weks, kok rata2 di mall kalibata? (bener yak mall kalibata?) jangan2 ntar mall kalibata city juga jadi tempat sasaran mereka mangkal neeeeeh oh tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak [?]
*~**You crap on my leg, I'll cut it off "Coach Beiste - Glee"** * 2011/7/7 Zigo AlCapone <[email protected]> > *Strategi Dan Alasan ABG Mencari Pria Hidung Belang Dan Om-om* > > > <http://www.gallerydunia.com/2011/04/strategi-dan-alasan-abg-mencari-pria.html> > > Menjadi cewek metropolis ataupun cewek gaul yang glamor dan tak ketinggalan > mode, hanya bisa terwujud bila memiliki uang dan uang. Untuk meraih impian > itu, sejumlah anak baru gede (ABG) yang ekonomi orangtuanya lemah, menempuh > berbagai cara. Sebagian di antara cewek usia belasan tahun ini mencari uang > dengan jalan menjual diri alias menjadi pelacur amatiran .wkakakkakakakkaa,, > > “Uang dari orangtua mana cukup buat beli baju gaul, HP model terbaru? Bisa > ketinggalan kita,” kata Ratna,17, (bukan nama sebenarnya), cewek ABG kormod > alias korban mode. > > Upaya memenuhi keinginannya itu, Ratna rela jadi pelacur amatir. Pusat > perbelanjaan dijadikan sebagai ajang bergaul sekaligus meraup rupiah dari > lelaki iseng pencari kenikmatan sesaat. Mejeng di mal sambil mencari mangsa. > > Terhadap ABG kelompok ini, pria iseng cukup bermodal Rp100 ribu, bisa > kencan sambil menjamah tubuh, meskipun hanya sebatas close up alias setengah > badan. > > Sepak-terjang ABG yang menjajakan diri ini bisa ditemui di sejumlah pusat > perbelanjaan di ibukota. Ironisnya, mereka rata-rata berstatus pelajar, ada > juga mahasiswi. > > Alasan mereka kepada orangtua, pergi belajar kelompok atau mengikuti > kegiatan sekolah agar bisa bebas keluar rumah. ABG bangor beroperasi di mal > tak cuma malam hari, tapi banyak pula dijumpai nongkrong siang bolong > menjajakan diri. > > Mereka ada yang dijuluki cewek parkir lantaran mangkalnya di tempat parkir, > ada pula mangkal di pusat jajan makananan (food court), ada juga yang > mencari sasaran di depan gedung bioskop. Pekcun alias perek culun, begitulah > julukan yang sering dilontarkan publik terhadap mereka. > > Lebih Agresif > > Dari pantauan sebuah koran Jakarta, di mal pada kawasan Kalibata misalnya, > ada sekitar 30 cewek ABG mencari mangsa tersebar di ruang tunggu bioskop, > food court dan tempat parkir. Pemandangan serupa dapat dipantau pada pusat > perdagangan dan perbelanjaan di kawasan Senen serta pusat perdagangan dan > perbelanjaan di kawasan Rawamangun. > > Gaya mereka menyerupai gadis lainnya yang datang ke mal untuk belanja. > Inilah yang kerap membuat jengah gadis baik-baik karena kena imbas dikira > cewek mal cari mangsa. > > Mengenakan celana jins model pensil, kaos lengan pendek, blus model baby > dol yang sedang ngetren, penampilan mereka sama sekali jauh dari kesan > sebagai pelacur. > > Namun bila diperhatikan, ada hal yang membedakan antara ABG pelacur dengan > ABG baik-baik. ABG pelacur tampil centil, genit, agresif, berani menggoda > lelaki meski belum dikenal dan bersikap sangat ramah. > > Sasaran mereka, selain pria yang biasa dijuluki brondong juga lelaki > setengah baya alias om-om parlente dan tajir alias berkantong tebal. > > “Nih brondong keren euy. Tapi keren-keren gitu namanya Parto lho, atau Gino > kali ya?” celetuk satu cewek ABG di depan bioskop yang disambut tawa > cekikikan dua teman lainnya. > > Bagi pria yang masuk perangkap, kencan pun dimulai. Obrolan mereka nyambung > dan langsung akrab. > > Sama halnya di food court, cara mereka menarik perhatian lelaki