akan merugikan pihak pemberontak itu sendiri. Dan Risman berkali-kali mewanti-wanti anak-anaknya, agar jangan sampai terjebak melakukan sesuatu yang tanpa diperhitungkan dan dikonsultasikan terlebih dahulu. Akhirnya, sekitar tiga bulan menjelang pembebasan massal, segala tanaman dan pepohonan miliknya, telah disita oleh petinggi milter yang berkuasa di sana. Bahkan untuk ongkos kepulangan pun, Risman dan keluarganya terpaksa harus menjual seluruh barang-barang berikut perabot-perabot rumah-tangga kepada para penduduk pribumi di Pulau Buru. *** Pewawancara: Risa Octavianty, Habibi dan Hafis Azhari Responden: Risman (Alamat dan identitas responden selengkapnya ada di tangan K2PSI) ------------------------------------------------------------------------------------------- Tak ingin anak-anaknya tumbuh jadi pendendam Pada tahun 1965 Darso baru menginjak usia 13 tahun dan duduk di kelas 5 SD. Ia termasuk salah satu dari keturunan Sultan Hasanuddin Banten, dan ayahnya Halimi, adalah seorang mantan polisi tentara yang pernah ditipu oleh Jepang untuk bekerja dalam kesatuan Heiho yang sebetulnya tak pernah menerima bayaran yang dijanjikan. Darso menceritakan bahwa ayahnya ditangkap pada tahun 1966, karena bergabung dalam Serikat Buruh Kepenjaraan (SBK) yang dikait-kaitkan dengan SOBSI. Padahal selama pengabdiannya di penjara, Halimi bertugas sebagai tenaga pengajar bagi para tahanan kriminal yang sangat butuh pendidikan dan pengetahuan. Sewaktu Halimi ditahan, istrinya pun yang bekerja sebagai Guru SD tiba-tiba digolongkan sebagai aktivis Gerwani, yang kemudian diungsikan ke pedalaman Serang untuk mengajar di wilayah baduy pedalaman. Selain itu pamannya yang bertugas selaku karyawan PJKA, juga ikut dinonaktifkan dari pekerjaannya. Penangkapan Halimi dilakukan melalui proses dan ancang-ancang panjang. Banyak informasi menyatakan bahwa pihak kepolisian sudah merencanakan penangkapan sejak Oktober 1965, namun belum pernah ada hasilnya. Pihak militer Korem juga telah berkali-kali mengalami kegagalan dalam upaya penangkapannya. Barulah pada pertengahan tahun 1966 ia dikepung oleh gabungan CPM, hingga kemudian ditangkap di sekitar jalan Kaujon, Serang. Selama interogasi-interogasi di kantor Korem kepada anaknya Darso Halimi mengaku sering dipukuli hingga babak-belur, terlebih-lebih sewaktu dipekerjakan di daerah Sawah Luhur. Bersama tapol-tapol lain ia dipaksa untuk membongkar beberapa bukit dan gunung, di mana batu-batunya dipakai untuk membangun jalan Palima di daerah Cinangka. Penangkapan yang menimpa Halimi sama sekali tanpa pemberitahuan pihak keluarganya. Selama berminggu-minggu mereka menanti kepulangan sang ayah yang tak pernah kunjung tiba. Mereka bersusah-payah mencari-cari kabar tentang sang ayah, hingga kemudian ada seorang sepupu yang berhasil mendapatkan berita bahwa Halimi sedang mendekam dalam tahanan Korem Serang. Ada baiknya disampaikan mengenai pengabdian Halimi di masa lalunya, sewaktu ia bertugas sebagai TNI di masa pemerintahan Bung Karno. Ia pernah ditugaskan di Burma, bahkan pernah berjuang mati-matian untuk membasmi pemberontakan DI-TII. Halimi pernah dipenjara oleh Belanda sewaktu berjuang melawan penjajahan, juga pernah ditahan di penjara yang sama sewaktu pendudukan Jepang. Dan kini di penjara yang sama pula ia menjadi tahanan politik rejim militer Orde Baru. Sewaktu kerja paksa di Sawah Luhur, Darso (anaknya) yang baru menginjak kelas 2 SMP, tak pernah diijinkan pihak militer untuk menjenguk ayahnya. Berkali-kali ia membawa bekal di rantang, menempuh jarak puluhan kilometer dengan mengendarai sepeda, namun sesampainya di pintu gerbang selalu saja tak mendapat ijin untuk berjumpa dengan sang ayah. Suatu malam ia nekad mengendap-endap agar dapat melihat kondisi ayahnya, dan sewaktu ditemuinya ia dapat membuktikan langsung bahwa ayahnya bersama ratusan tapol Banten lainnya sedang tidur di suatu kandang sapi dengan dikelilingi oleh pagar kawat berduri. Konon pihak militer Korem tidak pernah menyebut tempat itu sebagai kandang sapi, tapi mereka menamainya dengan sebutan Gubuk Besar. Kemudian sewaktu dipekerjakan di daerah Batu Kuwung, Halimi mengaku sering ditendangi dan dipecuti hingga memar-memar. Karenanya ia pernah berpesan agar anak-anaknya jangan sampai menjenguknya untuk sementara waktu. Saya tidak mau anak-anak saya tumbuh menjadi orang-orang pendendam, demikian pejelasan Halimi. Pada saat pembebasan massal, Halimi akhirnya dibebaskan dengan menandatangani selembar kertas yang menyatakan bahwa ia tidak terlibat dalam G30S. Tapi meskipun begitu, tetap saja ia dikenakan wajib lapor setiap minggunya di kantor kelurahan, bahkan selama puluhan tahun tetap tak diperbolehkan ikut pemilu. Karena ayah yang terus-menerus dipenjara serta ibu yang dikucilkan di pedalaman, Darso tidak sempat mendapat pendidikan tinggi, bahkan tamat SMA pun tidak. Tapi karena kegigihan da keuletannya ia bisa diterima untuk bekerja pada P.T. Krakatau Steel, meski kemudian ia menolak saat dinaikkan posisinya menjadi ketua bagian mekanik, karena ia merasa bahwa masih banyak orang-orang yang lebih pantas menduduki jabatan itu, ketimbang dirinya. Buat apa saya menerima pekerjaan yang sebetulnya bukan keahlian saya, meskipun gajinya dijanjikan besar sekali, begitulah tandas Darso. Darso mengaku sering mengalami screening atau pemeriksaan santiaji sewaktu bekerja di P.T. Krakatau Steel, terlebih-lebih sewaktu P.T. itu dipimpin oleh Tungki Ariwibowo. Pemeriksaan yang terus-menerus begitu menjengkelkan dirinya, meskipun ia bersikeras untuk melepaskan diri dari tuduhan-tuduhan PKI itu. Saat ini Darso hidup bersama keempat anak-anaknya di daerah Kota Cilegon. Perceraian dengan istrinya tak membuatnya gentar apalagi putus asa. Ia mengerti bahwa sang istri telah terkontaminasi oleh unsur-unsur ekstern yang membawanya pada arus budaya Orde Baru yang mudah mengklaim hitam-putihnya kehidupan seseorang. Sambil mengasuh dan membesarkan empat anak-anaknya Darso bertekad akan memberikan bekal pendidikan yang menekankan semangat toleransi serta menghargai orang lain. Ia tetap berharap bahwa suatu hari kelak istrinya mengalami proses kesadaran yang matang untuk kembali menerima keluarganya, serta hidup rukun bersama keempat anak-anaknya . *** Pewawancara: Muhammad Thorik, Risa Octavianty dan Hafis Azhari Responden: Darso (Alamat dan identitas responden selengkapnya ada di tangan K2PSI) --------------------------------------------------------------------------------------------- Perampasan hak milik keturunan Tionghoa di Banten Winarto kelahiran Wonosari, Yogyakarta, pada tahun pekerjanya melarikan diri dari tugas berat itu, Winarto beserta kawan-kawannya dikenakan hukuman jemur di depan umum, sambil digunduli kepalanya. Diakuinya bahwa selama bertahun-tahun di penjara, Winarto tak pernah memberitahu pihak keluarganya di Wonosari, Yogyakarta, hingga ketika ibunya mendapat firasat kurang enak, lantas menanyakan ke sana kemari sampai akhirnya tahu bahwa anaknya telah dikenakan tapol PKI, kontan ia jatuh sakit selama bertahun-tahun. Dari pihak keluarganya di Yogyakarta, Winarto pun mendengar kabar mengenai sepupunya yang bernama Cokrowiyoto yang juga mengalami nasib sama akibat kekisruhan G30S di Jakarta itu. Tragisnya, sejak saat itu Cokrowiyoto telah hilang tanpa jejak, bahkan ketika wawancara dan tulisan ini diturunkan, tetap saja belum diketahui di mana rimbanya. Pada tahun 1977 Winarto kemudian dibebaskan secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan dari siapapun, bahkan tanpa surat