Dear Moms n Dads, Ada email dr milis sebelah.Tolong disebarin ya.Makasi.
Anne From: Elizabeth [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, April 03, 2006 8:39 AM Subject: Hati-hati !!!! Importance: High Lewat email ini saya ingin berbagi perngalaman, terutama buat para orangtua yang bekerja dan terpaksa menitipkan anaknya berada dalam pengasuhan babysitter atau pembantu. Saya ibu dari 2 anak, bernama Bryan (2th 7bl) & Brandon (4bl). Karena saya dan suami bekerja, kedua anak saya tinggalkan dirumah, dan diasuh oleh masing2 babysitter dan 1 orang pembantu. Babysitter Bryan bernama Yuli Haryanti, 20th, asal dari Gondang Legi - Boyolali - Jateng, saya ambil dari sebuah Yayasan di daerah Cinere - Depok. Telah bekerja dirumah saya sejak bulan Juli 2005 (sebelumnya bekerja di Grogol dan Bogor). Pada awalnya, terlihat bahwa dia seorang yang cukup sopan, bersih, pandai, dan bisa mengajari anak saya berbahasa Inggris maupun Mandarin. Anak saya pun terlihat sayang dan cukup lengket dengan Yuli. Hal ini membuat saya cukup tenang meninggalkan Bryan dibawah pengawasannya. Setelah 4 bulan bekerja, dia mengambil cuti lebaran,dan tetap kembali lagi bekerja di tempat saya. Pada waktu dia pulang kampung pun, Bryan beberapa kali mencari2 dan menanyakan Yuli, membuat saya tidak mengambil babysitter baru sekalipun Yuli kembali dari kampung cukup terlambat dari kesepakatan kami semula. Setelah kembali bekerja, giliran saya cuti selama 3bulan karena melahirkan Brandon. Dalam masa cuti saya itulah, mulai terlihat beberapa keanehan dalam diri Yuli. Ternyata, biarpun ada saya, dia terlihat kurang sabar dalam mengasuh anak, beberapa kali terlihat diam saja jika ditanya oleh Bryan. Bahkan saya perhatikan dia seolah2 lebih menyukai Brandon (mungkin karena masih bayi dan belum bisa merepotkan). Beberapa kesalahan kecil dari Yuli masih saya diamkan saja, hanya beberapa kali saya tegur jika menyangkut anak. Mulai terlihat juga kemalasan dia dalam bekerja, seperti malas mencuci baju Bryan, malas mengajari (dengan alasan Bryan tidak mau belajar kalau saya ada dirumah). Hal2 seperti inilah yang sering membuat saya menegur dia, karena saya lihat beberapa kali baju Bryan tidak dicuci, malah dipakai lagi keeseokan harinya dengan alasan masih bersih. Setelah saya kembali bekerja, saya makin menemukan berbagai keanehan setiap kali saya pulang kerumah. Saya lihat Bryan semakin nakal, semakin rewel dan justru semakin lengket ke saya dan papanya, dan kadang sama sekali tidak mau dengan Yuli.Kalau malam, Bryan sering mengigau menangis2. Karena keanehan2 itulah pada hari Minggu, 26 Maret 2006 yang lalu pembantu dan suster Brandon saya panggil, saya tanyakan mengenai dia. Saat itulah mereka baru berani bercerita bahwa setiap saya & suami saya tidak dirumah, Bryan selalu dibentak2 dan dimarahi. Hanya keterangan itu yang berhasil saya dapatkan, dan ketika Yuli saya panggil, dia mengakui perbuatannya (malah menambah bahwa dia pernah memukul pelan Bryan). Dia bilang bahwa dia memang sedang ada banyak masalah sehingga kurang sabar, serta meminta maaf kepada saya dan suami, dan berjanji akan memperbaiki sikapnya. Setelah berunding dengan suami, kami mencoba memaafkan dan memberi kesempatan kepadanya. Hari Selasa, 28 Maret 2006, secara iseng saya mencoba bertanya lagi kepada pembantu saya, apakah ada lagi perbuatan Yuli yang belum diceritakan kepada saya. Dengan takut2, pembantu saya akhirnya bercerita bahwa Bryan tidak hanya dibentak dan dipukulin, tapi juga pernah DIIKAT kaki dan tangannya karena tidak mau belajar. Pernah juga DITAMPAR pipinya. Mendangar cerita itu, kemarahan saya meledak. Saya panggil ketiga2nya (Yuli, babysitter Brandon dan pembantu saya). Saya minta mereka berdua untuk melaporkan apa2 saja yang mereka ingat, dan ternyata Yuli mengakui SEMUANYA. Malam itu juga saya minta Yuli membereskan barang2nya, kemudian keesokan harinya (Rabu, 29Maret 2006 dia DIANTARKAN suami saya ke Grogol, karena dia akan ke rumah