Mas firman saya mau sharing sedikit..... mungkin istri anda masih merasa sakit
hati atas kejujujuran anda pada awal perkawinan bahwa anda belum mencintainya,
sehingga sampai sekarang dia berfikir anda masih seperti itu.Dalam perkawinan
memang tidak selamanya berjalan mulus dan yang harus diingat bahwa kita
jugaharus bisa menerima kekurangan pasangan masing2.
Saran saya untuk masalah finansial.... anda bisa memberi modal istri anda
untuk berjualan kecil2an dari rumah.... buat warung misalnya....atau istri anda
diikutkan kursus salon biar nanti bisa buka usaha di rumah.
Untuk hal hal romantis anda bisa mulai dengan menjemput istri anda dari rumah
mertua jak makan malam dan bicara dari hati ke hati kalo anda mencintainya
Masalah dengan adik anda cobalah bila adik anda datang ke rumah ajak istri,
anak dan adik anda jalan2.... biar mereka lebih akrab
Semoga perkawinan anda langgeng dan tidak bermasalah lagi
Firman Juliansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf jika mengganggu, saya mau curhat, semoga ada yang mau berbagi
Saya menikah bulan Januari 2005. Sekarang kami sudah dikaruniai putra yang
pintar, sehat, dan lucu yang berusia 10 bulan. Saya sangat bersyukur atas semua
yang telah saya capai. Rumah kontrakan 5 x 5 meter, penghasilan sekira 2 jt per
bulan, istri yang baik dan anak yang sehat. Bagi saya, tidak ada masalah yang
mengganggu, selain rencana masa depan dan penghasilan yang harus ditingkatkan.
Namun bagi istri saya, saya belum memberikan ketentraman sempurna karena dia
belum teryakinkan bahwa saya mencintainya dari lubuk hati yang terdalam dan
tulus. Pada awal komitmen pernikahan, saya berterusterang bahwa saya belum
terlalu mencintainya dan akan terus belajar mencintainya sambil tetap
bertanggung jawab sebagai suami dan ayah yang wajib memberi nafkah lahir dan
batin.
Sejujurnya saya sampaikan bahwa hingga saat ini, saya masih belajar untuk
mencintainya. Selama ini saya tak pernah menatap matanya secara tulus jika
berbicara, bersikap kurang romantis dengan mengucap kata-kata yang manis,
kurang banyak berkorban untuk mengawal dan menjaganya. Saya akui sudah ada
peningkatan, namun istri saya masih merasa tersiksa karena peningkatan itu
masih jauh dari kadar ungkapan cinta yang ia harapkan. Ia belum teryakinkan
bahwa ia satu-satunya perempuan di dunia ini yang menonjol dalam hidup saya.
Ada tiga masalah yang terungkap dari istri saya:
1. Bagaimana mencukup2kan penghasilan yang terbatas?
2. Bagaimana agar saya bisa menunjukkan cinta yang romantis?
3. Bagaimana agar adik perempuan yang saya sayangi, bisa berperilaku sesuai
harapan dia?
Untuk permasalahan nomor satu, istri saya mencoba untuk bekerja lagi dengan
melamar pekerjaan, namun belum berhasil.
Untuk permasalahan nomor dua, saya sudah berusaha meningkatkan kadar romantisme
saya, dengan menelepon lebih sering
(saya belum bisa merayunya dengan
kata-kata manis)
Untuk permasalahan nomor tiga, saya, istri dan adik saya akan saya pertemukan
secara terbuka dan dewasa.
Saat ini, istri saya lebih sering dan lebih nyaman tinggal di rumah
orangtuanya, dengan alasan lebih ringan pekerjaannya, dan belum merasa siap
berinteraksi dengan adik perempuan saya. Memang istri saya sangat mudah waswas
dan depresi. Seminggu lalu, dalam keadaan yang tenang dan dewasa istri saya
mengusulkan relasi sahabat-sahabat antara kami. Menurutnya dengan itu, hubungan
kami akan menjadi tanpa beban. Saya menangkapnya sebagai sebuah kemunduran
Menurut saya, adik perempuan saya tidak berperilaku aneh sedikitpun. Namun
istri saya menangkap rasa sayang saya padanya (yang sudah saya usahakan agar
tidak nampak, namun tetap terasa olehnya). Istri saya mengaku cemburu akan rasa
sayang saya pada adik saya, padahal saya tidak pernah mengistimewakan adik saya
baik berupa materi atau perilaku khusus.
Adik perempuan saya kos di Bandung, satu kota dengan saya. Ia sangat sayang
pada anak kami, hingga seringkali datang hanya untuk melepas kangennya pada
putra kami, Farell. Dalam satu bulan, ia bisa menginap satu hingga tiga malam.
Di depannya, istri saya bersikap biasa, namun kepada saya ia berterus terang
bahwa ia cemburu dan kurang cocok dengannya
Jika Anda mau sharing dengan saya, saya haturkan banyak terima kasih
Firman Juliansyah
Jl. Kancra Dalam II No 7Ab, Bandung, Indonesia
Phn: +62 22 5431324, Fax: +62 22 5431325
MP : +62 (0)81.320.656.905
YM & FS: [EMAIL PROTECTED]
http://bozzetto.blogs.friendster.com/bozzetto
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]