Bunda Bia chayank.... Bunda gak sendiri, permasalahan menantu dan ibu mertua memang sangat beragam, dan InsyaAllah semua ada solusinya, kuncinya panjang sabar, komunikasi, dan ikhlas.... Meskipun hubungan saya dengan mertua sangat baik, tapi saya begitu mengerti apa yang dirasakan Bunda Bia. Kalau gak keberatan saya mau ikut share ya.... Kebetulan saya menikahi duda dengan 3 anak yang waktu itu sudah beranjak remaja, sejatinya [cie.... kayak infotainment aja] hubungan saya dengan anak-anak dan mantan istri suami baik-baik saja dan sudah terbangun sebuah pengertian di benak anak-anak bahwa pipihnya akan menikah dengan orang lain dan mereka akan memiliki 'ibu' tambahan. Begitu juga sebelumnya sudah saya pastikan dengan suami bahwa suami sudah tidak memiliki sangkut paut [baik perasaan sampai financial] dengan mantan istri kecuali urusan anak-anak. Tapi gak tau kenapa kok malah adik-adik suami begitu kompak membangun benteng dan menabuh genderang peperangan, mendadak pula mereka menjadi personal auditor keluarga kami. Mereka mengusik hal-hal sbb: - biaya pesta pernikahan, kepanitiaan resepsi pernikahan [lha wong biaya pernikahan ini merupakan biaya patungan saya dan keluarga saya, suami hanya menanggung 20%] - mobil suami [suami beli mobil dengan pertimbangan agar bisa lebih mobile dengan saya dan anak-anaknya], - rumah kecil yang kami beli [kami sepakat membeli rumah, suami bayar dpnya 10%, saya yang nyicil via fasilitas KPR bank tempat saya bekerja], - harta gono-gini [ini kan urusan dengan mantan istrinya, yang sudah dinyatakan beres pula], - rumah dan mobil hadiah papanya untuk suami, [meneketehe wong itu sebelum menikah dengan saya] - mengusik harga diri keluarga saya yang seolah-olah tidak mampu membekali saya dan pernikahan saya, untung keluarga saya tipe legowo dan menyerahkan kepada saya untuk menyelesaikan dengan baik dan 'gentlemen', tak lupa fully support dan doa dari mereka, - belum lagi membandingkan saya dengan mantan istri suami saya, yeee.... kalau suami saya gak mau sama saya juga gak apa kok, masih ada yang lain [really? hihihi...] - sampai mengapa saya hanya berkunjung ke rumah mertua bila ada suami di Jkt [kebetulan 6bln pertama suami ditempatkan di daerah, sedangkan saya gak bisa ikut pindah karena saya juga punya karir di Jkt], urusan biaya bolak balik suami Jkt-Smg bila mengunjungi saya, dsb. Hwaaaa...... gubrak gak sih... tapi bukan saya kalau gak bisa klarifikasi, dengan berani, diplomatis dan rasa mual karena sedang hamil muda, saya kumpulkan mertua dan adik2 ipar, dan saya paparkan semua fakta dan mohon pengertian juga bahwa saya memang gak bisa sering berkunjung ke rumah mertua bukan karena tidak ingin bersilaturahim tapi karena setiap suami tidak ke Jkt, saya harus mengikuti perkuliahan Sabtu Minggu, jadi kalau ketemunya weekend ya setiap weekend itu saya bolos kuliah. Intinya mereka gak rela uang suami digunakan untuk keluarga barunya, LHA...... saya kan istrinya, kalau tidak dinafkahi suami trus dinafkahi siapa?. Alhamdulillah saya punya pekerjaan yang baik dan gaji yang lebih tinggi dari suami, hal ini jadi bargaining power buat saya, kalau saya tidak menikahi suami karena hartanya, dan saya sangat menerima kondisi suami apa adanya. Alhamdulillah sekarang keadaan sudah membaik, setelah sekian lama terjadi gencatan senjata dan hubungan yang dingin dengan adik2 ipar, namun demikian saya terbentuk menjadi seseorang yang gak mau terlalu lebur dan tetap menjaga jarak serta hati-hati bersikap dengan keluarga suami, trauma dengan kasus di awal penikahan kami, "forgiven but unforgotten". Nah.... kok saya yang jadi curhat yak..... Maksudnya sih agar bunda BIa tidak putus asa dan membicarakan hal ini dengan suami baik-baik, syukur-syukur bila suami juga dapat menyikapi serta menyampaikan dengan baik dan bijak kepada ibunya. Disini peran suami sangat penting bukan hanya sekedar memberikan dukungan positif, sepaham tapi juga harus bisa memberikan pengertian yang benar dan tepat ya..... Kalau suami Bunda Bia tidak dapat menyampaikan aspirasi dengan baik, mungkin Bunda Bia harus punya keberanian bicara dari hati ke hati dan santun serta penuh hormat dengan ibu mertua, kalau perlu cari dukungan dari adik-adik suami dan keluarga lainnya, semoga ada yang sepaham dengan Bunda Bia. Bila cara-cara di atas belum berhasil coba konsultasikan dengan ahlinya [psikolog, ulama, tokoh masyarakat, konsultan perkawinan, orang yang dihormati dan didengar perkataannya oleh sang ibu], untuk sementara Bunda Bia dan suami dulu yang berkonsultasi setelah sepakat temui ibu mertua kalau memang perlu dilakukan dengan cara mediasi ya.... cari mediator yang baik dan memiliki bekal ilmu kuat [agama maupun perkawinan] agar ada referensi yang mendukung proses negosiasi. Bersitegang dengan orang lain aja gak enak apalagi dengan ibu mertua yah..... Semoga Bunda Bia tabah dan dapat melalui ujian ini dengan baik ya..... Teriring doa Salam maniez, -bundanya Razka-
Widya D. Setyawati [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] ph.: 021-31931935 http://oui-day.blogspot.com
