terkadang, kita baru menyadari, BETAPA DALAMNYA KITA MENCINTAI SESEORANG,
  disaat kita sudah "KEHILANGAN" .......
   
   
   
  

Iva Tifandini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
             Satu hal yang paling saya takutkan....
   
  Ketika anak2 butuh orangtuanya, kita tidak bisa mendampingi... Semoga tidak 
terjadi pada kita...
   
  Buat ayah Libby,
   
  Saya salut dengan kebesaran jiwa dan kesabaran hatinya... karena 
mengikhlaskan kehilangan seseorang yang kita sayangi sangatlah sulit. 
   
  Untuk Libby,
   
  Doa bunda bersamamu nak... Semoga kamu damai disana dan menanti ayah, mommy 
dan adik-adikmu untuk berkumpul lagi....
   
   
Iva Tifandini
email: [EMAIL PROTECTED] or [EMAIL PROTECTED]
phone: (021) 6328261, ym: [EMAIL PROTECTED]
fs: [EMAIL PROTECTED]   
   
  On Jun 17, 2008, [EMAIL PROTECTED] wrote: 
             
    Dari Milis sebelah,
   
  Maaf kalo dah pernah baca sebelumnya.
   
   
           
            
Untuk Libby 
   
          
       
  

Dear, Libby. Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat terus sama Libby, apalagi 
saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah, yang mengantarkan Libby 
menghadap Tuhan YME setahun yang lalu. 
Ayah ingat, waktu itu, Sabtu pagi 19 April, Libby sudah mengeluh kurang enak 
badan. Ayah langsung membawa Libby ke dokter spesialis di Mall Ambassador hari 
itu juga untuk mendapatkan perawatan. Dokter menyatakan bahwa Libby sakit 
radang tenggorokan. Walaupun sudah agak membaik, hari Senin, 21 April, Libby 
tidak masuk ke sekolah agar bisa beristirahat. Lagipula, esoknya Libby akan 
perform ballet untuk pertama kalinya. 
Ketika ayah pulang kantor, Libby terlihat sangat bersemangat untuk pertunjukan 
balet besok. Bahkan, Libby menunjukkan semua kostum yang akan dipakai. Ayah 
tahu, kamu sangat mencintai balet. "Ayah lihat Libby perform besok, ?" pinta 
Libby, yang langsung ayah jawab, "iya, Sayang." 
Keesokan harinya, tanggal 22 April, Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa 
leluasa hadir ke pertunjukan balet Libby. Pukul 06.15, ayah mengantarkan Libby 
sekolah. Sepanjang perjalanan Libby terus saja bercerita mengenai pertunjukan 
itu. 
Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby ketika pulang sekolah pada 
11.30. Kamu terlihat sangat senang melihat ayah menjemputmu, karena biasanya 
ayah tidak bisa menjemput karena msih di kantor. Dalam perjalanan, Libby sempat 
bertanya, "Ayah, siapa Kartini itu?". Ayah jawab, "Kartini itu seorang putri 
yang berjasa pada kaum wanita, karenanya hari kelahirannya diperingati sebagai 
hari Kartini." Kamu yang selalu kritis kemudian menaggapi, "kok putri tidak 
pakai baju Cinderella?" Ya, Libby selalu menganggap sosok putri mirip dengan 
karakter dalam dongeng-dongeng ala . 
Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby. "Kartini sudah meninggal ya, 
Ayah?", tanyamu lagi. Ayah jawab dengan anggukan. Kamu pun terus bertanya, 
"kalau Libby mau diperingati, harus meninggal dulu ya?". Mendengar pertanyaan 
itu, Ayah agak bingung juga menjawabnya. Namun akhirnya Ayah menjawab, "tidak 
perlu. Karena ada juga yang masih hidup sudah diperingati. " 
Pertanyaan itu tadinya hampir tidak berarti apa pun, kecuali menunjukkan rasa 
keingintahuanmu yang memang sangat tinggi. Namun belakangan ayah mulai 
menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu sebelum kepulanganmu 
ke Tuhan YME. 
Ketika perform balet, ayah ingat Libby kelihatan masih lemas. Beberapa teman 
dalam kelompokmu juga tidak menari dengan baik, sehingga secara keseluruhan 
penampilan balet itu tidak terlalu menggembirakan. Kamu yang sangat 