dengan > kerlingan mata atau membuat canda berlebihan. “Meskipun cuma dibayarin makan > aja, gak apa-apalah, lumayan juga,” kata Ratna, yang mengaku dirinya dan > bersama geng kerap mangkal di satu mal kawasan Kalibata. > > Lain lagi dengan cewek parkir, tampilannya berlagak menunggu teman. Padahal > mereka mejeng sambil matanya melirik-lirik ke arah lelaki yang diincar. > > Layanan Close Up > > Kelompok ABG ini selain mencari uang juga mencari kesenangan di mal. Target > lain bisa belanja barang harga mahal dan dapat menyantap makanan enak. > > Tarif mereka terbilang murah antara Rp 100 ribu hingga Rp300 ribu. Pelaku > prostitusi terselubung ini memberi pelayanan dari pinggang ke atas. Istilah > mereka close up. > > Pelayanan colse up berlangsung singkat. Tempatnya di dalam gedung bioskop > sambil nonton film. Lelaki iseng leluasan menggerayangi tubuh ABG selama > pemutaran film berlangsung. Kencan bisa juga dilakukan di dalam mobil yang > sedang diparkir. > > Bila mau pelayanan lebih, harus tambah ongkos minimal Rp300 ribu untuk > di-booking ke hotel. Harga pasaran ABG ini bisa turun asal mereka diajak > shoping. > > “Sebelum ngeroom (istilah untuk ngamar) kita belanja-belanja dulu,” cerita > Ririn, ABG lainnya. > > Bagi lelaki pemburu ABG di mal, paham betul cara menggaet mereka. Tentu > dengan cara mengajak belanja pakaian dulu, baru dibawa ke kamar hotel. > > Mau mencari cewek parkir dimal? Mereka biasa mejeng sekitar Pk. 19:00 saat > pengunjung banyak yang mulai meninggalkan mal. Operasi pekcun kelompok ini > cukup rapih. Mereka tak hanya mejeng di area parkir, tapi kadang bersembunyi > di tempat tertentu. > > Untuk bisa menemui mereka, lebih dulu ketemu juru parkir (jukir) nyambi > sebagai germo. Jukir yang nyambi ini kemudian mengontak mereka. Pekcun > beroperasi di arena parkir, geliatnya lebih profesional ketimbang yang > mangkal di sekitar bioskop atau di food court. > > Tentu saja si tukang parkir mendapat jatah dari cewek yang dapat tamu. > Setiap kali dapat tamu, si cewek memberi upah Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. > > Tak hanya tukang parkir yang kecipratan uang. Kalangan preman pun mendapat > jatah uang perlindungan. “Kalau mau aman, ya kita bagi juga mereka, sekedar > buat beli rokok,” ucap Siska, 19, cewek parkir, sambil menyebut nilai > minimal Rp20 ribu untuk jatah preman. > > Preman ini bukan tanpa jasa. Kerja mereka menghubungi si pekcun bila ada > razia petugas. “Tugas mereka harus cepet-cepet kasih tau kita kalau ada > petugas,” ungkap Lina, 17, dara yang mengaku pelajar satu SMA di Jaksel. > > Dalam satu minggu, pekcun mengantongi uang antara Rp200 ribu Rp400 ribu. > Mereka mengaku tak ada germo yang mengkoordinir secara khusus. > > Beberapa tahun silam, aparat merazia puluhan ABG dirazia di mal kawasan > Kalibata. Terbukti keberadaan mereka dikoordinir seorang cewek yang > bertindak sebagai germo. > > Fenomena ABG jual diri merupakan imbas dari rongrongan gaya hidup > metropolis, tak seimbang dengan kemampuan ekonomi orangtua. > > Butuh duit buat jajan > > SISKA begitu ia biasa dipanggil. Gadis yang baru tumbuh dewasa itu mengaku > menjadi ‘penjudi’ (penjual diri) karena ingin seperti kawan-kawannya yang > hidup berkelimang kemewahan. Tapi dia sadar, kalau keinginannya untuk > seperti itu tidak akan bisa karena kedua orang tuanya hidupnya serba > pas-pasan. > > “Jangankan untuk membeli pakaian yang harganya cukup mahal, untuk belanja > sehari-hari aja kurang,”kata gadis yang mengaku masih sekolah di SLTA > dibilangan Jakarta Selatan