Dear, aku sangat setuju sama mba Yusri. Aku mom yang ngga seaktif mba Yusri di milis ini, tapi pingin ikut sharing sedikit mengenai fingerprint test ini. Anakku (Raka 2.5 th) udah test FPT, tetapi bukan di DPI Consulting. Sebabnya bukan apa2, tapi karena aku dan suamiku udah pernah mengambil test ini tahun lalu di tempat yg berbeda (brainylab inc - kebetulan perusahaan milik singapur, dan konsultan-nya harus dipanggil datang ke Jakarta dulu). Memang pada saat itu, konsultannya hanya berbicara hasil kita berdua dan bagaimana sifat2 kita dalam berumah tangga. Mana yg harus didengarkan, diperhatikan, dimengerti agar rumah tangga kita tetap harmonis tanpa ada salah satu pasangan yg merasa tertekan. Tapi itu karena kita sudah dewasa ya, dan bakatnya udah ga bisa berkembang lagi *hehe*.
Beda halnya dengan Raka. Memang hasil test FPT dari brainylab ini tidak sama persis dengan DPI, tapi saya yakin tujuannya sama. Dan saya ingin mendapatkan hasil test yg bisa dibahas bersama2 sebagai satu keluarga, makanya saya ambil fpt ke brainylab lagi. Test ini dilakukan sejak dini supaya kita tau dimana potensi anak dan dimana kelemahan anak. Bukan untuk berkecil hati dan menganggap anak kita "bodoh" pada satu bidang. Tetapi justru saat kita menemukan bahwa otaknya lebih berpotensi pada hal lain, kita bisa fokus pada hal tersebut tanpa mengabaikan hal2 yang dibilang lemah. Justru hal2 yg nilainya tidak begitu tinggi, bukan berarti dia bodoh, tetapi perlu diasah dan perlu dikembangkan. Memang hasilnya tidak akan sebagus bidang yang nilainya tinggi, tetapi kita bisa membuatnya lebih berkembang dan lebih menyukainya (jelas dengan tanpa paksaan). Karena itu konsultanku saat itu selalu bilang "Lihatlah kemana minatnya, jangan tekankan obsesi orang tua pada anak, kalau dia tidak tertarik, kita harus mengenalkannya secara bertahap dan tidak boleh memaksakan". Anyway, sharing dan scan beberapa hasil testnya Raka aku masukkan di multiply-ku http://eppa.multiply.com/journal/item/153 Aku pernah baca artikel dari kak Seto yang bilang bahwa anak2 sekarang banyak yg stress karena orang tua terlalu mengharapkan anaknya jadi genius, pintar segala macem sehingga dari pagi sampe malem yang dikerjakannya cuma les, belajar dan kursus aja. Jangan sampai anak kita seperti ini. Masa anak2 adalah masanya mereka having fun lho.. Jadi kita tidak perlu menuntut anak harus pintar ato jenius agar dia sukses di masa depan. Kita juga harus percaya bahwa semua sudah ada jalan dan rejekinya masing2. Yang perlu kita lakukan yaitu mengarahkan si anak sambil tetap membuatnya senang, sambil belajar pelan2 dan bertahap, dan yang terpenting jangan memaksa bahwa anak harus pintar segalanya. Bill Gates aja ga lulus sekolah kok :) Satu lagi yang jadi patokan buat aku dan suami.. Buat si anak betah berada di rumah, caranya sebenernya gampang. Cukup dengan mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Karena jika anak betah berada di rumah bersama orang tuanya, dia ngga akan mencari kesenangan di tempat lain, dan dia akan lebih berpanutan pada orang tuanya. So, jangan pada sedih ya kalo ada yg dibilang "kelemahannya disini" "Kelebihannya ini".. Khan kita semua pasti punya kelebihan dan kelemahan.. Justru kita syukuri bahwa kelemahan dan kelebihannya udah bisa diketahui sejak dini, jadi kita bisa mengarahkan si anak dengan baik sesuai dengan potensinya. Maap ya kepanjangan :) =========================== Evariny Andriana http://eppa.multiply.com/ http://www.hypno-birthing.web.id/ ----- Original Message ----- From: - Yusri - To: [email protected] Sent: Tuesday, July 22, 2008 1:39 PM Subject: Re: [Ayahbunda-Online] Menyambung hasil FPT --> mohon saran Sedikit urun rembug, ya...... Sebaiknya hasil FPT apapun keadaanya justru kita pakai sebagai acuan dalam mengembangkan anak baik dalam hal kelebihan nya, dan yg penting dalam hal kelemahannya. Jangan kita mempunyai sikap "putus asa" menghadapi kelemahan anak. Misalnya.....si kecil terdeteksi menghadapi "kelemahan" dalam hal logical math nya. Dengan dasar itu, mom masukkan si kecil dalam sekolah2 yg mempunyai system "mengembangkan" semua aspek kemampuan anak. Atau masukkan si kecil ke dalan les2 yg memang bertujuan utk meningkatkan logika matematika nya, seperti les i-maths dan sakamoto. Sebagai bahan perbandingan, anak pertama saya (bagas, kls 5) sejak kls 1 SD sampai skrg selalu mendapat nilai matematika diatas 8. Sejak usia 3 thn, saya masukkan dia les i-maths sampai TK B. Sejak kelas 1 sampai 3, dia ikut les kumon. Sebelum ikut FPT, saya menganggap bagas memiliki logical mathematic yg baik. Karena kenyataannya nilai2 matematika nya selalu baik, logika dia juga sudah sangat bagus. Sejak kls 1 menyelesaikan kasus sebab akibat sangat baik (mana yg baik dan mana yg kurang baik, dia paham). Tapi kenyataan nya.....hasil FPT nya, sangat berbeda dengan kenyataan. Logical mathematic bagas ada di posisi ke 2 dari bawah. Artinya.......ternyata selama ini saya sudah cukup berhasil dalam men-develop bagas. Sisi kelemahan nya saya asah. Dan sekarang kelemahan itu justru menjadi kelebihan dia.