pembebasan dari pihak manapun. Saat itu ia menumpang di rumah seorang saudaranya di Cilegon, sambil berusaha keras mencari-cari pekerjaan ke sana kemari. Kesulitan mencari pekerjaan dirasakannya selama bertahun-tahun, karena identitas kewarganegaraannya berstatus eks-tapol yang membuat perusahaan manapun tak berani menerimanya. Di saat-saat serba kesulitan itu ia pun tak bisa menolak kehadiran seorang wanita yang mau menerimanya serta ingin dinikahinya, di mana kehidupan wanita itu sudah cukup mapan dan berkecukupan. Wanita itu terus mendampinginya hingga saat ini, dikaruniai empat anak-anak yang sudah tumbuh dewasa. Bahkan sampai saat ini semua orang tak mengenal bahwa wanita bernama Umiyati itu adalah mantan pengurus Gerwani Cabang Cilegon (dan tak pernah dikenakan tahanan politik di manapun). *** Pewawancara: Bayinatal Muchira dan Hafis Azhari Responden: Winarto (Alamat dan identitas responden selengkapnya ada di tangan K2PSI) ------------------------------------------------------------------------- Seorang kawannya tewas sewaktu kerja paksa di Karang Bolong, Anyer Setelah lulus Sekolah Teknik di Boyolali, Suherman merantau ke daerah Sumatera untuk mencari pekerjaan. Saat itu ia belum paham politik, hingga kemudian ditugaskan ke daerah Cilegon sebagai karyawan P.T. Utama Karya, suatu pabrik yang mengolah bahan-bahan berat dari besi baja. Pada awal tahun 1965, ketika maraknya aktivitas politik di Jakarta, ia tertarik untuk bergabung dengan SOBSI Utama Karya, suatu organisasi yang banyak membicarakan hak-hak para karyawan, khususnya di daerah Cilegon. Sejak itulah ia mulai mengenal tokoh-tokoh penting, para doktor dan insinyur lulusan dalam dan luar negeri, dan salah satunya adalah Haryono, seorang pemuda jenius yang memimpin SOBSI Utama Karya, dan kemudian terbunuh di Pulau Buru. Haryono banyak mengajarinya tentang seluk-beluk sosial-politik di Indonesia, bahkan hingga ke masalah hak-hak dan perbandingan antara nasib buruh Indonesia dengan negeri-negeri Eropa. Suherman mengagumi pemikiran-pemikiran brillian dari doktor-doktor lulusan luar negeri itu, termasuk mereka-mereka yang bertugas di P.T. Baja Trikora (yang kini menjadi P.T. Krakatau Steel). Sampai saat ini perusahaan itu masih dibeliti oleh sengketa-sengketa soal hak-milik atas perumahan KS, yang semuanya bermuara pada pengambil-alihan kepengurusan dari karyawan dan ahli-ahli teknisi yang pro Bung Karno dengan orang-orang yang pro Soeharto (setelah peristiwa G30S). Pada saat interogasi Suherman mengaku banyak menemui pertanyaan-pertanyaan aneh yang tak jelas juntrungannya. Beberapa hal yang disodorkan ke hadapannya antara lain: Apakah betul dalam setiap pertemuan SOBSI, Anda selalu mengatakan setuju tentang G30S/PKI? Apakah betul Anda percaya bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kudeta? Semua pertanyaan itu tentu saja dijawab dengan tidak, karena ia tidak tahu-menahu urusan keributan di Jakarta. Bahkan istilah G30S/PKI, juga istilah bahwa Dewan Jenderal akan melakukan kudeta betul-betul baru didengarnya saat itu juga. Tapi jawaban ya ataupun tidak, sama sekali tidak mempengaruhi keputusan pihak militer yang sudah terstruktur dari pusat secara teritorial. Yang jelas nama Suherman sudah terdaftar agar menjadi tahanan LP Serang bersama dengan kawan-kawan lain yang kebanyakan dari P.T. Baja Trikora. Di LP itu Suherman berjumpa dengan tenaga-tenaga ahli profesional, sarjana-sarjana teknisi angkatan pertama di Indonesia. Sebagian lain sudah siap-siap akan dilantik sebagai pegawai negeri yang kemudian jabatan itu diambil-alih oleh tentara-tentara ABRI yang tak mengerti apa-apa soal operasional pengolahan besi baja secara baik dan profesional. Karena keahliannya di bidang teknik itu Suherman mengaku bahwa perlakuan kasar