tersebut. > > Dengan ketiadaannya itu, ABG (anak baru gede) yang satu ini terpaksa mejeng > dan menjual diri di mal. Tujuannya hanya satu, dapat nonton dan menemani > om-om yang berkantong tebal. Gadis mungil berkulit putih itu pun hampir tiga > kali dalam satu minggu nongkrong di pusat perbelanjaan dibilangan Kalibata, > Jakarta Selatan. > > Kebutuhan hidup > > Sepintas orang tidak akan menyangka kalau perempuan yang mengaku baru > berumur 15 tahun itu menjual diri demi memenuhi kebutuhannya hidup yang > mewah. Sebenarnya Siska malu. Apalagi jika bertemu dengan teman atau > tetangga rumahnya. “Habis gimana Bang, jika nggak begini saya tidak punya > duit jajan yang cukup. Uang yang dikasih orang tua tak cukup,” kata Siska > yang mengaku tinggal di kawasan Cempaka Putih, Jakpus. > > Anak kedua dari empat bersaudara itu mengaku bapaknya hanyalah buruh pabrik > di kawasan Bekasi dengan gaji yang sangat pas-pasan. Hidup serba kekurangan, > sementara teman sebayanya hidup serba berkecukupan. Iri ingin seperti teman > – temanya membuatnya mengambil jalan pintas. > > Berbekal tubuh yang seksi, dia terpaksa terjun ke dalam bisnis “esek- > esek”. “Pertama-tama saya melakukannya sempat gemeter dan takut akan > ketahuan orang, tapi kini sudah terbiasa, “ katanya seraya menambahkan > sekali kencan, dia pasang tarif antara Rp 200.000 hingga Rp 250.000. > > Kesepian di rumah > > Lain lagi dengan Lia. Kebiasaan nongkrong di bioskop itu karena merasa > kesepian di rumah setelah kedua orang tuanya sibuk dengan bisnisnya > masing-masing. Hampir setiap pulang sekolah gadis itu menyempatkan diri > datang ke bioskop yang berada di kawasan Atrium, Senen, Jakarta Pusat. Di > tempat itu, ABG ini mengaku banyak teman bukan hanya sesama pelajar > seusianya, tapi om-om yang suka mencari daun muda. > > “Saya sering diajak nonton sama om-om dan brondong. Saya nggak pernah > pasang tarif, berapa pun dia mengasih pasti saya terima,”ujar Lia sambil > menambahkan setiap diajak nonton dirinya di kasih uang Rp 100 ribu hingga > 200 ribu. > > Lia mengaku setiap hari selalu membawa baju dan celana ganti. “ Kalau pakai > seragam sekolah dilarang satpam masuk ke mal. Saya bawa ganti untuk > mengelabuhi petugas keamanan,” tambah gadis yang mengaku tinggal di daerah > kawasan elite Kelapa Gading, Jakut. > > Lia nongkrong di mal bukan semata mencari uang, tapi yang utama kesenangan. > Tak heran jika ada pria yang cocok dengannya, tanpa dikasih uang pun nggak > apa-apa. Tapi kalau tidak sesuai dengan kehendak hatinya, dibayar berapa pun > akan ditolaknya. “Kalau cocok, cepek ceng (Rp 100.000) bersih, kita sikat > aja Mas,” kata Lia sambil tertawa lepas. > > Jika sudah transaksi, kencan berlanjut di hotel-hotel transit tak jauh dari > lokasi. Tapi kadang-kadang Lia tak segan menolak tunge, istilah mereka untuk > hubungan intim, kalau pelanggannya itu tak royal membelikan makanan dan > rokok. > > Susan lain lagi. Kebiasaan nongkrong di mal setelah beberapa kali diajak > teman sekolahnya mejeng di pusat pembelanjaan tersebut. Awalnya, dia takut > dicap cewek yang nggak benar, tapi lama-lama mengaku terbiasa bahkan > ketagihan. > > “Berani berkenalan dan mau diajak jalan sama om-om setelah beberapa kali > ditemani teman saya. Semula saya malu-malu, tapi karena duit yang saya dapat > banyak akhirnya keterusan deh,”ungkap ABG yang mengaku tinggal di daerah > Rawamangun, Jaktim tersebut.**** > > ** ** > > ** ** > > *Warm Regards,* > > * * > > * * > > *Zigo AlCapone* > > ** ** > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
<<361.gif>>