saudaranya ke daerah situ). Seujung rambutpun saya tidak menyentuh dia, juga tidak membiarkan dia pulang begitu saja, karena saya masih punya rasa manusiawi!!! Gaji pun saya bayarkan sampai hari terakhir dia bekerja, bahkan saya tambahkan ongkos. Sorenya, ketika saya & suami pulang kerumah, pembantu & babysitter Brandon baru berani terang2an bercerita (selama ini mereka takut, karena selalu diancam oleh Yuli), kalau ternyata perbuatan Yuli tidak hanya sampai disitu. Daftar perbuatannya begitu panjang, saya coba menuliskan beberapa : 1. Memukul Bryan (alasannya, Bryan, anak berusia 2.5th lebih dulu memukul dia) 2. Mengikat kaki & tangan Bryan karena tidak mau belajar 3. Membungkam mulut Bryan dengan wash lap kalau Bryan menangis 4. Jarang memberi Bryan sarapan, jika Bryan kelaparan dan minta makan, justru Ditampar! 5. Membentak2 Bryan, bahkan mengata2i bego, goblok dsb terutama kalau Bryan salah memakai sandal 6. Memaksa Bryan memakai Pampers kalau siang (padahal saat ini, malam pun Bryan sudah tidak memakai Pampers) 7. Memaksa Bryan memakai celana sendiri, bahkan kadang dibiarkan saja dia sampai menangis2 karena tidak bisa 8. Melarang Bryan tidur siang, biarpun Bryan sudah sangat mengantuk supaya malam tidurnya cepat (dia malas repot kalau Bryan tidur terlalu malam) Dan masih BANYAK lagi hal2 yang justru membuat saya hanya bisa menangis dan menyesali kebodohan saya, karena membiarkan anak saya selama ini berada di bawah pengawasan orang seperti dia. Seandainya saya tahu sejak kemarin, pasti saya akan laporkan ke polisi. Saya coba cek ke tetangga2 depan, kanan dan kiri, juga ke sekolah Gymboree, dan miss yang selalu mangantar jemput Bryan ke sekolah. Ternyata mereka selama ini sudah tahu semuanya, hanya saja tidak berani menceritakan kepada kami. Karena tidak terima, suami saya menelepon ke HP Yuli, menanyakan semuanya, dan ternyata Yuli MENGAKUI semua perbuatan dia. Kami ancam dia untuk melaporkan ke polisi, dan dia sangat ketakutan,memohon2 ampun kepada kami. Bahkan ibunya dari kampung juga sampai menelepon kami, minta2 maaf. Bagi kami, permohonan maaf sebenarnya tidak cukup untuk mengobati trauma Bryan yang sudah dialami beberapa bulan, akan tetapi kami (dengan susah payah) berusaha untuk mengampuni dia. Kami hanya punya syarat, tidak mengijinkan dia menjadi suster lagi, di YAYASAN MANAPUN (Yayasan tempat dia sudah kami lapori, dan dia dikeluarkan dari situ). Cukup Bryan menjadi korban terakhir (sebelumnya, dia mengaku juga sering membentak2 anak asuhnya, tapi belum sampe memukul karena majikannya ada dirumah). Dia sudah membuiat surat pernyataan diatas meterai,juga segala pengakuannya sudah kami rekam sebagai bukti2 jika suatu hari nanti dia ingin kembali lagi bekerja sebagai babysitter.Saat ini, keinginan kami hanya supaya Bryan terbebas dari traumanya. Perlu diketahui, sejak Yuli keluar, semua tetangga berkomentar bahwa Bryan berubah 180 derajat. Saat ini dia kembali periang,aktif dan tidak rewel. Dan sekalipun Bryan TIDAK PERNAH menanyakan "Suster Yuli"-nya. Sejak saat itu Bryan saya titipkan ke tetangga2 yang tidak bekerja, juga ke kepala sekolah Gymboree. Surat pernyataan Yuli dan KTP-nya saya fotokopi, saya serahkan ke security Kota Wisata tempat kami tinggal, supaya tidak terjadi hal2 jelek di kemudian hari. Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran buat kami, juga bagi semua yang membaca, agar hati2 dan lebih selektif dalam memilih babysitter. Hati2 karena kelakuan mereka di depan dan dibelakang kita kadang berbeda, atau malah sangat bertolak belakang!!! Saya sertakan juga foto dari Yuli, agar semua pembaca berhati2 terhadap orang ini. Terima Kasih. Tuhan memberkati kita semua! Salam, Elizabeth Arsiani [Non-text portions of this message have been removed] Subscribe: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] Info Belanja si Kecil: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Ayahbunda-Online/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