perfecsionis kelihatan sangat kecewa dengan penampilan kelompokmu yang kurang 
kompak. 
Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung. Ayah terus menerus berusaha untuk 
menghibur Libby dengan mengatakan bahwa pertunjukan tadi cukup baik. Tapi tidak 
dapat ditutupi, Libby kecewa sekali. 
Hari Kamis malam, Libby panas lagi, suhu badannya mencapai 40 derajat celcius. 
Tanggal 25 April, Libby ulang tahun yang kelima, kamu masih sakit sehingga 
tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy kembali membawamu ke dokter. Dokter 
menyatakan bila sampai Senin belum turun juga panasnya, Senin harus diambil 
darah untuk diuji. 
Tanggal 26 April 2003, Libby merayakan pesta ulang tahun di McDonald Arion. 
Suhu panas sudah mulai turun, hanya kamu masih terlihat lemas. Pesta ini adalah 
permintaan pertama Libby, karena biasanya ulangtahun hanya dirayakan di sekolah 
dengan membawa kue ulang tahun. Entah kenapa waktu itu Libby menginginkan pesta 
di McDonald lengkap dengan badut Teletubbies. 
Ayah minta maaf karena terlambat mengurus pesta, sehingga badut yang kamu minta 
tidak bisa hadir. Ayah tidak tahu bahwa McD tidak memperbolehkan badut dari 
luar. Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran badut itu, karena ternyata 
kamu sudah bercerita pada teman-temanmu. 
"Badutnya nggak bisa datang ya, Yah? Gimana ya kalau nanti Libby dibilang 
pembohong. Tapi nggak apa-apa lah, teman-teman pasti ngerti". 
Ayah tahu betul, Libby adalah seorang yang sangat patuh terhadap janji dan tak 
pernah mau mengecewakan orang lain. 
Pulang dari pesta Libby terlihat sakit lagi. Ayah mencoba mengompres agar panas 
tubuhmu turun. Kamu terlihat lemah, sampai-sampai hadiah yang banyak pun hampir 
tak tersentuh. Ayah masih ingat percakapan kita saat itu, "Liv, uang yang dari 
Nini banyak, mau dibeliin apa sama Libby? beliin mainan ya?". Libby malah 
bilang, "Ayah, mainan Libby udah banyak sekali...bahkan sebagian mau Libby 
kasiin ke orang miskin. Kasihan mereka nggak punya mainan. Libby juga mau kirim 
bunga yang banyak sekali untuk Nini. Nini pasti senang." 
Ayah kaget mendengar jawaban Libby, tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa. 
Belakangan ayah baru sadar ini adalah firasat lain kepergianmu, karena 
ternyata, rumah Nini tempat kamu disemayamkan sebelum pemakaman, penuh bunga 
dari para pelayat. 
Libby ingat nggak, hari Minggu, ayah dan mommy membawa Libby ke Rumah Sakit 
Bunda untuk diambil darah. Ayah tidak mau lagi menunggu sampai hari Senin. Ayah 
ingat Libby masih minta ayam goreng dan minuman rasa stroberi. Ayah senang 
sekali karena akhirnya Libby minta makan, setelah dua hari kamu selalu menolak 
makanan. 
Selama sakit, kamu tidak pernah mengeluh sakit perut atau lainnya, hanya pusing 
dan mual. 
Senin pagi, mommy membawa hasil tes darah ke dokter, trombosit kamu masih 
149.000. Kata dokter, Libby terkena gejala Thypus dan disarankan untuk 
beristirahat dan banyak minum. Sore harinya panas Libby sudah mulai turun. Ayah 
senang sekali pada saat itu, bahkan ayah sempat mengabari keluarga di bahwa 
kamu sudah agak baikan, hanya masih sangat lemas dan terkadang muntah. 
Malamnya, ternyata Libby terus mengigau. Ayah, mommy dan uti tidak berhenti 
berdoa, kita putuskan untuk membawa kamu ke dokter besok pagi-pagi sekali. Sama 
sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby mungkin sudah mulai 
didekati oleh malaikat maut, karena panas kamu sudah turun hingga 36 derajat 
celcius. 
Keesokan harinya, mommy dan uti mengantar kamu ke dokter. Saat itu trombosit 
kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan untuk masuk rumah sakit. 
Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata dokter, pelayanan PICU 
(ICU anak-anak) cukup baik. Kata mommy, dalam perjalanan ke rumahsakit kamu 
masih minta mi dan pisang. 
Mommy ingat di dalam mobil Libby ngomong, "Ma, kok orang-orang itu tidurnya 
aneh ya?" Mommy yang panik tidak bisa menjawab, ia hanya bilang, "Libby kuat 
ya...." 
Sampai di rumah sakit Libby sudah tidak sadar. Ketika sampai di ruang gawat 
darurat, Libby langsung kejang dan pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat 
melakukan pertolongan. 
Ayah minta maaf ya, Liv, tidak bisa menemani kamu pulang ke rumah kamu di 
surga. Ayah merasa bodoh sekali, memilih ikut meeting di kantor ketika kamu 
sedang berjuang dengan maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela 
Libby pulang ke rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk 
merawat Libby selama tepat tahun. 
Mommy sekarang sedang hamil lagi, Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang 
pake baju punya Libby. Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby 
datang ke mimpinya Adelle ya? Ya sudah dulu ya Liv, ayah mau buat buat 
teman-teman ayah biar mereka belajar dari pengalaman kita. 
Pembaca, saya hanya ingin berbagi pengalaman dari kejadian ini. Saya tidak 
ingin Anda mengalami apa yang saya rasakan. Saran saya, 
1. Pelajari dan kenali berbagai jenis penyakit dan gejalanya. Libby terkena 
demam berdarah dan kami sudah terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Jika 
anak-anak kita, atau kita sendiri panas selama dua hari berturut-turut, lebih 
baik langsung ke dokter dan minta periksa darah. Minta sekalian periksa darah 
untuk dengue rapid karena kadang-kadang kadar trombosit dalam darah masih 
200.000 (batas normal antara 150.000-400. 000), tetapi sebenarnya sudah terkena 
virus dengue. Jika dokter menyatakan thypus atau radang tenggorokan, atau flu 
biasa, lebih baik cari second opinion dari dokter lain. 
2. Hati-hati, gejala DBD sudah tidak khas. Sampai meninggalnya Libby, tidak 
timbul bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak muntah 
darah. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD adalah dengan menekan 
salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat apakah permukaan yang putih ketika 
ditekan langsung kembali merah. DBD menyebabkan darah agak mengental, sehingga 
ketika selesai dipencet, biasanya kuku yang terkena DBD agak lambat kembali ke 
warna merah. Raba denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak 
lemah. 
3. Pantau terus kondisi pasien jika sudah positif DBD. Beberapa rumah sakit 
hanya mengecek darah sehari sekali,. Sebaiknya, mintalah pengecekan dilakukan 
setiap 6 jam sekali. Jika trombosit sudah mulai memasuki angka 30.000, segera 
siapkan beberapa teman dan keluarga yang memiliki golongan darah yang sama 
dengan penderita untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu tranfusi darah 
dibutuhkan. Saat ini sulit mendapatkan darah dari PMI. 
4. Pakaikan selalu penghalau nyamuk berupa lotion atau lainnya pada anak-anak 
kita di waktu siang, untuk menghindari gigitan nyamuk aedes aegepty. 
5. Jika anak sakit, tinggalkanlah urusan kantor atau urusan apa pun. Keluarga 
jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, atau Anda akan menyesal 
seumur hidup jika mengalami apa yang saya alami. 
6. Setelah semua usaha kita lakukan, pasrahkan semua kepada Tuhan YME. Karena 
bagaimanapun kita berusaha, jika Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada yang 
dapat menghalangi keputusan-Nya. 
       
            
      
     
   
  
  
  
  
  
  
  

   




  

                           

       

Kirim email ke