Maaf jika mengganggu, saya mau curhat, semoga ada yang mau berbagi…
   
  Saya menikah bulan Januari 2005. Sekarang kami sudah dikaruniai putra yang 
pintar, sehat, dan lucu yang berusia 10 bulan. Saya sangat bersyukur atas semua 
yang telah saya capai. Rumah kontrakan 5 x 5 meter, penghasilan sekira 2 jt per 
bulan, istri yang baik dan anak yang sehat. Bagi saya, tidak ada masalah yang 
mengganggu, selain rencana masa depan dan penghasilan yang harus ditingkatkan.
   
  Namun bagi istri saya, saya belum memberikan ketentraman sempurna karena dia 
belum teryakinkan bahwa saya mencintainya dari lubuk hati yang terdalam dan 
tulus. Pada awal komitmen pernikahan, saya berterusterang bahwa saya belum 
terlalu mencintainya dan akan terus belajar mencintainya sambil tetap 
bertanggung jawab sebagai suami dan ayah yang wajib memberi nafkah lahir dan 
batin.
   
  Sejujurnya saya sampaikan bahwa hingga saat ini, saya masih belajar untuk 
mencintainya. Selama ini saya tak pernah menatap matanya secara tulus jika 
berbicara, bersikap kurang romantis dengan mengucap kata-kata yang manis, 
kurang banyak berkorban untuk mengawal dan menjaganya. Saya akui sudah ada 
peningkatan, namun istri saya masih merasa tersiksa karena peningkatan itu 
masih jauh dari kadar ungkapan cinta yang ia harapkan. Ia belum teryakinkan 
bahwa ia satu-satunya perempuan di dunia ini yang menonjol dalam hidup saya. 
   
  Ada tiga masalah yang terungkap dari istri saya:
  1. Bagaimana mencukup2kan penghasilan yang terbatas?
  2. Bagaimana agar saya bisa menunjukkan cinta yang romantis?
  3. Bagaimana agar adik perempuan yang saya sayangi, bisa berperilaku sesuai 
harapan dia? 
   
  Untuk permasalahan nomor satu, istri saya mencoba untuk bekerja lagi dengan 
melamar pekerjaan, namun belum berhasil.
   
  Untuk permasalahan nomor dua, saya sudah berusaha meningkatkan kadar 
romantisme saya, dengan menelepon lebih sering… (saya belum bisa merayunya 
dengan kata-kata manis)
   
  Untuk permasalahan nomor tiga, saya, istri dan adik saya akan saya pertemukan 
secara terbuka dan dewasa.
   
  Saat ini, istri saya lebih sering dan lebih nyaman tinggal di rumah 
orangtuanya, dengan alasan lebih ringan pekerjaannya, dan belum merasa siap 
berinteraksi dengan adik perempuan saya. Memang istri saya sangat mudah waswas 
dan depresi. Seminggu lalu, dalam keadaan yang tenang dan dewasa istri saya 
mengusulkan relasi sahabat-sahabat antara kami. Menurutnya dengan itu, hubungan 
kami akan menjadi tanpa beban. Saya menangkapnya sebagai sebuah kemunduran…
   
  Menurut saya, adik perempuan saya tidak berperilaku aneh sedikitpun. Namun 
istri saya menangkap rasa sayang saya padanya (yang sudah saya usahakan agar 
tidak nampak, namun tetap terasa olehnya). Istri saya mengaku cemburu akan rasa 
sayang saya pada adik saya, padahal saya tidak pernah mengistimewakan adik saya 
baik berupa materi atau perilaku khusus.
   
  Adik perempuan saya kos di Bandung, satu kota dengan saya. Ia sangat sayang 
pada anak kami, hingga seringkali datang hanya untuk melepas kangennya pada 
putra kami, Farell. Dalam satu bulan, ia bisa menginap satu hingga tiga malam. 
Di depannya, istri saya bersikap biasa, namun kepada saya ia berterus terang 
bahwa ia cemburu dan kurang cocok dengannya…
   
  Jika Anda mau sharing dengan saya, saya haturkan banyak terima kasih… 
  

Firman Juliansyah
Jl. Kancra Dalam II No 7Ab, Bandung, Indonesia
Phn: +62 22 5431324, Fax: +62 22 5431325
MP : +62 (0)81.320.656.905
YM & FS: [EMAIL PROTECTED]
http://bozzetto.blogs.friendster.com/bozzetto

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke