Waalaikum salam wr.wb. Maaf, Pak Surya, saya baru baca postingan Bapak, karena baru kelihatan. Saya kira saya saya sudah menjawab kenapa saya tidak setuju dengan MTQ pada postingan-postingan saya yang lalu. Dalam kerangka yang lebih luas, nasional, justru akan semakin terlihat lagi kalau perhelatan MTQ tidak peka terhadap persoalan yang tengah melanda bangsa ini. Di negeri ini, setiap hari pengangguran terus bertambah dan kemiskinan semakin menyebar. Belum lagi bencana demi bencana yang datang seakan tak pernah berhenti, seolah berlomba-lomba dengan wabah korupsi (di Indonesia sekarang ini enggak ada lagi lo, Pak, yang korupsinya hanya ratusan juta rupiah, tapi sudah miliar-miliaran. Coba deh perhatiin di koran). Penyelenggaraan MTQ (yang notabene kental dengan aroma religinya) yang menghabiskan dana lebih dari 40 miliar, menurut saya pribadi, sungguh perbuatan tak masuk akal dan mengkhianati amanat agama, yang menjunjung tinggi nilai moral. Bukankah satu di antara tugas yang paling penting dari Rasulullah Muhammad s.a.w. diutus ke dunia ini adalah untuk memperbaiki akhlak (moral) manusia? Lalu, standar moral apa yang dipakai oleh penyelenggaraan MTQ di tengah situasi dan kondisi Indonesia, khususnya Banten, yang sedang sangat memprihatinkan sejak beberapa tahun belakangan ini? Cuma orang-orang yang bermoral bejat yang tega berpesta sementara di sekitarnya ada begitu banyak orang kelaparan. Belum lagi kondisi lingkungan yang amburadul. Ya, dengan dana puluhan miliaran rupiah, MTQ kemungkinan besar akan menjadi ajang pesta, bukan hanya ajang lomba qari/qariah melantunkan ayat-ayat suci.
Kalau negara-negara petro dolar menyelenggarakan MTQ mungkin itu bisa dimafhumi karena mereka makmur--meski kenyataannya, masih ada berjuta-juta orang Islam di Palestina, Irak, dan Afghanistan, misalnya, yang dari detik ke detik harus berjuang mempertaruhkan nyawa untuk hidup dan mempertahankan kehormatannya sebagai orang Islam. Soal sebutan jawara, itu dilansir oleh Boni, Pak, bukan oleh saya. Boni itu sejarawan yang jadi wartawan koran Jurnal Nasional, Pak. Dia orang Rangkas dan keturunan jawara juga. Kalau cuma golok dan pelor sih kagak bakal bisa bikin lecet kulitnya. Jadi, sebenarnya, dia sedang melakukan otokritik, mengkritik diri dan keluarganya sendiri, hehehe.... Kembali ke soal MTQ itu, Pak. Saya berharap perdebatan yang ada di milis ini soal MTQ didengar oleh Atut dan para wakil rakyat di Banten yang sangat terhormat. Syukur-syukur didengar SBY lewat Dr. Mukhlis di Antara, karena beliau kan salah seorang tim sukses SBY. Setidaknya, saya berharap Boni akan mempersoalkan ini di korannya, sehingga duit 40 miliar lebih itu akhirnya bisa menggelontor untuk sesuatu yang lebih banyak manfaatnya buat fakir-miskin, anak yatim, dunia pendidikan, dan perbaikan sarana dan prasarana di daerah-daerah terpencil Banten. Amin. Pak, 40 miliar itu gede banget, kan, ya? Kan, 1 miliar aja = seribu juta. Jadi, 40 miliar itu = 40 ribu juta. Kalau dibeliin sate bandeng, jalan tol Merak-Jakarta bisa ketutup rapet tuh, Pak. Hehehe.... Salam, Pedje --- "H. M. Surya Alinegara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamualaikum.War.Wab. > > Tuan Pedjes, terlalu gegabah dan sangat merendahkan > nilai > dan tujuan MTQ, dan jangan disamakan dengan Jawara > yang notabanenya identik dengan Srigala dalam > masyarakat ?? > MTQ adalah MTQ bersifat nasional, bahkan terpelihara > dalam dunia Internasional mempunyai tujuan serta > nilai ibadah > alias pengabdian kepada Allah SWT.( Dinullah) > > Usul saya, salah seorang wong Banten di perantauan, > non jauh > disana, yang selalu ikut prihatin dan peduli dengan > Nasib Prop. > Banten adalah bagaimana Kepercayaan Pemerintah > (MTQ_Nasi > onal) di Banten dimanfaatkan dananya untuk > pembangunan pisik > sebagaimana Pekan Olah Raga/Asian Game disuatu > daerah, seperti > tahun ini akan diselenggarakan Pekan Olah Raga di Di > Prop. Riyaw > membangun gedung olah Raga dan perbaikan jalan dan > sarana lain > layaknya menerima tamu dari luar Propinsi. > Apa bedanya dana Pekan Olah Raga dan MTQ...? Jadi > ada bekas/ > peninggalan bersejarah dan itulah hasil Panitia MTQ > untuk mendapatkan > amal jariah yang kekal berkepanjangan serta > berkesinambungan kelak..!!! > Panitia Penyelenggara sudah punya gajih alias PNS, > kerjanya jangan di > hitung lembur, itu berarti korupsi waktu...! Apalagi > Gupenur dan bawahannya.??? > > Den Haag-Holland. > MSA. > > > > http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/ ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