jarang diberlakukan atas dirinya, namun pelayanan penjara yang sangat buruk adalah bentuk lain dari perlakuan kasar itu. Di beberapa tempat sarana dan fasilitas tidaklah memadai untuk dihuni dan ditinggali. Jatah makan yang diberikan juga tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan para tapol Banten yang begitu banyak. Dalam kondisi yang mengecewakan itu pihak Korem mempunyai gagasan baru yang justru lebih mengecewakan lagi, yakni para tapol harus dipekerjakan sesuai keahlian dan bidangnya masing-masing, demi untuk keperluan dan kepentingan keluarga para militer. Seketika itu dirancanglah suatu proyek besar-besaran untuk memperlakukan para tapol seperti robot komputer yang harus menuruti perintah majikan dan atasannya. Mereka pun dikerahkan untuk menyebar di berbagai daerah, antara lain menggarap perumahan-perumahan ABRI, jalan-jalan raya, bangunan perguruan tinggi, sekolah, hingga ke tempat-tempat pariwisata di sepanjang Pantai Anyer. Coba perhatian dan kunjungilah bangunan-bangunan yang masih berfungsi hingga saat ini, yang kesemuanya adalah hasil jerih-payah para tapol yang diperlakukan secara paksa dan kerja-rodi: bangunan SMP I Cilegon, SPG Rangkasbitung dan Pandegelang, Gedung Olah Raga Serang, SMP II Serang, asrama Saptamarga (perumahan dinas ABRI), perombakan Mesjid Agung Banten, STIA Maulana Yusuf Serang, IAIN Serang, jalan raya Unyur, jalan Kavling Ciwedus, tempat Pariwisata Batu Kuwung, dan lain-lain. Tugas-tugas berat yang ditanggung oleh tapol-tapol Banten itu, telah memakan korban-korban yang belum tercatat secara lengkap dalam data-data K2PSI. Dari pengakuan Suherman sendiri, ia pernah menyaksikan seorang kawannya tewas ketika sedang menjalani tugas untuk perombakan tempat pariwisata Karang Bolong di Pantai Anyer. Seorang kawan itu bernama Djoko, dan dalam keadaan sakit ia tetap dipaksa melakukan kerja keras di tempat itu, yang kabarnya harus segera mengejar target untuk penjualan tiket pariwisata pada hari libur. Suherman dikeluarkan pada tahun 1971. Beruntung ia digabungkan dengan golongan C1 yang banyak mendapat keringanan hukuman. Sejak saat itu menggelandang ke sana kemari, mencari-cari pekerjaan ke sana kemari, hingga akhirnya direkrut oleh seorang kawannya Sukirno (mantan tapol) yang telah mendirikan suatu PT di bidang kontraktor. Karena keahliannya dalam berbagai bidang Suherman akhirnya ditugaskan selaku ketua bagian teknisi pada PT tersebut. Pada periode itulah kemudian ia menikah dengan Tati Hartati, seorang wanita karir yang telah mengabdi selama belasan tahun sebagai Guru, meski kemudian dipersulit kenaikan tingkatnya karena bersuamikan seorang mantan tapol. Kini mereka dikaruniai tiga anak yang sudah beranjak dewasa, yang ketiga-tiganya sempat mengecap pendidikan tinggi di Jakarta dan Bandung. Suherman bertekad mendidik anak-anaknya secara baik dan bertanggungjawab, agar memperoleh hak-hak kemanusiaannya secara wajar, dan tidak terbelenggu oleh berbagai tekanan dan paksaan, serta tidak tergenangi oleh ketakutan dan kebisuan puluhan tahun selama rejim Orde Baru ini . *** Pewawancara: Muhamad Thorik, Lukmanul Hakim dan Hafis Azhari Responden: Suherman (Alamat dan identitas responden selengkapnya ada di tangan K2PSI) __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! SPONSORED LINKS Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card Indonesia travel Bali indonesia Indonesia --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "wongbanten" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- --------------------------------- Brings words and photos together (easily) with PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail. [Non-text portions of this message have been removed] Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
